Mallarangeng yang Menyulut Api

SIAPA sosok yang paling kontroversial saat ini di Kota Makassar? Jawabannya adalah Mallarangeng bersaudara. Selama tiga hari ini, nama mereka selalu disebut, dikritik, malah dicaci-maki. Kemarin, saya tak bisa ke mana-mana sebab jalan-jalan Kota Makassar dipadati ribuan orang yang berdemonstrasi mengutuk mereka. Apa yang diucapkan Alifian Mallarangeng telah melukai hati banyak orang di kampungnya sendiri.

Hari ini, begitu bangun pagi, saya sudah mendengar warga rumah dan tetangga yang mengomel. Semuanya kesal dengan kalimat Alifian yang mengatakan, orang Sulsel belum waktunya jadi presiden. Pantas saja ketika siang hari, massa menyemut dan memenuhi jalan-jalan. Mereka meneriakkan yel-yel. Mereka membawa poster dan spanduk yang mengharamkan Alifian untuk injak kaki di negerinya sendiri. “Kami haramkan trio Mallarangeng menginjakkan kaki di tanah Bugis,” demikian bunyi spanduk yang sempat saya baca.

Saya melihat pernyataan itu dari beberapa sudut pandang. Pertama, nampaknya pernyatan tidak dikemukakan pada saat yang tepat. Ketika kampanye pemilihan presiden (pilpres) sedang berjalan, dan di tengah euforia orang-orang Makassar untuk menaikkan putra daerahnya, Alifian seakan menyiram bensin pada api yang membara. Okelah bahwa itu disampaikan dalam konteks kampanye. Namun, bukankah akan lebih baik jika ia dengan gentle langsung menyebut “Belum saatnya Jusuf Kalla menjadi presiden.” Kenapa pula harus menyebut-nyebut kata Sulsel? Kalau cuma menyebut Kalla, maka pernyataan itu boleh jadi akan biasa-biasa saja. Namun ketika menyebut Sulsel, maka Alifian seolah menyeret semua bangsa Sulsel lainnya termasuk Kalla untuk ikut meradang.

Kedua, Alifian belumlah mencapai satu titik pencapaian tertentu untuk menjadi tokoh masyarakat Sulsel. Publik lalu bertanya-tanya, apa sih yang dilakukan Alifian di Sulsel? Yang mempertautkan dirinya dengan tanah ini hanyalah darah yang mengalir di nadinya. Setelah itu, hidupnya adalah senantiasa merantau bak seorang borjuasi gagah yang berkelana hingga ke luar negeri. Ia tidak seperti Kalla yang menghabiskan separuh usianya untuk berumah di Sulsel. Alifian tidak banyak memberi bakti pada daerah ini. Lebih separuh usia hidupnya dihabiskan di tempat lain. Pantas saja, warga Sulsel lebih mengenal keluarga ayahnya –yang pernah jadi wali kota. Orang cuma tahu bahwa Alifian adalah warga Sulsel, tanpa tahu apa kiprahnya. Itu saja.

Hari ini, kembali saya melihat massa berdemonstrasi. Saya selalu tersentuh setiap melihat ribuan massa. Ini bukan soal pilihan politik yang berbeda. Ini bukan soal memilih Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) ataukah Jusuf Kalla (JK). Ini adalah sikap memandang yang lain seolah tak punya kesempatan untuk dipilih sebagai presiden. Mereka-mereka yang berdemonstrasi itu sedang meneriakkan sebuah perkara yang besar bagi mereka. Sebuah soal yang sejak Indonesia berdiri, hingga kini belum juga terselesaikan.

Sejak bangsa ini berdiri, sudah dihadapkan pada soal bagaimana mengelola keragaman menjadi satu kekuatan. Puluhan tahun Indonesia berdiri, masih saja belum bisa menjawab bagaimana arah yang hendak dituju serta bagaimana memposisikan begitu banyak bangsa-bangsa sebagai elemen yang menyusun keindonesiaan itu sendiri. Ketika demokrasi menjadi pilihan politik kita satu-satunya –yang dianggap merepresentasikan suara rakyat-, maka demokrasi itu berhadapan dengan dilema yang selalu memenangkan suara mayoritas dan meminggirkan minoritas. Nah, ketika demokrasi itu dibawa ke ranah politik, maka itu sama saja dengan mengatakan bahwa etnis mayoritas akan selalu menjadi pemenang.

Padahal, ilmuwan politik seperti Robert Dahl beberapa kali menegaskan bahwa demokrasi itu bukan soal partisipasi semata. “Demokrasi adalah bagaimana memberikan kesempatan kepada mereka yang berbeda untuk tetap menyampaikan haknya,“ katanya. Demokrasi bukanlah tirani mayoritas yang selalu memenangkan yang kuat, namun sebuah nilai yang mengikat semuanya, yang memberikan arena bagi mereka yang kecil untuk tetap bersuara dan berbeda pendapat. Di sinilah letak paradoks demokrasi. Puluhan tahun Indonesia merdeka, kita masih belum dewasa menyikapi bagaimana keindonesiaan itu sendiri.

Negeri ini seolah alpa terhadap ribuan kebudayaan yang sejak masa silam telah hidup dan memenuhi denyut nadi semua anak bangsa. Makanya, ketika berbicara tentang kepemimpinan, seolah kepemimpinan hanya milik etnis tertentu. Saya sering kesal dengan kenyataan ini. Beberapa waktu lalu, sewaktu masih tinggal di Depok, saya sering kesal dengan sejumlah teman yang suka melecehkan JK dengan ucapan bahwa “JK harus realistis. Presiden itu mestinya orang Jawa.” Bahkan sejumlah teman mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) juga mengatakan hal yang sama. Saya langsung meradang dan berteriak. “Saya bukan pendukung JK, namun saya tidak sepakat kalau kualitas kepemimpinan selalu ditakar dengan etnis Jawa atau bukan. Ini Indonesia Bung!!! Ini bangsa yang luas wilayahnya membentang luas. Ini bangsa yang di masa silam diperjuangkan oleh seluruh anak bangsa dari Sabang sampai Merauke. ”

Apakah kita orang luar Jawa tak punya peluang untuk memimpin bangsa ini? Sejak kapan soal memimpin dikaitkan dengan kategori biologis bahwa harus kaum tertentu yang berhak mengendalikan negeri. Itukah demokrasi? Puihh.... Padahal, kepemimpinan adalah perkara universal yang bisa dimiliki oleh siapa saja. Kepemimpinan bukan cuma soal bagaimana berdandan gagah dan disukai rakyat sebagaimana artis sinetron. Kepemimpinan adalah kemampuan menggerakkan semuanya untuk bekerja sesuai kapasitas masing-masing. Kepemimpinan adalah kualitas yang hadir pada mereka yang memiliki visi kuat, serta menggerakkan semesta di sekelilingnya untuk mendukung semua visi tersebut. Saya melihat JK terzalimi oleh pandangan mayoritas tersebut.

Meskipun beberapa kali Alifian Mallarangeng memberikan klarifikasi atas pernyataannya, namun tetap saja itu menunjukkan sesuatu yang sedang bekerja dalam pikiran kita. Untuk itu, saya menitip harapan agar JK sanggup melabrak semua mitos. JK harus menunjukkan bahwa semua anak bangsa bisa bermimpi untuk jadi presiden. Bukan cuma mereka yang mayoritas saja!!

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...