Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Hidup adalah Seni

HIDUP itu adalah seni memilih di antara beragam kemungkinan-kemungkinan. Ada saat di mana kemungkinan itu melegakan kita, dan ada saat di mana kemungkinan itu menyakitkan buat kita. Point paling penting bukanlah rasa sedih dan bahagia itu, tetapi bagaimana kita bisa memberi napas dan memaknai semua kemungkinan yang kita jalani.

24 Februari 2009

Booking Tiket dan Cari Kos Baru

SUDAH dua hari ini, kondisiku tidak seberapa baik. Saya terkena penyakit flu berat sehingga memaksa saya untuk tetap tinggal di rumah seperti orang pesakitan. Minggu ini saya punya beberapa target. Hal paling mendesak adalah menuntaskan semua administrasi sebelum berangkat ke Singapura. Aneh, keberangkatan masih lama (2 Mei), namun semua administrasi sudah harus beres. Minggu ini, saya sudah mengirimkan berlembar-lembar isian untuk dimasukkan ke Manpower Department di Singapura, termasuk data diri, kopian passport, serta administrasi lainnya. Minggu ini, saya harus segera booking tiket sebab pihak National University of Singapore (NUS) memintaku untuk memakai duit sendiri dan akan segera diganti (reimbursement) segera setelah saya tiba di negeri singa itu.

Nah.. saya berhadapan dengan masalah. Tak ada satupun maskapai penerbangan di Indonesia yang menjual tiket untuk penerbangan yang waktunya masih lama yaitu tanggal 2 Mei dan 2 Agustus sebagaimana saya pesan. Rata-rata membuka penjualan tiket untuk waktu sebulan di depan. Bahkan maskapai seperti Garuda Indonesia juga hanya mengizinkan booking tiket untuk tanggal itu, tanpa ada transaksi. Mereka tak mau jual tiket sebab katanya dalam waktu segitu, bisa saja terjadi fluktuasi harga tiket sehingga susah ditebak. Dalam kondisi seperti ini, dengan sangat terpaksa, saya akan berpaling pada maskapai terbaik di dunia yaitu Singapore Airlines. Inilah maskapai terbaik yang sudah lama saya impikan untuk merasakan langsung standar pelayannya. Semoga keinginan itu bisa segera terrealisasi.

Masalah kedua adalah di mana saya bisa dapat uang untuk membeli tiket? Saya perkirakan biaya tiket pulang pergi adalah sebesar 300 dollar AS, atau sekitar 4 jutaan rupiah. What can I do??? Itu satu masalah. Hal lain yang ingin saya lakukan minggu ini adalah mencari kos baru. Saya tak terlalu nyaman tinggal di rumah kakakku ini. Jarak rumahnya cukup jauh sehingga setiap kali keluar dan pulang ke rumah, biaya yang saya keluarkan bisa sampai Rp 20.000. Selain itu, rumah ini terlampau ramai hingga buat saya tak bisa tenang menulis dan berpikir.(*)

Candu Facebook di Kampus Unhas

MAHASISWA Universitas Hasanuddin (Unhas) sedang kecanduan dengan facebook, situs pertemanan yang sedang populer. Mungkin ini adalah fenomena global sejak Barrack Obama menang pemilihan Presiden AS berkat jejaring facebook. Namun fenomenanya di Unhas sungguh luar biasa. Sejak tiba di Makassar dan jalan-jalan ke kampus Unhas, sepanjang koridor kampus saya menyaksikan banyak mahasiswa yang mengaktifkan laptop, connect ke internet, kemudian membuka situs facebook.

Facebook laksana candu. Facebook seolah menjawab keinginan banyak orang untuk kembali bertemu teman-teman, berinteraksi lewat chatting, hingga saling bertukar info. Orang bisa ketagihan dan selalu tak tahan untuk membuka situs ini. Masalahnya adalah ketika anda membuka facebook, maka saat itu juga anda akan ketagihan dan bisa butuh waktu berjam-jam untuk kemudian tiba pada keputusan mematikan internet.

Kemarin, saya ikut dalam diskusi yang membahas facebook. Ternyata, situs ini dirancang oleh CIA sebagai bank data untuk mengetahui demografi sosial serta mengenali orientasi manusia pengguna internet di muka bumi ini. Ketika anda aktif di facebook, maka semua data pribadi anda telah masuk dalam satu jaringan global, dan anda tidak kuasa untuk menghapusnya. Nah, siap-siaplah menjadi pihak yang selalu diawasi CIA.(*)

Teknologi yang Memutus Jarak Sosial

TEKNOLOGI telah memutus jarak sosial. Teknologi telah mengobrak-abrik batasan mana wilayah privat dan mana wilayah publik. Teknologi menyelusup hingga ruang pribadi seperti kamar tidur seseorang. Jika ingin mengetahui kabar seseorang, kita cukup kirim sms, tanpa harus menemui banyak rintangan sebagaimana yang dijalani seseorang beberapa tahun yang lalu.

Dulunya, untuk menemui seorang gadis ada banyak pintu yang harus dilewati. Mulai dari mencari alamat rumahnya, memasuki kompelksnya, mengetuk pagar, menghadapi anjing yang menyalak, hingga bertemu dulu keluarga. Jika ayahnya galak, maka siap-siaplah untuk dimarahi atau ditatap dengan tatapan laksana tatapan seorang kriminal. Begitu banyak rintangan yang ditemui jika hendak menemui seorang gadis pujaan hati. Ini belum termasuk bagaimana kita merumuskan metodologi untuk menyatakan cinta. Apakah lewat puisi, lagu, ataukah pertanyaan langsung.

Kini, cukup kirimkan sms, maka pesan anda bisa langsung sampai ke kamar pribadi sang gadis, tanpa harus disensor dulu oleh orang tuanya. Orang tua mungkin mengira saat itu anda telah tidur ketika mengunci kamar di malam hari, padahal saat itu anda sedang berselancar di dunia maya, mengaktifkan facebook, menemui banyak orang, saling sapa, dan –boleh jadi—saling memaki lewat beragai situs pertemanan.

Teknologi membuat anda merayakan kemerdekaan dari berbagai jarak sosial. Berbahagialah memasuki dunia baru yang merdeka dari kungkungan nilai-nilai dunia sosial. Berbahagialah merayakan peran orang tua yang kian mengikis. Jika dulunya masih bisa pasang tampang bengis, dan bisa menghardik. Namun tak berdaya menghalangi semua pesan yang masuk langsung ke kamar tidur seseorang.(*)


Belum Ada Novel Bagus

SETELAH Twilight Saga, tak ada lagi novel yang bagus untuk saat ini. Kemarin saya jalan-jalan ke toko buku dan tak banyak melihat novel baru yang bagus seperti Twilight. Buku paling bayak di Gramedia adalah buku-buku praktis yang bernuansa how to. Barangkali ini menjelaskan bahwa di zaman ini, orang memang butuh hal-hal yang praktis dan tidak berkerut kening. Orang butuh dengan sesuatu yang instant untuk menghadapi hidup, dan melupakan kedalaman. Ini cuma kesanku saja ketika melihat banyaknya buku bertemakan how to. Saya kira, anda bisa punya pendapat lain.(*)

Mamaku dan Sepi yang Mencekam

SETIAP kali saya meninggalkan Buton, maka saya selalu dilanda rasa sedih. Saya sedih ketika menyadari kenyataan bahwa mamaku akan kembali sendirian dan menjalani hari-hari, tanpa ada anaknya di sisinya. Sudah cukup sering saya datang dan kemudian meninggalkan pulau ini. Namun keberangkatanku kali ini agak berbeda dengan sebelumnya. Sehari sebelumnya, saya sempat bertengkar dengan mama hanya karena hal-hal sepele. Mungkin saya salah saat itu.

Namun, saya hanya ingin memberitahukan satu hal bahwa ada saatnya di mana saya harus memikirkan masa depanku. Ada saat di mana saya harus memikirkan hendak kerja apa. Saya bosan menjadi pengangguran yang dihidupinya. Saya ingin berbuat sesuatu. Sesuatu yang kelak akan sangat penting buat diriku dan keluarga kecil yang kelak akan saya bangun. Namun mamaku tampaknya lebih senang jika saya berada di kampung. Saya dalam dilema.

Setiap kali mengingat mamaku, selalu ada rasa sedih yang merayap di hatiku. Mungkin saya agak melankolis. Namun beberapa tahun ini saya merasakan ada gelora cinta yang dahsyat dalam diriku kepadanya. Saya menyayangi perempuan luar biasa itu. Saya selalu ingin membantunya berjalan menantang hari, memberikannya rasa percaya diri bahwa ada anaknya yang punya pendidikan tinggi dan menemaninya menghadapi semua masalah yang bertubi-tubi menderanya. Langkahnya memang tertatih-tatih sebagaimana rapuhnya rasa percaya dirinya. Mungkin karena itu, ia membutuhkanku sebagai penopang dan tongkatnya agar tidak jatuh.

Sudah dua tahun ini saya selalu pulang kampung dan menemani mamaku dalam berbagai kegiatan, mulai dari pulang ke Ereke sampai mengantarnya tiap hari ke pasar. Saat ia berjalan ke pasar, saya akan selalu berjalan di sisinya, kemudian ia akan memegang tanganku agar tidak jatuh. Saya menjelma menjadi kaki, tangan, serta matanya untuk melihat sesuatu. Saya bangga karena ia mebutuhkanku. Saya bahagia mendampinginya. Malah, saya ingin meneriakkan kepada dunia bahwa saya menyayangi mamaku dan akan melindunginya menghadapi apapun.

Kepada seorang teman, saya pernah mengatakan bahwa saya ingin menjaga mamaku agar kelak menjadi pintu bagiku untuk masuk surga. Mungkin ini agak klise. Tetapi dalam novel Ayat-Ayat Cinta digambarkan bahwa surga adalah rumah yang memiliki banyak pintu dan setiap orang bisa memilih pintu yang mana, apakah pintu buat mereka yang menjalankan salat, pintu buat yang membayar zakat, ataukah pintu mereka yang menjaga amalnya. Saya tak ambisius. Saya hanya ingin mengincar satu pintu yaitu pintu buat mereka yang menyayangi orangtuanya.

Selama dua tahun ini, saya belajar untuk tidak egois. Saya tahu betul bahwa yang dibutuhkan mamaku saat ini bukanlah uang. Ia sudah cukup berkelimpahan. Yang dibutuhkannya hanyalah seseorang yang bersedia menemaninya bercerita, membiarkannya berceloteh tentang hal-hal sepele. Untuk itu, saya siap menemaninya.

Kini, saya terpaksa harus berangkat meninggalkannya. Ada tuntutan masa depan yang harus saya tunaikan. Sehari setelah saya meninggalkan Bau-Bau, ia tiba-tiba meneleponku. Kalimatnya serak. Suaranya parau dan sesunggukan. “Saya sadar bahwa hanya kamu yang selalu pulang dan menghamba untuk saya. Kayaknya kamu akan pergi jauh dari saya dalam waktu lama. Olaimo anangku kaasi...“ Saat itu, saya tak bisa berkata apa-apa. Saya rasa mamaku tak sedang sedih dengan kepergianku. Ia sedih dengan dirinya yang kembali dicekam sepi.(*)

Pengadilan Penyihir


SESEKALI saya ingin tampil konyol. Saat mengunjungi satu tempat hiburan, saya memakai topi sihir kemudian bergaya seolah-olah hendak dieksekusi. Foto ini tidak diniatkan sebagai sindiran atas peristiwa pembantaian penyihir di abad pertengahan. Namun saya cuma iseng saja. Memakai topi ini mengingatkan saya pada penyihir Albus Dumbledore dalam kisah Harry Potter. Sosok penyihir paling bijak di sepanjang sejarah sihir. Expelliarmus!!

Hanung Bramantyo, Sutradara dengan Visi Cerdas

SAYA belum pernah nonton film Perempuan Berkalung Sorban. Namun, saya bisa menarik kesimpulan kalau film itu dikonstruksi dari satu visi yang hebat. Film ini tidak disusun secara asal-asalan seperti kue asal jadi dan dipasarkan demi duit semata. Kesimpulan ini saya tarik setelah semalam saya menyaksikan debat dengan sutradaranya Hanung Baramantyo yang memaparkan visi di balik layar, apa yang sesungguhnya hendak ia sampaikan melalui film ini.

Debat itu memang singkat, namun cukup bisa memberikan inspirasi bahwa Hanung bukanlah tipe sutradara muda glamour yang saban hari selalu jalan didampingi artis-artis seksi bagai raja minyak. Hanung bukan tipe sutradara yang suka dengan isu remeh-temeh dan menggarap vidio murahan. Hanung itu cerdas dan nampaknya tahu pasti apa yang hendak ia lakukan. Ia bisa bicara gagasan-gagasan besar kemudian menterjemahkannya dalam berbagai scene-scene gambar yang apik dan sarat makna. Semalam, ia menjelaskan tentang bahasa simbol yang digunakannya serta kepingan kenyataan di balik bahasa simbol tersebut. Saya rasa, tak banyak sutradara yang sanggup mengurai bahasa simbol seperti itu. Salut buat Hanung!!

Hari Ini adalah Berita, Besok adalah Sejarah

JURNALIS adalah penyaksi yang bermata basah pada kejadian yang gemuruh di wajah kemanusiaan kita hari ini. Jurnalis adalah penyaksi yang mengawetkan kesaksian dalam catatan-catatan berita yang memberi makna bagi kejadian. Ia merunut serpih kenyataan, kemudian menautkannya dengan sebait visi untuk melihat zaman yang lebih baik. Hari ini adalah sebuah berita, besok akan menjadi kepingan sejarah, dan kelak akan menjadi monumen yang dikenang umat manusia agar mengulangi kebaikan pada satu masa dan tidak terjerembab pada lubang yang sama. Jurnalis dan pers adalah mercu suar yang mengawasi kita agar tidak menabrak karang kebodohan, menghardik kita agar tidak menghantam karang kedunguan, memberi jalan terang agar kita tidak sesat di rimba raya peradaban.(*)

9 Februari 2009
Selamat Hari Pers, Semoga Kian Mencerahkan

Dukun Cilik dan Kuasa Pengetahuan

DI Jombang ada dukun cilik yang bisa menyembuhkan penyakit. Ribuan warga antri demi mendapatkan sentuhan sang dukun. Sementara pemerintah tak henti-hentinya menyalahkan warga yang katanya tidak berpendidikan. Bupati Jombang menyebut masyarakatnya yang bodoh. “Semua fasilitas kesehatan modern sudah saya siapkan, ngapain mereka pegi berobat ke dukun,“ katanya dengan sedikit angkuh.

Media massa juga demikian. Mereka menuding bahwa tingkat pendidikan yang rendah sebagai pemicu kedatangan masyarakat ke dukun. Apa sih kaitannya prilaku ke dukun dengan tingkat pendidikan rendah? Saya rasa tak ada kaitannya. Bahkan di negeri yang sudah maju seperti Amerika dan Cina sekalipun, masyarakat masih saja percaya dengan segala ramalan atau peruntungan. Orang Amerika punya ramalan tarot, sementara Cina punya hong shui, feng shui, hingga ramalan garis tangan. Bukankah semuanya sama-sama tak rasional dan tak berbeda dengan praktik perdukunan?

Menurutku, tindakan ke dukun tak bisa dijustifikasi akibat kebodohan atau pendidikan rendah. Justru, masyarakat yang ke dukun adalah masyarakat yang cerdas dan jauh lebih cerdas dibandingkan pemerintah. Mereka ke dukun karena dibimbing pikiran rasional bahwa berobat di dukun lebih memberikan kenyamanan secara psikologis dan tidak membebani isi dompet. Saya menyimak wawancara dengan seorang tukang ojek. “Setiap saya ke rumah sakit, saya harus membayar Rp 200 ribu untuk konsultasi dan obat. Itupun saya diberitahu kalau obatnya habis, maka saya harus balik lagi ke rumah sakit. Bayangin, tiga kali ke situ, saya udah bangkrut. Sementara kalau pergi ke dukun, saya tidak pernah dimintai bayaran lebih dari yang saya sanggup berikan,“ katanya.

Artinya, masyarakat punya alasan yang jauh lebih praktis, efisien, dan low cost dari sisi ekonomi. Masyarakat lebih merdeka dalam bertindak, ketimbang pemerintah yang bertindak karena dipandu sejumlah aturan pusat, konstitusi, udang-undang serta sesuatu yang disebutnya “amanah rakyat.“ Sementara masyarakat terbebaskan dari berbagai keharusan itu. Mereka bebas menentukan hendak ke mana dan memilih jalur pengobatan seperti apa. Urusan ke dukun saja kok direpotin?

Ketimbang menyalahkan masyarakat, mendingan pemerintah harus introspeksi diri bagaimana pelayanan rumah sakit. Rumah sakit menjelma menjadi rumah sakit yang sebenarnya yaitu rumah yang kian menyakiti mereka yang datang berkunjung. Biaya yang mahal akibat serbuan produsen farmasi yang memberi iming-iming kepada para dokter, telah lama menjauhkan rumah itu dari misi-misi idealis. Meskipun ada banyak program kesehatan, namun selalu saja tidak bisa memberikan kenyamanan bagi pasien. Saya banyak mendengar kisah bagaimana seorang miskin yang membawa kartu askeskin atau jamkesmas tiba-tiba berhadapan dengan suster yang bermuka masam dan dimarah-marahi ketika berobat. Kapitalisme telah menyerbu rumah itu sehingga pasien dipandang sebagai obyek yang diperas demi memperkaya rumah yang kini menjadi institusi bisnis tersebut.

Tindakan masyarakat yang lebih mempercayai dukun adalah potret dari tiadanya akses ke sarana pengobatan. Sementara tindakan pemerintah yang mengatakan masyarakat bodoh adalah potret bekerjanya kuasa pengetahuan yang mendefinsikan yang lain dengan cara berbeda. Masyarakat punya pengetahuan sendiri, namun pemerintah juga punya kuasa pengetahuan untuk mendefinisikan mereka sebagai bodoh atau rendah pendidikan. Kuasa pengetahuan itu bekerja dalam kesadaran dan diejawantahkan dalam praktik yang mendiskriminasikan orang lain. Kuasa pengetahuan itu seakan membatasi pandangan pemerintah agar melihat sesuatu dengan kacamata kuda yaitu hanya melihat satu sisi dan mengabaikan sejumlah nalar yang sangat penting dalam pembentukan kesadaran.

Mestinya pemerintah tak perlu sewot dengan keberadaan dukun. Saya membayangkan pemerintah mengajak dukun untuk bekerja sama dalam satu institusi. Jadinya, dukun tak usah identik dengan praktik independen di rumah sendiri, namun bisa juga praktik di rumah sakit. Dukun memberikan sugesti dan kenyamanan psikologis bagi pasien, sementara dokter memberikan kawalan dari sisi medis. Hanya saja, pasti akan terjadi benturan dalam hal biaya. Jika dukun bekerja dengan biaya murah sebab mementingkan aspek kekerabatan dalam satu kampung, maka dokter harus bisa menyesuaikan dengan pola kerja sang dukun. Ia juga harus bisa memberikan pengobatan murah namun bisa menyembuhkan, sebagaimana sang dukun bisa memberikan sugesti. Saya kira ini bisa menjadi model rumah sakit unik di negara seperti Indonesia ini.(*)

Mata Air Inspirasi

KEMARIN saya nonton satu episode tayangan KickAndy di Metro TV. Episode yang ditayangkan kemarin sungguh inspiratif dan membuat saya tercenung selama beberapa saat. Saya lupa apa judulnya, namun tayangan kemarin menampilkan kisah sejumlah orang --yang dengan semangat luar biasa-- menjadi guru dan mendirikan sekolah di daerah terpencil. Mereka ikhlas dan bekerja tanpa mengharap imbalan. Mereka punya ketulusan. Mereka punya keikhlasan, --sesuatu yang nyaris hilang di tengah manusia zaman ini yang kian individualis dan membuang muka pada sesamanya.

Selama 60 menit episode itu, saya saksikan dengan tanpa beranjak. Mereka bukanlah para politisi, atau pejabat yang suka mengatasnamakan rakyat. Mereka bukanlah orang yang sering disorot media. Mereka adalah manusia-manusia kecil yang selama ini terabaikan dalam segala hiruk-pikuk wacana negeri ini. Tetapi mereka bukanlah bagian dari mereka yang cuma bisa pasrah memeluk nasib. Mereka memang punya segala keterbatasan, namun keterbatasan itu tidak menghalangi niatnya untuk berbuat sesuatu bagi orang lain. Mereka mendedikasikan hidupnya untuk membantu sesamanya, meskipun untuk itu, mereka harus rela hidup dengan pas-pasan dan sama menggiriskannya dengan mereka yang dibantunya.

Seorang guru bernama Jufri (mungkin saya salah menyebutnya) tinggal di satu desa terpencil di Sumatera Utara. Desanya terisolasi dan sama sekali belum pernah menikmati listrik dan lampu yang benderang. Jufri adalah petani yang setiap hari acap menyaksikan anak kecil yang tidak bersekolah di desanya. Ia resah dengan keterbelakangan. Meski pendidikannya cuma setingkat Sekolah Dasar (SD), ia nekad mendirikan sekolah dengan kondisi yang memprihatinkan. Meski bangunannya seperti kandang kambing, ia tak patah arang. Ia mengajari anak-anak di desa itu tanpa mengharapkan imbalan sepeserpun. Ia mengajar anak-anak agar bisa membaca dan menuntun mereka untuk memasuki dunia ilmu pengetahuan, sebuah dunia yang terang-benderang dan membawanya melanglangbuana untuk lepas dari keterbelakangan.

Kemanakah ia usai mengajar? Jufri kembali bertani untuk mendapatkan sesuap nasi. Sebidang tanah sawah telah menanti sentuhannya. Ia bertani demi mendapatkan sesuap nasi dan nafkah bagi keluarganya. Ia seorang guru di pagi hari, namun di siang hari menjadi petani untuk menjaga napas kehidupannya. Mengapa pula ia mau berpayah-payah mendirikan sekolah? “Saya ingin agar anak-anak di desa saya tidak tertinggal. Saya ingin mereka pandai dan tidak menyerah begitu saja ketika dibodohi mereka yang pintar,“ katanya. Luar biasa!!! Nun di tengah kampung terpencil itu, Jufri masih memelihara idealisme dan mimpi besar. Memang, ia hidup miskin. Namun kemiskinan tidaklah menjadi perangkap baginya untuk menggapai impiannya yang mulia. Ia lebih mendahulukan orang lain, kemudian memikirkan dirinya dan keluarganya.

Lain lagi dengan kisah Asep, seorang pria yang kakinya pincang di Jawa Barat. Ia hidup sebagai tukang parkir di kawasan Puncak. Asep juga nekad mendirikan sekolah, meskipun pendidikannya cuma setingkat SD. Seperti halnya Jufri, ia tak pernah minta bayaran dan melakukan semua tugas mengajar dengan penuh keikhlasan. Asep mengajar di semua kelas dan siap dipanggil kapan saja ketika muridnya butuh bantuan. Usai mengajar, Asep kembali menjadi tukang parkir di Puncak. Lewat itulah ia membiayai hidup dan sekolah yang didirikannya. Langkahnya tertatih-tatih menapaki hari, namun ia tidak tertatih-tatih ketika mewujudkan idealismenya. Langkahnya mantap dan penuh keyakinan untuk memberikan sesuatu pada dunia sekitarnya.

Saya merasa tersentuh. Dulunya, saya menganggap bahwa idealisme dan keikhlasan adalah prasasti yang hanya bisa dibaca serpih jejaknya di abad ini. Dulunya saya menganggap bahwa keikhlasan seperti itu hanya ada dalam biografi atau kisah-kisah para pahlawan di waktu yang lampau, atau kisah para rasul dan rahib yang menggetarkan. Namun Asep dan Jufri seakan menampar kita semua bahwa hasrat untuk membantu orang lain adalah sesuatu yang bisa tumbuh di hati siapa saja dan dalam keadaan apapun dan di waktu apapun. Keterbatasan tidaklah menjadi penjara bagi keduanya, namun menjadi api yang membakar semangat mereka untuk sesuatu yang lebih baik. Bahwa idealisme serta keinginan untuk membebaskan yang lain, bukanlah monopoli mereka yang duduk manis di atas singgasana pendidikan tinggi. Keikhlasan itu bisa menghinggapi siapa saja yang kemudian menggerakkan yang lain. Asep dan Jufri adalah manusia-manusia yang bebas dari jeratan apatisme dan oportunis dalam menjalani hidup.

Hal yang bikin saya kagum dengan mereka adalah mereka melakukannya bukan untuk mengharap imbalan. Mereka tidak melakukan itu dalam rangka proyek yang dibiayai pendonor asing yang mengucurkan dana besar untuk proyek-proyek demikian. Mereka melakukan itu bukan demi proyek sebagai hasil kongkalikong dengan pejabat pemda. Mereka jauh dari publikasi untuk terkenal atau menjadi pesohor. Mereka juga tidak melakukannya dalam konteks penelitian, --demi mengetahui bagaimana rasanya menjadi manusia yang terpencil dari peradaban lalu diseminarkan di hotel dan menjadi objek bahasan di kampus-kampus. Mereka mendirikan sekolah semata-mata hanya didorong oleh kesadaran bahwa pendidikan sangat penting bagi siapa saja dan untuk mewujudkan itu, mereka tak perlu menunggu uluran tangan siapapun. Mereka ingin berbuat pada sekelilingnya, tanpa pernah mengharap ada publikasi atau menjadi seorang pesohor.

Hal lain yang juga saya kagumi adalah mereka tidak berasal dari lapis-lapis terdidik yang kerap menyebut dirinya paling peduli dengan realitas sosial. Mereka tak pernah membaca Marx, tak juga membaca karya Paolo Freire tentang pendidikan yang membebaskan. Namun apa yang mereka lakukan adalah pembebasan dalam makna yang sesungguhnya. Mereka membebaskan dirinya dari belenggu ketidakberdayaan kemudian membebaskan yang lain. Asep dan Jufri adalah manusia langka di negeri ini yang para elitenya dikepung rasa narsis dan selalu membanggakan apa yang dilakukannya. Mereka adalah nyanyi sunyi ditengah gegap gempita partai politik yang sibuk mengklaim prestasinya yang telah membebaskan kemiskinan, dan di saat bersamaan telah mengeruk rupa-rupa keuangan negara demi memperkaya dinasti politik dan jaringannya. Asep dan Jufri adalah pahlawan sesungguhnya yang tidak banyak menuntut. Mereka adalah mata air yang tak pernah surut dan selalu mengalirkan inspirasi dan harapan bagi manusia di sekelilingnya.

Dalam wawancara kemarin, Jufri menyebut keinginannya hanya satu yaitu agar kelak dirinya bisa masuk surga, sebuah negeri yang mewujudkan semua harapan dan keinginannya. Saya teringat kalimat Soedjatmoko: sebuah gagasan dan impian akan memiliki kaki-kaki yang akan menggerakkan. Barangkali impian tentang surga itu telah menggerakkan kakinya untuk berbuat sesuatu. Sementara kita di sini, masih bergelut dengan pencarian gagasan, masih bergelut dengan soal bagaimana mengisi perut hari ini dan esok hari……..


Pulau Buton, 9 Februari 2009
www.timurangin.blogspot.com


Antara Caleg dan Miras

BARANGKALI hanya di Buton ini, cara kampanye calon anggota legislatif (caleg) yang dilakukan melalui minuman keras (miras). Orang Buton menyebut miras dengan sebutan konau yaitu miras yang diolah dari perasan air enau atau nira. Saat berada di Kota Bau-Bau, saya menyaksikan terdapat banyak balai-balai yang terbuat dari bambu (dalam bahasa wolio disebut gode-gode) dan menjadi tempat nongkrong anak muda. Di situlah para caleg selalu mengantarkan miras sebagai tanda perkenalan.

Saya tidak sedang bergurau. Di sini, seorang caleg memakai strategi mengantarkan konau ke anak-anak muda sebagai bentuk kampanye agar dikenal dan dipilih. Tak peduli apa partai sang caleg, apakah partai Islam, ataukah partai nasionalis. Yang jelas, miras menjadi bahasa perkenalan untuk memasarkan diri di arena politik. Pernah sekali saya bertanya pada kawan yang menjadi caleg Partai Persatuan Pembangunan (PPP) --yang nota bene adalah partai Islam-- mengapa ia melakukannya. Saat itu, jawabannya bikin saya kaget. “Jangankan konau (minuman keras). Andaikan satu babi bisa mencoblos PPP, maka itu dianggap sah, satu suara,” katanya dengan serius.

Dari jawaban ini, saya mengambil simpulan bahwa ideologi partai adalah sesuatu yang mengawang-awang di atas langit. Partai boleh punya visi, namun belum tentu visi itu kan memberi napas bagi tindakan di tubuh partai, khususnya bagi caleg yang jauh dari pusat kekuasaan. Visi dan ideologi partai, tak lebih dari baju yang bisa dilepas atau diganti dengan baju lainnya. Bisa usang di tangan seseorang, namun baru di tangan orang lain. Makanya, saya tak heran ketika konau menjadi bahasa kampanye untuk memikat orang lain.

Entah, apakah sang caleg sudah mensurvei seberapa banyak warga yang suka minum konau, namun pendekatan ini cukup populer juga di kalangan caleg. Kemarin, saya dapat info dari anak-anak muda yang suka minum konau di dekat rumahku. Ketika mereka sedang duduk-duduk, singgahlah sebuah mobil mewah dengan logo partai politik tertentu. Ketika pengendaranya turun, ia lalu membawa dua jergen konau dan mempersilahkan anak-anak muda itu untuk minum. Namun, seorang anak muda yang menjadi preman di lingkungan itu, tiba-tiba menolak. “Minta maaf bos. Kita di sini sudah punya caleg juga yang selalu antar konau. Makanya kita tidak kehabisan konau,“ katanya. Wah..... ternyata urusan konau sudah menjadi strategi yang cukup populer dan ditiru siapa saja.(*)

Hanya Ada Profesi PNS

SATU-satunya pekerjaan yang tersedia dan dianggap prestisius bagi mereka yang tinggal di Pulau Buton adalah menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Demi menjadi PNS, seseorang kerap bersedia membayar sejumlah sogokan atau pelicin hingga kisaran Rp 30 juta lebih. Baru-baru ini, saya dapat info kalau jumlah sogokan paling besar ada di Kabupaten Muna yaitu Rp 80 juta.

Di Kabupaten Buton Utara, untuk menjadi PNS, seseorang harus menyiapkan uang sampai Rp 30 juta. Demikian pula di Kabupaten Buton dan Kota Bau-Bau. Itupun tidak ada jaminan bakal lolos sebab bisa saja batal kalau backing (pejabat yang melobi agar lolos) ternyata tidak begitu punya pengaruh dalam meloloskan seseorang. Untuk menjadi PNS, seseorang harus berani berkolusi dan kongkalikong dengan para pejabat serta uang pelicin. Kita seolah menyaksikan fragmen kejahatan yang dilegalkan.

Bagi warga Sulawesi Tenggara (Sultra), profesi PNS adalah profesi yang paling membanggakan. Memakai baju dinas PNS adalah mengidentifikasikan diri sebagai bagian dari satu kelas yang berkuasa dan punya otoritas untuk melakukan banyak hal. Ketika memakai baju PNS, maka seseorang langsung dikategorikan dalam strata sosial tertentu yang berbeda dengan masyarakat lainnya. Baju PNS adalah alat kuasa sekaligus memungkinkan pemiliknya untuk mendapatkan respek serta penghargaan dari sesamanya. Seorang temanku berseloroh, ketika seseorang mengaku PNS saat melamar anak gadis orang lain, maka saat itu juga ia akan mendapatkan kesan positif dari keluarga gadis tersebut.

Profesi PNS adalah profesi yang seolah bisa diwariskan. Ambil contoh, pejabat di Bau-bau memasukkan semua anaknya menjadi PNS. Pernah, dalam satu kali penerimaan, tiba-tiba saja tiga anaknya langsung lolos menjadi PNS karena campur tangannya. Saya jadi bertanya-tanya. Apakah sang pejabat itu tidak memikirkan bagaimana kesan orang kepada dirinya? Saya juga membatin, jika PNS adalah profesi yang diwariskan, lantas adakah kesempatan bagi mereka yang tak punya bapak pejabat? Atau adakah kesempatan buat mereka yang tak punya uang? Kisah seperti ini bukanlah satu, melainkan banyak. Ketika bapaknya pejabat, maka dengan mudahnya memasukkan anaknya sebagai PNS, seolah profesi itu bisa diwariskan. Yupp.... Mungkin inilah potret buram birokrasi di negeri ini.

Di sini, uang tidak selalu menjadi tolok ukur dalam menilai seseorang. Meski seseorang tersebut tampak kaya dan sukses, bisa kalah mentereng dibandingkan seseorang yang biasa-biasa saja namun berprofesi sebagai PNS. Bahkan seorang haji yang bolak-balik Mekah sampai puluhan kali, bisa kalah pamor dengan seorang PNS yang memakai mobil dinas ke mana-mana, kemudian ada tanda pangkat di bajunya. Menjadi PNS adalah kebanggaan sekaligus kekuasaan untuk mengendalikan yang lain. Menjadi eselon di pemerintahan adalah akses untuk menggertak atau menghardik yang lain, kemudian mendapatkan fasilitas di pemerintahan.

Makanya, banyak orang yang rela menyogok berapapun, demi memuluskan niatnya menjadi PNS. Pantas saja jika setiap tahun, saat diadakan peneriman PNS, maka kehebohannya mengalahlan pesta demokrasi. Ada lobi-lobi, kolusi, serta intrik yang terjadi di belakang layar. Berapapun biaya sogok akan dikeluarkan, demi memuluskan langkah. Saya pernah bertanya pada seorang calon PNS, “Apakah anda mengincar gaji?“ Ia menjawab, ”Bukan soal gaji. Ini soal masa depan dan pengaruh.” Yah, inilah negeri yang menjadikan pengaruh dan kuasa sebagai tujuan. Dan PNS adalah jalan tol menuju pada dua hal tersebut.(*)

Rencanaku

TANGGAl 16 Februari mendatang, saya harus berada di Makassar. Saya diminta mengajar di Stikom Fajar (kini jadi Universitas Fajar) untuk mata kuliah Filsafat Komunikasi serta mata kuliah Riset Media. Saya senang dengan tawaran itu sebab saya bisa belajar banyak dan memperbaharui semua kajian saya tentang Ilmu Komunikasi. Saya juga diminta mengajar di Universitas Hasanuddin untuk mata kuliah Teori Antropologi. Mudah-mudahan, syaa bisa melaksanakan semua tugas ini selama dua bulan ini, sebab Mei nanti saya akan berangkat menggapai obsesi yang lain.(*)

Potret

(Ini tulisan terbaru dari Goenawan Mohammad. Saya suka tulisan ini. Setelah membacanya, saya lama tercenung. Sangat menyentuh dan mencerahkan. Silahkan Membaca...)

SEMOGA Tuhan menyelamatkan kita dari potret. Semoga Tuhan menyelamatkan pepohonan Indonesia, tiang listrik Indonesia, pagar desa dan tembok kota Indonesia, dan segala hal yang berdiri dengan sabar di Indonesia, dari gambar manusia.

Bukan karena membuat gambar manusia itu dikutuk Allah. Tapi….

Sebaiknya lebih dulu perlu saya terangkan, terutama bagi para pembaca yang sedang tak di negeri ini, atau yang selama lima bulan belum keluar rumah: adapun gambar manusia itu adalah potret wajah para "ca-leg". Atau "ca-bup". Atau "ca-wali". Atau "ca-gub". Atau "ca-pres". Demokrasi telah marak di Indonesia, para pembaca yang budiman, juga kelatahan.

Kelatahan, mungkin juga konformisme. Kini hampir tiap orang yang mencalonkan diri untuk dipilih siap maju buat bersaing—sebuah tekad yang bagus sebetulnya. Tapi rupanya mekanisme persaingan politik kini mengandung sebuah paradoks.

Di satu pihak, siapa yang ingin menang harus lebih menonjol ketimbang yang lain. Tapi, di lain pihak, sebagaimana tampak dalam potret-potret yang menempel atau bergelantungan di sepanjang tepi jalan itu, tak seorang pun tampak ingin berbeda dari yang lain.

Saya lihat potret M. Tongtongsot dari Partai Bulan Pecah terpasang berdampingan dengan gambar G. Gundulpringis dari Partai Bintang Bujel. Kedua-keduanya tampil berpeci, mengenakan jas dan dasi. Kedua-duanya memasang sederet huruf, maksudnya singkatan, di dekat nama mereka, dimaksudkan sebagai gelar yang diharapkan membuat diri gagah: "H", atau "Drs", atau "MA", atau "MSc". Kedua-duanya terpampang dengan muka lurus ke depan, dengan tatapan tanpa emosi, seperti foto ijazah kursus montir.

Dengan kata lain, orang-orang itu memasarkan diri bukan sebagai pribadi, dengan watak yang tersendiri. Yang tampak di sana hanyalah sebuah tipe. Tipe itu menyatukan entah berapa banyak potret yang berderet-deret, hampir tanpa jarak, dengan nama-nama yang tak akan kita tangkap dengan jelas, apalagi kita ingat, ketika kita lewat di atas motor atau bus. Seorang kawan yang berpengalaman memilih foto wajah buat sampul majalah menyatakan penilaiannya kepada saya: "92% dari deretan wajah itu tak menarik." Ia mengatakannya dengan yakin: "Saya telah berjalan dari ujung Jawa Timur sampai Banten untuk mengamati potret kampanye."

Apa gerangan yang hendak didapat para pemasang gambar? Jawabnya jelas: mereka ingin dipilih di antara ratusan orang lain. Potret mereka ingin direkam dalam ingatan orang pada menit-menit yang sunyi di depan kotak suara pada hari pemilihan nanti. Nama mereka ingin dihafal. Mereka keluarkan dana berjuta-juta untuk mencapai semua itu dengan memanfaatkan dan mengotori pohon, tembok, dan tiang listrik. Tapi belum saya dengar mereka pernah meneliti sejauh mana kampanye pasang-tampang itu tak sia-sia.

"Tapi saya tak mau ketinggalan, " agaknya demikianlah alasan mereka untuk memakai teknik kampanye ini. Tentu, alasan itu bisa diterima. Namun yang terjadi, yang bisa disebut sebagai kelatahan, justru akan menyebabkan mereka ketinggalan: mereka akan terpaku di tempat, sebagai repetisi, ketika waktu berjalan dan orang-orang jadi jenuh.

Memang ada yang mengatakan, menirukan keyakinan juru propaganda Partai Nazi, bahwa repetisi akan punya hasil positif; bahkan dusta yang terus-menerus diulang akan jadi kebenaran. Partai yang sering memasang iklan di televisi memang tercatat—oleh juru jajak pendapat—mulai menuai hasil: dikenal, dan kadang-kadang dikenal tanpa orang bilang, "ah, tidak".

Tapi yang berlangsung kini bukan cuma repetisi. Yang kita saksikan penyeragaman: perlombaan untuk memperlihatkan diri tapi ada saat yang sama takut tampak "lain". Maka yang akhirnya saya ingat dari deretan gambar di tepi jalan itu bukanlah wajah calon anggota DPR wilayah saya, melainkan tampang yang lain dari yang lain: tampang dalam iklan kartu telepon XL—muka monyet.

Sebab yang berulang-ulang datang kini bukanlah semboyan yang menggugah, dari retorika yang menggetarkan. Repetisi dalam politik hari ini adalah muka orang yang terpampang di bidang datar. Muka dua dimensi. Muka yang dengan gampang menyesuaikan diri dengan pola umum, ukuran yang lazim, dan bentuk persegi tertentu. Muka yang pada dasarnya menyerah tertempel, tanpa pesona.

Saya kira pada mulanya adalah sebuah salah paham. Serbuan yang visual ke dunia pancaindra kita punya akar di sebuah premis tua bahwa "melihat" sama dengan "mengetahui" .

Kesalahpahaman oculocentric ini sudah ada sejak Plato di Yunani Kuno memakai perumpamaan orang yang hidup dalam gua, yang dari kegelapan melihat terang. Tapi tak berhenti di situ. Orang Jawa abad ke-21 tetap memakai kata weruh (melihat) sebagai akar kata kawruh (pengetahuan atau ilmu). Kini televisi merupakan sumber "pengetahuan" yang tak tertandingi. Kita pun menonton iklan di layar itu, atau melihat (biarpun dengan sekilas) potret-potret di pohon itu, seraya hampir lupa bahwa, seperti pernah ditulis oleh seorang buta, "indra penglihatan adalah indra berjarak". Indra lain—penghidu, pendengar, peraba, misalnya—berangkat untuk sesuatu yang dekat, bahkan akrab. Jauh sebelum Plato, dalam bahasa Aramaik, orang buta disebut sagi nahor, atau "penglihatan yang hebat".

Hari-hari ini saya pun ingin bersikap sebagai sagi nahor. Saya ingin berdoa: semoga mata orang Indonesia tak akan membuat Indonesia tersesat. Demokrasi perlu dirindukan lagi sebagai tempat suara berseru dengan gema yang kuat, dengan keberanian berbeda—bukan konformisme yang menyerahkan apa yang berharga dalam pribadi ke dalam sebuah pasfoto. Potret itu tak bicara apa-apa.

Goenawan Mohamad

Wisuda.. Wisuda.....


AKHIRNYA saat itu datang juga. Selama empat semester berjibaku dengan tugas-tugas kuliah, serta tesis, akhirnya saya bisa wisuda juga di UI. Saya bahagia dengan saat-saat wisuda, namun setelah itu saya mulai gamang dan bertanya-tanya hendak ke manakah nantinya. Namun biarlah. Saat ini saya ingin menikmati dulu apa yang sedang kujalani. Satu tahapan atau fase dalam hidup telah saya lalui. Semoga kelak matahari kebahagiaan terus memancar. Berikut ini, sejumlah foto yang tercecer di ajang paling bahagia tersebut.(*)

Wisuda dengan Kang Jaya

SAYA senang bisa wisuda dengan sahabatku Sundjaya, yang akrab disapa Kang Jaya. Selama kuliah di UI, saya senang bisa mengenal dan kerap berdiskusi dengannya. Bagiku, Kang Jaya adalah sahabat yang paling menguasai metodologi penelitian. Kepadanya saya sering berdiskusi tentang banyak hal, termasuk pengalamannya melakukan penelitian. Ia juga seorang motivator ulung. Ia bisa memotivasi teman-temnnya yang merasa begitu bodoh untuk melakukan penelitian. Ia selalu punya cara untuk membangkitkan kembali semangat teman-teman yang hendak melakukan penelitian. Saya bangga bisa wisuda bersama-sama dengannya.(*)

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...