Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Perahu Kertas


Saya ingin memiliki novel ini. Saya ingin menghadiahkannya pada seseorang yang tergila-gila pada semua novel Dewi Lestari. Saya membayanglan bagaimana bahagianya seseorang itu ketika novel itu berada di tangannya. Mungkin, akan ada bahagia yang mengalir dari senyum cerianya. Mungkin, ada pukulan mesra tanda tak percaya, mungkin ada lengkingan teriak sembari berkata, "Dari mana dapat novel ini??"

Naskah Buton, Naskah Dunia


INI bocoran sampul buku yang tengah kususun. Saat ini, buku ini dalam proses layout. Mudah-mudahan segera rampung, kemudian dicetak. Harapan saya, buku ini bisa segera di-launching pada bulan Oktober mendatang. Semoga bisa terlaksana.

Cinta Itu Tidak Untuk Dibahas, Tapi Untuk Diresapi

IZINKAN aku berbicara tentang cinta. Beberapa hari ini aku berada dalam satu komunitas yang setiap hari memperbicangkan cinta. Komunitas yang setiap saat membahas cinta dari berbagai sisi. Mereka membahas rekannya sendiri yang begitu melankolis memaknai cinta. Rekannya, seorang pemuda yang hanya bisa memandang sang gadis bagai pungguk merindu bulan. Pemuda yang sibuk memikirkan strategi mendekati seorang gadis, tetapi setiap harinya hanya jalan di tempat. Tidak beranjak.

Cinta memang melankolis. Cinta memang menghamparkan luasnya tema untuk dibahas, sungai pembicaraan yang tak habis-habisnya mengalir. Tetapi, haruskah kita membahas tema itu selama berhari-hari? Tidakkah kita jenuh membahas tentang kawan kita tiap saat sementara ia tak juga berani mengungkapkan cintanya pada sang gadis?

Kadang-kadang saya merasa jenuh. Tapi, kadang saya berpikir bahwa jangan-jangan saya sudah mati rasa hingga tak lagi merasakan indahnya cinta. Mungkin saya sudah terlampau modern hingga kehilangan indahnya membahas hal yang remeh-temeh tentang cinta. Tapi, salahkah jika saya berpikir bahwa cinta adalah perkara yang harus dihadapi sebagai lelaki yang jantan dan berani. Cinta adalah perkara yang dihadapi bagai pria yang mau ke medan laga. Kita datang menemui sang gadis, sampaikan cinta sebagai niat baik dan berita gembira. Soal apakah gadis itu mau menerima atau tidak, itu soal lain.

Kalau gadis itu menyambut cinta itu, maka siap-siaplah memasuki hidup yang bahagia. Menjalani hari dengan tatap cinta dan perhatian dari seseorang. Menjalani hal-hal bahagia, yang setahun berikutnya bisa menjelma jadi hal yang monoton. Semuanya tergantung dari seberapa pandai kita mengelola emosi dan memaknai hubungan kita dengan seseorang.

Kalau gadis itu tak mau, sementara anda yakin bahwa ada setetes harapan, maka sampaikanlah cinta itu pada esok yang lain. Jika anda pesimis, setidaknya anda sudah berhasil. Episode memikirkan si dia selama bermalam-malam, akhirnya tuntas sudah. Ngapain memikirkan seseorang sementara orang tersebut tak pernah peduli dengan diri kita sendiri. Untuk apa menyayangi orang lain yang sama sekali tak ada setetes pun kasih pada kita. Di malam buta kita sibuk memikirkan keadaannya, sementara si dia mungkin sedang bersama pria lain dan bersenang-senang. Kita merana, dia bahagia. Betapa tak adilnya hidup.

Memang, saya sadar bahwa cinta kadang lebih enak untuk diomongkan ketimbang dijalani. Sebuah komunitas yang tiap hari membahas cinta dari sisi prilaku, jangan-jangan kehilangan rasa untuk memaknai cinta. Sebab cinta itu bukan untuk dianalisis dengan berbagai teori. Cinta itu untuk dihayati dan dimaknai. Ketika kita membahas cinta, maka saat itu juga kita sudah mereduksi makna cinta. Kita menyempitkannya seolah dia adalah obyek kajian ilmu pengetahuan. Padahal, cinta itu untuk diresapi, dimaknai dengan diam, namun hati kita berdetak merasakannya. Cinta –meskipun hanya setetes—adalah sesuatu yang menghangatkan malam-malam kita, sesuatu yang mengembun dan membasahi hati kita. Tiba-tiba saja kita jadi perkasa dan begitu kuat untuk menantang matahari. Tiba-tiba saja kita jadi jatuh tak berdaya kala mendengar suaranya yang menyelusup dalam lorong-lorong hati kita. Pada titik ini, kita sudah merasakan cinta yang dahsyat itu.(*)


Makassar, 25 Agustus 2009

Kasih yang Mendahului Murka

Ramadhan datang lagi. Tiba-tiba saja ada keinginan untuk melakukan sesuatu di bulan ini. Ada keinginan kuat yang menyelusup di ambang sadarku untuk rajin memandang cermin hidupku. Aku sudah melewati puluhan Ramadhan. Namun, aku tak begitu yakin jika Ramadhan yang kemarin menggoreskan sesuatu dalam perjalananku.

Sepertinya aku sudah terlampau jauh dari Kamu. Setiap kali hendak mendekat, aku selalu malu dengan debu-debu dosa di tubuh lusuh yang lama tak mandi dengan pertobatan. Mungkin tubuh ini sudah berkarat dengan dosa hingga Kamu seakan berpaling dariku. Tapi, bukankah berprasangka yang berlebihan tentang-Mu juga sebuah dosa besar yang sia-sia.

Mungkin, aku harus belajar arif dan yakin kalau kasih-Mu yang seluas samudera tak akan pernah habis untuk sekedar kuminum dan kuselami. Engkau yang maha pengasih. Izinkanlah aku untuk selalu mendapat kasih-Mu, bukannya kemurkaan-Mu. Setidaknya, hingga detik ini, aku masih yakin bahwa kasih-Mu akan mendahului semua kemurkaan-Mu.

Makassar, 23 Agustus 2009

Foto di Saoraja Sengkang


FOTO ini diambil di depan Saoraja (Istana Raja) di Kota Sengkang. Dalam kunjungan untuk ambil data, saya sengaja menyempatkan waktu untuk singgah ke bangunan bersejarah ini dan berfoto. Saya senang sekali menyaksikan bangunan yan kental ciri tradisionalnya ini. Anda bisa bayangkan, di tengah bangunan yang bercirikan tembok menjulang, masih ada bentuk rumah kayu yang amat cantik seperti ini. Makanya, saya tak mau melewatkan waktu barang sejenak dan segera mengambil gambar.(*)

Lapis Kenangan di Kota Sengkang


SAYA selalu menikmati kunjungan ke daerah-daerah. Saya bahagia berada pada suatu tempat yang tidak terlalu ramai, tidak ada kemacetan, tidak ada debu yang mengepul di siang hari. Saaat berkunjung ke daerah, saya menikmati saat-saat ketika melihat ke jendela mobil dengan penuh kejutan. Melihat sekeliling dengan penasaran, atau tersesat karena salah menterjemahkan petunjuk tentang arah yang hendak dituju.

Hari ini saya berkunjung ke Sengkang, ibukota Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Bersama rombongan dari PKP Unhas, kami melewati Maros, Pangkep, Sidrap, hingga Sengkang. Saat melintas di Pangkep, kami singgah di satu warung kecil di pinggir jalan. Warung itu menjajakan dange, kue khas Pangkep yang terbuat dari beras ketan hitam dan campuran gula merah. Kue itu dipanggang dengan cara ditutup dengan tongkok (penutup) yang terbuat dari tanah liat. Tapi saya tidak sedang minat makan dange. Saya hanya memesan teh manis, serta indomie rebus.

Perjalanan dilanjutkan. Melintasi Sidrap, saya memandang hamparan sawah yang amat luas. Sejauh-jauh mata memandang, yang nampak adalah sawah-sawah yang menghijau kekuning-kuningan. Di beberapa tempat, saya melihat banyak warga yang memanen secara bersama-sama. Orang Bugis punya tradisi panen yang unik. Mereka menggelar pesta panen secara meriah yang disebut Mappadendang. Dalam ritual ini, ada musik lesung, lagu-lagu, serta tarian yang semuanya menggambarkan kegembiraan masyarakat atas panen. Kini, mappadendang sudah menjadi kalender rutin bagi pemda setempat.

Tiba di Sengkang, jarum jam menunjukkan pukul 13.00. Saya langsung menuju ke kantor badan Pusat Statistik (BPS). Malangnya, semua pegawai BPS tidak sedang berada di kantor. Mereka sedang tugas lapangan, entah ke mana. Saya lalu singgah ke rumah keluarga teman dan mengaso selama beberapa menit. Kemudian, saya mengontak Nawa, sahabat yang kini jadi anggota KPU Sengkang. Ia datang menjemputku dan mengajak makan di tempat makan yang paling bergengsi di Sengkang.

Tempat makan itu adalah lesehan yang konsepnya seperti paviliun. Kita duduk di salah satu dangau dan ditutupi tirai bambu. Tempat makan tersebut bernama Lesehan Jet Tempur. Dinamakan demikian karena letaknya yang berhadapan dengan monumen berupa pesawat jet. Tampaknya, tak banyak yang tahu apa makna keberadaan jet tersebut. Apakah jet itu dulunya digunakan TNI ataukah digunakan bangsa lain. Nawa berseloroh kalau jet itu adalah milik bangsa Yahudi yang jatuh di kota Sengkang. Kami memesan ikan baronang bakar dan jus nanas. Ikannya sungguh enak, meskipun minyaknya agak banyak. Kami bercerita ngalor-ngidul dan selanjutnya jalan-jalan mengelilingi kota Sengkang.

Saya menyaksikan kenderaan yang paling banyak di kota ini adalah bentor atau gabungan antara becak dan motor. Ternyata orang Sengkang cukup kreatif dalam mengubah bentuk motor sehingga bisa mengangkut penumpang. Saya melihat-lihat, saya lalu balik ke tempat tinggal dan istirahat. zzzzz...(*)

Kedai Tuak di Kota Sengkang

JIKA suatu saat anda berkunjung ke Kota Sengkang, singgahlah sejenak ke Palaguna, jalan poros tempat banyak rumah-rumah yang menjajakan penganan. Singgahlah ke situ barang beberapa saat dan pesanlah tuak manis, minuman yang paling populer di situ. Dalam bahsa Bugis, tuak disebut ballo. Eitt.... jika minum, jangan kebanyakan. Anda bisa mabok dan kesulitan menyetir ketika pulang.


Di berbagai kota di Indonesia, barangkali hanya Sengkanglah yang menjajakan tuak secara terbuka. Di sini, tuak adalah dagangan yang dijual secara terbuka, sebagaimana minuman lainnya. Mungkin karena tuak yang didagangkan adalah tuak manis dan tidak memabukkan. Apakah benar? Kayaknya tidak. Buktinya, saat duduk dan minum sampai enam gelas, saya merasa pening dan oleng sebagaimana perasaan mereka yang sedang mabuk.

Menurut pedagang yang saya tanyai, lapau tuak itu sudah lama didirikan. Sejak puluhan tahun silam, orang tuanya sudah membuka lapau tuak dan diwariskan kepadanya. Ia sudah punya jaringan dengan para pencari tuak dan menjajakannya setiap hari. Katanya, tuak memang manis rasanya. Namun jika disimpan dalam waktu lebih dari satu malam, maka rasanya akan berubah menjadi agak pahit dan memabukkan.

Ia menolak anggapan bahwa tempatnya adalah tempat mabuk-mabukan. “Di sini Cuma jual tuak manis. Jadi, tidak mungkin ada yang mabuk,” katanya. Mungkin dia benar juga. Tapi kok, saya tiba-tiba jadi oleng setelah menenggak enam gelas?

Kota Sengkang dan Ironi Sebuah Identitas


SAAT pertama memasuki Kota Sengkang, Sulawesi Selatan, kita akan menyaksikan sebuah gapura besar bertuliskan Selamat Datang di Kota Sengkang, Kota Sutera. Tulisan tersebut semacam pemberitahuan dari masyarakat bahwa kota yang sedang dimasuki ini adalah sentra produksi sutra di Indonesia. Namun, apakah benar Sengkang identik dengan sutra?

Saya rasa tidak juga. Bicara masalah tenun, hampir semua daerah di Sulsel menyimpan khasanah pengetahuan tentang tenun. Teknologi menenun sudah diketahui masyarakat sejak terjadi persentuhan kebudayaan dengan Melayu. Hal yang membedakan antara Sengkang dan daerah lainnya adalah karena di wilayah inilah sutra diproduksi secara massif jika dibandingkan dengan daerah lainnya di Sulsel. Ketika orang Bugis mulai terintegrasi dengan kapitalisme dunia, maka sutra menjadi komoditas yang diperdagangkan ke luar daerah.

Identitas Sengkang sebagai kota sutra adalah identitas yang di-create dari atas dan menunjukkan pengaruh globalisasi. Benang sutranya dari Cina melalui Singapura, diproduksi secara tradisional oleh orang Sengkang, dan dijual kembali ke Hongkong. Ini adalah fenomena globalisasi dan tarik-menarik antar aktor.

Dalam berbagai catatan sejarah, Wajo dikenal sebagai basisnya para pengusaha Bugis yang kondang ke mana-mana. Bahkan, beredar pula mitos yang menyebutkan tentang Bosowa (Bone, Soppeng, Wajo). Bone identik dengan keberanian dan tempat lahirnya para calon pemimpin, Soppeng identik dengan gadis-gadisnya yang cantik, dan Wajo identik dengan para saudagar atau pedagang yang tersebar ke mana-mana. Nah, Kota Sengkang sebagai ibukota Kabupaten Wajo adalah basisnya para pedagang yang menggerakkan iklim kapitalisme Bugis tersebut.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, sutra adalah komoditas yang dibawa para saudagar tersebut ke luar daerah dan kemudian kembali sambil membawa komoditas lain untuk diperdagangkan di tanah Bugis. Siklusnya seperti itu dan terjadi secara berulang-ulang. Namun, ada satu hal yang ironik dan muncul belakangan ini. Betapa tidak, sutra yang menjadi kebanggaan warga Sengkang itu, sepertinya bakal menjadi mitos. Sutra itu mulai langka di pasaran, dan kalaupun ada, sudah tidak murni dihasilkan dari tangan-tangan penduduk Sengkang sendiri. Lantas, apa masih pantas Sengkang menyandang gelar sebagai kota sutra?

Sebelum ke Sengkang, saya mendapat informasi dari teman di UI bahwa identitas kota sutra itu seyogyanya dipertanyakan ulang. Benang sutra untuk menenun kebanyakan datang dari Surabaya, yang juga didatangkan dari Cina melalui Singapura. Penduduk Sengkang hanya menenun saja, tanpa memproduksi benang tersebut. Artinya, identitas sebagai kota sutra tersebut adalah konstruksi yang sifatnya dari atas, tanpa berpijak pada realitas yang sesungguhnya.

Memang, saat berkunjung ke Kecamatan Sabbangparu –sentra produksi benang sutra—saya sempat melihat langsung kebun daun murbei –sebagai makanan ulat sutra—serta melihat mesin yang mengolah kepompong sutra menjadi benang. Tetapi produksi benang sutra tersebut sangat rendah. Mesin produksi itu sudah mulai tua dan aus sebab dibeli dari Jepang sejak tahun 1986 lalu. Sementara para petani ulat sutera justru tidak setiap saat mengembangbiakkan ulat. Lebih banyak saat di mana mereka tidak mengembiakkan ulat. Pada musim tanam jagung, mereka akan menanam jagung sebab harganya lebih tinggi daripada kepompon ulat sutra. Demikian pula pada musim lainnya. Mereka hanya bertani ulat sutra hanya pada saat-saat tertentu saja. Tidak setiap saat.

Kelangkaan kepompong sutra jelas berpengaruh pada kelangkaan produksi benang sutra. Menurut ibu yang diserahi tanggungjawab mengelola mesin tersebut, terakhir produksi benang adalah beberapa bulan lalu. Rencananya, ia akan kembali memperoduksi benang usai Lebaran nanti. Itupun, ia tidak terlalu yakin apakah bisa kembali memproduksi benang. Dalam dialog dengan pengelola mesin tersebut, terungkap kalau mesin pengolah kepompong itu hanya satu-satunya di Sulawesi Selatan. “Dulunya ada empat mesin di Sulsel. Tapi, semua mesin sudah rusak dan tinggal di sini yang masih bisa bertahan,” katanya.

Aspek Pemasaran

Itu adalah dari sisi kapasitas produksi benang. Bagaimana halnya dengan produksi sarung? Berdasarkan wawancara dan kunjungan ke sejumlah penenun, ternyata produksi sarung sutra hanya dikelola oleh industri rumah tangga. Hingga kini, belum ada satupun industri besar yang tertarik untuk mengelola sarung sutra. Rata-rata dikelola keluarga dengan tenaga kerja yang tidak sampai 10 orang Kebanyakan, sarung itu ditenun di kolong rumah oleh ibu dan anak perempuan. Produksi sarung ini juga masih untuk mengisi waktu senggang dan dikelola secara tradisional. Alat tenunnya masih sederhana dan belum dimodernkan.

Kemudian, dari sisi pemasaran, produksi sutra Sengkang sangat bergantung pada permintaan pabrik-pabrik di Pekalongan. Pabrik tekstil di pekalongan itu seolah memiliki otoritas untuk menentukan seberapa banyak produksi sutra sekaligus mempermainkan harga. “Pernah kita buat banyak-banyak, tiba-tiba Pekalongan bilang harganya lagi jatuh. Kita tak bisa berbuat apa-apa,” kata seorang penenun. Posisi Pekalongan ini dikuatkan oleh majunya industri serta penguasaan pada segala aspek tentang sutra.

“Kita di sini tidak tahu tentang standar kualitas sutra yang baik. Sementara di pekalongan, kualitas kontrol itu sangat diperhatikan karena mereka tahu bagaimana menilainya, “ kata penenun tersebut.

Kelebihan Pekalongan karena memiliki sekolah tekstil dengan para pengajar yang paling memahami masalah tekstil. Jadi, meskipun identitas Sengkang sebagai kota sutra, namun mereka tidaklah mengetahui software dari sutra tersebut. Mereka hanya berstatus penenun. Itupun para penenun tersebut adalah mereka yang sudah berusia lanjut. Bukan lagi mereka yang muda dan berpikir bahwa penenun adalah pilihan tepat untuk masa depan.(*)

Nanti disambung pada kesempatan lain.

Kota Sengkang, Kota Tua


BERKUNJUNG ke kota seperti Sengkang menggoreskan kesan tersendiri di benak saya. Selama dua minggu ini, saya banyak menjelajah beberapa daerah, baik Sulawesi Selatan maupun Sulawesi tenggara. Di antara berbagai kota tersebut, hanya ada tiga kota yang mengesankan yaitu Bau-Bau, Watampone, dan Sengkang.

Parameter saya sederhana. Suatu kota yang mengesankan bukanlah dilihat dari seberapa banyak bangunan tinggi, atau seberapa ramai kendaraan yang berseliweran. Sebuah kota mengesankan ketika bisa mereservasi semua bangunan tua yang menjadi penanda kan suatu masa yang lampau, sekaligus menjaga nilai luhur tersebut ke dalam masa kini. Jika diterjemahkan secara sederhana, suatu kota akan mengesankan ketika mempertahankan bangunan tuanya. Kita merasakan sebuah masa yang lewat, namun tetap hadir membayang-bayangi masa kini. Ada sesuatu yang spiritual di kota-kota seperti itu.

Di kota seperti Sengkang, ada banyak bangunan tua yang dipertahankan. Misalnya bangunan Saoraja atau istana di masa silam. Juga banyak rumah-rumah warga yang masih dipertahankan bentuk aslinya yaitu rumah panggung yang terbuat dari kayu. Jika dibandingkan dengan kota seperti Makassar atau Sungguminasa (dulunya pusat kerajaan Gowa), maka Kota Sengkang jauh lebih banyak bangunan kayunya.

Menurut teman saya yaitu Nawa, sejarah Sengkang sebagai ibukota Wajo adalah sejarah yang terpinggirkan di kalangan orang Bugis. Sebab pada perang Makassar –peperangan yang paling dahsyat di Sulawesi,-- posisi Wajo adalah memihak Makassar dan bersama-sama melawan VOC. Perang Makassar adalah perang yang memperhadapkan Kerajaan Gowa melawan koalisi antara Bugis, Buton, Ternate dan Belanda. Dalam peperangan itu, posisi Gowa jelas akan kalah melawan air bah kekuatan besar tersebut. Namun, sejarah juga mencatat bahwa tak semua kekuatan Bugis mengumpul di Arung Palakka. Buktinya, Wajo lebih memihak Sultan Hasanuddin dan mati-matian menjaga Hasanuddin.

Memang, jika dilihat dari sisi Indonesia, posisi itu sangatlah strategis sebab melawan kolonialisme yang bercokol di Nusantara. Namun jika dilihat dari posisi Wajo sebagai salah satu pusat etnis Bugis –sama halnya dengan Bone--, maka sangat aneh ketika mereka tidak memihak Bone. Makanya, di kalangan orang Bugis sendiri, posisi Wajo sering dianggap “pengkhianat” karena tak mau memihak Raja Bone, Arung Palakka.

Sebutan pengkhianat itu ditentang habis-habisan oleh Nawa. Mestinya, sejarah harus dibaca secara kontekstual, tidak dibaca dari kepentingan masa kini. “Pada masa itu, semua kerajaan punya rasionalitas sendiri yang harus dipahami sesuai dengan pergesekan kekuatan pada masa itu,” kata Nawa dengan penuh semangat.

Saya rasa Nawa benar dengan argumentasinya. Saya berharap suaranya bisa lebih bergema dan didengarkan banyak orang.(*)

Selamat buat Kota Bau-Bau

EDISI khusus Majalah Tempo tahun ini menampilkan Sembilan Daerah Bintang, yang dianggap terbaik dalam berbagai bidang. Ini menjadi tradisi tahunan Majalah Tempo untuk menyambut kemerdekaan. Tahun lalu, kota terbaik diraih oleh Tarakan, selanjutnya Solo, dan Yogyakarta. Tahun lalu, dari 10 daerah terbaik, dua daerah berasal dari Sulsel yaitu Makassar dan Luwu Timur.

Tahun ini, beberapa daerah tersebut kembali mengalami revisi. Cuma ada 9 daerah yang masuk, dan beberapa di antaranya juga menang setahun lalu. Kota terbaik adalah Solo, lalu Yogyakarta, Probolinggo, Musi Banyuasin, dan Kota Bau-Bau. Betapa bangganya saya karena Bau-Bau masuk peringkat empat dari sembilan daerah terbaik di Indonesia. Bau-Bau menang untuk kategori penataan lingkungan terbaik dan mengalahkan Balikpapan, Palembang, dan daerah lainnya.

Melalui blog ini, saya ucapkan selamat buat Wali Kota Amirul Tamim yang hasil wawancaranya dimuat satu halaman di Majalah Tempo. Selamat!!!

The Fortress of Solitude


KUNAMAKAN kos ini sebagai the fortress of solitude (benteng kesunyian). Dalam komik Superman, the fortress of solitude adalah nama markas Superman di kutub utara. Markasnya terbuat dari batangan-batangan kristal yang membentuk atap dan dinding. Di markas itulah Superman kerap datang dan memberi tanya pada suara yang mengaku sebagai ayahnya. Di situlah Superman menemukan jawaban-jawaban tentang asal-usulnya, serta menjadi rumah pengetahuan atas tanda tanya yang memenuhi kepalanya.

Di rumah kos ini tak ada batangan kristal seperti di markas Superman. Tapi di sini ada timbunan buku-buku yang aku kumpulkan selama beberapa tahun. Di rumah kos ini, aku bisa menemukan jawaban-jawaban dengan menelusuri ulang sejauh mana pengembaraan intelektual banyak orang yang dirangkum dalam buku-buku. Ini adalah tempat di mana aku bisa menemukan inspirasi, mencari jawaban dan menuliskan permenunganku yang sepele atas kehidupan.

Di rumah kos ini, aku bisa menenggelamkan diriku dalam kesunyian. Di sini, tak banyak yang kukenal. Di sini semuanya serba sunyi. Di malam hari, aku hanya mendengar bunyi nyamuk, katak yang merana, hingga desir angin di pepohonan. Di sini, aku menemukan inspirasi, sesuatu yang sungguh mahal bagiku dan menjadi ladang bagiku untuk menemukan penghidupan.

Sengaja kupilih rumah kos ini sebab di sini aku bisa berkarib-karib dengan sunyi. Aku bebas untuk bermalas-malasan, tanpa harus takut bahwa ada seseorang yang menyaksikan kemalasan itu. Aku bebas untuk baring-baring, tanpa harus berbasa-basi dengan siapapun. Di benteng kesunyian ini, aku sedang merayakan kebebasan sekaligus mendisiplinkan diriku untuk menghasilkan sesuatu. Semoga benteng kesunyian ini memberiku lapis-lapis hikmah.(*)

Sulitnya Menulis tentang Tasawuf


BETAPA sulitnya menulis tentang hal-hal yang terkait tasawuf. Saya hanya sanggup menuliskan hal-hal yang teoritik. Padahal tasawuf lebih dari itu. Tasawuf adalah perjalanan dan penyaksian. Tasawuf adalah pengembaraan menuju Sang Pencipta, kemudian menyaksikan beragam realitas di sepanjang perjalanan. Seorang penggiat tasawuf merasakan gelora yang dahsyat, perasaan hati yang amat indah, namun sukar disampaikan dalam kalimat. Barangkali, kata-kata terlampau miskin untuk mengisahkan semuanya.

Yang bisa saya lakukan adalah menuliskan kesan subyektif seseorang tentang perjalanan spiritual tersebut. Yang bisa saya lakukan adalah menuliskan ulang kesan-kesan yang dia pancarkan. Bagaimana artikulasinya dalam kalimat, bagaimana pesan spiritual yang pernah diucapkannya. Saya hanya bisa mereka-reka dengan subyektif, sejauh mana penjelejahannya ke langit-langit spiritual.

Mungkin ini terkait dengan kadar keimanan saya yang minimalis. Bagaimana mungkin saya menulis tentang persaksian seseorang, ketika pribadi saya bukanlah wadah yang siap menampung semua kisah-kisah tersebut. Dalam dunia tasawuf, ada ungkapan: hanya sufi yang mengenal sufi. Bagaimana mungkin saya mengenal sufi ketika saya sendiri belum menjadi seorang sufi?

Bergerak Mengikuti Angin

SAYA ingin memiliki modem internal. Tapi harganya cukup mahal, dan saya khawatir kalau-kalau saya bakal meninggalkan Makassar. Entah kenapa, sejak memutuskan untuk menetap di Makassar, saya seolah ada feeling bahwa tak lama lagi saya meninggalkan kota ini. Saya ada perasaan bahwa saya akan pindah tempat. Tapi, saya sendiri tidak tahu akan pindah ke kota mana. Semuanya bergantung pada di mana pintu-pintu rezeki membuka untuk saya. Ketika pintu itu terbuka di Jakarta, maka saya siap saja kembali ke kota itu. Demikian pula ketika pintu itu membuka di Bau-Bau, saya siap saja kembali ke daerah.

Terus terang, saya bahagia dengan Makassar. Kota ini menyediakan segala yang saya butuhkan. Namun, kota ini belum menyediakan satu pekerjaan tetap buat saya. Hari-hari yang saya lewati adalah membuka peluang sebanyak-banyaknya. Hari-hari yang saya lewati adalah menanam harapan agar kelak akan ada buah yang dipetik dari beberapa hal yang sedang saya lakukan di kota ini. Masalahnya adalah saya mulai lelah dan ingin berpikir statis. Tiba-tiba saja saya jadi pragmatis dan ingin melalui saja semuanya dengan sederhana, tanpa jauh melambungkan idealisme.(*)

Orang Muna Tempo Doeloe


FOTO ini dibuat pada tahun 1920-an. Ini adalah gambar dua orang pria dari Muna. Wajah keduanya bersahaja. Pakaiannya menampakkan bahwa mereka bukanlah rakyat jelata. Tetapi mereka juga bukan bangsawan tinggi. Dari pakaiannya, mereka adalah pejabat di tingkat desa, atau mungkin pejabat di istana Muna, namun pangkatnya adalah pejabat rendahan. Foto berharga ini adalah koleksi KILTV Leiden. Kata teman, kalau mengambil foto ini di Leiden, kita harus bayar mahal. Tapi untunglah, saya bisa mengambilnya secara gratis dari seorang peneliti asing.(*)

Diskusi tentang Materialisme Kebudayaan

Materialisme kebudayaan sebagai sebuah pendekatan untuk mengkaji perilaku manusia mendasarkan diri pada pemahaman bahwa kondisi-kondisi materi masyarakat menentukan kesadaran manusia. Penggagas pendekatan ini, Marvin Harris, terinspirasi oleh teori Marxist tentang basis (base) dan suprastruktur (superstructure). Harris sendiri menyebut basis sebagai infrastruktur yaitu unsur-unsur produksi dan reproduksi manusia.

Pertama-tama, pendekatan ini menganggap bahwa semua manusia harus menghadapi masalah-masalah produksi yaitu mewujudkan perilaku untuk memenuhi kebutuhan subsisten. Dalam kaitan dengan ini Harris menyebutkan adanya mode perilaku etik dari produksi (etic behavioral mode of production). Mode perilaku ini termasuk semua praktik yang digunakan untuk membatasi atau memperluas produksi subsistensi, terutama produksi makanan dan bentuk energi lainnya. Pola-pola kerja untuk memproduksi makanan juga termasuk di sini.

Kedua, setiap masyarakat juga harus menghadapi masalah-masalah reproduksi yaitu menghindari peningkatan atau pengurangan jumlah dan ukuran penduduk yang bersifat menganggu atau merusak. Untuk yang kedua ini Harris menyebutkan adanya mode perilaku etik dari reproduksi (etic behavioral mode of reproduction). Mode perilaku reproduksi ini terutama adalah semua praktik yang dilakukan untuk memperluas, membatasi, dan mempertahankan ukuran populasi seperti demografi, pola perkawinan, pengasuhan anak, kontrasepsi, aborsi dll.

Dengan pemahaman bahwa kondisi materi masyarakat menentukan kesadaran manusia maka artinya kebudayaan merupakan produk hubungan antara benda-benda. Harris memberikan contoh yang terkenal tentang pantangan orang Hindu membunuh sapi. Menurutnya, pantangan membunuh sapi itu didasarkan atas kebutuhan masyarakat India akan hewan itu untuk memaksimalkan kegunaan ekonomi dari sapi untuk membajak sawah ketimbang sebagai sumber daging untuk makanan.

Namun demikian, pendekatan materialisme kebudayaan mendapatkan banyak kritik terutama karena dianggap terlalu simplistik dalam melihat keterkaitan antara dunia materi dan non materi. Materialisme kebudayaan juga dianggap ekonomi deterministik dengan terlalu berfokus pada perhitungan ekonomi produksi subsisten dan reproduksi masyarakat.(yusran darmawan/ b.i. purwantari)

Resistensi dalam Kajian Antropologi

Sejak akhir tahun 1980-an, tema resistensi atau perlawanan menjadi tema penting yang menarik bagi para antropolog. Tema ini menjadi trend sebab menelaah kasus-kasus yang gampang diamati serta bersifat empiris. Analisisnya banyak melihat hal-hal yang ada dalam keseharian masyarakat baik berupa kisah-kisah, tema pembicaraan, umpatan, serta puji-pujian dan perilaku lainnya, sehingga menjadi gayung bersambut dalam antropologi. Resistensi dianggap berciri kultural sebab muncul melalui ekspresi serta tindakan keseharian masyarakat.

Menurut hemat saya, isu resistensi sudah mulai mencuat sejak tahun 1960-an. Pada saat itu, mulai mencuat berbagai gugatan pada ilmu sosial yang dianggap menganut paradigma positivistik sehingga kerap mereduksi manusia dalam angka-angka dan kehilangan spirit untuk melakukan perubahan. Situasi tahun 1960-an adalah situasi ketika berbagai rezim totaliter sedang berjaya seperti Hitler di Jerman, Mussoulini di Italia, serta berbagai rezim lainnya di Afrika. Situasi ini kerap menjadi ancaman bagi sejumlah ilmu sosial sebab harus mereproduksi pengetahuan yang menguntungkan satu rezim. Pada saat inilah muncul ilmu sosial kritis yang tidak hanya melakukan kritikan pada ideologi, namun juga mengkritik konfigurasi sistem sosial yang represif.

Dalam khasanah antropologi, sesungguhnya telah mulai tampak benih-benih kritik internal atau refleksi yang bisa pula dilihat sebagai upaya resistensi pada arus-arus besar dalam antropologi. Kritik itu mencuat ketika Talal Asad mengeluarkan buku berjudul Anthropology as Colonial Encounter. Ia melihat realitas bahwa imajinasi para antropolog seakan-akan masih diharu-biru oleh imajinasi para penjelajah Eropa yang terobsesi menemukan masyarakat primitif untuk dianalisa dan ditekuk dalam satu kategori. Imaji tentang penaklukan, kekuasaan, serta menemukan masyarakat primitif dan eksotik telah membimbing antropolog pada bentuk etnografi dan pelukisan hingga daging dan sum-sum masyarakat tersebut. Muncul pula sejumlah pemikir seperti James Clifford (1986), serta Marcus (1998) yang berada dalam kubu yang sama dan mempersoalkan antropologi. Belakangan, Edward Said ikut membawa inspirasi bagi antropologi melalui pandangannya tentang orientalisme. Berbagai tulisan itu banyak menyajikan gagasan-gagasan resistensi serta mulai melihat masyarakat dengan cara berbeda dengan antropologi sebelumnya.

Di kalangan ilmuwan sosial, resistensi terkadang dimaksudkan dalam paradigma konflik, padahal memiliki bentuk yang berbeda. Resistensi galibnya menjadi titik tengah dari dinamika teori konflik Marxian dan teori konflik Non-Marxian. Jika konflik masih berkutat pada frame teoritis dalam melihat realitas, maka resistensi menekankan pada aspek empiris serta melakukan sensitizing atau dialog secara kreatif terhadap realitas sosial. Inilah yang kemudian menjadi titik tengah atau jalan keluar dari kecenderungan teori konflik yang lebih melihat persoalan dari atas sehingga sarat dengan adanya generalisasi.

Resistensi lebih menekankan pada aspek manusia. Ini menjadi pendekatan baru yang berjalan selaras dengan lahirnya berbagai studi etnografi baru (new etnography) yang mengalami pergeseran memandang manusia yaitu dari obyek ke subyek. Geertz (1973) mengatakan, antropolog tampaknya harus berada di tengah-tengah karena posisinya yang tidak melulu pemikiran teori, melainkan lapangan empiris yang langsung bersumber dari warga masyarakat yang nyata. Gagasan tentang resistensi berada pada posisi di tengah-tengah di antara pemikiran Marxisme dalam antropologi dan pemikiran antropologi simbolik yang lebih berorientasi pada kebudayaan atau yang memiliki sensitivitas budaya.

Resistensi bermaksud melakukan rekonsiliasi dari dua kutub pemikiran antropologi sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Jika jalan tengah ini diterima, maka isu materi yang ada pada kajia Marx bisa tercermin dalam kajian antropologi yang menganalisis berbagai peristiwa lokalitas. Studi resistensi dapat dilihat pada studi James Scott dan Anna L Tsing yang melihat persoalan pada tingkat lokal, negara, regional, dan global. Artinya, dinamika atau perubahan yang terjadi tidak semata disebabkan aspek materi sebagaimana yang diisyaratkan para penganut materialisme kebudayaan. Isu resistensi juga muncul dalam pemikiran sejumlah Marxis seperti Antonio Gramsci yang lebih melihat pada persoalan ideologi ketimbang material. Resistensi juga menyediakan ruang yang lebih luas bagi kajian-kajian yang inovatif dan menunjukkan bagaimana sumber daya lokal bisa menghadapi orang-orang yang berada pada struktur di tingkat global.(*)

Perjalanan dari Bau-Bau ke Kendari, Lanjut ke Kolaka

TIBA juga di Kolaka. Saya ingin flash back. Perjalanan Bau-bau hingga Kendari, kemudian Kolaka, amat melelahkan. Bangun pagi saya pergi ke Pelabuhan Murhum untuk berangkat dengan naik kapal Sagori. Sebelumnya, saya singgah beli tiket, namun tidak kebagian. Terpaksa, dengan sedikit kenekadan, saya langsung saja ke kapal dan naik tanpa tiket.

Hari ini, kapalnya sangat padat dengan penumpang. Jam keberangkatannya juga molor sehingga saya menunggu cukup lama. Sadar kalau saya tak memegang tiket, saya langsung naik ke balkon kapal dan duduk di situ sepanjang perjalanan. Panas terik membakar kulit kepala. Tapi saya cukup menikmatinya. Apalagi, di dekatku ada dua jurnalis asal Korea yang baru saja kembali dari Bau-Bau untuk suting film dokumenter tentang penggunaan aksara Korea untuk bahasa Cia-Cia –satu etnis yang cukup besar di Pulau Buton.

Selama lima jam perjalanan, akhirnya tiba juga di Kendari. Hal pertama yang saya lakukan adalah segera mencari warung makan. Saya ingin mencicipi ikan bakar sebagai penawar atas perjalanan yang melelahkan ini. Sayangnya, rasa ikan bakar yang tadi saya cicipi tidak terlalu istimewa. Mungkin karena rata-rata warung ikan bakar di Kendari kebanyakan dimiliki oleh pendatang asal Pangkep, Sulawesi Selatan. Makanya, dari segi rasa, tak ada bedanya dengan warung pangkep di Makassar. Malah lebih enak di Makassar.

Usai makan ikan bakar, saya singgah jalan-jalan di Toko Gramedia di Rabam Mall, Kendari. Saya ingin melihat jenis buku yang tak ditemukan di kota-kota lain. Saya agak kecewa karena rata-rata buku yang dijual sama saja dengan yang ada di Gramedia Makassar. Untungnya, ada sekitar tiga buku yang ditulis tentang Muna. Saya lupa siapa nama penulis buku itu. Tiga bukunya berkisah tentang kebudayaan Muna, mulai dari pingitan, makna budaya dari gelar La dan Wa di Buton-Muna, serta pengaruh Islam di Buton-Muna. Sayangnya, kualitas buku itu sangat buruk. Kelihatan sekali kalau buku itu tidak digarap dengan serius. Bahkan, buku itu tidak dicetak, melainkan diprint biasa. Itupun dengan kualitas yang amat sederhana.

Ini sungguh disayangkan. Padahal, buku tersebut diberi pengantar oleh Gubernur Ali Mazi. Biasanya, ketika gubernur memberikan kata pengantar, maka pastilah diiringi dengan sumbangan sejumlah duit. Mestinya itu bisa digunakan untuk membenahi kualitas buku tersebut, kemudian membenahi editorial. Bagaimana mungkin buku lokal bisa bersaing dengan buku terbitan Jakarta, kalau tidak digarap dengan serius.

Selanjutnya, saya naik mobil ke Pasar Mandonga, lalu naik ojek ke Terminal Puwatu. Hari ini, ada dua kali saya naik ojek dan selalu saja bayar Rp 10 ribu. Saya tak tahu harga dan malas berdebat. Saya menikmati saja perjalanan ini. Tiba di Terminal Puwatu, seorang pemuda berebutan menyapa saat masih di motor. Mereka berteriak-teriak menanyakan tujuan hendak ke mana. Ketika menyebut Kolaka, seorang pria langsung girang dan ikut berlari di sebelah motor yang saya kendarai. Ia bersemangat menurunkan tas ranselku dan menentengnya menuju mobil yang terparkir. Saya ikut saja.

Pria yang mengejar motor yang saya kendarai disebut Aheng. Ia mencari penumpang sebanyak-banyaknya untuk dibawa ke mobil yang hendak berangkat. Untuk tindakannya tersebut, ia akan dibayar sesuai dengan kesepakatan yang berlaku di terminal tersebut. Hampir di semua terminal di Sulawesi Selatan maupun Sulawesi Tenggara selalu ada yang berprofesi sebagai aheng. Para pengusaha angkutan menjalin kerjasama yang menguntungkan dengan para aheng. Andai mereka tak mau kerja sama, maka bisa dikucilkan dan tak adapat penumpang. Para aheng itu juga menjadi preman yang suka mengancam para pengusaha yang tak mau menggunakan jasa mereka.

Perjalanan ke Kolaka berlangsung selama empat jam. Sepanjang jalan, kemiskinan nampak telanjang di depan mata. Begitu banyak warga yang berada di garis kemiskinan. Itu bisa terlihat dari rumah-rumah yang sederhana. Tepat di perbatasan Konawe-Kolaka, saya menyaksikan banyak karaoke untuk kelas menengah ke bawah di sepanjang jalan. Fenomena ini amat menarik untuk ditelusuri lebih jauh. Apalagi, Gubernur Sultra Nur Alam memiliki program bahteramas yang katanya memberikan dana bantuan ke setiap desa hingga Rp 100 juta. Dengan kemiskinan seperti itu, apakah dana yang dikucurkan itu bisa tepat sasaran? Saya tak tahu jawabannya. Saya hanya bisa mengurut dada.(*)


Kolaka, 12 Agustus 2009

Take Me Out Indonesia


SAAT ini aku sedang menyaksikan tayangan ulang dari program Take Me Out Indonesia di Indosiar. Acaranya semacam kontak jodoh, tetapi dikemas dalam sajian yang menghibur. Puluhan wanita berdiri melingkar dalam satu sudut ruangan. Kemudian dihadirkan seorang pria. Para wanita itu lalu menjatuhkan pilihan, apakah suka ataukah tidak. Sang pria lalu menyeleksi mana yang paling disukainya. Asyik khan?

Bagiku, acara ini cukup menggemaskan. Betapa beruntungnya menjadi pria yang disuka banyak gadis dan bisa bebas milih, sebagaimana milih permen di supermarket. Betapa menyenangkannya memilih-milih mana gadis cantik untuk dipacari atau diajak kencan. Tetapi, aku juga membayangkan, betapa malunya menjadi cowok yang tidak diminati di acara itu.Betapa malunya kalau tiba-tiba saja semua gadis mematikan lampu sebagai isyarat tidak suka. Duh…. Apa kata dunia?

Nah, selama beberapa kali menyaksikan acara ini, aku masih tidak mengerti, apa sih sebenarnya yang dicari oleh para wanita cantik? Apa sih yang dicari seorang pria mapan? Dulunya, aku berpikir bahwa semua wanita pasti menginginkan pria tampan dan kaya raya. Mereka mudah klepek-klepek kalau muncul pria demikian. Namun, saat beberapa cowok yang memenuhi kriteria itu muncul, ternyata tidak semua wanita meminatinya. Tidak semua perempuan berebut cinta untuk pria demikian. Tolok ukur kaya nampaknya tidak berlalu di acara itu. Banyak yang kaya, namun tidak semua wanita tertarik. Justru banyak yang ditolak.

Demikian pula sebaliknya. Ketika muncul beberapa pilihan tentang wanita, justru sang pria memilih wanita yang justru tidak cantik jika dibandingkan dengan pesaing wanita tersebut. Aku kadang gemas. Kenapa nggak memilih yang cantik jelita seperti bidadari? Kenapa nggak memilih yang menggairahkan?

Pada akhirnya aku berkesimpulan bahwa mereka yang mengikuti acara tersebut banyak yang berpikir serius. Memang, bisa saja ada yang hendak bermain-main saja, namun aku yakin jumlahnya tak seberapa banyak. Kebanyakan mereka yang berusia di atas 25 tahun, justru menginginkan hubungan yang serius. Mereka menginginkan yang terbaik, yang bisa memberikan rasa nyaman, dan kelak bisa menjadi kawan untuk selama-lamanya. Mereka mencari pasangan abadi, yang bisa membantu untuk mengambilkan air minum saat tubuh mulai renta dan sakit-sakitan. Mereka mencari seseorang yang bisa diajak bicara tentang segala hal yang remeh-temeh di masa mendatang. Mungkin tentang anak-anak yang sudah jauh pergi entah ke mana. Atau mungkin membahas tentang para cucu yang lucu dan menggemaskan.

Di masyarakat kita, memilih jodoh sangat berbeda dengan memilih pacar. Ketika memilih pacar, maka bisa saja berlaku asas trial and error. Anda bisa saja putus dan jadian dalam seminggu demi menemukan yang terbaik. Namun urusan jodoh tidak demikian. Semuanya mencari mana yang terbaik. Bukan soal fisik atau kaya. Tetapi soal seberapa nyaman pasangan itu ataukah tidak. Kenyamanan bukanlah soal apa yang tampak di permukaan. Kenyamanan lebih pada aspek psikologis yang membuat perasaan kita adem tatkala memandang wajah pasangan kita. Kenyamanan itu muncul pada rasa yang menyejukkan ketika suatu waktu kita pulang ke rumah, dalam keadaan lelah atau stres, dan tiba-tiba bertemu dengan pasangan kita. Kenyamanan adalah rasa yang menggenang dan keyakinan bahwa pasangan kita memang tercipta hanya untuk diri kita sendiri. Keyakinan bahwa pasangan kita hadir ke bumi untuk menjelmakan bahagia, memadamkan rasa sedih, dan menjadi pohon rindang yang melabuhkan semua pedih dan kesal dalam diri kita. Mungkin itulah yang mereka cari.(*)


Sabtu, 8 Agustus 2009
Pukul 17.57

Rendra dan Serapal Mantra


SAYA selalu benci setiap kali harus berbelasungkawa atas kematian seseorang. Namun, apa daya, usia seseorang bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan sebagaimana kita memegang remote televisi. Usia adalah perkara ketidakterdugaan di mana kita hanya bisa mengelus dada dan melepaskan tangis yang meraung.

Tadi pagi, saya membaca berita tentang wafatnya sastrawan WS Rendra, sastrawan penjinak kata yang hari-harinya adalah pamflet dan sinisme pada ketidakadilan. Rendra seorang penyair besar yang memiliki keahlian membengkok-bengkokkan kata menjadi mantra. Tatkala mantra itu dirapal, maka bisa menjelmakan angin topan, bisa memunculkan samudera yang membanjiri kita dengan gagasan-gagasan, bisa menjadi tongkat Musa yang membelah lautan angkara dan ketidakadilan.

Pantas saja, penyair Sapardi Joko Damono menyebut Rendra bukan sekedar sastrawan. Rendra adalah penyihir yang kerap merapal mantra dan membuat dunia gelap-gulita dan terang-benderang sesukanya. Kalimat-kalimatnya menyihir jutaan pikiran manusia lainnya untuk kemudian tersentuh dan bergerak bersama menciptakan perubahan. Kehilangan atas Rendra adalah kehilangan atas sosok yang menjadikan kata jauh lebih tajam daripada bedil. Kehilangan atas Rendra adalah kehilangan sosok yang menjadi orkestra dari simfoni kreativitas perlawanan seorang penjinak kata, yang mengisi hari-harinya dengan luapan kesan yang menggenang atas segala yang disaksikannya.

Entah kenapa, setiap kali ada orang besar yang berpulang, maka setiap kali pula kita bertanya-tanya, apakah hari ini kita masih punya sosok sekaliber itu. Kita selalu membawa tanda tanya yang menuding diri sendiri, apakah kita mampu meniti di atas jembatan yang pernah mereka jejaki? Nampaknya, setiap ada kehilangan, selalu ada refleksi dan tanya yang mengejutkan. Perginya Rendra serta Mbah Surip, kembali menyegarkan tanda tanya purba itu, apakah kita hari ini bisa meniti di jejak yang sama?

Giddens pernah menyatakan bahwa salah satu realitas menggiriskan di abad 21 adalah hilangnya nabi-nabi besar. Seorang nabi adalah mereka berkhotbah tentang kebenaran dan menjadikan dirinya sebagai prasasti bagi sesamanya. Jika Giddens benar, maka di tengah zaman yang kian material ini, kita telah banyak kehilangan sosok-sosok yang berkhutbah tentang keadilan dan kemanusiaan. Kita sudah terlampau material hingga alpa mengasah kemanusiaan kita sendiri.

Selama sekian dekade menaklukan kata, kini Rendra berdiam untuk selamanya. Meskipun saya sendiri yakin bahwa Rendra tak pernah diam. Ia abadi untuk selama-lamanya dan menjadi penyaksi atas zaman yang kian jauh dari istana imajinasi yang pernah dibangunnya dalam selama bertahun-tahun. Dalam berbagai mitos Yunani kuno, seorang sosok besar tidak pernah meninggal sebab Zeus akan mengabadikannya sebagai bintang di langit malam. Mungkin Rendra saat ini menjadi satu dari ribuan bintang di langit malam. Ia sedang menyaksikan kita yang galau dan hanya bisa memandangnya dengan tatap memelas.(*)


Jumat, 7 Agustus 2009
Pukul 09.53 Wita

Tradisi Haroa yang Lestari


ASAP putih mengepul dari dupa yang diletakkan di atas keramik tanah liat. Seorang pria menabur kulit buah delima ke atas dupa hingga asapnya kian mengepul. Selanjutnya pria itu membaca ayat Al Quran dengan suara yang cepat. Suasananya mistis.

Pria itu disebut lebe atau pembaca ayat. Pada hari-hari tertentu, ia sangat sibuk menerima undangan membaca ayat Al Quran di rumah-rumah. Ia akan berkeliling dan bisa saja makan di banyak tempat. Rata-rata para lebe sudah berusia lanjut. Mungkin, perlu semacam regenerasi atau kaderisasi pada generasi lebe yang lebih muda.

Pagi ini, acara haroa diadakan di rumah saya. Menurut mama, haroa kali ini demi memperingati hari besar Islam yaitu nisifu sya’ban. Hingga kini, haroa masih menjadi tradisi kultural yang dipertahankan. Sejak masih kecil, saya sudah terbiasa mengikuti haroa. Saat itu, saya sangat girang karena membayangkan bahwa setelah selesai haroa, akan ada makan yang enak-enak secara bersama. Makanya, saya setia mengikuti proses pembacaan doa, hingga akhirnya makan bersama. Meskipun saat itu pikiran tidak sabar menunggu saat-saat makan.

Haroa adalah ritual perayaan hari besar Islam. Pelaksanaannya dilaksanakan di rumah-rumah warga yang diikuti semua anggota rumah dan tetangga yang diundang. Mereka duduk mengumpul di satu ruangan, dan di tengahnya ada nampan yang berisikan kue-kue seperti onde-onde, cucur (cucuru), bolu, baruasa (kue beras), ngkaowi-owi (ubi goreng), dan sanggara (pisang goreng). Semua kue tersebut mengelilingi piring yang berisikan nasi dan di atasnya ada telur goreng.

Usai pembacaan doa, acara selanjutnya adalah makan-makan. Saya teringat antropolog Victor Turner yang mengatakan bahwa makna ritual adalah memperkukuh jaringan sosial di antara seluruh anggota masyarakat. Mungkin, inilah maksud lain dari haroa. Silaturahmi dengan tetangga, serta kian akrab dengan semua keluarga. Kelak, ketika saya berkeluarga, sayapun merayakan haroa secara rutin. Insyaalllah, saya akan meneruskan tradisi itu.

Dalam setahun, haroa bisa dilaksanakan selama beberapa kali, sesuai dengan hari besar yang dirayakan. Banyaknya haroa ini membuat saya tidak tahu persis kapan dan apa makna haroa tersebut. Namun, setelah bertanya sama lebe, saya jadi tahu kapan saja haroa dilaksanakan. Nah, saya akan menampilkannya secara singkat:

Pekandeana anana maelu

Haroa ini diadakan setiap tanggal 10 Muharram. Tanggal 10 Muharram dirayakan oleh para sufi dengan tersedu-sedu. Pada hari ini, cucu Rasulullah, Hussein bin Ali, dibantai bersama seluruh keluarga dan pengikutnya. Makanya, di kalangan penganut ahlul bayt atau syiah, tanggal 10 Muharram senantiasa dirayakan agar menjadi pelajaran bagi generasi penerus.

Ketika Hussein wafat, maka putranya Imam Ali Zainal Abidin (atau dalam sejarah dikenal sebagai Imam Sajjad karena saking seringnya bersujud) menjadi yatim. Dalam bahasa Buton, yatim disebut maelu. Demi memberi kekuatan bagi Imam Ali Zainal Abdiin agar tegar dalam meneruskan amanah Rasululah untuk menegakkan agama Islam, orang-orang Buton mengadakan haroa pekandeana anana maelu (makan-makannya anak yatim).

Pelaksanaannya adalah dengan cara memanggil dua orang anak yatim berusia 4 sampai 7 tahun (sesuai umur Imam Ali). Kemudian dari kalangan keluarga yang melakukan upacara, secara bergiliran ikut menyuapi dua anak tersebut. Sesudahnya, mereka diberi uang sekedarnya. Tradisi ini sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun silam. Saya meyakini tradisi ini menunjukkan kuatnya tradisi sufistik di masyarakat Buton sejak masa silam.

Haroana Maludu

Haroa yang dilakukan pada bulan Rabiul Awal untuk memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Lahirnya Muhammad adalah berita gembira yang menjadi berkah bagi semesta. Muhammad adalah representasi dari sosok yang membawa jalan terang bagi manusia. Untuk itu, kelahirannya dirayakan dengan haroa dan membaca doa syukur bersama-sama. Menurut adat Buton, haroa tersebut dibuka oleh sultan pada malam 12 hari bulan. Kemudian untuk kalangan masyarakat biasa memilih salah satu waktu antara 13 hari bulan sampai 29 hari bulan Rabiul Awal. Setelah itu ditutup oleh Haroana Hukumu pada 30 hari bulan Rabul Awal.

Masyarakat menjalankannya setiap tahun dengan membaca riwayat Nabi Muhammad. Kadangkala selesai haroa, dilanjutkan dengan lagu-lagu Maludu sampai selesai, yang biasanya dinyanyikan dari waktu malam sampai siang hari.

Haroana Rajabu

Haroa ini dilakukan untuk memperingati para syuhada yang gugur di medan perang dalam memperjuangkan Islam bersama-sama Nabi Muhammad SAW. Haroana Rajabu dilakukan pada hari Jumat pertama di bulan Rajab dengan melakukan tahlilan serta berdoa semoga para syuhada tersebut diberi ganjaran yang setimpal oleh Allah.

Malona BanguaRata Penuh
Haroa ini dilaksanakan pada hari pertama Ramadhan. Pada masa silam, hari pertama Ramadhan dimeriahkan dengan dentuman meriam. Kini, dentuman meriam itu sudah tidak terdengar. Masyarakat merayakannya dengan doa bersama di rumah serta membakar lilin di kuburan pada malam hari.

Qunua

Upacara yang berkaitan dengan Nuzulul Qur’an (Qunut). Upacara ini biasanya dilaksanakan pada pertengahan bulan suci Ramadhan atau pada 15 malam puasa. Dulunya, masyarakat memeriahkannya dengan membawa makanan ke masjid keraton dan dimakan secara bersama-sama menjelang waktu sahur. Qunua dilakukan usai salat tarwih dan dirangkaian dengan sahur secara bersama-sama di dalam masjid.

Kadhiri

Upacara yang berkaitan dengan turunnya Lailatul Qadr di bulan suci Ramadhan. Upacara ini tgata pelaksanannya mirip dengan Qunua, yakni setelah salat Tarwih dirangkaikan dengan sahur secara bersama-sama di dalam masjid. Biasanya dilaksanakan pada 27 malam Ramadhan karena diyakini pada malam itulah turunnya Lailatul Qadr.


Nah, itu adalah sebagian dari haroa yang dilakukan oleh masyarakat Buton. Masih banyak jenis haroa yang lain, namun akan saya sampaikan pada tulisan yang lain. Thanks….

Mbah Surip dan Ketenaran yang Memasung...


SAYA ingin menyampaikan duka atas berpulangnya Mbah Surip, seniman eksentrik Indonesia yang meninggal kemarin. Ia meninggal saat berada di puncak ketenaran. Ia seperti bintang jatuh, sesaat nampak melesat angkasa, namun sesaat berikutnya lenyap bak ditelan bumi.

Saya selalu tersentuh setiap melihat penampilannya yang nyentrik. Tampaknya, ia bisa membebaskan dirinya dari berbagai perangkap duniawi. Sehingga ketika berpakaian seperti gembel, ia memaknainya sebagai pembebasan dari sistem sosial yang seperti perangkap. Saya membayangkan hari-hari yang berubah saat menggapai ketenaran. Mungkin, dulunya ia bebas kapanpun hendak tidur dan bangun –sebagaimana lirik lagunya. Tetapi saat ketenaran menyapa, jam tidurnya sudah ditentukan oleh para pelaku industri musik dan event organizer.

Mungkin, ketenaran itu adalah berkah sekaligus kutukan tersendiri baginya. Ia mulai terpasung. Tawanya tidak lagi selepas saat menjadi gembel. Walaupun, melalui ketenaran itu ia bisa menyapa banyak orang di banyak kesempatan. Pada akhirnya, kematian itu adalah sesuatu yang membebaskan dirinya. Tuhan membebaskan Mbah Surip dari perangkap ketenaran dan kekayaan, dua hal yang mulai membelenggunya. Pada akhirnya, Mbah Surip menikmati kebebasan yang sejati. Kebebasan yang sebebas-bebasnya dalam pelukan Yang Maha Pencipta.

Selamat jalan Mbah Surip....

Sebuah Misi yang Berhasil

HARI ini rasa syukur saya luapkan ke udara. Ada rasa yang plong seketika saat berhasil melaksanakan misi yang lama tertahan. Sekian lama gagal mencari upaya agar adik Atun bisa pindah ke Bau-Bau. Sekian lama keluarga berjibaku, mencari celah demi mendapatkan tandatangan pejabat. Kemarin, saya berhasil mendapatkan tandatangan tersebut. Semua senang karena satu tahapan yang paling sulit bisa terlewati. Mudah-mudahan, tahun ini Atun bisa segera pindah ke Bau-bau dan menjagai mama yang sering sakit-sakitan. Saya bahagia.

Pelajaran berharga kemarin adalah senantiasa percaya pada kemampuan sendiri. Jangan terlalu banyak bergantung sama orang lain. Ketika ada hajat atau niatan, maka kita harus berusaha menggapai semuanya. Niat baik pastilah akan membuka pintu langit sehingga setitik cahaya akan menyelusup dan memberi terang dalam perjalanan kita. Fan keberhasilan akan membentang di depan kita. Tidak menjadi mitos!

Membincang Holistik dalam Antropologi

Istilah holistik bisa ditelusuri dari pandangan filsuf Jerman, Wilhelm Dilthey (1833-1911). Dilthey hidup pada masa ketika filsafat idealisme Hegel sedang jatuh dan ditumbangkan oleh positivisme. Pemikiran ilmu alam yang ditandai metode erklaren (eksplanasi) menjadi pemikiran yang mendominasi seluruh bangunan ilmiah. Dilthey lalu mengembangkan pemikiran tentang verstehen (understanding) sebagai bentuk gugatan pada ilmu yang terlampau positivistik. Verstehen dilahirkan dalam bingkai kritik sejarah dan ikhtiar memunculkan human science.

Menurut Dilthey, holistik adalah hubungan melingkar antara part (sebagian) dan whole (keseluruhan). Ia mendefenisikan holistik sebagai perputaran antara part (bagian) dan whole (keseluruhan) dalam memahami sesuatu. Part (bagian) bisa dipahami ketika direlasikan dengan part yang lain hingga membentuk totalitas atau whole (keseluruhan). Pemikiran Diltey tentang holistik ini menjadi bagian penting dari penjelasannya tentang lingkar hermeneutik (hermeneutical circle). Mengacu Webster’s Dictionary, holistik juga dipakai dalam ranah biologi dan kesehatan. Holistik dimaknai sebagai teori tentang pentingnya melihat seluruh aspek tubuh manusia baik menyangkut fisik, mental, hingga kondisi sosial dalam pencegahan penyakit. Holistik adalah sebuah totalitas dari keseluruhan aspek fisik dan nonfisik manusia. Asumsinya adalah bagian tubuh manusia tidak mungkin berdiri sendiri, melainkan memiliki relasi (hubungan yang sangat erat dengan bagian tubuh lainnya.

Pada ranah ilmiah, konsep holistik banyak dipakai sebagai bentuk kritikan pada perspektif Cartesian-Newtonian yang senantiasa melihat alam sebagai sesuatu yang terpisah-pisah atau terpencar-pencar. Perspektif Cartesian-Newtonian ini tidak melihat alam semesta dan manusia sebagai sesuatu yang terintegrasi atau memiliki kaitan erat. Kehadiran perspektif holistik sebagai bentuk counter discourse (wacana tanding) dan memberikan pemahaman tentang adanya aspek yang saling terkait antara manusia dan alam serta pahaman akan leburnya batas-batas yang ketat di antara displin ilmu.

Dalam ranah antropologi, holistik serta komparasi menjadi konsep yang sangat sentral. Dalam konteks ini, holistik adalah adanya totalitas atau keterkaitan antara berbagai aspek dalam menjelaskan tentang manusia dan masyarakat. Dalam ranah ilmu sosial, holistik berawal dari gagasan yang tumbuh subur pada disiplin ilmu biologi. Ilmuwan sosial asal Inggris, Herbert Spencer (1820-1903) membangun analogi holistik pada biologi dan diterapkan untuk melihat masyarakat. Pemikirannya kerap disebut sebagai analogi organik. Ia mengatakan kalau kemajuan sosial adalah konsekuensi dari evolusi sistem sosial. Spencer memandang masyarakat berkembang seperti hewan atau organisme tumbuhan.

Ia menganalisis pokok adaptif sosial budaya yaitu organisasi sosial, ekonomi, agama, dan politik. Menurutnya, keempat unsur ini memiliki analogi dengan aspek biologi tubuh manusia yaitu politik dengan sistem saraf, ekonomi dengan sistem pencernaan, organisasi sosial dengan sistem peredaran darah, hingga agama dengan sistem pernapasan. Pemikiran ini melihat bahwa masing-masing organ pada manusia memiliki keterkaitan antara struktur dan fungsi masing-masing. Ada relasi atau hubungan yang sifatnya fungsional. Pemikiran Spencer tentang hubungan antara struktur dan fungsi ini menjadi salah satu argumen dari aliran struktural fungsional dalam antropologi. Pemikiran dari aspek biologi ini juga mempengaruhi pemikiran dari pendiri aliran fungsionalis struktural dalam antropologi yaitu AR Radcliffe Brown. Brown berpendapat dalam setiap kebiasaan dan kepercayaan dalam masyarakat mempunyai fungsi tertentu, yang bertujuan untuk melestarikan struktur masyarakat yang bersangkutan – susunan bagian-bagiannya yang teratur – sehingga masyarakat tersebut dapat tetap lestari.

Nah, keempat bentuk adaptif sosial budaya itu menyebabkan paradigma struktural fungsional kuat. Keempatnya menjadi penopang sebab memiliki relasi satu sama lain. Gagasan fungsionalisme struktural cenderung bersifat ajek (statis) sehingga menganggap struktur sosial cenderung ekuilibrium (seimbang). Ketika dihadapkan pada isu perubahan, maka fungsionalisme struktural seakan tidak mampu memberikan penjelasan yang memadai. Inilai yang menyebabkan lahirnya berbagai kritikan sebagaimana yang disuarakan penganut paradigma konflik.

Isu perubahan sudah mulai mencuat sejak akhir abad ke-20. Masyarakat memasuki fase baru sejarah yang kian kompleks. Batasan etnisitas, bangsa kian mengalami pergeseran. Wacana globalisasi kian menguat hingga menyebabkan terjadinya peleburan batas kenegaraan atau disebut Appadurai (2004) sebagai deteritorialisasi. Appadurai melihat aktivitas kebudayaan yang kerap disebutnya sebagai imaginary atau proses imajinasi sosial. Menurutnya, iamajinasi itu dibentuk dari lima dimensi mengalirnya kebudayaan global yaitu Ethnoscapes, Mediascapes, Technoscapes, Financescapes, ideoscapes.

Istilah scape, digunakan untuk menggambarkan secara lebih dalam konstruksi perspektif yang ada dalam sejarah, linguistik, dan politik, yang diperankan secara berbeda oleh sejumlah aktor dalam konteks nation-state, multinasional, komunitas diasporik. Ini juga termasuk kelompok sub nasional yang berpindah-pindah seperti halnya agama ataupun ekonomi politik. Gagasan ini berasal dari Benedict Anderson yang terkenal dengan tesisnya tentang imagined community atau komunitas terbayang.

Pola-pola restrukturisasi ekonomi, rasionalisasi, migrasi, dan mobilitas ini melahirkan identitas baru, baik etnik, reginal, nasional, dan migran yang berorientasi pada konsumen dan media. Mike Fischer dan Marcus (1986) menyebut pristiwa ini sebagai krisis representasi yang harus segera mendapatkan respon dari para antropolog. Ini menyebabkan terjadinya pergeseran pada etnografi. Menurut Marcus, harus ada imajinasi ulang (reimagining) terhadap frame holistik agar etnografi senantiasa sensitif dalam merespon perubahan dari lanskap dunia yang terus berubah.

Jika sebelumnya, perspektif tentang holistik hanya terbatas pada satu struktur sosial, kini harus mengalami pergeseran. Robert Thornton (1988:288) mengatakan, pandangan holistik harus bergeser pada upaya untuk mengenali totalitas yang ada pada satu kebudayaan. Pandangan holistik menuntut seorang peneliti antropologi untuk mengkaji setiap aspek idiosinkratik dari suatu kebudayaan. Idiosinkratik bisa didefinisikan sebagai penjelasan tentang hal-hal yang spesifik atau unik dalam setiap kebudayaan. Artinya, seorang peneliti memfokuskan dirinya untuk mengkaji satu kebudayaan dan menggali informasi yang sebanyak-banyaknya serta melihat keterkaitan antara setiap aspek dalam kebudayaan tersebut.

Pandangan holistik harus ditempatkan sebagai kritik dan pengkajian sebuah kebudayaan secara menyeluruh atau totalitas dan ditempatkan pada relasinya dengan unsur lain. Kata Marcus, ini berarti etnografi akan lebuh banyak “berbicara lebih jauh” (say more) di banding apa yang ada di permukaan. Analisa holistik yang sangat mendalam membatasi peneliti hanya mengkaji satu kebudayaan saja karena tidak ada kebudayaan lain yang dapat diperbandingkan untuk semua unsur detail dari kebudayaan yang dikaji.(*)


Berbagai Jalur Menjadi PNS

SELAMA petualangan saya ke daerah-daerah, profesi yang paling diincar oleh warga di daerah adalah menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Entah kenapa, begitu banyak orang yang terobsesi menjadi PNS. Mungkin, mereka berpikir PNS menyediakan masa depan yang memadai termasuk tunjangan di masa pensiun.

Mungkin pula ada yang mengincar seragam PNS itu sendiri. Ketika anda mengenakan seragam PNS itu, maka anda menempati posisi yang istimewa di mata masyarakat di daerah. Ketika anda menjadi pejabat, maka mobil dinas akan anda kendarai, keuangan anda akan menimbun, serta akses istimewa untuk memasukkan keluarga menjadi anggota PNS. Itu hanya sebagian dari keistimewaan menjadi PNS di daerah.

Makanya, banyak orang yang bersedia membayar berapapun demi status PNS tersebut. Sudah bukan rahasia lagi jika untuk menjadi PNS di daerah, anda cukup mencari channel atau klik yang bisa menghubungkan anda dengan mereka yang terlibat dalam perekrutan PNS. Setelah transaksi dengan sejumlah rupiah, anda tinggal menjalani test dan setelah itu tinggal siap-siap menunggu pengumuman, kemudian merayakannya dengan acara mabuk atau mungkin, acara joged, sebuah acara yang paling prestisius di daerah.

Jumlah biaya yang harus dikeluarkan bisa bervariasi. Di Kabupaten Buton Utara, anda mesti menyiapkan uang sebesar Rp 40 juta. Sama halnya di daerah lainnya yang kadang bisa ’membengkak’ hingga angka Rp 80 juta. Jumlah itu juga berlaku ketika hendak ikut seleksi masuk sejumlahs sekolah ikatan dinas, seperti STPDN, polisi, tentara, atau sekolah lainnya. Namun, tidak selamanya jalur menjadi PNS itu harus digerakkan dengan uang. Semuanya tergantung pada klik atau channel. Jika klik itu adalah keluarga besar anda yang menjadi pejabat, maka itu menjadi jalan tol bagi anda untuk menjadi PNS.

Inilah yang sering saya protes secara diam-diam. Seorang anggota keluarga saya sedang mengumpulkan uang hingga lebih Rp 30 juta agar lulus menjadi PNS. Padahal, ketika ngobrol dengan seorang teman, semua saudaranya bisa menjadi PNS dengan mudah karena keluarganya yang menjadi pejabat. Hampir setiap tahun, ada saja keluarganya yang lulus seleksi PNS.

“Strateginya begini. Semua berkas anggota keluarga yang test PNS, dikumpulkan di satu tempat. Selanjutnya, dibawa sama kakek ke rumah sang pejabat. Kakek khan mertuanya pejabat itu. Semua nama yang dikasih, pasti lulus,“ kata teman tersebut.

Saya kesal juga. Ketika keluarga saya mengumpulkan uang hingga Rp 30 juta lebih demi lulus PNS, tiba-tiba saja keluarganya melenggang kangung, tanpa bayar apapun. Ia mengandalkan jaringan keluarga, sesuatu yang tidak dimiliki oleh keluarga saya. "Test itu hanya formalitas,“ katanya. Wah.. Payah.... Pantas saja negeri ini begitu hancur.(*)

Naskah Buton yang Mencengangkan


PETUALANGAN menyaksikan naskah kuno Buton tak selesai dalam sehari. Setelah kemarin melihat foto-foto dan naskah lama, hari ini, kembali saya ke rumah Al Mujazi Mulku untuk menyaksikan naskah-naskah kuno yang belum saya saksikan. Kali ini, saya punya waktu yang lebih lama untuk melihat kembali naskah-naskah lama tersebut.

Seperti biasanya, Al Mujazi menyambut saya dengan ramah. Ia lalu menunjukkan sejumlah koleksi kuno yang disimpannya sebagai warisan turun-temurun di keluarganya. Beberapa kali ia mengeluarkan naskah kuno, dan saya selalu berdecak kagum. Saya merasa speechless karena tak menyangka pada masa silam, nenek moyang Buton begitu rajinnya menulis naskah-naskah dengan huruf Arab dan berbahasa Wolio.

Mujazi memperlihatkan sebuah buku yang agak tebal. Ia memperkirakan, buku itu disusun pada abad ke-18 atau sekitar tahun 1700-an. Pada buku yang agak besar itu –serupa dengan separuh ukuran koran--, saya melihat semua halamannya bertuliskan huruf-huruf Arab. Pada beberapa halaman, terdapat sejumlah gambar dan tanda-tanda yang sukar saya ketahui apa maknanya. Dalam buku “Katalog Naskah Buton“ yang disusun Prof Achdiati Ikram (Guru Besar Filologi UI), buku itu disebut berisikan tulisan tentang aneka ilmu pengetahuan.

Yang mengesankan buat saya adalah lautan simbol yang sarat makna dan masih misterius. Mungkin, penelitian yang intens dari seseorang yang menguasai ilmu filologi, akan membawa kita pada pemahaman yang lebih baik tentang apa sesungguhnya makna yang dikandung oleh simbol-simbol tersebut. Mereka yang hendak menyelami lautan simbol itu, seyogyanya harus memahami bahsa Wolio dan huruf Jawi atau Arab gundul sekaligus. Ia juga harus menguasai sejarah sebab boleh jadi, sebuah tulisan lahir dikarenakan suatu kondisi zaman tertentu.

Setelah Mujazi memperlihatkan buku tebal tersebut, selanjutnya ia memperlihatkan beberapa Qur’an yang ditulis dengan tangan. Lagi-lagi saya tercengang melihat tulisan tangan yang rapi dan jelas. Qur’an pertama yang diperlihatkannya adalah Qur’an yang ditulis oleh Abdul Khalik Maa Saadi yang bergelar Bontona Matanayo. Dalam katalog yang disusun tim UI, Qur;an tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-18 atau sekitar tahun 1700-an. Kondisinya masih sangat baik dan mencengangkan saya.

Selanjutnya, Mujazi kembali memperlihatkan saya sebuah Qur’an tulisan tangan dari abad ke-18. Kali ini, ditulis oleh La Saompula atau yang dijuluki Bontona Mancuana. Tak seperti Qur’an sebelumnya, kata Mujazi, Qur’an ini menyimpan misteri. Jika diterawangkan, maka di dalam setiap halaman terdapat gambar atau simbol tertentu yang berbeda di semua halamannya. Terkadang simbol tulisan Arab, terkadang pula gambar yang agak sukar dikenali. Jika dilihat biasa, maka simbol itu tidak nampak, namun jika diterawangkan, barulah kelihatan. Jika penasaran, lihat saja dalam foto di bawah ini.

Melihat naskah itu, saya kembali tercengang dan tak dapat berkata-kata. Saya membayangkan, andaikan Robert Langdon ada di sini, pastilah ia akan sangat girang dan senang menyaksikan banyaknya simbol yang mesti dimaknai. Mungkin saja, naskah Buton mengandung teka-teki semiotik yang sukar dipecahkan.

Qur’an kuno terakhir yang saya saksikan adalah tulisan tangan dari Sultan Muh Idrus Kaimuddin, Sultan Buton ke-35 yang dijuluki Sangia Mokobaadiana. Sampulnya masih sangat bagus. Namun tidak dengan isinya. Diperkirakan, sampul dan lembaran itu dibeli di Tanah Arab, di mana Idrus beberapa kali pergi menimba ilmu. Di antara semua Sultan Buton, Idrus adalah sultan yang sangat produktif menghasilkan karya. Ia juga penyair yang menulis puisi-puisi religius. Semua syairnya dicatat dalam kabanti serta beberapa buku baik berbahasa Wolio maupun bahasa Arab. Qur’an tulisan Sultan Muh Idrus yang mulai kabur tersebut, bisa dilihat di bawah:
Usai menyaksikan naskah dan Qur’an kuno, Mujazi lalu memperlihatkan beberapa kabanti yang sudah diterjemahkan. Kabanti adalah syair atau puisi yang ditulis dalam bahasa Wolio. Banyak kabanti yang berusia ratusan tahun dan diwariskan secara turun-temurun. Kabanti di sini bisa berisikan pesan spiritual, namun terkdang juga mencatat sejarah atau kisah-kisah yang berisikan teladan atau hikmah. Saya sempat mencatat beberapa kabanti yang penting.

Usai menyaksikan naskah kuno tersebut, ada rasa bangga yang menebal dalam diriku pada kekayaan khasanah pengetahuan nenek moyang yang sudah lekat dengan tradisi intelektualitas. Sebagai generasi hari ini, saya malu karena tidak seproduktif mereka dalam menghasilkan banyak karya yang kelak akan dikenang berbagai generasi sesudahnya.(*)

Ratusan Foto Masa Silam



INI adalah foto bangswan Buton di masa silam. Saya memperkirakan foto ini diambil pada tahun 1930-an, pada masa pelantikan Sultan Buton yang terakhir. Ini adalah foto para bangsawan yang datang dengan memakai pakaian kebesaran. Foto ini adalah satu dari sekian banyak foto yang menjadi koleksi saya dan teman-teman, yang kami dapatkan dari arsip pribadi keluarga Mulku Zahari (alm).

Menurut AL Mujazi Mulku, foto ini dulunya dibawa oleh peneliti asal Belanda yaitu JW Schoorl saat melakukan penelitian di Buton, pada tahun 1983. Foto-foto ini dahulu diambil oleh pejabat atau peneliti asal Belanda yang datang melakukan penelitian atau ekspedisi di Buton. Nah, satu hal yang harus dikagumi dari pemerintah kolonial adalah kemampuan mereka untuk mencatat dan menyimpan semua arsip-arsip penting tentang suatu wilayah. Berkat orang-orang Belanda –yang dimaki dalam buku sejarah kita—foto-foto berjarga itu terselamatkan. Kita bisa menjangkau masa silam dan menemukan identitas kita.(*)

Birokrasi yang Menjemukan

BIROKRASI adalah sesuatu yang menjemukan. Birokrasi adalah sesuatu yang membosankan. Berhadapan dengan birokrasi, kita langsung membayangkan wajah yang cemberut, wajah yang menjemukan, serta situasi di mana kita menjadi bola pimpong. Kita berhadapan dengan sosok-sosok di balik meja yang semuanya tiba-tiba merasa penting dan ingin menghambat kita. Ketika anda hendak ketemu soerang pejabat, maka siap-siaplah untuk dihambat oleh banyak pegawai, dipimpong sana-sini hingga akhirnya anda merasa lelah dan putus asa.

Di negeri ini, menjadi rakyat biasa seolah kutukan untuk dipersulit. Anda adalah sosok yang harus siap menjadi obyek ketika berurusan dengan birokrasi. Anda seakan menyandang kutukan akan senantiasa dihambat atau dipersulit. Bersiap-siaplah untuk disukarkan dan dipimpong sana-sini saat hendak mengurus sesuatu, atau ketika hendak bertemu pejabat. Padahal, di setiap ajang kampanye, mulai dari kampanye pemilu legislatif hingga kepala daerah, anda akan disebut-sebut sebagai ‘tuan yang hendak dilayani.’ Kita terpesona, kemudian memilih. Beberapa menit usai pemilihan, tiba-tiba saja janji langsung diingkari. Kita kecewa.

Sebelas tahun sejak negara ini memasuki gerbang reformasi, pemerintah kita belum menjalankan reformasi birokratis. Padahal di bidang lain, sudah banyak jejak reformasi, mulai dari reformasi posisi militer, kebebasan pers, kebebasan berbicara, dan banyak lagi. Yang tersisa dari birokrasi kita adalah watak feodal yang selalu ingin dilayani, ingin disusui. Birokrasi kita masih ingin disembah-sembah, sebagaimana perlakuan yang diterima para bangsawan feodal di masa silam. Birokrasi kita belum mengalami transformasi menjadi birokrasi yang melayani rakyat. Belum menjadi sesuatu yang memberi napas bagi rakyat, melindungi hak, dan menjadi ‘wakil Tuhan’ di muka bumi yang memberikan keadilan.

Dalam situasi ketika anda dipimpong oleh birokrasi, apakah yang anda lakukan? Apakah menggerutu, ataukah merenungi nasib yang terlahir sebagai rakyat kecil?

Bau-Bau, 1 Agustus 2009
Pukul 06.38

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...