Bayi Gagasan yang Tak Tumbuh Dewasa


KADANG-kadang kita tidak pernah peduli dengan sekeping gagasan. Kita kadang acuh pada ide-ide yang berseliweran dan tanpa sadar pernah kita lontarkan. Padahal, boleh jadi gagasan itu adalah emas, sesuatu yang amat berharga jika dikemas dengan tepat. Apa yang pernah disampaikan dalam obrolan lepas itu, boleh jadi adalah intan berlian yang kemudian ditemukan orang lain dan diklaim sebagai miliknya.

Beberapa tahun yang lalu, saya banyak mengamati fenomena politik lokal di Sulawesi Selatan. Saat masih bekerja di sebuah media, saya pernah menulis tentang fenomena munculnya dinasti atau klan politik. Saat itu, saya mengamati fenomena keluarga Syahrul Yasin Limpo (saat itu belum jadi Gubernur Sulsel) yang kesemuanya merambah ke jalur politik. Beberapa kali saya pernah menulis tentang fenomena ini dalam beberapa opini saya di Tribun Timur.

Suatu hari, saya mendiskusikan pengamatan saya dengan Michael Buehler, peneliti berkebangsaan Swiss yang kuliah doktoral di London School of Economics. Saya membahas fenomena Syahrul dan saat itu saya jelaskan pandangan saya tentang munculnya dinasti politik dalam iklim politik di Sulsel. Buehler (saya menyapanya Michael) menyimak dan merekam semua diskusi yang dua kali kami adakan di Kafe Lagaligo, Makassar. Suatu hari, ia datang ke tempat kerja saya. Saat itu saya menhadiahkan banyak arsip liputan media selama beberapa waktu tertentu. Ia balik menghadiahkan sebuah gantungan kunci berbentuk bendera Swiss yang amat cantik dan saya jadikan gantungan kunci motor yang tiap hari saya kenakan.

Komunikasi dengan Michael selanjutnya putus, sebab saya berangkat ke Jakarta. Ia meminta teman saya Riza menjadi asistennya selama melakukan penelitian di makassar. Saat saya di jakarta, beberapa kali saya berusaha menghubungi Michael, tapi tidak ada kabar berita.

Dua hari yang lalu, saya membeli Jurnal Prisma yang berisikan pemikiran para ilmuwan sosial di Indonesia. Ada tulisan yang menarik dari Antonius Made Supriatna berjudul "Menguatnya kartel Politik Para Bos." Yang menarik adalah ia membahas tentang fenomena politik di daerah-daerah dan munculnya klan-klan atau dinasti. Yang mencengangkan saya, dalam catatan kakinya, ia banyak mengutip tulisan Michael Buehler yang berjudul "Rise of the Clans: Direct Elections in South Sulawesi is Coming to Power in Indonesian's Regions." Tulisan Michael dimuat dalam Inside Indonesia (vol 90, November-Desember 2007). Dalam catatan kaki tersebut, Supriatna menyebut Michael yang membahas fenomena dinasti politik keluarga Syahrul Yasin Limpo di Sulsel.

Saat itulah saya tersentak. Sebuah ide lepas yang beberapa kali saya diskusikan dan hanya ditulis untuk konsumsi media, di tangan Michael bisa menjadi analisis ilmiah di satu jurnal bergengsi. Saya belum pernah melihat langsung tulisan Michael itu. Tapi saya berani memastikan bahwa banyak ide yang disampaikannya bermula dari diskusi kecil dengan saya di Makassar. Kelebihan Michael adalah karena ia bisa mengembangkan ide itu secara terus-menerus menjadi sebuah gagasan yang seolah orisinil. Meskipun bagi saya, gagasan itu tidak benar orisinil sebab saya pernah mengemukakannya. Sayangnya, saya hanya melepaskan ide-ide itu dalam diskusi lepas, tanpa berniat menuliskannya dalam bahasa ilmiah dan dipahami audience yang luas. Saya tidak mensistematisasi gagasan tersebut ke dalam bahasa jurnal ilmiah hingga diketahui oleh banyak orang. Saya hanya memendam gagasan tersebut, hingga gagasan itu kehilangan ruang untuk tumbuh mengakar, batangnya menumbuh dan menjangkau langit-langit pemikiran. Ini adalah catatan kelemahan sekaligus kekaguman saya buat Michael. Di tangannya, gagasan tentang dinasti politik itu menjadi lebih bergema ke dunia luar.

Tapi, setelah lama merenung, jujur saya katakan kalau saya dalam keadaan bimbang. Saya tidak tahu, apakah saya harus mengapresiasinya, ataukah saya harus kesal dengan bayi gagasan saya yang tak sempat tumbuh.

2 comments:

  1. Anonymous1:28 PM

    Oh begitu toh?
    Kupikir begitulah ilmuan politik yang memburu untuk membangun teori politik baru. Setidaknya saya tahu bagaimana Buehler memperoleh idenya. Saya bangga, karena ternyata itu lahir dari diskusimu dengan dia. untuk tulisannya yang lain, tentang pilkada 2005 di Gowa tentang relasi kandidat dan partai yang mengusungnya saya menemukan banyak data yang dikumpul himar dia paparkan. saya belum pernah diskusikan dengan himar tentang kemiripan datanya, [lagipula] siapa tahu memang himar saat itu mengumpulkan data untuk dia, entahlah.
    teruslah menggagas ide kawan, kalau bisa kita eksekusi [maaf, meminjam istilah orang-orang praktisi parpol] saja sendiri, bagaimana:-)
    komentar Ishak salim

    ReplyDelete
  2. abdul waris5:44 PM

    ini menarik. itu sj dulu

    ReplyDelete

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...