Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Nasib Naskah Buton yang Memprihatinkan

LEMBARAN kertas itu terlihat buram dan dimakan usia. Warnanya kekuningan dan sudah lapuk di sana-sini. Sampulnya warna biru, namun seolah sudah berwarna kehitaman. Saat melihat lembaran itu dari dekat, saya menyaksikan aksara Arab tercatat di situ. Perlahan, saya mencoba membuka lembar naskah itu secara hati-hati. Saya membayangkan Robert Langdon sedang berdebar-debar saat membuka naskah kuno karya Galileo Galilei di Vatikan. Tapi ini lain. Ini adalah naskah kuno di Pulau Buton.

Demikian pengalaman saya saat tadi berkunjung ke rumah Abdul Mulku Zahari (almarhum), mantan Sekretaris Sultan Buton yang terakhir. Anak Mulku, yang bernama Al Mujazi Mulku, masih menyimpan semua naskah kuno yang diwariskan ayahnya sejak mangkat sejak puluhan tahun silam. Isi naskah itu macam-macam. Mulai dari surat-surat Kesultanan Buton dengan Belanda, surat-surat dari sultan pada pejabat kesultanan di daerah, naskah ajaran agama, hingga naskah tentang pengobatan. Semuanya tersimpan rapi, namun kondisinya sudah mulai memprihatinkan.

Mungkin, sebagian dari kita menganggap naskah sebagai hal yang sepele. Coba bayangkan, apa jadinya jika naskah itu lenyap dari bumi? Mungkin kita akan menyaksikan apa yang disebut Ericd Wolf sebagai “masyarakat tanpa sejarah.” Masyarakat yang tak punya visi serta jalan terang dan senantiasa dicucuk hidungnya oleh bangsa-bangsa lain. Akan menjadi masyarakat yang tak pernah mengambil hikmah dari masa ribuan tahun sebelumnya dan terjerembab pada kebodohan yang selalu terulang dalam sejarah. Akan menjadi masyarakat –yang sebagaimana dikatakan Goethe--, yang hidup tidak menggunakan akalnya. Masyarakat yang bebal!

Makanya, saya memposisikan naskah sebagai khasanah Kesultanan Buton yang hingga kini masih lestari. Naskah-naskah itu menjadi mata air sejarah, menjadi satu-satunya jembatan yang menghubungkan kita dengan masa silam. Melalui naskah, kita bisa belajar banyak, mencatat ulang kejadian yang lampau, sekaligus menambah tebal kebanggaan dan harga diri bangsa. Melalui naskah tersebut, masa silam bisa dijernihkan dari berbagai klaim sepihak, yang terkadang menambah-nambah atau mengurang-ngurangi peran satu kelompok masyarakat dalam sejarah.

Untuk itu, selayaknya penghargaan disematkan kepada Al Mujazi Mulku yang setia memelihara naskah tersebut. Ia menyelamatkan naskah itu semata-mata demi menjaga amanah orangtuanya agar tetap menjaga kumpulan kertas-kertas tua yang mulai lapuk tersebut. Mujazi tahu bahwa penyelamatan naskah itu tidak mempertebal kocek pribadinya. Tetapi ia tetap ikhlas menjagai semua naskah itu sebab didasari keyakinan bahwa kelak generasi baru Buton akan mengenali masa silamnya melalui naskah yang dijagainya tersebut. Naskah itu akan menjadi benda yang berharga dan memantik keingintahuan banyak orang.

Mujazi banyak bercerita kalau dirinya selalu dikunjungi para peneliti asing. Saat mengunjunginya tadi, ia baru saja menerima kunjungan seorang peneliti asal Australia yang riset tentang Buton. Dengan gayanya yang ramah, Mujazi menemani peneliti itu dan memberikan informasi yang dibutuhkannya, meskipun untuk itu ia tidak dibayar. Keramahan itu terkadang dibalas dengan tidak sepadan oleh para peneliti. Mujazi dengan fasihnya menyebut banyak peneliti yang membisniskan koleksi naskahnya, tanpa memberikan sedikitpun penghargaan padanya sebagai penjaga naskah.

Ia lalu menunjukkan buku Katalog Naskah Buton yang disusun para pengajar Universitas Indonesia (UI) dan diedit oleh Prof Achdiati Ikram. “Buku ini dikomersialkan. Dijual di mana-mana. Namun, saya sebagai pemilik naskah tidak pernah diberitahu, apalagi diberi royalti,” katanya. Kakak Mujazi juga mengiayakan. Ia sendiri membeli buku itu di Medan. Sementara keluarganya sama sekali tidak mendapatkan royalty atas penerbitan buku. Mujazi juga menyebut nama beberapa profesor asal Malaysia yang nyaris ‘mencuri’ naskah tersebut. “Saya tidak beri izin ketika mereka hendak memotret naskah itu. Saya punya pengalaman ditipu oleh peneliti malaysia,” katanya.

Keikhlasan Mujazi dalam menjaga naskah kuno Buton adalah sesuatu yang patut diacungi jempol. Puluhan tahun menjaga naskah dan museum daerah Buton, ia tidak menerima bayaran memadai. Saya tak mau banyak memberi janji, sebagaimana para peneliti lainnya. Saya hanya bergumam dalam hati, jika kelak saya bertemu pejabat, saya akan minta supaya Mujazi mendapatkan gaji bulanan sebagai penjaga naskah kuno yang menjaga warisan bagi generasi Buton hari ini.(*)

Warung Terenak di Pasarwajo

SAAT mengunjungi Pasarwajo, saya penasaran ingin makan di satu warung yang disebut-sebut iparku sebagai warung terenak. Adik Atun juga ikut berpromosi, jika ingin makan ikan yang paling enak maka singgahlah di warung tersebut. Saya jadi penasaran. Sebagai penggemar kuliner, khususnya ikan, saya ingin tahu bagaimana rasa makanan di warung tersebut.

Usai menyelesaikan urusan, saya lalu mencari letak warung tersebut. Atun sempat lupa di mana posisi warung tersebut. Akhirnya, ia lalu bertanya pada sejumlah pegawai Puskesmas yang ada di dekat simpangan Pasar Lama. Ketika ditanya di mana warung yang paling enak? Pegawai di situ langsung senyum-senyum dan merekomendasikan Warung Wangi-Wangi yang terletak sekitar dua kilometer dari situ, di perbatasan antara Pasarwajo dan Wakoko. Ternyata warung tersebut cukup populer di kalangan warga pasarwajo.

Secara fisik, warung tersebut tidak terlalu besar. Bentuknya seperti rumah tinggal. Ruang untuk makan dulunya adalah ruang tamu. Di runag tengah, saya melihat ada televisi serta karpet untuk tidur. Saat duduk di tempat makan, tak ada pelayan yang datang bertanya hendak pesan apa. Para pengunjung yang datang makan di warung tersebut, sudah cukup paham bahwa untuk memesan makanan, kita harus langsung masuk sampai ke dapur dan menyebut pesanan. Selain itu, menunya tidak banyak. Hanya ada satu menu yaitu Ikan Parende.

Nah, ikan inilah yang disebut ikan terenak. Ikan itu disajikan di mangkok hingga kita bisa mencicipi airnya. Baunya harum dan menggoda selera. Ikan yang disajikan adalah jenis ikan kakap yang disajikan dengan cara parende. Parende adalah teknik memasak ikan dengan cara ditumis.. Ikan parende yang sedang saya makan ini tidak terlalu banyak bumbunya. Berbeda dengan menu ikan kakap merah di Makassar yang banyak bumbunya, ikan ini disajikan dengan minimalis. Parende ikan ini tidak banyak dilengkapi dengan bumbu-bumbu seperti irisan mangga, atau daun kemangi.

Namun, saya sepakat dengan komentar banyak orang. Di seluruh penjuru Pasarwajo, ikan di Warung Wangi-Wangi inilah yang paling enak. Saya senang karena perjalanan saya bisa juga menjelejah wisata kuliner yang enak di situ.(*)

Road to Pasarwajo


PERJALANAN ke Pasarwajo –ibukota Kabupaten Buton-- masih seperti 10 tahun yang lalu. Jalanan masih rusak parah dan membuat perjalanan ke sana jadi sangat berat. Saya heran, mengapa jalanan menuju Pasarwajo sampai sekarang tidak juga diperbaiki.

Padahal, presiden Indonesia sudah berganti sampai enam kali, sudah puluhan orang yang jadi Gubernur Sulawesi tenggara, dan puluhan orang pula yang menjabat sebagai Bupati Buton. Namun hingga kini, tak ada itikad baik untuk memperbaiki jalan menuju Pasarwajo. Jangan-jangan, dana perbaikan jalan itu sudah dikorupsi.

Jarak sejauh 48 kilometer itu saya tempuh hingga dua jam. Itupun, saya beberapa kali berhenti di tengah jalan untuk istirahat. Tepat di kilometer 33, saya singgah cukup lama dan makan jagung muda di satu warung kecil. Warung itu terletak di tengah hutan lebat. Pemilik warung itu pandai juga melihat lokasi yang strategis untuk menambah keuntungan.

Menurut ibu pemilik warung, tidak semua jualan itu diambil dari kebunnya. Banyak yang dibelinya di pasar, sebab tidak setiap saat kebunnya punya sesuatu untuk dipanen. Ia juga mengatakan bahwa rata-rata pedagang di situ adalah orang Cia-Cia. Pantasan, ketika ia berbicara dengan anaknya, saya hanya samar-samar memahami bahasa yang digunakannya. Cia-Cia adalah satu subetnis di dalam etnis Buton. Jumlah mereka cukup banyak. Bahkan, mjantan Gubernur Sulawesi Tenggara Ali mazi juga etnis Cia-Cia dan besar di Pasarwajo.

Usai ngobrol dan menikmati jagung kuning, saya melanjutkan perjalanan. Memasuki beberapa kampung seperti Lapodi dan Wasaga, jalanan masih rusak parah. Untunglah, perjalanan sudah tidak jauh lagi, yaitu sekitar 15 kilometer. Penderitaan saya selanjutnya berakhir ketika memasuki gerbang Pasarwajo. Jalanannya mulai baik. Pasarwajo masih seperti 10 tahun lalu. Masih indah dipandang mata.(*)

Blog Ini Lagi Rusak

MAAFKAN atas ketidaknyamanan ini. Blog ini tiba-tiba saja rusak. Banyak teman yang cerita, ketika klik tulisan selengkapnya, tiba-tiba saja tidak berfungsi. Saya tidak tahu apa yang terjadi. Pengetahuan saya di dunia internet serba terbatas. Saya juga mengamati blog teman-teman. Ternyata, mereka juga mengalami problem yang sama. Kesimpulannya, mungkin ada masalah dengan pihak blogger, penyedia blog ini. Saya hanya bisa berkata maafkan atas ketidaknyamanan ini.(*)

Berapa Jumlah Benteng di Pulau Buton?

Benteng menjadi artefak sejarah yang paling banyak ditemukan di Pulau Buton. Mulai dari Wakatobi, bisa ditemukan benteng di Pulau Kaledupa, Tomia, hingga Wanci. Bahkan benteng juga ditemukan pada titik terjauh di Buton Utara yaitu Benteng Kulisusu. Ratusan benteng, tapi hingga kini belum ada inventarisasi atau pendataan secara detail berapa sesungguhnya jumlah benteng tersebut. Ratusan benteng itu menimbulkan pertanyaan buat saya, mengapa orang Buton di masa silam harus membangun banyak benteng?

Pertanyaan ini mestinya dijawab dengan studi sejarah yang mantap. Mungkinkah masa silam di kawasan ini adalah masa barbar di mana yang kuat selalu mencaplok yang lemah? Mungkinkah di Buton dahulu ada masa kegelapan dan mencekam, tatkala bajak laut sering berdatangan dan menganggu ketenangan semua warga?
Saya kira studi-studi sejarah yang bisa mengungkap misteri, mengapa sampai banyak benteng bertebaran di Pulau Buton. Ini menjadi tantangan untuk studi lebih lanjut yang lebih kaya. Studi masa silam ini akan menjadi lapis-lapis ingatan yang bisa memperkaya khasanah kebudayaan kita hari ini. Studi masa silam tentang benteng itu bisa menebalkan identitas kebudayaan dan pembentukan karakter orang Buton di masa kini.

Pertanyaannya yang juga menarik dijawab adalah berapa sesungguhnya jumlah benteng di Pulau Buton? Beberapa orang yang saya wawancarai selalu menggeleng. Mereka hanya mengatakan banyak, namun tidak tahu pasti ada berapa benteng di sini. Kemarin, saya bertemu arkeolog muda yang tinggal di kawasan benteng keraton Buton. Namanya Rahmat Kurniawan, namun akrab disapa La Wong. Katanya, belum pernah ada riset yang pasti tentang berapa jumlah benteng yang ada di Pulau Buton. “Saya pernah mendengar publikasi tentang jumlah benteng hingga 33 buah. Tapi saya tidak terlalu yakin. Perkiraan saya ada ratusan benteng,“ katanya.

Bagi orang Buton, apa yang disebut benteng bukanlah kawasan yang dikelilingi tembok. Benteng adalah dataran tinggi yang difungsikan sebagai tempat pertahanan. Jadi, meskipun di satu kawasan hanya ada batu yang mengelilingi, maka itu juga disebut benteng.

Wong mengatakan, di kota Bau-Bau saja, jumlah benteng ada sembilan. Padahal yang selama ini diketahui masyarakat hanya empat yaitu Benteng Keraton Buton, Benteng Sorawolio, Benteng Baadia, dan Benteng Sulaa. Kata Wong, jumlah yang sesungguhnya ada sembilan di Kota Bau-Bau. “Sayangnya, sampai sekarang belum pernah ada inventarisasi berapa sesungguhnya jumlah benteng tersebut.“

Kata Wong, benteng selalu ditemukan di dataran tinggi dan berfungsi sebagai tempat pertahanan. Sebagai arkeolog ia beberapa kali menemani tim dari luar negeri yang memetakan benteng di Buton. Katanya, pengakuan bahwa Benteng Keraton Buton adalah benteng terluas di dunia bukanlah pernyataan sepihak. Bahkan para arkeolog asingpun mengakui pernyataan tersebut.

“Dari sisi luas, benteng kita paling luas di bandingkan benteng manapun. Bahkan jika dibandingkan Benteng Somba Opu, tetap masih jauh lebih luas Benteng Keraton Buton. Yang unik, benteng di Buton bukan hanya berfungsi sebagai pertahanan. Tapi juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan,“ kata Wong.

Di antara banyak benteng itu, Benteng Keraton Buton sudah mendapat pengaruh Eropa. Sebab banyak istilah di benteng itu yang juga ditemukan pada beberapa benteng di luar negeri. Misalnya Bastion, Baluara, serta Lawa. Saya kira, benteng ini punya lapis-lapis misteri yang mesti bisa dijawab oleh para peneliti sejarah dan arkeologi. Saya sendiri sudah punya jawabannya. Namun tidak akan saya kemukakan jawaban itu di ruang yang terbatas pada blog ini. Mungkin pada tulisan lain.(*)

Pulau Aspal yang Pernah Bergema

DI tahun 1970-an hingga 1980-an, Pulau Buton sering mendapat sebutan sebagai “Pulau Aspal.” Sebutan ini muncul dikarenakan kandungan aspal yang membuncah di pulau ini. Saking banyaknya aspal, sampai-sampai muncul ke permukaan dengan sendirinya. Sejak tahun 1930-an, pemerintah Hindia Belanda membangun industri pertambangan aspal yang kemudian membuat Pulau Buton tersohor sebagai negeri penghasil aspal.

Bapak saya dulu bekerja sebagai karyawan di perusahaan penambang aspal tersebut. Ia sering bercerita tentang ramainya kapal-kapal asing yang datang untuk mengangkut aspal. Dulunya, kawasan pasarwajo –sebagai lokasi penambangan aspal—adalah kawasan yang berkilau. Pemukiman ditata seperti perkotaan. Fasilitas rumah sakit yang lengkap, hingga acara tahun baru yang selalu mendatangkan para artis.

Tapi itu dulu. Sekarang, Pasarwajo sudah menjadi kota mati. Aspal Buton jatuh di pasaran internasional. Sebutan Pulau Buton sebagai kota aspal, mungkin sudah tidak tepat lagi untuk dipertahankan. Sebutan ini kadang-kadang menimbulkan sinisme dari mereka yang datang dan mengatakan, “Masak disebut kota aspal, sementara jalannya sendiri banyak yang rusak.”

Sebuah Tanya yang Menghentak


“Kapan kita menikah” tanyanya. Sesaat aku termangu, tak punya jawaban. Lalu, aku menghembuskan napas dan terpekur. Mungkin sudah seribu kali ia menanyakan itu. Sudah seribu kali pula kuberikan jawaban yang sejelas-jelasnya. Namun, entah kenapa jawabanku tak pernah bisa memuaskannya. Selalu saja pertanyaan itu diulanginya. Aku mulai kesal. Entah, jawaban apa yang ditunggunya. Padahal, tanpa bertanyapun, ia sudah paham bagaimana keadaanku, berapa isi dompetku, berapa kas ATM-ku, berapa nilai motorku yang belum lunas cicilannya.

“Apa kamu tahu apa yang berkecamuk dalam hati ini?“ tanyaku.
“Ya.. saya tahu,”
“Lantas, kenapa harus tanyakan itu terus?”
“Saya hanya ingin manja,”
“Manja?? Apa kamu paham bahwa pertanyaan itu seperti sembilu tajam?“
“Iya. Tapi saya hanya ingin manja,”
katanya.

Ia sedang bermain-main. Tetapi kalimat-kalimatnya seperti sembilu yang mengiris-iris hati ini, kemudian kepingan hati kecil-kecil itu ditetesi perasan jeruk nipis. Sakit memang. Sudah berkali-kali aku katakan bahwa aku membutuhkan kesabarannya barang beberapa saat. Ibarat petani, aku tengah menunggu panen atas apa yang sebelumnya kutanam. Aku tengah harap-harap cemas menunggu sesuatu yang kelak menjadi modal bagi masa depan yang tengah kurajut dan kuanyam-anyam selama beberapa tahun. Namun, ia selalu menanyakan sesuatu yang perlahan menjadi teror bagiku. Sesuatu yang bisa memporak-porandakan bangunan yang kubangun. Sesuatu yang mulai menjadi horor buatku..

Andaikan nikah itu seperti permintaannya untuk dibelikan permen, mungkin aku langsung tersenyum bahagia. Andaikan nikah itu seperti rengekan manja minta dibelikan boneka Panda Poo, mungkin aku sudah lama memenuhinya. Sebab urusan membelikan permen dan mengantar belanja dan hal-hal yang menghabiskan uang lainnya, akulah jagonya. Aku sudah cukup teruji untuk urusan yang satu ini. Namun nikah bukanlah perkara yang sederhana seperti itu. Nikah adalah perkara seberapa mampu kita mengumpulkan semua pundi-pundi kekayaan kita kemudian dihabiskan dalam sehari-semalam. Semuanya demi duduk manis di singgasana, dan disalami bak raja sehari.

Mungkin karena ia perempuan, maka pertanyaan itu jadi tanpa beban. Sebagai perempuan, kodratnya adalah menunggu lelaki yang datang. Ia menyeleksi, menyortir, dan menentukan mana pria yang terbaik. Setelah itu, keluarga sang pria akan datang dan menegosiasikan berapa yang harus dibayarkan, sebesar apa pesta itu akan digelar. Ia menunggu siapa yang datang. Sementara aku sebagai lelaki yang harus berjibaku memenuhi semuanya. Aku harus “berkelahi“ demi mendapatkannya. Saat aku memutuskan menikahinya, ia langsung menjadi milik keluarganya yang bagai hakim memiliki otoritas untuk menentukan seberapa banyak beban yang harus kukeluarkan. Untuk itu, aku hanya bisa mengurut dada.

Aku tidak sedang bercanda atau mendramatisir keresahan ini. Beberapa tahun yang lalu, aku pernah menjadi peneliti lepas yang mengamati bagaimana pernikahan di kebudayaannya. Aku paham bahwa pernikahan itu bukan sekedar ruang yang memungkinkan pertemuan dua hati. Pernikahan di kebudayaannya punya makna yang lebih luas dari sekedar urusan melegitimasi cinta dua insan di hadapan Tuhan.

Pernikahan adalah arena yang mempertemukan dua keluarga besar, malah mempertemukan dua kampung. Makanya, pernikahan menjadi pesta yang melibatkan banyak orang. Mulai dari imam desa, hingga grup penyanyi elekton yang bayarannya bisa sampai Rp 6 juta untuk semalam. Pernikahan adalah industri besar yang menggerakkan laju perekonomian di satu kampung.

Tapi masalahnya, aku tak punya keluarga besar itu. Tak ada satupun pamanku yang sukses jadi orang besar yang mengangkat nama keluarga. Bapakku yang semestinya bisa meringankan beban itu sudah lama berpulang ke Rahmatullah. Aku memang masih punya ibu. Tetapi betapa jahatnya aku jika masih mengharapkan uluran tangan ibu yang saat ini berkalan dengan tertatih-tatih. Ibu juga berhak menikmati receh demi receh yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun. Betapa kejamnya jika aku yang menghabiskan isi celengan ibu.

“Mengapa sampai kamu ngotot ingin cepat menikah?“ tanyaku.
“Sebab aku tak mau lagi pisah denganmu,“ katanya.
“Tapi kita kan selama ini tak pernah pisah. Jauh-jauh dari Jakarta, aku datang hanya untukmu. Hanya untuk menemanimu memandang bulan,“
“Tapi kakak akan pulang ketika malam larut. Aku ingin melihatmu ketika bangun tidur,“
“Kalau begitu, aku akan datang ke kosmu pada subuh-subuh biar bisa kau pandangi,“
“Mendingan nikah kalau gitu,”
“Tapi aku belum punya pekerjaan”
“Rezeki gampang dicari Kak. Yang susah adalah mencari ketulusan,“
“Ah... Itu terlalu abstrak. Duit nikahnya dari mana?“
“Terserah,“
katanya.

Seperti biasa, diskusi hari ini tak ada konklusi. Masih berputar-putar pada jawaban yang sama. Namun, hari ini aku agak stres dihujani pertanyaan itu. Setelah bertahun-tahun menjalin hubungan, aku sudah membayangkan akan tiba pada titik ini. Tapi, aku tidak menyangka akan secepat ini. Padahal, tadinya aku membayangkan keresahan ini akan menderaku sekitar dua tahun mendatang, saat umurnya beranjak menjadi 25 tahun.

“Gimana kalau kita silariang saja?” katanya. What? Silariang atau kawin lari tak masuk dalam perencanaanku. Tak terbersit dalam pikiranku untuk melakukan itu. Aku membayangkan aib yang akan mendera keluarganya. Membayangkan bagaimana murkanya keluarganya. Selanjutnya saya hidup dikejar-kejar ketakutan. Keluarganya tak akan pernah rela anaknya dibawa dengan cara demikian. Mereka akan berikrar bahwa aib itu harus dienyahkan. Aku tak mau membayangkan silariang. Sudah cukup berbagai stres dan trauma mendera tubuh ini.

Lantas, apa yang harus aku lakukan?

Indahnya Bukit Samparona


KEMARIN saya mengunjungi Bumi Perkemahan Samparona di Kaesabu, Bau-Bau. Kawasan yang dulunya adalah pebukitan dengan pohon-pohon pinus itu, kini menjadi bumi perkemahan yang indah. Dulunya kawasan itu adalah kawasan yang gersang, kini berhias dengan sejumlah fasilitas sebagaimana layaknya sebuah bumi perkemahan.

Di situ, saya menyaksikan patung tunas kelapa yang berukuran besar, lengkap dengan tulisan Bumi Perkemahan Samparona. Di bawahnya ada sungai buatan yang mengalir di dekat lapangan hijau itu. Kemudian, ada pula tulisan besar “Satya Kudarmakan, Darma Kubaktikan.“ Membaca tulisan itu, saya senyum-senyum karena membayangkan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Dikisahkan bahwa Lintang dan teman-temannya menghafal mati Dasa Dharma Pramuka dan melafalkannya dnegan keras ketika diminta Pak Harfan.

Saya lalu singgah memegang patung tunas kelapa yang besar itu. Awalnya saya pikir patung itu terbuat dari kayu. Betapa hebatnya tukang kayu yang mengukir patung sebegitu besar. Setelah dekat dan dipegang, ternyata terbuat dari fiberglass. Pantasan, ketika dipukul-pukul, terdengar suara menggema di dalamnya. Berarti, ada rongga di dalamnya. Saya juga menyaksikan di areal itu berdiri arena panjat tebing yang cukup besar. Di situ, ada komunitas panjat tebing yang setiap harinya datang antri untuk memanjat tebing.

Sebenarnya saya masih ingin melanjutkan ekspedisi melihat air terjun Samparona. Namun, adik Atun yang menemani perjalanan ini, keberatan. Ia takut memasuki rerimbunan pinus yang gelap itu. Terpaksa saya mengajaknya pulang ke rumah. At least, saya menyenangi perjalanan ini. Sungguh menyenangkan menyaksikan kawasan yang dulunya tandus, kini sudah rumbun dengan pemandangan yang amat indah.(*)


Saat Menimang Novel Tanah Tabu


SETIAP kali mendengar seorang sahabat menerbitkan buku baru, saya dilanda rasa iri hati. Saya cemburu amat sangat dan berharap agar kelak sayapun bisa pula meniru jejaknya yaitu menerbitkan buku-buku baru. Sungguh..!!! Saya tak pernah iri melihat kawan yang berlimpah harta, juga tidak iri melihat teman yang memamerkan mobil baru. Tidak iri melihat kawan yang rumahnya mentereng.

Namun saya iri melihat teman yang menerbitkan buku baru. Sebab saya berpikir bahwa buku adalah sesuatu yang kekal. Buku adalah lapis-lapis aksara yang abadi dan akan tersimpan hingga ribuan tahun. Buku adalah mesin waktu yang bisa membawa siapa saja untuk mengenali kita lebih jauh, menelusuri lorong-lorong pemikiran kita, hingga menyeret orang-orang untuk bersepakat atau tidak bersepakat dengan gagasan yang kita lepaskan. Meskipun kelak sang penulisnya sudah dimakan ulat-ulat tanah, namun namanya akan tetap abadi sebab karya-karyanya akan menjadi jejak-jejak yang bertutur tentang dirinya.

Sudah beberapa hari ini saya menimang-nimang novel Tanah Tabu karya Anindita S Thayf. Saya ingin membacanya hingga tuntas dan menuliskan kesan tentang novel itu. Namun niat itu saya urungkan karena saya menunggu suasana yang tepat untuk membacanya dengan tenang. Penulis novel --yang menjadi pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2008 ini—adalah sahabat saat masih kuliah di Universitas Hasanuddin. Anin dulunya terdaftar di Fakultas Teknik Unhas, seangkatan dengan saya yaitu angkatan 1996. Saya kagum saat melihat novelnya yang jadi pemenang sayembara tersebut. Betapa tidak, juri sayembara itu adalah para sastrawan yang tersohor seperti Seno Gumira Adjidarma, ataupun Linda Christanty.

Saya benar-benar iri melihat novel karya Anin pemenang sayembara yang sangat prestisius sebagaimana novel Saman karya Ayu Utami juga pernah menang pada tahun 1998. Inilah yang membuat saya juga tercengang. Saya tak tahu sejak kapan Anin menulis. Yang jelas, selama kuliah di Unhas, saya tak pernah menemukan tulisannya di media cetak kampus, maupun media massa yang terbit di level nasional. Pada masa itu, saya cukup mengenal msiapa saja mereka yang sering menulis dan meramaikan rubrik sastra di level Makassar maupun nasional. Tetapi Anin tiba-tiba saja menerobos kepungan nama-nama para penulis yang hingga kini seolah hanya jalan di tempat dan terancam kutukan “bisa mati kafir karena tidak punya karya.”

Anin seakan menampar banyak orang yang selama ini mengklaim dirinya sastrawan dan hingga kini tak kunjung melahirkan tulisan yang segar dan berkualitas. Atas semua pencapaiannya itu, saya menyampaikan rasa salut sekaligus harapan agar kelak saya bisa meniti di jejak yang sama dengannya.

Saat menimang novelnya, saya selalu membayangkan saat-saat perkenalan dengannya. Saya mengenalnya melalui internet, melalui friendster dan selanjutnya komunikasi dilakukan melalui yahoo messenger. Saat itu, saya tidak pernah memberitahu Anin bahwa saya berprofesi sebagai jurnalis di satu koran terbitan Makassar, dan menjadi kontributor di sebuah majalah nasional. Seingat saya, saat itu kami tidak banyak membahas karya-karya sastra. Ia juga tidak pernah secara spesifik menjelaskan bahwa dirinya suka menulis sastra.

Penah pula saya janjian untuk ketemu dengannya di satu mal di Makassar. Sayang sekali, seminggu setelah bertemu, saya dipindahtugaskan ke Jakarta. Saat itulah saya mulai kehilangan kontak dengannya. Setekah memutuskan berhenti sebagai jurnalis dan lanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia (UI), Anin seolah ditelan bumi. Saya tidak tahu di manakah ia gerangan. Hingga suatu hari, ia menyapa saya di facebook dan menunjukkan link berita tentang novel barunya. Saat itulah saya menyadari bahwa Anin sudah menjadi sastrawan yang bebicara banyak di level nasional.

Tulisan di blog ini saya buat sebagai bentuk kekaguman dan apresiasi atas novel yang dihasilkannya. Selamat buat Anin..!!!

Problem Internet Teratasi

INI hari ketiga saya di Bau-Bau. Problem internet yang sebelumnya saya khawatirkan, kini mulai teratasi. Kemarin, saya datang ke kantor Telkom untuk mengajukan aplikasi pemasangan modem. Tadi, petugas Telkom datang ke rumah dan memasang modem speedy. Mulai hari ini, rumah saya tersambung dengan jaringan global. Dari rumah kecil di pulau yang terpencil ini, saya bisa mengintip apa saja yang terjadi di pentas dunia. Saya sangat senang.(*)

Besok Berangkat ke Bau-Bau

BESOK saya akan berangkat ke Bau-Bau di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Saya khawatir, selama di Bau-Bau, blog ini akan jarang terisi. Di sana, internet masih menjadi barang mahal. Kita mesti mengeluarkan uang Rp 6.000 untuk jatah satu jam. Itupun, kita mesti siap dengan kondisi loading yang sangat lambat. Harusnya pemerintah mengupayakan agar akses internet dipulau-pulau bisa lebih kencang ketimbang di kota-kota.

Internet sangat vital bagi warga pulau untuk mendapatkan kanal informasi alternatif. Mestinya mereka harus lebih diprioritaskan untuk mendapatkan akses internet yang baik, ketimbang warga kota yang mudah dapat koran, televisi, ataupun jaringan internet. Yah… mungkin saja karena pengguna internet di pulau-pulau tidak sebanyak yang ada di kota. Alasan ini sama tak masuk akalnya. Fungsi pemerintah adalah memberikan pelayanan yang memadai bagi warganya. Beda dengan pasar yang notabene untuk mencari keuntungan.(*)

Dicatat dalam Buku Dirk Tomscha


SEORANG peneliti berkebangsaan Jerman bernama Dirk Tomsha menulis buku berjudul Party Poliics and Democratizations in Indonesia. Ia melakukan studi lapangan di beberapa kota besar di Indonesia demi menjelaskan bagaimana demokrasi diterapkan pada scope yang sangat mikro.

Yang bikin saya agak terkejut karena ia memasukkan nama saya bersama Dr Dias Paradimara dan Muliadi Mau sebagai salah seorang informannya ketika berada di Makassar. Tak hanya itu, ia lalu melanjutkan dengan kalimat “provided excellent insight into dynamics of local politics in South Sulawesi.” Dipuji seperti ini bikin saya melambung. Padahal, saya sendiri sudah lupa pada apa yang pernah saya ucapkan padanya.

Gambar di atas adalah hasil scan atas halaman yang menyebut nama saya. Terus terang, saya sendiri sudah lupa kapan ilmuwan ini mewawancarai saya. Saya hanya samar-samar mengingat jika saya pernah berkenalan dengan Dirk Tomscha. Yang jelas, apa yang dilakukan Dirk Tomscha adalah bagian dari sikap ilmiah untuk menyebut siapa saja yang menginspirasi penulisan suatu karya. Ia berjiwa besar mengakui sejauh mana kontribusi orang lain atas lahirnya karyanya.

Selamat buat Dirk…!!

Mau????

SEORANG teman mengirimkan foto olahan melalui internet. Saya langsung tertawa lepas melihat foto ini. Foto ini lumayan efektif untuk melepas stres. Thanks sobat atas kiriman fotonya...





Kutuk-Mengutuk sebagai Budaya Kita


SETIAP kali ada peristiwa bom, maka saat itu juga pemerintah kita sibuk mengutuk sana-sini. Mulai dari mengutuk para pelaku pengeboman, mengutuk intelijen yang tidak bisa mendeteksi bom, hingga mengutuk polisi yang selalu saja terlambat datang. Kemarin, saya nonton televisi. Muncul presiden yang kembali mengutuk para pengebom yang sadis.

Tak hanya pemerintah. Masyarakat juga sibuk mengutuk sana-sini. Mulai dari mengutuk pemerintah yang lamban, mengutuk siapapun pelaku pengeboman, hingga mengutuk kepala negara yang bisanya cuma mengutuk. Ini negeri yang warga dan pemerintahnya sibuk mengutuk sesuatu yang tidak jelas.

Saya menganggap tindakan mengutuk ini sah-sah saja untuk menyatakan ekspresi. Yang sesalkan adalah ketika terjadi kutuk-mengutuk, kita tidak diberikan penjelasan yang tegas: apa yang sebenarnya terjadi dan sejauh mana upaya yang telah ditempuh pemerintah untuk menyelesaikan apa yang dikutuk tersebut. Kita bisanya hanya mengutuk, tanpa bekerja apa-apa. Kita hanya bisa memaki-maki, tanpa mencari tahu apa yang sebenarnya dimaki dan apa yang seyogyanya harus dilakukan demi mengatasi apa yang dimaki-maki tersebut.

Jangan-jangan, kutuk-mengutuk ini adalah bagian dari budaya kita. Jika budaya dipahami sebagai sesuatu yang bersifat kolektif dan ditransmisikan dari generasi ke generasi, kita adalah generasi yang menerima tradisi kutuk-mengutuk sebagai warisan. Kita menemukan tradisi mengutuk ini dalam berbagai ujaran masa silam, termasuk dongeng yang populer di masyarakat. Dalam kisah Malin Kundang, endingnya adalah situasi ketika seorang ibu kemudian mengutuk anaknya yang durhaka. Ketika sang ibu mengutuk, langit langsung membuka dan titah Tuhan langsung bekerja.

Nah, berbagai kisah tentang kutukan tersebut sampai pada kita sebagai generasi kekinian. Jika kisah-kisah tersebut bermaksud menjelaskan tentang nilai ideal, maka kita hanya mengambil aspek kutuknya saja, tanpa melihat lebih jauh pesannya.

Saya menduga tindakan mengutuk sesuatu hanya sebagai strategi untuk mencuat di tengah era banjir berita seperti ini. Dengan cara mengutuk keras sesuatu, kita semakin dikenal sebab punya pendirian tegas. padahal, di balik kutuk-mrngutuk tersebut, kita tidak melakukan apa-apa.

Rata Penuh Apa yang Harus Dilakukan?
Saatnya kita berhenti mengutuk sesuatu. Bolehlah kalau itu dikemukakan demi memanaskan semangat untuk berbuat sesuatu. Kita harus terbiasa menyelesaikan satu masalah secara runtut, kemudian menemukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah.


BELUM SELESAI

Nujuman tentang Karebosi


KAREBOSI hari ini bukan lagi lapangan yang penuh aktivitas warga Makassar. Bukan lagi oase tempat hidup banyak orang dan saling berbagi. Karebosi hari ini adalah sebuah lapangan hijau yang tertata rapi dan di bawahnya ada mal megah. Pemkot Makassar bersikukuh bahwa yang mereka lakukan adalah penataan, yang dalam bahasa kerennya adalah revitalisasi. Mereka mengabaikan fakta bahwa begitu banyaknya masyarakat yang merasa memiliki dan menjadikan lapangan itu sebagai tempat memulai dan menghabiskan hari.

Semalam, saya ngobrol lepas dengan beberapa teman tentang lapangan Karebosi. Kami tak banyak membahas kontroversi pembangunan mal di Karebosi. Toh, mal itu sudah lama berdiri, menjadi simbol dari ketidakpedulian pemerintah pada suara warga. Semalam, saya dan teman-teman bercerita tentang hal-hal yang mistik tentang lapangan itu. Yang menarik adalah teman saya Nasri Abduh mengatakan bahwa dirinya banyak mendengar nujuman atau ramalan tentang Karebosi hari ini. “Saya banyak mendengar orang-orang yang mimpi tentang Karebosi. Katanya, Karebosi akan runtuh. Mal akan binasa dan porak-poranda. Akan ada banjir darah di sana,“ katanya.

Istilah banjir darah itu muncul dikarenakan mal itu akan runtuh pada saat ribuan warga sedang berbelanja di sana. Mereka diperkirakan akan menjadi korban dari runtuhnya mal yang terletak di dasar lapangan Karebosi tersebut. Entah benar apa tidak, kata Nasri, mimpi ini tidak cuma diceritakan oleh satu orang. Ia banyak mendengar cerita yang sama tentang Karebosi yang akan runtuh. Ketika saya tanya berapa orang yang pernah menuturkan mimpi itu secara langsung kepadanya, Nasri makin semangat. “Yang jelas, mereka yang cerita tentang mimpi itu, tidak punya hubungan langsung dengan mereka yang selama ini menolak mal di Karebosi. Makanya saya percaya,“ kata Nasri dengan sorot mata penuh keyakinan.

Saya melihat semua nujuman tersebut secara berbeda. Dalam kisah itu, sesungguhnya ada semacam resistensi atau perlawanan terhadap tindakan yang dilakukan pemerintah. Ada hasrat perlawanan atau ketidakpercayaan pada pemerintah yang diartikulasikan secara diam-diam melalui semua nujuman tersebut. Kita tak boleh gegabah dan langsung menyalahkan masyarakat yang masih percaya pada mistik semacam itu. Justru melalui kisah-kisah itu, masyarakat mengekspresikan pandangannya terhadap mal di Karebosi sekaligus membangun demarkasi atau larangan mengunjungi mal tersebut. Artinya, nujuman tentang Karebosi itu bisa dipandang sebagai jendela kebudayaan yang bisa menjelaskan banyak hal bagi kita. Saya kira ini sangat menarik jika direkomendasikan pada para peneliti untuk mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi di sana.(*)


Ingin Nonton Harry Potter 6


SAYA tak sabar ingin menyaksikan Harry Potter 6: The Half Blood Prince. Sejak Harry Potter 5, serial ini kian mencekam. Ini sudah bukan lagi kisah tentang anak-anak yang riang memasuki sekolah sihir. Ini adalah kisah tentang remaja yang beradu taktik dengan penyihir senior. Ini tentang ketamakan seorang penyihir sakti yang tiba-tiba takluk oleh cinta kasih yang melingkupi seorang remaja.

Dalam Harry Potter 6 ini, saya penasaran menyaksikan bagaimana visualisasi Prof Severus Snape ketika “membunuh” Prof Albus Dumbledore. Bagi saya, Snape adalah tokoh yang sama pentingnya dengan Dumbledore dalam serial ini. Snape sangat lihai dengan peran-perannya sehingga bisa mengangkang di dua sisi baik dunia gelap, maupun dunia terang. Snape juga paling berani sebab melakukan hal-hal yang mustahil dilakukan oleh mereka yang mengaku sebagai penyihir hebat.

Yang bikin saya tercengang karena Snape melakukan semua misi berbahaya itu sebab didorong oleh rasa cinta yang dalam pada ibunda Harry yaitu Lily Potter. Meskipun Lily sudah lama tewas. Meskipun Lily sudah “mengkhianati“ cintanya sebab lebih memilih James Potter ketimbang dirinya, Snape tetap kukuh memelihara cintanya. Ia masih tergetar kala memandang mata hijau Harry Potter. Di saat ia hendak menghembuskan napas ketika diterkam ular Nagini, Snape masih sempat memanggil Harry dan menatap mata kehijauan itu.

Snape adalah sosok pencinta yang tak pernah surut cintanya. Pada titik seperti Snape, cinta menjadi kekuatan yang menggerakkan semua langkah kakinya. Cinta menjadi pembebas dari kutukan kegelapan, sekaligus membawa Snape pada titik kemuliaan yang bergerak karena kata hatinya. Saya suka Snape. Saya suka Dumbledore. Dan saya suka sama Harry Potter. Semoga bisa segera nonton.(*)

Mahalnya Waktu Luang

WAKTU adalah sesuatu yang sungguh mahal bagi saya. Walaupun saat ini saya belum punya pekerjaan tetap, namun saya sudah mulai kerepotan mengatur waktu. Padahal, saya punya target untuk segera menerbitkan dua buah buku di bulan Oktober ini. Jika saya tidak segera menyelesaikannya, maka semua pekerjaan akan menumpuk.

Entah kenapa, belakangan ini saya susah menolak. Hampir semua tawaran dan ajakan, selalu saya terima. Mulai dari ketua panitia pementasan seni, membuat film dokumenter, hingga menjadi editor buku. Tadi siang, dua orang teman meminta saya untuk membantunya mengerjakan skripsi dan tesis. Itu belum cukup. Saya juga masih punya ambisi idealis untuk menerbitkan buku yang saya tulis sendiri. Berbagai ambisis serta tawaran dari banyak teman mulai membuat saya keteteran mengatur hari. Saya mulai kesulitan untuk menyesuaikan waktu kapan harus menuntaskan semua agenda tersebut.

Mestinya saat ini saya harus segera menentukan prioritas hendak melakukan apa. Mestinya saya harus menyingkirkan segala hal yang tidak perlu dan bisa berkonsentrasi pad apa-apa saja yang paling penting buat saya. Susahnya juga karena saya juga harus banyak melunagkan waktu buat ibu dan adik yang saat ini ada di Makassar. Setiap hari saya harus antar adik ke hotel tempatnya pelatihan. Tanpa saya, mama tidak bisa ke mana-mana sebab saya adalah kaki yang mengantarnya ke manapun dan membelikan apapun di luar.

Saya mulai lelah. Tapi saya harus tetap punya prioritas agar semua kerjaan tidak sia-sia. Dalam situasi begini, saya merindukan waktu yang panjang untuk berleha-leha dan bersantai atas segala urusan yang mulai penat. Mungkin, saya butuh libur.(*)


Setan Makassar Versus Mantra Buton


INI adalah sepenggal kisah yang saya dapatkan dari Bapak Muliadi Mau, dosen Fisip Unhas. Saya bertemu dengannya saat melayat meninggalnya ayah seorang kawan di Rumah Sakit Wahidin. Muliadi bercerita pengalamannya yang menarik untuk dibahas lebih jauh. Saya terpingkal-pingkal mendengar kisahnya, namun saya juga memikirkan sesuatu yang menarik di balik cerita itu.

Suatu waktu, kata Muliadi, ia bersama anak kecilnya yang berusia sekitar 4 tahun, jalan-jalan di dekat danau Unhas. Sepulang dari situ, anaknya langung sakit panas serta tak henti menangis. Muliadi lalu mengkompres dan memberikan obat panas, namun tak juga mempan. Ia lalu membawanya ke seorang dokter anak yang cukup tenar di Makassar. Ketika sang dokter melihat anak itu, ia lalu meminta Muliadi untuk pulang mencari dukun. “Ini namanya kapinawangan... Cari orang pintar. Dia yang tahu cara obati sakit ini. Bukan dokter!” kata dokter tersebut.


Andaikan pernyataan itu disampaikan seseorang yang bukan berlatar kedokteran, mungkin Muliadi tidak percaya. Namun ini justru disampaikan seorang dokter yang cukup berpengaruh di Makassar. Saat itu, Muliadi tiba-tiba ingat kalau mertuanya baru saja datang dari Buton. Kebetulan, mertuanya adalah seorang sakti mandraguna yang cukup dikenal di Tanah Buton. Di masa Kesultanan Buton, mertuanya menjadi bonto atau kepala distrik di kawasan Mawasangka, yang dijuluki Bontona Lantongau. Kesaktiannya tersohor ke pelosok negeri Buton.


Dengan penuh semangat, Muliadi pulang dan menemui mertuanya agar segera membacakan mantra. Mertuanya lalu tafakur dan merapal beberapa mantra yang dikuasainya. Setelah beberapa saat, mertua sakti ini lalu berkata, “Saya tidak bisa atasi setan ini. Saya tidak mengerti bahasa yang digunakannya. Dia pake bahasa Makassar, smeentara saya pakai bahasa Buton. Coba cari orang Makassar untuk obati anak ini.“


Muliadi kembali stres berat. Di tengah malam begitu, di mana harus mencari dukun sakti asal Makassar. Haruskah ia langsung ke Takalar atau Jeneponto untuk menemukan dukun demi mengobati anaknya? Di tengah bimbangnya, sorang tetangga lalu membisikinya sesuatu. Ternyata, tak jauh dari situ tinggal seorang penjual sayur yang dikenal cukup sakti. Setelah penjual sayur itu datang, ia langsung merapal mantra, dan menyapukan air di wajah anak itu. Saat itu juga, sang anak langsung sembuh.


Bagian paling menarik dari kisah ini adalah batasan etnik dan kebudayaan juga berlaku di dunia gaib. Ternyata, para makhluk gaib juga mengenal suku bangsa sehingga ketika sang dukun hendak berkomunikasi dengannya, harus mengerti bahasa sang mahluk gaib. Buktinya, ketika mertua Muliadi mengeluarkan mantra Buton, ternyata sang mahluk gaib tidak mengerti bahasanya. Ketika Muliadi mendatangkan dukun asal Makassar, barulang setan tersebut kabur dari tubuh si anak kecil.


Saya sempat berseloroh. Jika demikian halnya, tentunya kita bisa menalukan riset tentang etnografi mahluk gaib. Kita bisa memposisikan dunia gaib sebagai frontier yang dijelajahi dan dilukiskan dengan narasi. Sayangnya, dunia gaib adalah dunia yang subyektif. Kita tak pernah mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi, selain mendengarkan kesaksian sejumlah orang tentang apa yang terjadi di situ. Makanya, jika dilakukan riset, pastilah akan tidak mudah menggambarkannya.


Nah, seperti apakah gambaran tentang dunia gaib? Pertanyaan ini pernah saya tujukan ke beberapa orang. Seorang teman yang beretnis Bugis menggambarkan hantu atau setan sebagaimana gambaran orang tua Bugis. Sedangkan seorang teman yang beragama Kristen menggambarkan setan memakai jas serta bergigi taring seperti drakula. Teman yang etnis Tionghoa menggambarkan setan memakai pakaian klasik Cina serta rambut dikuncir. Lain lagi dengan teman asal Jawa.


Kesimpulannya adalah kita melihat dunia gaib sebagaimana preferensi kultural yang kita miliki. Gambaran tentang dunia gaib seperti setan atau hantu, tak pernah lepas dari sosok yang menggambarkannya. Jika yang menggambarkannya adalah seorang Bugis yang besar dengan mitos-mitos dan syair Bugis, ia akan menggambarkan setan sebagaimana yang pernah diimajinasikannya.


Setan adalah produk kebudayaan. Setan bisa menjadi jendela awal bagi kita untuk memasuki jantung sebuah kebudayaan. Sebab setan akan menunjukkan preferensi kultural dari seseorang yang mengaku pernah menyaksikannya.(*)


Turut Berduka Cita

TURUT berdukacita atas meninggalnya ayahanda Jeto, seorang sahabat di Respect. Tadi sore, saya datang menemani Jeto yang sedang bersedih di Rumah Sakit Wahidin, Makassar. Malam ini, jenazah tersebut akan dibawa dengan ambulans menuju Bau-Bau dan melintasi perjalanan darat yang panjang dan tiga kali menyeberang laut. Mudah-mudahan, jenazah itu bisa tiba dalam waktu dua hari, sesuai dengan jadwal yang direncanakan.

Saya bisa memahami perasaannya sebab saya pernah mengalaminya. Seorang ayah bukan sekedar penopang keluarga. Seorang ayah adalah semesta yang melingkupi udara dan matahari tempat kita hidup dan mendapatkan napas. Seorang ayah menguatkan langkah dan menemtukan visi ke arah mana kaki kita hendak bergerak. Seorang ayah adalah segala-galanya.

Jeto bersedih dalam diamnya. Ia tak menampakkan sedikitpun ekspresi sedih. Malah, ia beberapa kali tersenyum saat saya dan teman-teman datang menguatkannya. Tetapi saya tahu. Dalam sikap diam itu, sesungguhnya ada gemuruh dalam dirinya. Dalam sikap yang tenang itu, ada badai yang sedang berkecamuk. Mungkin ia sedang berusaha menenangkan diri dan keluarganya agar tabah menghadapi cobaan tersebut. Saya juga merasakan kesedihannya. Turut berduka cita....!


Selasa, 14 Juli 2009
Pukul 20.00 Wita


Saat Atun Diopname

ADIK Atun kembali sakit. Semalam dia muntah-muntah. Entah apa yang sudah dimakannya. Muntahnya tak juga berhenti. Meski sudah tidak ada makanan di lambungnya, ia muntah terus. Kasihan, ia sungguh tersiksa. Tak tahan melihatnya terus-terusan sakit, saya bersama mama dan kakak lalu membawanya ke Rumah Sakit Dr Wahidin. Penuh. Kami lalu membawanya ke rumah sakit Ibnu Sina.

Jam 1 malam, saya minta izin untuk pulang ke kamar. Saya lelah seharian memindahkan barang ke kamar ini. Meskipun kakak menyediakan tempat tinggal yang sangat memadai, saya tetap ingin memiliki kamar sendiri. Saya tetap ingin mandiri dan punya ruangan di mana saya sendirian dan menemukan banyak inspirasi. Untuk itu, saya bahagia memiliki kamar ini. Sayang sekali, di malam pertama ketika saya ingin bermalam, Atun sakit dan harus opname.

Setiap kali melihat Atun, saya selalu sedih. Saya sedih dengan fakta bahwa dia selalu masuk rumah sakit untuk opname. Saya tak paham apa sakit yang dideritanya. Saya hanya bisa sedih jika melihat keadaannya yang sakit. Tubuhnya mulai kurus. Sangat berbeda dengan fisiknya ketika masih kuliah di Unhas dahulu. Ia juga tak boleh kelelahan akibat kerja keras.

Mestinya, begitu menyadari kondisi fisiknya, ia harus membatasai kegiatannya. Semangatnya yang besar seakan melampauai keterbatasan fisiknya. Sayang sekali, fisik manusia ibarat mesin yang punya keterbatasan. Kita sebagai pemilik mesin itu harus pandai-pandai menentukan kapan saat mesin diistrahatkan atau dirawat di bengkel. Mestinya, Atun menyadari kapan ia mulai lelahdan harus berhenti dari rutinitasnya.

Saya meniatkan tulisan di blog ini sebagai mantra penyembuh atas sakitnya. Semoga dalam waktu dekat, ia sudah bisa keluar dari rumah sakit dan kembali ceria seperti sedia kala. Semoga...!!!

Makassar, 13 Juli 2009
Pukul 01.21 malam

(ketika saya usai membuat tulisan di atas, datang sms dari mama. Atun sudah sehat. Mereka semua sudah pulang ke rumah di Nusa Harapan Permai. Thanks God.....!!!)


Sejauh Manakah Anda Belajar?

SAMPAI batas manakah kita sanggup belajar keras? Tak ada istilah final dalam hal upaya mengumpulkan ceceran pengetahuan. Dalam samudera pengetahuan, sejauh-jauhnya kita menjelajah, kita tak akan pernah mencapai kata final. Ketika kita tertarik mendalami sesuatu, maka saat itu juga terhampar sebuah lautan pengetahuan untuk diselami sampai batas di mana kita sanggup. Pernyataan ini relatif sebab sangat bergantung pada sejauh mana keseriusan kita dalam mencari pengetahuan.

Bagi saya, semua gelar sarjana, doktor maupun profesor hanyalah sebuah stempel yang menyatakan seseorang sedang menggapai titik tertentu di samudera pengetahuan. Gelar itu hanyalah simbol semata, sebab nantinya gelar itu akan diuji sejarah apakah seseorang tersebut benar-benar terjun dan berenang di samudera pengetahuan. Namun, tanyakanlah pada profesir tersebut apakah sekian tahun ia meneliti di laboratorium, apakah ia sudah menemukan satu kata final atau titik terakhir dalam perjalanan pengetahuan? Saya yakin jawabannya adalah tidak. Ketika anda mengupas satu lapis pengetahuan, maka akan muncul kembali lapis-lapis yang tak berkesudahan.

Proses pencarian pengetahuan itu seperti halnya ketika sedang onani. Kita sesaat terpuaskan. Namun, semuanya hanyalah satu kanalisasi saja. Onani itu semacam penyaluran hasrat tidak pada jalur yang sebenarnya dan tidak benar-benar memuaskan. Pencarian pengetahuan itu tak pernah membawa kata puas. Banyak di antara kita yang gertantang untuk terus menyingkap misteri pengetahuan, namun tdiak sedikit di antara kita yang pasrah dan merasa puas dengan pengetahuan yang hanya setetes. Itulah dinamikanya.

Meminjam istilah Will Smith dalam film Hitch, hal paling substansial dalam hidup bukan pada seberapa jauh pencapaianmu, namun pada proses-proses yang kamu lalui dan mendewasakan. Mungkin, inilah tujuan ilmu pengetahuan. Menyediakan proses yang kelak akan berujung pada penemuan diri kita sendiri.(*)

Saatnya Menata Ulang Hari-hari

LIBURAN mahasiswa kali ini akan saya maksimalkan dengan baik. Ada beberapa proyek yang harus segera saya selesaikan. Mulai dari pembuatan film dokumenter tentang para politisi yang menginspirasi, hingga proyek pembuatan dua buah buku tentang Buton. Kegiatan lainnya adalah ikut mendesain proyek lembaga swadaya masyarakat (LSM) bersama teman dosen di Universitas Negeri Makassar (UNM).

Berbagai proyek tersebut benar-benar menyita waktu dan perhatian. Saya seolah manusia super sibuk yang mulai kehilangan waktu untuk sesaat berleha-leha. Saya memang lelah. Tapi saya selalu usahakan untuk mengerjakan dengan tuntas semua proyek tersebut. Bukan cuma soal uang. Tapi saya sedang mengasah jam terbang untuk terlibat di banyak kegiatan. Saya selalu yakin bahwa selalu ada buah dari semua proses yang sedang ditanam hari ini. Makanya, kita harus sungguh-sungguh dan meyakini bahwa apa yang sedang kita lakukan bukanlah sebuah kesia-siaan. Hanya mereka yang menanam yang kelak akan memanen!

Saya juga harus menjelaskan kepada semua keluarga tentang aktivitas saya. Kepada mereka, saya selalu menjelaskan bahwa status saya adalah tidak memiliki kerjaan tetap. Ketika saya tidak kreatif dan keluar rumah, maka saya bisa kehilangan mata pencaharian. Saya bukan pegawai negeri sipil (PNS) yang setiap bulan selalu aman. Uang mengalir terus ke rekening tanpa bekerja keras.

Saya bukanlah PNS. Makanya, saya harus selalu sibuk. Pikiran saya tidak boleh banyak santai. Say harus terus bergerak, mumpung masih muda. Kelak ketika saya tua dan mulai mapan, mungkin saya akan mengenang masa-masa hari ini sebagai masa yang penuh dinamika. Masa-masa yang menegangkan. Bayangkan, apa jadinya ketika saya tidak mengerjakan proyek-proyek itu. Mungkin, barangkali saya masih belum bisa survive. Padahal, saya mesti bangkit dan segera keluar dari kuadran ketidakberdayaan ini. Itu menjadi prioritas untuk saat ini.(*)

Balla Lompoa yang Menggetarkan Dunia

KEAGUNGAN Istana Balla Lompoa tidak hanya menjadi ikon kebanggaan warga Makassar, namun juga menjadi kebanggaan warga dunia. Dalam waktu yang tak lama lagi, istana Balla Lompoa akan ditahbiskan sebagai rumah kayu terbesar di dunia dan seolah membisikkan kabar kepada semua bangsa-bangsa bahwa Makassar adalah negeri yang pernah merajai lautan di negeri-negeri yang dihembus angin timur.

Balla Lompoa pernah menjadi tempat bermukim raja-raja yang memerintah Kerajaan Gowa. Balla Lompoa sendiri dalam bahasa Makassar berarti rumah besar atau rumah kebesaran. Di dalam museum terdapat berbagai macam peninggalan kerajaan termasuk benda-benda pusaka, mahkota dan berbagai perhiasan berharga serta terpampang pula silsilah keluarga Kerajaan Gowa.

Pada masa silam, Kerajaan Gowa pernah menjadi salah satu kerajaan besar dengan bandar yang sangat ramai. Berbagai bangsa-bangsa singgah berniaga dan menjalin persahabatan dengan Gowa. Mereka merasa aman sebab penguasa Gowa dicatat sejarah sebagai penguasa yang budiman dan bersikap adil kepada siapapun yang datang berdagang. Tak hanya itu, bala tentara Kerajaan Gowa juga dikenal perkasa di lautan. Pantas saja jika sejarawan Anthony Reid dalam karyanya The Rise of Makassar, menyebut Gowa sebagai salah satu kota paling modern di dunia pada abad ke-17.

Kini, jejak-jejak kejayaan Gowa bisa dilihat di Balla Lompoa. Bertempat di Jalan Hasanuddin no 48, Sungguminasa, Gowa, Balla Lompoa masih nampak agung dan menggetarkan. Istana ini dibangun pada tahun 1936 pada masa pemerintaan Raja Gowa ke-31 yaitu I Mangngi-mangngi Daeng Matutu dan pernah direstorasi pada tahun 1978-1980. Perhatian pemerintah terhadap revitalisasi kawasan bersejarah ini sangatlah besar. Beberapa bulan lalu, rencana pengembangan Balla Lompoa telah dimatangkan dan diumumkan kepada publik. Selain dinobatkan sebagai rumah kayu terbesar di dunia, Balla Lompoa akan "disambung" dengan Istana Tamalate yang berdiri di sampingnya menjadi satu kesatuan tak terpisahkan.

Direncanakan, kawasan ini bakal menjadi obyek wisata sejarah terindah dan bakal diintegrasikan dengan makam Sultan Hasanuddin dan Syekh Yusuf. Nah, bangunannya akan semakin besar sebab nantinya seluas 3.202 meter persegi. Luas Balla Lompoa 963 meter persegi ditambah Istana Tamalate 1.615 meter persegi dengan tambahan 390 meter persegi dan bangunan pendukung 308 meter persegi. Untuk memberikan makna lebih sakral terhadap Balla Lompoa sebagai bangunan bersejarah, bangunan akan diangkat dengan hidrolik sekitar tiga meter dari permukaan jalan raya.

Tak hanya memperluas kawasan istana, nantinya di depan Balla Lompoa akan berdiri relief atau patung 36 Raja Gowa yang pernah memimpin. Patung para raja itu seakan memberikan tantangan bagi generasi kekinian untuk tetap memelihara spirit masa silam demi membangun masa kini yang perkasa.(*)

Jika Jusuf Kalla Benar-benar Kalah

JIKA Jusuf Kalla benar-benar kalah, saya tak punya setitik harapan pemerintahan sekarang akan sanggup menuntaskan agenda-agenda perubahan. Saya tak punya harapan bahwa pemerintahan ini akan berjalan di jalan sejarah bangsa-bangsa yang sukses menorehkan jejak emas. Saya tak hendak menyalahkan rakyat yang lebih mengedepankan citra dan kharisma. Inilah masyarakat kita yang terus saja dibuat bebal, tanpa dicerdaskan oleh para elite politik.

Jika Jusuf Kalla benar-benar kalah, saya hanya bisa berucap sedih pada mitos tentang orang-orang Indonesia timur yang tak bisa beranjak ke kursi nomor satu. Mitos bahwa kita hanya menjadi pelengkap yang disebut dalam berbagai pidato. Mungkinkah akan tiba seuatu masa ketika bangsa ini bisa benar-benar merdeka dan menghargai siapapun yang terpilih, tanpa memandang latar etnik dan sejarahnya?

Bisakah kita tersenyum lega ketika bangsa ini menghormati program kerja calon pemimpinnya yang membawa bangsa kita ke gerbang kemajuan dan perubahan? Membawa bangsa ini ke arah jembatan emas dan berdiri sejajar dengan bangsa yang lebih dahulu berlari kencang. Saya tak berharap banyak dengan pemerintahan ini. Saya masih berharap agar tugas-tugas perdamaian tetap diemban oleh Jusuf Kalla, meskipun dirinya berada di luar garis pemerintahan sekarang. Jusuf Kalla adalah tokoh besar yang harus diakui kiprah dan jejaknya di pentas sejarah bangsa ini. Semoga kelak –andai masih bisa berharap--, akan ada satu sosok pemimpin besar dengan semangat Jusuf Kalla yang menghidupkan kemandirian bagi bangsa ini. Semoga itu tidak lama lagi.(*)

Michael Jackson, Kesunyian, dan Kesedihan


KASET dan MP3 Michael Jackson ludes di Makassar. Orang-orang kembali hanyut dengan alunan khas Michael yang menghentak hingga yang mengiris-iris. Kematian sosok yang merupakan anak kandung tradisi budaya pop ini adalah kematian yang menguntungkan bagi produser dan studio yang memproduksi semua lagu-lagunya.

Saya selalu tersentuh dengan lagu-lagu kemanusiaan Michael. Sewaktu kuliah di Universitas Hasanuddin (Unhas), mahasiswa program studi Hubungan Internasional (HI), setiap penyambutan mahasiswa baru selalu menyanyikan lagu Heal the World. Hampir di semua acara, mahasiswa HI menyanyikan lagu ini. Saya sampai hafal mati semua liriknya. Mereka seolah merasakan empati Michael yang ingin memandang dunia dengan lebih baik.

Saya pun menyukai semangat kemanusiaan yang dikumandangkannya. Namun ketika melihat fisiknya yang putih, saya langsung berubah pikiran. Jika Michael punya kesadaraan kemanusiaan yang tinggi, mengapa pula ia harus memetamorfosis dirinya dari berkulit hitam legam, menjadi berkulit putih mentereng? Apakah ia malu dengan identitas hitam yang dalam darahnya mengalir tradisi perbudakan dan rasialisme dari bangsa Amerika?

Michael tak pernah menjelaskan pilihan-pilihannya secara gamblang. Media massa hanya menyebut dirinya yang terkena penyakit kulit yang langka sehingga harus dioperasi. Entah kenapa, saya tidak terlalu yakin dengan itu. Selama ini, publisitas tentang Michael sebagai seorang raja pop dunia menyebabkan kita kesulitan untuk melihat apakah berita tentangnya adalah realitas ataukah sebuah fiksi belaka. Kita tak bisa memilah informasi tentang Michael sebab semua informasi berkelindan hingga membingungkan kita sendiri.

Saya sepakat dengan Oprah Winfrey yang mengatakan Michael telah kehilangan identitasnya sebagai seorang Afro-American. “Ia malu mengaku sebagai kulit hitam,“ katanya. Derasnya kritik dari sejumlah kalangan membuat Michael ikut-ikutan marah. Ia menjawab semua pertanyaan dan tudingan dengan single 'Black or White' yang menggebrak dunia pada 1991. Dalam video klipnya, ia menari di tengah suku Indian, masuk di tengah kumopulan penari Thailand, duet menari India, terakhir dia berubah menjadi panther hitam. Lagu yang menduduki puncak tangga lagu di lebih dari 18 negara itu diyakini orang sebagai caranya mengumumkan jati dirinya yang penuh kontradiksi.

Ia memang tidak menjawab secara langsung. Lagu Black or White itu hanya menegaskan pandangannya bahwa hitam dan putih sama saja. Ini tidak menjawab pertanyaan apakah ia malu dengan hitam? Apakah ketika memilih menjadi putih, ia melihat putih seperti halnya kosmetik yang bisa diganti-ganti?

Saya menduga, pilihan-pilihan Michael adalah dikte dari pasar. Menurut aktivis, Earl Ofari Hutchinson, ada dua fase penting dalam hidup Michael. "Pertama, identitasnya sebagai Afro-Amerika, musik, disko, gaya hidup, dan aksi panggungnya yang benar-benar 'hitam'," kata Hutchinson. Sedangkan fase kedua, Michael sangat ambivalen. "Musiknya, penampilannya yang berubah drastis. Penggemarnya pun makin beragam. Anda tak lagi melihat identitas Afro-Amerika pada sosoknya," tambahnya.

Ketika memilih jadi putih, Michael mendapatkan banyak penggemar baru. Meski demikian, ia tidak benar-benar putih. Kakinya seolah mengangkang di dua sisi dan meraup penggemar kulit putih maupun kulit hitam. Jika analisis ini benar, berarti Michael kehilangan kedirian dalam berbagai pilihannya. Tatkala memilih menjadi putih, ia berada dalam kuasa modal dan bisnis yang mempengaruhinya. Dugaan saya, pasar bukanlah satu-satunya alasan untuk dituding. Michael melakukan tindakan itu sebab dikuasai oleh hasrat untuk memutus rantai rendah diri yang dialaminya sejak masih kecil dan mempertanyakan mengapa ia berkulit hitam. Sayang sekali, ia tak sanggup mengganti darahnya menjadi darah mereka yang berkulit putih. Tetap saja yang mengalir di situ adalah darah dan kromosom dari bangsa kulit hitam yang sejerahnya kelam di tanah Amerika.

Kembali pada apa yang sebelumnya saya katakan, kita sulit mengetahui secara persis bagaimana kehidupannya. Saya belum pernah membaca buku yang ditulis tentang hari-hari yang dilewatinya. Satu hal yang saya catat, Michael menamakan kompleks tempat tinggalnya yang luas dengan sebutan Neverland. Sebutan ini diambil dari nama pulau yang dihuni Peter Pan, --seorang anak kecil yang menolak menjadi dewasa. Mungkinkah Michael ingin menolak dewasa sebagaimana halnya Peter Pan? Mungkin ia memikirkan bahwa masa paling bahagia tatkala menjadi kanak-kanak yang belum diganggu dengan hasrat popularitas. Hidup kian bermakna seiring keceriaan dan tawa khas seorang anak kecil. Sayang sekali, di tempat inilah ia sering dikabarkan melakukan pelecehan seksual pada anak kecil.

Michael telah meninggal sambil membawa semua kontroversi tentang dirinya. Saya serasa baru kemarin melihatnya menyanyi lagu "As long as you're my baby, it don't matter if you're black or white" dalam lagu Black or White. Ia hendak menjelaskan posisinya yang banyak dituding. Saya mengakui dirinya sebagai penyanyi besar. Namun tidak sebagai manusia besar.(*)

Jurnalisme Pacuan Kuda

BELAKANGAN ini, saya agak malas nonton tivi. Betapa tidak, televisi kita semuanya seragam. Saya tak menemukan ada isu berbeda dan unik dari sebuah stasiun tivi. Semuanya sama saja. Ketika satu tivi mengangkat isu tertentu, maka tivi yang lain akan ikut-ikutan mengangkat isu yang sama. Pantas, apa perbedaan antara satu stasiun tivi dan yang lain?

Dalam kaitan dengan liputan pemilihan presiden (pilpres), semua tivi kita menerapkan jurnalisme pacuan kuda. Mereka hanya sibuk meliput persiapan para joki, bagaimana persaingan antar kuda, serta jalannya pacuan kuda. Mereka mengabaikan bagaimana kehidupan mereka yang menonton tivi. Mereka hanya sibuk meliput bagaimana persaingan antar kandidat presiden, drama di balik pernyataan kandidat presiden yang saling sentil atau saling serang, hingga bagaimana tim sukses saling berdebat di televisi.

Coba saja hitung, berapa banyak acara tivi yang sejenis. Hitung juga berapa banyak acara tivi yang substantif mrngangkat bagaimana isu-isu yang berdenyut di jantung masyarakat kita. Kita akan menemukan betapa televisi kita tidak mendidik. Politik hanya dilihat sebagai tujuan, bukannya proses untuk menggapai sebuah tujuan. Makanya, negeri ini seolah jalan di tempat, tanpa jauh melaju ke depan.

Televisi kita mengabaikan bagaimana masyarakat yang menjadi saksi atas peristiwa tersebut. Semua isu-isu dan permasalahan yang ada di masyarakat hanya menjadi pelengkap penderita. Tidak menjadi sesuatu yang diperhatikan dan didesakkan kepada seorang capres. Makanya, jurnalisme yang dominan di sini adalah jurnalisme pacuan kuda. Jurnalisme yang sibuk memperhatikan kuda dan joki dan tidak peduli dengan bagaimana kekumuhan mereka yang menonton. Jurnalisme yang melihat politik sebagai panggung untuk disorot, tanpa mengetahui bahwa para penonton sudah mati kelaparan karena lapar yang mendera. Inilah jurnalisme pacuan kuda.(*)

Indonesia sebagai Imajinasi

Indonesia adalah imajinasi. Satu bentuk yang lahir dari upaya membayang-bayangkan sesuatu kemudian melahirkan gambaran tertentu. Satu citra mental yang dilukiskan oleh mereka yang pernah menjelajah hingga pelosok Nusantara kemudian dijerat oleh rasa kagum yang berlebihan. Kekaguman itu menjelma menjadi tuturan yang dikabarkan ke berbagai penjuru dunia: bahwa ada gugusan pulau yang sedemikian indah dan kaya, masyarakatnya rukun sebagaimana semboyan gemah ripah loh jinawi.

Indonesia dimulai dari sepercik kesan para penjelajah dan orientalis yang begitu genit dan dikepung birahi eksotisme Indonesia. Indonesia dimulai dari kegairahan untuk menjelajah dan menemukan setumpuk cerita untuk dikisahkan kepada bangsa barat yang senantiasa mengklaim dirinya jauh lebih beradab sehingga punya otoritas untuk menaklukan yang lain. Indonesia adalah nama yang diberikan sejumlah ahli etnografi yang kemudian menyusun peta jelajah bangsa asing dan resource yang kemudian dikeruk dan menggerakkan layar industrialisasi di Eropa barat.(*)

Pertama Kali Mencontreng

UNTUK pertama kalinya saya menggunakan hak pilih saya sebagai warga negara. Seorang kawan mengatakan, posisi saya sama persis dengan Sudjiwo Tedjo, sama-sama golput semumur hidup, namun tergerak untuk menggunakan hak pilih demi memenangkan pasangan JK-Win.

Lepas dari itu, kakak ipar saya sejak pagi sudah sangat sibuk. Ia menelepon semua anggota keluarga agar menggunakan hak pilih dan mencontreng JK-Win. Ia terlampau bersemangat dalam memenangkan pasangan yang disukainya. Ketika saya keluar rumah sampai jam 12 siang, ia menyuruh adik untuk menelepon agar segera kembali dan menggunakan hak pilih. Maklumlah, saya tidak masuk dalam DPT, sementara penggunaan KTP diijinkan nanti sejam sebelum Tempat Pemungutan Suara (TPS) ditutup.

Usai mencontreng, saya sedikit lega. Pertama kalinya saya merasa sebgai seorang warga negara yang punya andil untuk menentukan siapa pemimpin negeri ini. Kelak, ketika sang presiden menduduki singgasana, saya bisa bernapas lega bahwa suara saya yang hanya satu punya kontribusi untuk kemenangannya. Untuk itu, saya merasa senang. Namun kelak, jika sang calon saya gagal terpilih, saya juga tetap senang. Setidaknya, saya sudah berusaha untuk memenangkannya. Apa boleh buat jika sejarah belum memihak kepadanya. Kelak sejarah juga yang akan menangisi situasi ketika calon terbaik tersebut gagal terpilih.

Pada akhirnya, biarlah sejarah yang akan mencatat siapa pemenang hari ini. Setidaknya, saya punya andil di arena pilpres tahun ini. Thanks.(*)

Diundang Hadiri Seminar

KEMARIN ada email datang dari pihak University of Malaya. Makalah yang saya kirim untuk dipresentasikan pada seminar internasional di sana, lulus seleksi. Saya diundang untuk presentasi pada Konferensi Internasional Asia Tenggara pada bulan Desember nanti.

Sebagaimana lazimnya seminar, saya mesti membayar dulu biaya registrasi, yang nantinya akan diganti saat berada di Malaysia. Nah, itu dia yang menggelisahkan saya. Jadi atau tidak berangkat, biarlah waktu yang menjawab. Saya masih bimbang. Berikut, saya lampirkan email lulus seleksi tersebut.


Dear Yusran Darmawan,

The Organising Committee of ICONSEA 2009 is pleased to inform you that your paper entitled “Memories of communist victims at Buton Island: An anthropological studies on historicity and memories” is accepted for oral presentation in the Third International Conference on Southeast Asia 2009 to be held at the Faculty of Arts and Social Sciences, University of Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia, from 8th to 9th of December 2009.

You are required to send in your full paper by the 30th of October 2009 to be included in the Conference Proceedings. Please adhere strictly to the paper writing guidelines available at the Conference website. You are also required to register at the Conference website and pay the registration fee before the 30th of October 2009 to secure early bird payment.

We will continue to update you particularly in terms of your presentation scheduling as more information becomes available. I look forward to seeing you in Kuala Lumpur soon.

Thanking you in anticipation.
Yours sincerely,



Dr. Thirunaukarasu Subramaniam

Vice Chairman
Third International Conference on Southeast Asia
ICONSEA 2009
http://umconference.um.edu.my/ICONSEA2009

Wisata Kebakaran di Kampus Unhas

TADI pagi kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) terbakar. Kebakaran itu menghanguskan lantai lima gedung perkuliahan Fakultas Farmasi. Sejak subuh, saya menerima sms dari seorang kawan yang mengabarkan peristiwa nahas itu. Saya meluncur ke kampus. Tidak bermaksud memadamkan api. Saya hanya ingin nonton-nonton sebagaimana orang lain yang menyaksikan kebakaran itu seolah itu agenda wisata.

Mungkin anda berpikir bahwa saya seolah buta dan tumpul hati pada sesama. Saya mesti menjelaskan. Kebakaran itu sama sekali tidak melalap korban jiwa. Yang terbakar hanyalah lantai lima ruang perkuliahan, dalam kondisi ketika tidak sedang digunakan. Kata orang-orang, lantai lima tersebut adalah laboratorium kimia. Makanya, api cepat menyebar dan sesekali terdengar ledakan seperti dalam film-film Hollywood.

Saya melihat tim regu pemadam kebakaran bekerja keras untuk memadamkan api. Yang saya dengar sih, ada sekitar 24 mobil pemadam yang datang bergantian. Meski demikian, api tidak mudah dijinakkan. Kesulitannya adalah tim pemadam tidak dilengkapi mobil pemadam yang memiliki tangga menjulur sebagaimana sering saya saksikan di film-film barat. Mereka hanya menyemprot air dari bawah dan hanya menyentuh pinggiran tembok dan atap gedung terbakar tersebut.

Hal yang menarik adalah para pelancong kebakaran itu bukan cuma saya saja. Ada ratusan mahasiswa yang juga menyaksikan kebakaran seolah kebakaran adalah kegiatan wisata yang memukau mata. Posisi saya dan yang lain seperti turis yang menyaksikan wisata. Kami menyaksikan kepanikan para tim pemadam, teriak-teriak banyak orang agar tidak mendekati gedung itu, hingga wajah panik Rektor Unhas Prof Idrus Paturusi yang datang langsung menyaksikan kebakaran itu. Ia terlihat sedih. Namun, hanya berdiri saja, sebagaimana kami para pelancong yang melihat wisata kebakaran.(*)

Ada Garuda di Dadaku


Hampir setiap hari kita membaca berita tentang tenaga kerja Indonesia (TKI) yang tersiksa di luar negeri. Hampir tiap saat kita mendapati informasi tentang korupsi dan kejahatan yang merajalela. Hampir tiap saat kita membaca berita tentang bobroknya mental para aparat. Lantas, masih adakah sedikit kebanggaan buat bangsa ini?

Dalam film Garuda di Dadaku, saya bisa merasakan sedikit kebanggaan pada bangsa ini. Seorang anak kecil memimpikan bisa gabung ke tim nasional U-13. Setiap hari ia berlatih sembari berharap agar nama bangsa terukir indah di jajaran bangsa-bangsa lainnya. Seorang anak memelihara semangat dan bekerja keras sembari mengayam harapan bahwa bangsa ini bisa berbuat lebih, tidak sekedar menjadi pecundang.

Mungkin, sepintas kedengarannya sok idealis. Namun, pernahkah kita berpikir untuk menyelami pikiran anak kecil tersebut? Pernahkah kita berpikir bahwa pesimisme adalah buah yang lahir dari banyak pemikiran dan persentuhan dengan realitas bangsa ini. Pesimisme adalah virus yeng menggerus mereka yang tidak kreatif. Bagi mereka yang selalu optimis, selalu tersisa harapan untuk negeri ini. Dan harapan itu akan diwujudkan dengan kerja keras, memeras otak, hingga selalu fokus pada sasaran.

Hari ini saya tiba-tiba optimis menonton film tentang seorang anak yang bekerja keras mencapai mimpinya. Meski keluarganya tidak merestui, ia berupaya dengan segala daya untuk meraih harapannya. Yang saya kagumi, ia menyimpan kebanggaan kepada tim nasionalnya sendiri, meskipun tim nasional itu tidak banyak menyumbang prestasi atau kebanggaan. Tetapi anak itu tetap optimis. Ia yakin bahwa pada masanya kelak, ketika banyak orang bekerja keras dan jujur dalam segala aktivitas, impian membawa kebanggaan pada bangsa itu akan segera terwujud.

Pesan yang saya tangkap dari film ini adalah masih ada harapan bagi bangsa ini. Meskipun generasi tuanya adalah generasi yang penuh konflik dan menjahati negeri ini, namun masih ada tersisa harapan di kalangan geenrasi yang lebih muda. Setidak-tidaknya, bening hati generasi muda itu adalah pendar cahaya yang kelak akan membawa bangsa ini lebih maju di masa datang.(*)


Mallarangeng yang Menyulut Api

SIAPA sosok yang paling kontroversial saat ini di Kota Makassar? Jawabannya adalah Mallarangeng bersaudara. Selama tiga hari ini, nama mereka selalu disebut, dikritik, malah dicaci-maki. Kemarin, saya tak bisa ke mana-mana sebab jalan-jalan Kota Makassar dipadati ribuan orang yang berdemonstrasi mengutuk mereka. Apa yang diucapkan Alifian Mallarangeng telah melukai hati banyak orang di kampungnya sendiri.

Hari ini, begitu bangun pagi, saya sudah mendengar warga rumah dan tetangga yang mengomel. Semuanya kesal dengan kalimat Alifian yang mengatakan, orang Sulsel belum waktunya jadi presiden. Pantas saja ketika siang hari, massa menyemut dan memenuhi jalan-jalan. Mereka meneriakkan yel-yel. Mereka membawa poster dan spanduk yang mengharamkan Alifian untuk injak kaki di negerinya sendiri. “Kami haramkan trio Mallarangeng menginjakkan kaki di tanah Bugis,” demikian bunyi spanduk yang sempat saya baca.

Saya melihat pernyataan itu dari beberapa sudut pandang. Pertama, nampaknya pernyatan tidak dikemukakan pada saat yang tepat. Ketika kampanye pemilihan presiden (pilpres) sedang berjalan, dan di tengah euforia orang-orang Makassar untuk menaikkan putra daerahnya, Alifian seakan menyiram bensin pada api yang membara. Okelah bahwa itu disampaikan dalam konteks kampanye. Namun, bukankah akan lebih baik jika ia dengan gentle langsung menyebut “Belum saatnya Jusuf Kalla menjadi presiden.” Kenapa pula harus menyebut-nyebut kata Sulsel? Kalau cuma menyebut Kalla, maka pernyataan itu boleh jadi akan biasa-biasa saja. Namun ketika menyebut Sulsel, maka Alifian seolah menyeret semua bangsa Sulsel lainnya termasuk Kalla untuk ikut meradang.

Kedua, Alifian belumlah mencapai satu titik pencapaian tertentu untuk menjadi tokoh masyarakat Sulsel. Publik lalu bertanya-tanya, apa sih yang dilakukan Alifian di Sulsel? Yang mempertautkan dirinya dengan tanah ini hanyalah darah yang mengalir di nadinya. Setelah itu, hidupnya adalah senantiasa merantau bak seorang borjuasi gagah yang berkelana hingga ke luar negeri. Ia tidak seperti Kalla yang menghabiskan separuh usianya untuk berumah di Sulsel. Alifian tidak banyak memberi bakti pada daerah ini. Lebih separuh usia hidupnya dihabiskan di tempat lain. Pantas saja, warga Sulsel lebih mengenal keluarga ayahnya –yang pernah jadi wali kota. Orang cuma tahu bahwa Alifian adalah warga Sulsel, tanpa tahu apa kiprahnya. Itu saja.

Hari ini, kembali saya melihat massa berdemonstrasi. Saya selalu tersentuh setiap melihat ribuan massa. Ini bukan soal pilihan politik yang berbeda. Ini bukan soal memilih Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) ataukah Jusuf Kalla (JK). Ini adalah sikap memandang yang lain seolah tak punya kesempatan untuk dipilih sebagai presiden. Mereka-mereka yang berdemonstrasi itu sedang meneriakkan sebuah perkara yang besar bagi mereka. Sebuah soal yang sejak Indonesia berdiri, hingga kini belum juga terselesaikan.

Sejak bangsa ini berdiri, sudah dihadapkan pada soal bagaimana mengelola keragaman menjadi satu kekuatan. Puluhan tahun Indonesia berdiri, masih saja belum bisa menjawab bagaimana arah yang hendak dituju serta bagaimana memposisikan begitu banyak bangsa-bangsa sebagai elemen yang menyusun keindonesiaan itu sendiri. Ketika demokrasi menjadi pilihan politik kita satu-satunya –yang dianggap merepresentasikan suara rakyat-, maka demokrasi itu berhadapan dengan dilema yang selalu memenangkan suara mayoritas dan meminggirkan minoritas. Nah, ketika demokrasi itu dibawa ke ranah politik, maka itu sama saja dengan mengatakan bahwa etnis mayoritas akan selalu menjadi pemenang.

Padahal, ilmuwan politik seperti Robert Dahl beberapa kali menegaskan bahwa demokrasi itu bukan soal partisipasi semata. “Demokrasi adalah bagaimana memberikan kesempatan kepada mereka yang berbeda untuk tetap menyampaikan haknya,“ katanya. Demokrasi bukanlah tirani mayoritas yang selalu memenangkan yang kuat, namun sebuah nilai yang mengikat semuanya, yang memberikan arena bagi mereka yang kecil untuk tetap bersuara dan berbeda pendapat. Di sinilah letak paradoks demokrasi. Puluhan tahun Indonesia merdeka, kita masih belum dewasa menyikapi bagaimana keindonesiaan itu sendiri.

Negeri ini seolah alpa terhadap ribuan kebudayaan yang sejak masa silam telah hidup dan memenuhi denyut nadi semua anak bangsa. Makanya, ketika berbicara tentang kepemimpinan, seolah kepemimpinan hanya milik etnis tertentu. Saya sering kesal dengan kenyataan ini. Beberapa waktu lalu, sewaktu masih tinggal di Depok, saya sering kesal dengan sejumlah teman yang suka melecehkan JK dengan ucapan bahwa “JK harus realistis. Presiden itu mestinya orang Jawa.” Bahkan sejumlah teman mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) juga mengatakan hal yang sama. Saya langsung meradang dan berteriak. “Saya bukan pendukung JK, namun saya tidak sepakat kalau kualitas kepemimpinan selalu ditakar dengan etnis Jawa atau bukan. Ini Indonesia Bung!!! Ini bangsa yang luas wilayahnya membentang luas. Ini bangsa yang di masa silam diperjuangkan oleh seluruh anak bangsa dari Sabang sampai Merauke. ”

Apakah kita orang luar Jawa tak punya peluang untuk memimpin bangsa ini? Sejak kapan soal memimpin dikaitkan dengan kategori biologis bahwa harus kaum tertentu yang berhak mengendalikan negeri. Itukah demokrasi? Puihh.... Padahal, kepemimpinan adalah perkara universal yang bisa dimiliki oleh siapa saja. Kepemimpinan bukan cuma soal bagaimana berdandan gagah dan disukai rakyat sebagaimana artis sinetron. Kepemimpinan adalah kemampuan menggerakkan semuanya untuk bekerja sesuai kapasitas masing-masing. Kepemimpinan adalah kualitas yang hadir pada mereka yang memiliki visi kuat, serta menggerakkan semesta di sekelilingnya untuk mendukung semua visi tersebut. Saya melihat JK terzalimi oleh pandangan mayoritas tersebut.

Meskipun beberapa kali Alifian Mallarangeng memberikan klarifikasi atas pernyataannya, namun tetap saja itu menunjukkan sesuatu yang sedang bekerja dalam pikiran kita. Untuk itu, saya menitip harapan agar JK sanggup melabrak semua mitos. JK harus menunjukkan bahwa semua anak bangsa bisa bermimpi untuk jadi presiden. Bukan cuma mereka yang mayoritas saja!!

Politik Jawa di Ajang Pilpres

POLITIK adalah dunia yang kadang ambigu, kadang hitam, putih, kadang abu-abu. Sebagai khalayak politik, kadang-kadang kita tak punya keberanian untuk menyatakan hendak memilih siapa. Kita simpati pada seorang kandidat, namun kita tak berani mengungkapkannya secara terbuka. Akhirnya, ketika sang ’jagoan’ itu kalah, kita merasa seolah kehilangan harapan pada pemerintahan baru.

Minggu depan pemilihan presiden (pilpres) akan segera digelar. Saya sudah punya pilihan yaitu Jusuf Kalla (JK). Namun, saya tidak pernah menyampaikan pilihan politik secara terbuka kepada orang lain. Saya tak mau latah berkampanye. Tetapi saya berharap orang-orang akan sama pilihannya dengan saya. Semoga pemilu kali ini bisa memenangkan JK. Tetapi melihat situasi belakangan ini, kayaknya saya mesti sedikit berkampanye. Saya mesti mengabarkan pada orang-orang bahwa JK adalah pilihan yang lebih baik untuk membawa bangsa ini keluar dari krisis dan keterbelakangan.

Awalnya, saya bukan pendukung JK. Malah, saya antipati pada sesuatu yang bernuansa politik. Beberapa waktu lalu, sewaktu masih tinggal di Depok, saya agak kesal dengan sejumlah teman yang suka melecehkan JK dengan ucapan bahwa “JK harus realistis. Presiden itu mestinya orang Jawa.”

Bahkan sejumlah teman mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) –khususnya yang berasal dari Jawa-- juga mengatakan hal yang sama. Saya langsung meradang dan berteriak. “Saya bukan pendukung JK, namun saya tidak sepakat kalau kualitas kepemimpinan selalu ditakar dengan etnis Jawa atau bukan. Ini Indonesia Bung!!! Ini bangsa yang luas wilayahnya membentang luas. Ini bangsa yang di masa silam diperjuangkan oleh seluruh anak bangsa dari Sabang sampai Merauke. ”

Saya agak kesal karena soal kepemimpinan bangsa harus dilekatkan hanya kepada orang-orang Jawa saja. Apakah kita orang luar Jawa tak punya peluang untuk memimpin bangsa ini? Sejak kapan soal memimpin dikaitkan dengan kategori biologis bahwa harus kaum tertentu yang berhak mengendalikan negeri. Itukah demokrasi? Puihh....

Padahal, kepemimpinan adalah perkara universal yang bisa dimiliki oleh siapa saja. Kepemimpinan bukan cuma soal bagaimana berdandan gagah dan disukai rakyat sebagaimana artis sinetron. Kepemimpinan adalah kemampuan menggerakkan semuanya untuk bekerja sesuai kapasitas masing-masing. Kepemimpinan adalah kualitas yang hadir pada mereka yang memiliki visi kuat, serta menggerakkan semesta di sekelilingnya untuk mendukung semua visi tersebut. Saya melihat JK terzalimi oleh pandangan bahwa presiden seolah harus dari Jawa.

Mungkin teman saya hanya melihat dengan cara pandang yang kuantitatif. Hampir separuh warga bangsa terkonsentrasi di Pulau Jawa. Bahkan jika dihitung mereka yang ditransmigrasikan pada masa Soeharto, maka boleh jadi orang Jawa bisa sampai 70 persen, jumlah yang menggurita dan menguasai negeri ini di mana-mana. Masalahnya adalah wilayah Jawa itu hanya sekian persen saja dari luas Nusantara. Tatkala politik Indonesia seolah hanya milik orang Jawa, maka saya akan membenarkan ucapan yang pernah saya dengar dari teman asal Aceh bahwa “Indonesia itu adalah bentuk penjajahan Jawa atas wilayah yang lain. “

Ini negeri seolah milik orang Jawa saja. Ketika Habibie pernah memimpin negeri ini, ia langsung dijatuhkan hanya karena tidak didukung para etnis mayoritas. Mungkin, inilah ekses tak terduga dari demokrasi. Ketika founding father kita bersepakat memilih demokrasi sebagai jalan terang yang dituju, maka mereka tidak memperkirakan bahwa di masa mendatang, Indonesia akan menghadapi kompleksitas dalam menghadapi beragam identitas anak bangsa.

Meskipun jargon persatuan terus didengungkan negeri ini dan pemerintahnya, namun Indonesia masa kini dan masa depan akan selalu bergulat dengan isu-isu keragaman identitas. Nah, keragaman itu bisa menjadi antitesis terhadap pilihan politik kita untuk berdemokrasi. Sebab demokrasi itulah yang kemudian memutuskan dengan sadis bahwa hanya mereka yang mayoritas yang bisa memenangkan pemilu. Dalam konteks Indonesia, pilihan itu akan selalu dimenangkan mereka yang berasal dari Jawa. Kita, bangsa luar Jawa, akan menjadi penonton yang hanya bisa sinis dengan situasi.

Atas dasar berbagai argumen tersebut, saya akan konsisten untuk memilih JK. Bagi saya, JK adalah satu-satunya ikon Indonesia timur yang merepresentasikan keseimbangan kawasan. Meskipun saya menganggap JK lebih banyak memihak sama orang Bugis, namun tetap saja dia merepresentasikan kawasan timur.

Saya tidak terlalu jauh mengenal JK. Yang jelas, sudah cukup lama saya tinggal di Sulsel, saya belum pernah menemukan ada cerita jelek tentang dirinya. Sejauh ini, JK punya citra positif di Sulsel. Bahkan, media besar di Sulsel ikut-ikutan mengampanyekan JK. Mereka tidak peduli dengan nilai-nilai dasar jurnalistik yang senantiasa menginginkan keseimbangan.

Saya juga tidak menutup mata kalau beberapa kali komentar JK bikin panas kuping. Ia cenderung terbuka, tanpa menutup-nutupi sesuatu. Di balik komentarnya yang kadang bikin marah, JK hendak menunjukkan bahwa seorang pemimpin bukanlah malaikat. Seorang pemimpin adalah manusia biasa yang bisa salah dan bisa benar. Makanya, persoalan yang penting adalah sikap open mind atau terbuka pada gagasan-gagasan lain jika masuk akal dan lebih logis.

Secara lebih luas, saya berharap agar JK bisa mematahkan mitos tentang politik Indonesia yang hanya didominasi etnis tertentu. Itulah alasan mengapa saya mendukungnya. Saya berharap agar pada suatu masa kelak, ada seorang Papua yang juga bercita-cita menjadi presiden. Ia belajar dari JK yang sukses mematahkan dominasi Jawa.

Saya rasa cukup sekian. Maaf kalau ada yang marah.(*)

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...