Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Tahun Baru yang Tanpa Greget

TAHUN 2009 ini, saya tak mau banyak memelihara obsesi. Terlampau banyak perencanaan dan target, bisa membuat kita seperti robot yang dipenjara oleh tujuan. Kita seperti komputer yang hanya menjalankan perintah dari sesuatu, entah itu keinginan kita yang kemudian menjadi kekang, ataukah hawa nafsu kita pada kemasyhuran atau kekayaan. Obsesi bisa memberi arah, namun bisa pula memenjarakan.

Begitu banyak obsesi, membuat kita tidak lagi bisa menikmati tetes embun di dedaunan. Tidak lagi bisa menikmati sinar matahari yang lembut menyapa bumi. Kita selalu bergegas, karena waktu tak bisa diulang dan target harus dicapai. Ketika semua onsesi itu tak kesampaian, maka kita kemudian berkompromi terus terhadap apa yang kita alami. Kita hanya bisa pasrah dan menerima kenyataan dengan sejumlah rasionalisasi.

Tahun ini, saya tak mau lagi dibebani target. Saya hanya ingin menjalani hidup dengan apa adanya. Saya ingin menikmati hari. Ingin menjadi orang biasa saja yang hina dina, namun tetap punya martabat. Saya ingin mensyukuri keberadaan saya yang sehat dan bahagia, tanpa harus menangis pilu karena nasib begini kejam dan tidak menempatkan saya pada barisan terdepan mereka yang membuat sejarah. Saya ingat kata Gandhi, keinginan adalah sumber petaka. Pantas saja para biksu meninggalkan nafsu dan berkarib dengan kesederhanaan. Saya tak ingin jadi biksu. Tapi, saya ingin seperti mereka yang lebih menikmati hidup. Itu saja!!!

Depok, 31 Desember 2008


Logat Jakarta Atau Logat Makassar?

MALAM ini saya akan melewatkan tahun baru di Bukafe, Jalan Duren Tiga. Saya ingin reuni dengan teman-teman aktivis mahasiswa Unhas periode akhir tahun 1990-an. Kami menamakan diri kami Generasi Ampuh. Ampuh adalah singkatan dari Aliansi Mahasiswa Peduli Unhas. Dulunya, nama itu digunakan uhtuk menamai kelompok kami yang suka berdemonstrasi di rektorat Unhas.

Ampuh membawa spirit perlawanan. Ada semangat yang bersemi di benak kami tatkala mendengar kata Ampuh. Kini, nama itu tetap kami patrikan sebagai nama kelompok, agar tetap mengingatkan pada semangat perlawanan kala mahasiwa. Kami seperti generasi baby boomer yang suka nostalgia dan mengenang kisah heroik masa lalu. Mungkin ini tanda bahwa kami mulai uzur. Meski sekarang banyak teman yang sudah mapan, setidaknya nama Ampuh bisa menjadi mesin waktu nostalgia yang mendekatkan solidaritas di antara kami. Meski terpencar jauh di sudut kota ini, bukanlah penghalang untuk ketawa bersama ketika mengingat masa lalu. Kebersamaan memang mahal.

Selama di Jakarta ini, saya selalu senang bertemu teman-teman Makassar. Entah kenapa, saya selalu menyempatkan waktu untuk bertemu dalam sebulan sampai beberapa kali. Temanku Adi lebih suka lagi. Ia tak tahan kos sendirian dan lebih suka kos bersama teman-teman Makassar. Alasannya sederhana. “Saya stres kalau tinggal jauh dari anak Makassar. Bergaul sama anak Jakarta sini, capekka logat. Talipat-lipatmi lidahku hanya untuk bilang lo gue,“ katanya.

Alasan berkumpul bisa beragam. Temanku Adi hanya karena persoalan sepele yaitu dia capek bicara logat Jakarta. Susahnya karena orang Jakarta sering mentertawakan kita saat bicara dengan logat Makassar. Itulah susahnya bagi temanku seperti Adi. Berpuluh-puluh tahun tinggal di Makassar, membuatnya susah menyesuaikan cara berbicara. Ketika harus logat Jakarta, lidahnya seakan terlipat-lipat. Makanya, dia lebih suka tinggal sama orang Makassar sebab tak harus logat tiap hari. Bahkan untuk urusan mencari jodoh, si Adi hendak pula mencari orang Makassar. “Saya mau cari cewek yang kalau saya bicara, bisa langsung saja. Tidak usah sesuai logat sini. Makanya, saya mau cari cewek Makassar,” katanya. Dalam satu pertemuan, saya pernah bilang, “Tak usahlah sesuaikan logat. Buktinya Jusuf Kalla tetap dengan logat Bugis.“ Si Adi langsung menjawab, “Beda saya dengan Jusuf Kalla. Dia sudah kaya, makanya terserah dia, dan semua orang ingin ikut. Sementara saya kasian masih kuliah di UI. Nanti kalau kaya baru kembali ke asal.“ Yah, masing-masing orang memang punya dinamika sendiri.(*)

Depok, 31 Desember 2008


Lelah dan Capek

KEMARIN (30/12) adalah hari yang cukup melelahkan bagiku. Bangun pagi, saya langsung siap-siap memulai banyak urusan yang melelahkan. Saya harus ke kampus untuk menyelesaikan semua urusan yang tersisa. Kegiatanku cukup padat. Mulai dari mengambil Kartu Bebas Pustaka di Perpustakaan Pusat, kemudian menuju Perpustakaan Miriam Budiardjo untuk mengambil Kartu Bebas Pustaka.

Setelah itu, saya singgah ke studio foto di Jalan Margonda untuk dipotret dengan mengenakan jas. Foto ini akan dilekatkan di ijazahku. Kemudian kembali ke jurusan. Di sana, saya mengisi dan menandatangani banyak blanko. Saya juga harus menata ulang susunan tesis agar kelak bisa dijilid dengan rapi. Karena belum ditandatangani Pak Afid, maka saya harus menunggu finalisasi tesis tanggal 5 Januari mendatang. Tapi semua berkas kelulusan sudah saya tandatangani. Meski lelah, saya senang karena banyak urusan yang bisa diselesaikan kemarin.

Depok, 31 Desember 2008

Rekor Tulisan

DENGAN tulisan ini, maka saya memecahkan rekor jumlah tulisan sejak keberadaan blog ini. Biasanya dalam sebulan, saya paling tinggi sanggup menulis sekitar 20 tulisan. Namun dengan tulisan ini, maka bulan Desember ini sudah 30 tulisan yang saya posting. Bulan ini adalah bulan di mana saya sangat produktif menulis di blog. Semoga rekor tulisan ini bisa tumbang pada bulan depan. Semoga...

Akan Segera Pulang

DALAM waktu dekat ini saya harus segera ke Makassar, kemudian ke Bau-Bau dan ke Kendari. Pada semua kota itu, ada sejumlah urusan yang harus saya selesaikan. Di kota Makassar, saya harus mengurus ijazah S1-ku yang harus di-translate ke bahasa Inggris. Selanjutnya di Bau-Bau, saya harus mengambil dokumenku seperti akte kelahiran, kartu keluarga, serta bertemu mamaku. Sementara di Kendari, saya harus mengurus paspor di Imigrasi. Demikian banyak hal yang harus dilakukan. Semoga semua urusan bisa lancar. God, give me your power!!

Ada Internet di Kamarku

SAYA sangat senang karena rumah kosku ini menyediakan fasilitas internet. Cukup registrasi Rp 50.000, maka di kamar kita akan disambungkan kabel internet. Kabel itu dicolok ke laptop kita, dan selanjutnya kita bebas menggunakan internet. Saya dan teman-teman penghuni kos, tinggal membeli voucher pemakaian internet dan langsung ditambahkan ke account masing-masing. Tarifnya adalah Rp 2.000 per jam. Jadi, jika membayar Rp 20.000, maka kita dapat 10 jam untuk pemakaian selama sebulan.

Jika sehari kita hanya menggunakan internet selama 5 menit, maka pulsa kita hanya berkurang 5 menit pula. Jika ingin menggunakan internet tanpa pulsa atau unlimitted, maka kita Cuma bayar Rp 150.000. Maka, kita bebas menggunakan internet kapanpun, tanpa takut bakal habis pulsa. Oh ya, pulsa yang kita masukkan itu berlaku selama kita tinggal di kos dan menggunakan fasilitas kos ini.

Saya senang karena ada internet di laptopku. Kadang-kadang, saya bangun tengah malam untuk menyalakan internet. Kadang juga, pas bangun pagi, saya nyalakan internet dan mengecek imel. Rasanya menyenangkan. (Selasa, 30/12). Pukul 06.00


Natal di Langit, Natal di Bumi


KEMARIN natal dirayakan dengan khidmat. Saya tak bisa melihatnya secara langsung, meskipun cuma lewat televisi. Melalui beberapa media cetak, saya bisa merasakan betapa syahdunya umat Kristiani merayakan natal. Melalui media cetak, saya bisa menghirup atmosfer perayaan tersebut. Saat berjalan-jalan, kemeriahan itu juga terasa. Saya sering melihat patung Santa Klaus yang menghela kereta yang ditarik rusa, gambar pohon cemara yang ditutupi salju, serta pohon natal yang indah dengan kerlap-kerlip lampu. Semuanya meriah, namun tetap khidmat dalam balutan religiusitas.

Saya tak hendak menguraikan bagaimana natal. Tidak. Orang Kristen sudah banyak menjelaskan makna perayaan tersebut. Saya hanya menjelaskan pandanganku yang menyaksikan ritual tersebut. Meskipun saya Islam, namun pandangan ini adalah pandangan pribadiku yang lebih melihat fenomena-fenomena sosial. Jujur saja, ritual Kristen belakangan ini banyak membersitkan kekaguman padaku.

Menyaksikan ritual Kristen belakangan ini, tampaknya saya harus menghancurkan demikian banyak berhala pengetahuan yang lama saya pelihara di benakku. Dulunya, saya selalu berpandangan bahwa Kristen identik dengan tradisi Eropa. Apalagi ada tradisi seperti Santa Klaus ataupun bangunan gereja yang identik dengan bangunan ala Eropa. Dulu, saya menganggap Kristen identik dengan ibadah dengan bahasa Inggris dan lagu-lagu ala gospel. Namun, belakangan ini saya sering menyaksikan wajah Kristen yang sangat ramah pada tradisi. Kekristenan yang kental dengan tradisi Eropa itu mengalami pembumian sehingga kita sedang menyaksikan ekspresi kultural Kristen yang berpijak di bumi. Kekristenan bukanlah wacana yang berdiam di langit dan jauh dari peradaban hari ini. Kekristenan adalah hal yang dekat dengan diri kita dan menjadi bagian dari ekspresi sehari-hari kultural masyarakat.

Dulunya saya berpandangan bahwa Kristen adalah Eropa. Kini pandangan itu seyogyanya direvisi. Kristen punya sisi lain, sebuah wajah ramah Indonesia yang sejak dulu dekat dengan tradisi kultural, sesuatu yang tumbuh dan berdenyut atau memberi napas bagi masyarakat kita. Hari ini, saya melihat foto di Kompas tentang perayaan natal di Gereja Gubug Selo Merapi di Magelang. Saya tersentuh. Saya sedang menyaksikan natal yang dipentaskan melalui pagelaran wayang kulit. Ada dalang yang memakai pakaian khas Jawa, serta para pendeta yang juga mengenakan pakaian Jawa.

Kemudian, saya membaca berita tentang banyak tempat di Jawa seperti gua atau pertapaan yang kemudian menjadi jejak petanda tradisi Kristen. Ini adalah hal yang unik sebab mensintesiskan Kristen dengan tradisi lokal sehingga sedemikian membumi. Artinya, orang Kristen tak selalu mengacu pada Vatikan untuk merasakan nuansa spiritualitas. Mereka bisa memilih ke Gua Maria di Jawa, sebagaimana orang Islam di Sulsel yang kemudian berhaji di Gunung Bawakaraeng. Inilah ekspresi kutlural atau cara-cara manusia untuk berjalan menaiki tangga menuju Allah demi menemukan makna dan kembali ke bumi sebagai manusia paripurna.

Sebenarnya, strategi kultural ini bukanlah hal baru. Strategi kultural ini sudah lama dijalankan para penyebar agama pada masa silam. Ketika dulunya Islam hadir, maka Islam juga masuk dalam tradisi dan ritual Hindu yang lebih dulu hidup di masyarakat. Islam mengalami sintesa atau perkawinan dengan tradisi lokal setempat yang bernuansa Hindu sehingga melahirkan sebuah Islam yang hybrid atau eklektik. Bagiku, itu tak salah sepanjang makna dan pesannya yang kudus itu bisa sampai ke pemeluknya. Sejarah Sunan Kalijaga adalah sejarah seorang tokoh yang pandai membaca gerak masyarakat dan mengambil unsur-unsur kebudayaan masyarakat itu untuk memperkenalkan ajarannya. Makanya, kita masih bisa menemukan kisah Jimat Kalimasdha yaitu dua kalimat syahadat yang dibaca oleh Pandawa. Atau tentang cerita Yudhistira yang bertemu Sunan Kalijaga dan kemudian masuk Islam. Sedemikian kuatnya sintesis itu sehingga Jawa mengalami Islamisasi secara total.

Sekarang apa yang terjadi? Islam mengalami gejala Arabisasi secara perlahan. Ketika globalisasi kian membuka batas antar negara, banyak wacana ala timur tengah atau Arab yang perlahan mengatur relung-relung kultural masyarakat. Mulai banyak ulama alumni universitas ternama di Arab yang datang dan memberikan penilaian pada Islam yang hidup di Indonesia hari ini. Mereka memberikan label bid’ah, sebuah pertanda penyimpangan dari ajaran yang sesungguhnya. Mereka menjadi “polisi“ akidah yang kian menjauhkan ekspresi Islam dari makna kultural di masyarakat kita. Bagiku, lembaga semacam FPI di Jakarta adalah bentuk Arabisasi keislaman Indonesia sehingga Islam kita ditarik merapat ke Arab Saudi. Sapaan orang Buton kepada Allah dengan kata “Waopu“ ikut-ikutan disebut bid’ah karena dianggap tidak punya preferensi historis pada Islam di Arab.

Dalam kondisi ketika tradisi mulai sekarat, Kristen hadir dan perlahan memberi napas. Kristen hadir dengan wajah yang kultural. Pendeta disapa Romo, Yesus disapa Kanjeng Pangeran. Kristen perlahan ditarik menjadi lebih membumi, dan tidak lagi identik dengan barat atau Eropa. Dulunya,saya menganggap mereka yang mempraktikkan etika Jawa adalah seorang Islam, kini tidak lagi. Jangan-jangan dia seorang Katolik sebagaimana sosok Franky Welirang yang berambut gondrong dan memakai baju Jawa. Ternyata dia seorang Katolik yang taat.

Makanya, ketika melihat natal tahun ini, saya demikian tersentuh. Natal itu bukanlah hal yang berdiam di langit. Damai Natal adalah pesan kemanusiaan universal yang menembus segala batasan bangsa dan kategori kelas yang dibuat manusia manapun. Damai Natal adalah pesan indah yang dibisikkan kepada manusia manapun. Bahwa natal adalah bisikan indah yang berdenyut di bumi dan sumsum kita. Selamat Natal!!!!


Depok, 28 Desember 2008

Kata Pengantar Tesisku


(INI adalah catatan yang saya buat dalam bagian pengantar tesisku. Saya menuliskan kesan saya selama kuliah dan mereka yang membantu saya hingga lulus. Terima kasih buat semuanya. Silahkan klik link di bawah ini untuk membaca kata pengantar tersebut. Terimakasih)

TESIS ini adalah buah dari proses keja keras saya selama menempuh pendidikan di Universitas Indonesia (UI). Tesis ini lahir melalui proses menerjunkan diri, berkarib intim dengan realitas demi mengenali dan memahami, kemudian mengabadikannya dalam tulisan. Saya belajar berdisiplin untuk menyelesaikan sebuah karya yang kemudian menjadi kunci bagi saya untuk membuka gerbang kampus UI dan kembali ke dunia yang sesungguhnya.

Ada banyak tahapan proses yang saya lalui sehingga tesis sederhana ini bisa dikatakan sebagai refleksi dari cerminan perjalanan intelektual saya di UI. Jika diibaratkan sebagai bayi, maka tesis ini lahir melalui proses yang panjang dan berdarah-darah. Saya pernah berintim dengan realitas, kemudian hamil dengan gagasan-gagasan. Kemudian merawat gagasan itu selama periode tertentu, dan susah payah melahirkannya.

Tesis ini adalah anak kandung dari tradisi intelektualitas yang coba saya jagai dan dandani sepanjang waktu. Ketika banyak orang yang sinis pada mencibir pada wajah tesis ini, saya tetap tak berpaling dan akan setia melindungi dan mempertahankannya. Setidaknya, tesis ini adalah sejarah dan jejak yang berkisah tentang pencapaian saya pada suatu saat.

Saya sadar bahwa tesis ini sangat jauh dari sempurna. Tesis ini masih butuh kerja keras untuk dituntaskan. Saya juga paham bahwa tesis ini mungkin tidak menceminkan kualitas kesarjanaan seorang penyandang gelar magister. Namun, setidaknya semua proses tersebut telah coba saya jalani dengan penuh kesungguhan. Saya berusaha menjadi yang terbaik di tengah keterbatasan yang menjadi duri-duri kecil dalam perjalanan saya. Dua tahun yang lalu, saya mendatangi kampus ini dengan penuh rasa minder sebagai seseorang dari daerah terpencil yang hendak mengetahui bagaimana iklim belajar di kampus yang katanya terbaik di Indonesia.

Saya melalui semua tahapan, mulai dari ujian masuk, proses perkuliahan, diskusi, membaca, buat tugas, ujian proposal, menyusun tesis, hingga ujian. Semua tahapan yang digariskan pihak jurusan, saya jalani dengan penuh keseriusan. Saya pertama kali belajar membaca buku dengan teks bahasa Inggris. Tradisi intelektual di kampus saya sebelumnya tidak dibangun dengan standar yang sangat ketat seperti UI. Pertama kalinya pula saya jadi orang yang sangat rajin mengikuti perkuliahan hingga berhasil mendapatkan nilai-nilai yang baik. Semuanya saya lakukan hanya dengan satu tujuan yaitu meruntuhkan ego dalam diriku bahwa saya bisa menuntaskan kuliah di UI dengan hasil yang maksimal. Saya bertaruh dengan diri saya, apakah sanggup menuntaskan kerja ini ataukah tidak.

Konon, mereka yang hidup di belantara akademik adalah mereka yang berumah di atas angin. Mereka yang menempuh dunia akademik adalah mereka yang berdiam di langit-langit pengetahuan kemudian menafsir kenyataan dengan teliti. Dikepung hasrat yang meluap-luap, saya ikut berumah di atas angin laksana dewa selama dua tahun dan menjalani semua proses dengan sabar. Sayang, saya tak tuntas dengan kerja kelangitan itu. Sesekali saya harus kembali ke bumi untuk menjawab beban hidup. Terkadang, beban hidup itu begitu kuat mendera saya sehingga sering menjadi rintangan yang serius dalam penyelesaian studi ini. Sebelum kuliah, saya bekerja pada satu tempat yang cukup prestisius, namun saya tinggalkan karena padatnya jadwal kuliah. Selanjutnya saya bekerja pada satu perusahaan temanku yang kemudian gulung tikar hanya selang sebulan setelah saya masuk bekerja.

Dalam kondisi serba sulit itu, saya harus memutar otak bagaimana menyiasati beban hidup dan himpitan tugas di kampus. Saya akhirnya belajar dalam kondisi yang sulit dan membuat saya selalu menerobos batas antara dunia langit akademik dan dunia bumi sesungguhnya. Kondisi yang sulit itu mengharuskan saya untuk kreatif dan menyiasati semua keadaanku. Perlahan, saya mulai bisa menemukan irama untuk bertahan. Saya mulai bisa menemukan ritme menyiasati dua hal yang sungguh berat itu. Buktinya adalah saya bisa tiba pada titik ini. Saya berumah di atas angin dan berumah di atas bumi sekaligus. Jika belakangan rumah yang di atas angin itu porak poranda, maka itu adalah refleksi dari betapa beratnya menjagai rumah di atas bumi. Itulah kondisi yang harus saya jagai.

Dalam kondisi yang serba sulit tersebut, selalu saja ada uluran tangan malaikat-malaikat yang dengan caranya sendiri selalu membuat saya bisa bertahan. Mereka adalah orang-orang yang selalu setia menerima saya, meskipun sedang goyah. Mereka adalah bagian paling penting dalam seluruh episode perjalanan hidup saya dan betapa terkutuknya saya jika sampai mengabaikan mereka. Malaikat-malaikat itu adalah semua keluarga saya, mulai dari mamaku Hj Halma, Ismet, Tiah, dan Atun. Saya tak habis pikir dengan kebaikan luar biasa yang mereka pancarkan untuk saya. Saya tak habis pikir dengan butir-butir embun pertolongan yang mereka kucurkan buat saya. Ismet, Tiah dan Atun adalah saudaraku yang selalu hadir membantu di sejauh manapun saya melangkah. Mereka membakar api semangatku.

Sementara mamaku adalah cahaya lilin yang memandu ke manapun saya ingin bergerak. Tak terhitung rupa-rupa kebajikan yang dia berikan kepada saya. Saya hanyalah seorang anak yang bengal dan sering menyakitinya. Saya hanyalah seorang anak yang pembangkang dan selalu ingin lepas bagai merpati dan melanglangbuana ke mana-mana. Namun, ke manapun saya bergerak dan tersesat, ia selalu menjadi mercusuar yang memberiku cahaya pertolongan. Kemanapun saya bergerak, matanya akan selalu menjadi tempat kembaliku untuk menemukan kehangatan dan kasih sayang. Ia telah mentransformasi dirinya menjadi monumen kebajikan yang hadir dalam setiap lelah dan tak berdayaku. Ia adalah matahari yang tak pernah minta balasan dari bumi. Saya selalu tersungkur tak berdaya jika melihat betapa luasnya samudera kebaikan yang dia hamparkan untuk saya renangi dan selami. Mamaku adalah prasasti hidup dari kisah cinta seorang ibu yang tak pernah surut kepada anaknya. Seluruh hidupnya ia dedikasikan untuk membesarkan buah hatinya. Setiap mengingat mamaku, saya selalu malu dengan diriku sendiri. Saya malu karena hingga saat ini tak bisa berbuat banyak. Tesis ini adalah sebuah komitmen sekaligus jalan pulang bagi saya untuk kembali merenungi cinta mamaku.

Bagian penting dalam penyusunan tesis ini adalah Dwiagustriani. Keikhlasannya untuk berbagi nasib dan takdir adalah anugerah terbesar yang pernah saya terima. Kebaikannya membantuku menghadapi semua masalah adalah tanda yang tak mungkin bisa kuingkari. Saya selalu melambungkan harapan agar kelak bisa memberikan balas atas semua kebaikannya. Semoga saatnya tak lama lagi.

Selain keluargaku, mereka yang juga menjadi bagian penting dariku adalah semua sahabat serta teman-temanku baik di Jakarta maupun Makassar. Sahabatku di Jakarta seeprti Adi Katak, Topan, Bulla, Irma, dan si kecil Ali adalah saudara di saat susah dan senang. Masih banyak nama lain, namun terlampau panjang jika disebutkan di sini. Kemudian sesama kerabat antrop angkatan 2006 yaitu Riri, Diah, Andi, Jaya, Gonjess, Mitha, Fikri, Ines, Kang Herry, Pak Azis, Pak Marko, Pak Murtadho, Pak Simon, dan Pak Pur. Terima kasih atas semua kebersamaan dan ikhtiar kita untuk saling membantu.

Tak lupa, segala rasa terima kasih saya haturkan kepada mereka yang berumah di langit-langit pengetahuan. Para dosen yang memberikan sentuhan ilmu serta ajaran kebijaksanaan. Mulai dari Dr Iwan Tjitradjaja (saya tak akan pernah lupa dengan segala masukan-masukannya yang kritis), Prof Achmad Fedyani Saifuddin yang memberikan saya kepercayaan besar (mungkin tesis saya telah mengecewakannya), Prof Sulistiyowati, Prof Susanto Zuhdi, Prof James Danandjaja, Dr Riga Adiwoso, Dr Suraya Affif, dan Dr Ninuk Kleden. Terima kasih atas semua kuliah-kuliah yang inspiratif dan akan mewarnai babakan kehidupan saya selanjutnya. Terima kasih juga buat staf program antrop yaitu Wati, Wiwin, Tina, dan Mas Tomi. Mereka yang dengan caranya sendiri telah membantu saya untuk melewati gerbang akademik dengan sukses. Terima kasih atas semuanya.

Rasa penghargaan tak terhingga saya berikan kepada semua kawan-kawan dan informan saya di Bau-Bau, maupun sudut lain di Pulau Buton. Informanku Hj Ainun Djariah, istri mantan Bupati Kasim, telah mengizinkan saya memasuki relung-relung pengalamannya yang mencekam. Ia telah mengajarkan saya ketabahan menghadapi hidup yang keras dan cara bertahan hidup bagai rumput liar. Dengan segala keterbatasannya, ia melayani saya untuk berdiskusi dan mengisahkan pengalaman pahit yang dijalaninya dengan harapan agar generasi muda Buton bisa paham apa luka kelam di masa silam. Kemudian informan lainnya seperti Suhufan, La Uma Dhadi, La Edi, La Ode Sabara, La Ode Anshari, dan La Ode Munafi. Terima kasih saya haturkan kepada Saidi yang setia mengumpulkan arsip kesaksian atas kejadian di masa itu. Tak lupa kepada kawan-kawan Respect yang menjadi instrumen bagi saya untuk mengumpulkan data. Terima kasih atas semua kebaikan itu.

Pada akhirnya, saya persembahkan semua pembaca untuk menelusuri tesis ini. Semoga ada inspirasi dan pencerahan yang bisa ditarik hikmahnya dalam karya yang sederhana ini. Selamat membaca!!!

Depok, 26 Desember 2008


M Yusran Darmawan

Menulis adalah Terapi

MENULIS adalah terapi dari ketakutan. Menulis adalah cara melepaskan kegelisahan. Menulis adalah cara memuntahkan stres agar tidak menjadi penyakit dalam diri. Menulis adalah strategi untuk menunjukkan siapa kita. Menulis adalah cara terbaik melepaskan semua keresahan dan beban yang mengganjal dalam diri. Menulis adalah sebentuk curhat untuk menghadapi situasi.(*)

Ya Allah... Ajari Saya

YA Allah... ajari saya cara bekerja keras, Ajari saya cara menghargai semua nikmat dan anugerah yang kau berikan. Ajari saya untuk menghargai setiap inchi bahagia yang kau hadiahkan kepadaku. Ajari saya bagaimana melawan semua ketakutan dan kengerian. Ajari saya bagaimana melihat masa depan dengan tidak berkabut.

Ajari saya bagaimana menaklukan semua kesombongan yang melekat dalam diriku. Ajari saya untuk selalu berbahagia atas segala apa yang jejaknya tersisa pada diriku hari ini. Ajari saya untuk tidak egois dan berharap lebih dari setetes kerja kerasku. Ajari saya ketenangan batin dalam menghadapi hidup yang deras arusnya hingga membuat saya nyaris hanyut.

Ajari saya ketulusan dalam memandang yang lain. Ajari saya keadilan dalam memandang sesuatu, dan tidak memaksakan sesuatu yang hanya hidup dalam pahamanku saja. Ajari saya untuk berdiri tegak dan tidak silau memandang matahari.(*)

Hadapi Saja

Hadapi semua masalah dengan berani. Arahkan mata pedangmu kepada sejarah. Bantai habis semua ketakutanmu. Tikam semua trauma dan rasa bersalahmu. Sikat semua keangkuhanmu pada hal-hal baru. Bakar habis semua kekhawatiranmu. Be strong, Man!!

Grogi, Takut, Gagu

APA sih yang anda rasakan ketika grogi? Apa yang anda rasakan ketika nervous? Fenomena yang muncul adalah rasa tertekan dan tidak tahu hendak berbuat apa. Tiba-tiba saja kita ketakutan dan merasa kaku, seakan tak berdaya. Seseorang yang grogi dikepung perasaan tertekan ketika hendak mengungkapkan sesuatu, namun tak bisa dikeluarkan dengan jelas. Kita merasa tercekat –entah disebabkan apa—dan tiba-tiba saja kita jadi kaku dan mati rasa.

Seorang teman mengatakan, ketika kita grogi, maka sekitar 40 persen dari cadangan pengetahuan kita akan lenyap sesaat. Tiba-tiba saja kita menjadi sangat bodoh dan tak sanggup berkata-kata. Bahkan, menjawab pertanyaan yang sangat gampang sekalipun, kita tak mampu melakukannya. Anggaplah kita sedang menjalani ujian skripsi. Ketika kita grogi, maka saat itu juga kita akan menjadi bulan-bulanan dari para penguji. Kita kehilangan kemampuan menjawab, dan kalaupun bisa menjawab, maka semua jawaban yang keluar adalah sesuatu yang ngawur, tanpa landasan. Kesimpulannya adalah, ada proses yang segaris. Bermula dari grogi, selanjutnya merasa kaku, dan terakhir adalah gagu –keadaan di mana kita tak bisa berkata-kata.

Saya sering merasakan grogi itu. Biasanya, saya merasa tersiksa. Ada keinginan berteriak untuk melepaskan apa yang ada dalam benak kita, kemudian memberitahukan kepada dunia tentang posisi kita. Grogi adalah penyakit yang harus segera diatasi jika ingin tetap kuat dalam berhadapan dengan segala situasi. Seseorang yang sanggup mengatasi grogi adalah seseorang yang memiliki karakter dan rasa percaya diri yang kuat. Ia tidak mudah terombang-ambing dalam sebuah masalah. Jelaslah dibutuhkan sebuah rasa percaya diri yang kuat agar bisa menaklukan grogi dan rasa nervous. Namun, semuanya membutuhkan proses.

Setelah melewati suasana grogi, seseorang akan merasa plong. Dia akan merasa lepas, tanpa beban. Namun, grogi bisa meninggalkan jejak dalam bentuk trauma. Kita merasa kesal baik dengan diri kita maupun dengan situasi di mana kita tertekan. Setiap mengingat kejadian itu, terasa ada sesuatu yang menusuk batin kita. Ada rasa jengkel, kesal, serta marah, yang entah dengan cara apa bisa dilepaskan. Meskipun kita refreshing atau bersantai, namun jejak itu tetap susah dihapuskan sebab yang kita lakukan hanyalah menghindarinya.

Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah melupakan semua kejadian itu dan menekannya secara kuat dalam pikiran kita. Dalam psikoanalisa, ini disebut represi. Namun, cara ini agak pengecut sebab menumpuk atau menghindari masalah. Saya kira, cara terbaik adalah tetap menghadapi hal-hal yang membuat grogi itu. Kita mesti berdiri tegak dan menghadapinya agar masalah itu tidak meninggalkan jejak trauma. Jika kita takut ketinggian, maka lawanlah semua ketakutan itu. Kita hanya butuh satu moment penting untuk tenang, dan selanjutnya semua akan berjalan indah.

Saya teringat adegan sebuah film barat tentang seorang anak yang takut naik sepeda. Orang tuanya kemudian mengajari anak itu untuk melawan semua ketakutannya. So, cara terbaik menghindari masalah adalah dengan menghadapinya dengan mata menyala. Tentang menghadapi masalah ini, orang Makassar selalu teringat pada Robert Wolter Monginsidi. Hal hebat yang diwariskan pemuda ini adalah keberaniannya menghadapi eksekusi Belanda. Saat hendak ditembak, ia menolak penutup mata. Ia menatap lurus semua tentara yang hendak menembaknya. Meski ia tewas, namun semua orang Makassar tersentuh dengan apa yang dilakukannya. Semua memberi penghormatan. Monginsidi mengajarkan bahwa hadapi apapun yang kamu hadapi, meskipun maut akan merenggut hidupmu. Jika maut saja dihadapi dengan tenang, ngapain harus takut atau grogi menghadapi yang lainnya? Kata Iwan Fals, hadapi saja!! Tul nggak?.(*)

Involusi Mahasiswa Sulsel

DI tengah gemuruh dan riak konstalasi politik Sulsel, adakah orang masih berpikir sejenak tentang gerakan mahasiswa? Nyaris setiap patahan waktu, mahasiswa menyengat dengan berbagai pamflet politik dan aksi demonstrasi, namun adakah fenomena itu bisa mengetuk sanubari anggota masyarakat? Apakah mahasiswa terus berada pada satu siklus sejarah yang terus berulang dan kehilangan energi kreatif untuk menyusun ulang sejarah yang baru?

Di ajang seperti Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sulsel, adakah mahasiswa masih menjadi kekuatan penting yang bisa memainkan peran signifikan? Saya kira tidak. Berdasarkan pengamatan atas situasi yang sedang terjadi di Sulsel, mahasiswa hanya bisa terjebak pada dua alur skenario: dukung-mendukung atau memilih berada di luar arena (netral). Kedua-duanya memiliki risiko serta konsekuensi politik tersendiri yang tidak bisa ditawar. Nah, tulisan singkat ini tidak bermaksud menjawab semua asumsi tersebut. Tulisan ini hanya bermaksud mengeksplorasi gagasan apa sesungguhnya yang terjadi di tengah kondisi stagnasi gerakan mahasiswa. Mencoba mengurai buhul persoalan demi memahami realitas yang sedang terjadi dalam tubuh gerakan mahasiswa Sulsel.

Pilihan politik dukung-mendukung atau netral ini lahir dalam situasi sejarah di mana gerakan mahasiswa berada pada situasi kebingungan dalam menentukan format gerakan pascareformasi. Begitu anehnya gerakan mahasiswa kita sampai-sampai terus mereproduksi format aksi seperti menutup jalan raya dengan agenda yang kian kabur.

Setiap mendengar berita demonstrasi mahasiswa Makassar, imaji saya langsung dipenuhi gambaran mahasiswa yang menutup jalan sembari berorasi dengan mengenakan seragam almamater. Pada saat bersamaan, kemacetan yang begitu parah akan terjadi sebab Makassar tak punya banyak ruas jalan. Masyarakat pengguna angkutan banyak yang mengumpat serta bersungut-sungut sebab tak bisa sampai ke tujuan. Mahasiswa seakan menutup telinga, tidak peduli dan tetap melanjutkan aksinya dan berteriak-teriak kalau "Ini atas nama rakyat".

Matinya Lembaga

Setidaknya, ada dua hal serius yang mungkin bisa dilihat sebagai ciri dari gerakan mahasiswa kita hari ini. Pertama, gerakan mahasiswa seakan tidak mampu menentukan isu strategis yang menjadi starting point untuk sebuah gerakan. Gerakan mahasiswa kian tidak cerdas. Mahasiswa kita tak mampu memilah-milah mana isu yang sifatnya lokal atau nasional serta bagaimana cara yang tepat untuk meresponnya.Pemberitaan media nasional tentang aksi mahasiswa Jakarta bisa membuat mahasiswa Sulsel ikut-ikutan gerah dan berdemonstrasi dengan isu yang sama.

Kedua, ada krisis yang sesungguhnya terjadi di tubuh organisasi mahasiswa kita. Ada indikasi kuat yang mengarah ke realitas yang menggiriskan yaitu matinya lembaga kemahasiswaan akibat intervensi birokrat yang begitu tinggi dengan dalih untuk melakukan pendisiplinan serta normalisasi.

Wacana matinya lembaga kemahasiswaan ini sudah mulai mencuat sejak akhir tahun 1990-an. Birokrat kampus seakan-akan memposisikan aktivis mahasiswa sebagai musuh politik yang harus disingkirkan. Berbagai cara dilakukan demi mematikan gerakan mahasiswa. Mulai dari intimidasi preman kampus, kebijakan drop out, hingga pemberian bea siswa yang ditengarai menjadi sumber dari peta konflik dalam kampus. Matinya lembaga kemahasiswaan ini menjadi tanda dari matinya mata air gerakan mahasiswa. Imajinasi mahasiswa akan gerakan yang heroik, perlahan digeser kekhawatiran kalau kelak akan dipersulit oleh birokrasi akademik serta tidak nyaman akibat dikejar-kejar preman.

Di sisi lain, lembaga mahasiswa kian tidak "seksi". Kegiatan lembaga itu seakan-akan tak bisa keluar dari rutinitas tahunan seperti ospek, pengkaderan, festival musik, hingga bina akrab. Tak ada yang bisa dibanggakan untuk mempertajam insting bermahasiswa.

Organisasi Daerah

Lantas, ketika lembaga mahasiswa kampus kian tidak menarik, mahasiswa terserap di berbagai lembaga mulai dari pusat studi hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM).Hal yang paling menarik untuk diamati adalah terserapnya mereka ke dalam lembaga mahasiswa berbasis daerah yang tumbuh subur bak cendawan. Ini adalah fenomena baru yang menarik untuk diamati.

Dulunya, lembaga kedaerahan ini dianggap tidak menarik sebab dianggap melestarikan sekat-sekat primordialisme. Mahasiswa ingin melambungkan visi nasional dengan keinginan untuk merengkuh wacana keindonesiaan. Namun, seiring dengan fenomena otonomi daerah serta politik lokal, berbagai asumsi itu seyogyanya segera direvisi.

Pilkada lokal telah membalikkan berbagai sentrum gerak mahasiswa dari lembaga intrakampus menuju ke lembaga mahasiswa berbasis daerah. Saya kira alasannya cukup pragmatis yaitu: pada lembaga mahasiswa daerah, ada ruang yang lebih lebar untuk menerjunkan diri ke dalam alur politik praktis, sementara pada lembaga mahasiswa kampus, ruang untuk itu seakan-akan tertutup.

Alasan lainnya adalah politisi dan birokrat adalah mahluk yang paling mudah menghamburkan duit demi pencapaian tujuan. Dekat dengan politisi tidak hanya mencerminkan kedekatan secara ideologis, namun juga kedekatan secara finansial.Hubungan mahasiswa dan politisi adalah simbiosis mutualisme yang saling memanfaatkan. Politisi memanfaatkan mahasiswa demi memperluas rentang pengaruh serta tim sukses, sedangkan mahasiswa memanfaatkan politisi sebagai ajang memasuki rimba politik serta mendapatkan imperatif finansial. Relasinya tetap saja menempatkan mahasiswa pada posisi di bawah sebab hanya menjadi perpanjangan tangan.

Fenomena lain yang menarik disimak adalah posisi organisasi ekstra seperti HMI, IMM, PMII, GMKI, hingga PMKRI yang juga tidak jauh berbeda dengan posisi organisasi daerah. Organisasi ekstra ini malah sudah lebih dulu memasuki rimba politik, meski sebelumnya terkesan malu-malu. Jangan berharap akan ada sumber mata air pergerakan mahasiswa sebab yang terjadi di sini adalah lembaga digiring ke arah wacana politik seiring dengan kedekatan para fungsionarisnya dengan para politisi.

Sebuah Involusi

Dulunya, politik dan mahasiswa adalah dua suku kata yang berusaha dijauhkan oleh pemerintah Orde Baru. Setidaknya itu terjadi pada masa Daoed Joesoef menjadi Mendiknas di akhir tahun 1970-an --sebuah kebijakan yang belakangan sangat disesalinya. Kini, dua kata itu berkelindan dan saling mempengaruhi sehingga mahasiswa seakan-akan sangat percaya diri ketika menyebut kedekatannya dengan sejumlah politisi.
Relasi itu tidak menjadi soal jika ada satu nilai tawar atau bargaining yang bisa ditempuh, namun relasi itu akan menjadi soal tatkala tidak diarahkan pada upaya untuk melicinkan jalan untuk tercapainya beberapa agenda strategis.

Jika di lihat dari sisi pencapaian agenda strategis kerakyatan, maka gerak mahasiswa dari masa ke masa laksana sebuah gerak melingkar.Mahasiswa seakan jalan di tempat, tanpa ada matahari perubahan yang signifikan. Antropolog Clifford Geertz menyebut gerak melingkar ini sebagai gejala involusi. Involusi menunjukkan gejala yang statis dan mengalami pewarisan secara terus-menerus. Menurutnya, ada situasi yang terus dipertahankan dengan berbagai cara, dan diwariskan secara terus-menerus.

Mungkin, analogi yang sama bisa dilihat pada gerak mahasiswa kita. Ada semacam mekanisme yang tengah berlangsung di benak mahasiswa sehingga terus saja membiarkan situasi jalan di tempat ini, tanpa ada ikhtiar untuk beringsut maju. Dalam situasi di mana parlemen tidak bisa merepresentasikan rakyat, penguasa arogan yang sibuk menggelar pilkada, serta hukum yang tidak menjadi panglima, mahasiswa mestinya bisa memainkan peran yang lebih strategis sebagai wakil dari nurani zaman pada generasi yang belum banyak tercemar.

Jika situasinya terus dimapankan oleh proses sosial kita, maka gerakan mahasiswa kelak menjadi monumen sepi yang hanya bisa dituturkan melalui buku sejarah. Menjadi jejak yang serpihnya dicari oleh generasi baru.

(tulisan ini dibuat dua tahun yang lalu terkait maraknya aksi tutup jalan oleh mahasiswa Makassar)

Petuah Bijak Master Oogway


Yesterday is history,
tomorrow is mistery,
and today is a gift. That'a why we call Present



--Master Oogway

Pelacur


(ini adalah tulisan Goenawan mohamad yang saya suka)

Dengan tubuhnya yang gempal perempuan itu memecah batu, dengan tubuhnya yang tebal ia seorang pelacur.

Namanya Nur Hidayah, 35 tahun, kelahiran Tulungagung, Jawa Timur. Ia seorang istri yang ditinggalkan suami (meskipun mereka belum bercerai), ia ibu dari lima anak yang praktis yatim.

Tiap pagi, setelah Tegar, anaknya yang berumur enam tahun, berangkat ke sekolah dengan ojek, Nur datang ke tempat kerjanya. Di sana ia mengangkut batu, kemudian memecah-mecahnya, untuk dijual ke pemborong bangunan. Nova, empat tahun, anak bungsunya, selalu dibawanya. Nur bekerja sekitar lima jam sampai tengah hari.

Lalu ia pulang. Tegar akan sudah kembali ke rumah kontrakan mereka, dan Nur bisa bermain dengan kedua anak itu. Sampai pukul tiga sore.

Matahari sudah mulai turun ketika Nur membawa kedua anaknya ke tempat penitipan milik Ibu In, yang ia bayar Rp 20 ribu sehari. Lalu ia berdandan: memasang lipstik tebal, berpupur, mengenakan baju terbaik. Lepas magrib, ia naik ojek dari kampung Mujang itu ke Gunung Bolo, 45 menit jaraknya dengan sepeda motor.

Di kegelapan malam di tempat tinggi yang jadi kuburan Cina itu, Nur menjajakan seks. Ia menjual tubuhnya.

Ia tak memilih pekerjaan itu. Sutrisno, suaminya, yang menikah dengan perempuan lain, tak memberinya nafkah. Ia bertemu dengan lelaki itu pada 1992 dalam bus ke Trenggalek. Mereka saling tertarik, dan Sutrisno menemukan lowongan buat Nur di Pabrik Rokok ”Semanggi” di Kediri. Pekerjaan mengelinting sigaret itu hanya dijalaninya dua bulan. Nur hamil. Ia harus menikah.

Ia pun jadi istri seorang suami yang menghabiskan waktunya di meja judi dan botol ciu. Tak ada penghasilan. Tak ada pengharapan. Setelah anak yang kelima lahir, dalam keadaan putus asa, Nur ikut ajakan tetangganya, seorang pelacur di Gunung Bolo. Ia bergabung dengan sekitar 80 pekerja seks di tempat itu, dan jadi sahabat Mira, yang lebih muda setahun tapi sudah hampir separuh usianya menyewakan kelamin. Mereka menghabiskan malam mereka mencari konsumen di pekuburan Cina itu. Tarif: Rp 10 ribu sepersetubuhan.

”Pernah ada pengalaman yang membuat Mbak Nur senang, selama ini, ketika melayani tamu?”

”Ah, ya ndak ada,” jawabnya.

Tapi suara itu tak getir. Nur, juga Mira, bukanlah keluh yang pahit. Dalam film dokumenter yang dibuat Ucu Agustin—salah satu dari Pertaruhan, empat karya dokumenter tentang perempuan yang layak beredar luas di Indonesia kini—kedua pelacur itu berbicara tentang hidup mereka seperti seorang pedagang kecil (atau guru mengaji yang miskin) berbicara tentang kerja mereka sehari-hari.

Bahkan dengan kalem mereka, sebagai undangan Kalyana Shira Foundation yang memproduksi Pertaruhan, duduk bersama peserta Jakarta International Film Festival di sebuah kafe di Grand Indonesia—seakan-akan mall megah itu bukan negeri ajaib dalam mimpi seorang Tulungagung. Ketika saya menemui mereka di tempat minum Goethe Haus pekan lalu, Mira duduk seperti di warung yang amat dikenalnya, dengan rokok yang terus menyala (tapi ia menolak minum bir), dan Nur memeluk Nova yang dibawanya ikut ke Jakarta.

Haruskah Mira, Nur, merasa lain: nista? Produser, sutradara, dan aktivis perempuan yang menjamu mereka tak membuat para pelacur itu asing dan rikuh. Bahkan Tegar dan Nova diurus panitia seakan-akan kemenakan sendiri—dan dengan kagum saya melihat sebuah generasi Indonesia yang menolak sikap orang tua dan guru agama mereka. Mira dan Nur tak akan mereka kirim ke neraka, di mana pun neraka itu. Ucu Agustin, 32 tahun, sutradara dokumenter ini, telah berjalan jauh. Ia lulus dari IAIN pada tahun 2000 setelah enam tahun di pesantren Darunnajah di Jakarta, di mana murid perempuan bahkan dilarang membaca majalah Femina. Ia kini tahu, agama tak berdaya menghadapi Nur dan kaumnya.

Di Tulungagung terdapat setidaknya 16 tempat pelacuran. Ada dua yang legal, yang tiap Ramadan harus tutup. Tapi sia-sia: di tiap bulan puasa pula para pelacur yang kehilangan kerja datang antara lain ke Gunung Bolo. Pekerja di tempat itu bertambah 50 persen.

Dan bagaimana agama akan punya arti bila tak memandang dengan hormat ke wajah Nur: seorang ibu yang mengais dari Nasib untuk mengubah hidup anak-anaknya? ”Mereka harus sekolah, mereka ndak boleh mengulangi hidup emak mereka,” Nur berkata, berkali-kali.

Dengan memecah batu ia dapat Rp 400 ribu sebulan, dengan melacur ia rata-rata dapat Rp 30 ribu semalam. Dengan itu ia bisa mengirim Tegar ke sebuah TK Katolik sambil membantu hidup anak-anaknya yang lain yang ia titipkan di rumah seorang saudara. Nur tegak di atas kakinya sendiri. Ia contoh yang baik ”dialektika” yang disebut Walter Benjamin: seorang pelacur—seorang pemilik alat produksi dan sekaligus alat produksi itu sendiri, seorang penjaja (Verkäuferin) dan barang yang dijajakan (Ware) dalam satu tubuh. Ia buruh; ia bukan.

Bagi saya ia ”Ibu Indonesia Tahun 2008”.

Setidaknya ia kisah tentang harapan dalam hidup yang remang-remang. Memang tuan dan nyonya yang bermoral mengutuknya. Memang polisi merazianya dan para preman memungut paksa uang dari jerih payah di Gunung Bolo itu. Tapi Nur tahu bagaimana tabah. Kebaikan hati bukan mustahil. Tegar diberi keringanan membayar uang sekolah di TK Katolik itu. Tiap bulan ke Gunung Bolo, seperti ke belasan tempat pelacuran di Tulungagung itu, datang tim dari CIMED, organisasi lokal yang dengan cuma-cuma memeriksa kesehatan mereka. Dan ke rumah penitipan Ibu In secara teratur datang Mbak Sri untuk membantu Tegar berbahasa Inggris dan mengerti bilangan.

Terkadang Nur berbicara tentang Tuhan (ia belum melupakan-Nya). Ia menyebut-Nya ”Yang di Atas”. Mungkin itu untuk menunjuk sesuatu yang jauh—tapi justru tak merisaukannya, karena manusia, yang di bawah, tetap berharga: bernilai dalam kerelaannya.

~Majalah Tempo Edisi Senin, 15 Desember 2008~

Gentar

LULUS sebagai magister tidak terlalu membuat saya bahagia. Malah yang ada adalah rasa gentar sesaat karena membayangkan hendak ke mana bergerak. Hingga kini, saya masih bertanya-tanya apa keahlian serta spesifikasi yang saya miliki untuk memasuki dunia kerja, sebuah arena yang paling berat. Beberapa hari lalu, saya dapat berita gembira. Saya lulus program ARI NUS di Singapura. Saya akan belajar di National University of Singapore selama beberapa bulan. Mudah-mudahan ini bisa menjadi pengalaman yang kian memperkaya pengetahuanku. Saya harus selalu optimis sebab matahari akan selalu terbit setiap hari.

Maafkan

MAAFKAN atas ketidaknyamanan ini. Saya sedang berusaha membenahi blog ini. Saya lagi mencari cara untuk menyingkat beberapa tulisan yang saya posting. Dengan cara ini, maka blog saya akan tampil lebih cantik. Tentunya, akan sangat memudahkan saya ketika hendak memasukkan tulisan yang agak panjang.

Maafkan

MAAFKAN atas ketidaknyamanan ini. Saya sedang berusaha membenahi blog ini. Saya lagi mencari cara untuk menyingkat beberapa tulisan yang saya posting. Dengan cara ini, maka blog saya akan tampil lebih cantik. Tentunya, akan sangat memudahkan saya ketika hendak memasukkan tulisan yang agak panjang.

Puluhan Tahun Belajar Merdeka

APAKAH makna kemerdekaan? Apakah makna kebebasan? Setiap tahun hari kemerdekaan terus hadir. Kalender dan penanggalan disobek, namun makna hari itu seakan mengabur dan menjelma jadi ritual yang kehilangan ruh. Menjelma jadi baris-berbaris yang kaku hingga lomba panjat pinang yang riuh. Tanpa ada setitik refleksi dan upaya mencari tahu, apakah makna kebebasan.

Nun jauh di tahun 1926, pikiran Soekarno juga berpusar mencari jawab atas pertanyaan itu. Dalam usia 26 tahun, sebagai pemuda yang baru lulus Sekolah Tinggi Teknik Bandung, imajinasi Soekarno melanglang buana untuk menemukan apa makna kemerdekaan bagi negerinya yang tengah di bawah bayang-bayang kolonialisme. Ini tahun 1926, sebuah masa di mana Indonesia masih menjadi sebuah visi, sebuah cita-cita, yang tumbuh dalam batin dan dibisikkan dalam berbagai konferensi pemuda. Indonesia belum menjadi satuan politik dengan lanskap teritori yang membentang nun jauh dari Sabang hingga Merauke.

Indonesia masih menjadi sebuah konsep yang diimajinasikan sebagai buhul atau tali pemersatu yang menautkan berbagai keragaman etnik serta budaya. Indonesia adalah semangat yang tercecer dari jejak perlawanan yang dituturkan dalam pekik heroik para pahlawan dan cendekia, mulai dari Tjut Nya’ Dien hingga Sultan Hasanuddin. Indonesia adalah sesobek kisah tentang perlawanan yang laksana air bah mengalir deras, menaruhkan nyawa, mengamuk hingga modar sebagaimana kisah puputan di Bali.

Soekarno mendesah. Ratusan tahun, perlawanan itu tak pernah benar-benar bisa menjebol benteng kolonialisme yang begitu kukuh. Pekik perlawanan hanya bersahutan di ruang yang terpisah, tanpa ada satu kebulatan semangat dan gerak bersama untuk sama-sama lepas dari belenggu penjajahan. Jejak perlawanan itu menggariskan satu hal penting: persatuan adalah elemen utama bagi upaya untuk melepaskan bangsa dari belenggu kolonialisme. Seperti halnya Marx yang memulai manifestonya dengan kalimat “hantu komunisme” yang sedang menggerayangi Eropa, Soekarno memulai tulisan dan propagandanya dengan menciptakan “hantu kemerdekaan” dan “hantu persatuan.” Kemerdekaan adalah antitesis dari kolonialisme. Rasa kebangsaan (nasionalisme) lahir dari sebentuk ketidakberdayaan kultural ketika ada kekuatan besar yang menghegemonik dan mengekspansi seluruh ranah kultural lainnya sehingga menumbuhkan sebentuk perlawanan. Perlawanan yang terbersit melalui sikap untuk menafikan segala anasir (unsur) perbedaan kultural dan membulatkan tekad pada visi atau gagasan untuk melepaskan diri dari berbagai belenggu narasi besar.

Kegelisahan yang menghinggapi founding father Indonesia ini menjadi pintu masuk atau jendela untuk menjelaskan asal muasal gemuruhnya nasionalisme Indonesia menuju gerbang kemerdekaan. Kemerdekaan bermula dari pijar titik nasionalisme. Nasionalisme sendiri berawal dari konsep yang di dalamnya meniscayakan dialektika kultural antara sentimen primordial serta visi baru tentang bangsa. Ada tarik-menarik antara elemen primordialitas dan nasionalisme secara terus-menerus sehingga sintesa yang lahir adalah sebentuk konsensus atas bangsa yang dibayangkan. Elemen primordialitas itu adalah suku bangsa, sebagai satuan terkecil dari kebudayaan yang tumbuh dan berdenyut dalam keseharian manusia. Sedangkan nasionalisme lahir dari proses membayang-bayangkan sesuatu yang dilakukan secara bersama-sama sehingga lahir kesepakatan bersama (Anderson: 2000).

Di lihat dari cara pandang seperti ini, nasionalisme seakan-akan bertentangan dengan kebudayaan. Antropolog Clifford Geertz pernah menulis panjang lebar tentang primordial sentiments dan national integration. Secara sederhana, apa yang disebut sentimen primordial adalah perasaan-perasaan yang erat hubungannya dengan kebudayaan, khususnya faktor-faktor yang dianggap given dalam kebudayaan, seperti hubungan darah, kesamaan daerah, kesamaan asal-usul, bahasa ibu, atau warna kulit. Kebudayaan memberikan segala yang ascribed, yaitu apa saja yang menjadi atribut seseorang atau posisi seseorang, tanpa pilihan aktif atau sadar dari yang bersangkutan.

Sedangkan nasionalisme dan integrasi nasional adalah pemikiran, perasaan, dan perjuangan yang penuh kesadaran dan pilihan, yang menuntut usaha yang sungguh-sungguh dan harus dikelompokkan ke dalam apa yang dalam jargon sosiologi Parsonian dinamakan achievement (sebagai lawan dari ascription). Dalam arti tersebut, keterlibatan seseorang atau sekelompok orang dalam integrasi nasional dianggap mengharuskan adanya pengorbanan terhadap hal-hal yang sifatnya primordial. Inilah yang kemudian melahirkan sebentuk chaos kultural sebagai pertanda bagi fajar nasionalisme baru Indonesia.

Pengabaian Daerah

Dikarenakan sikap untuk sedikit mengabaikan elemen primordialitas, menyebabkan nasionalisme selalu tak lepas dari dialektika kultural. Puluhan tahun Indonesia merdeka, daerah-daerah seperti Aceh, Makassar, ataupun Papua harus ikhlas untuk meredam sedikit aspek ke-Aceh-an, ke-Makassar-an, atau ke-Papua-annya demi menggabungkan diri dalam barisan besar bernama Indonesia. Kepentingan primordial harus diredam demi mencapai sebuah kemenangan besar. Dalam, hal perjuangan untuk melepaskan diri dari belenggu kolonialisme, persoalan ini belumlah menjadi hal yang sangat mengganggu, malah menjadi hal yang sangat dibutuhkan. Namun, ketika sang kolonialis itu telah hengkang, maka nasionalisme haruslah diterjemahkan menjadi ruh yang melandasi pembentukan negara yang bisa menyantuni pluralitas dan kemajemukan. Pada titik inilah chaos kerap kali terjadi.

Transformasi Indonesia dari konsep kultural (untuk menyebut gugusan beribu pulau) menjadi negara sebagai konsep politik, mengalami problematika yang cukup pelik untuk dituntaskan. Menjadi Indonesia bisa dimaknai daerah-daerah sebagai upaya menjadikan Jakarta sebagai sentrum dari pengelolaan berbagai aktivitas. Berbagai bangsa di daerah harus rela untuk menjadi titik terjauh. Di saat kolonialisme telah berakhir, pemerintahan Soekarno berusaha meretas sebentuk nasionalisme baru yaitu resistensi pada segala yang berbau asing sekaligus meng-create kategori nasional yang mencakup kebudayaan dan kepribadian. Ini kerap mendatangkan tanda-tanya besar. Istilah kebudayaan nasional hanyalah menjadi retorika belaka, tanpa diringi sebuah konsep yang memadai tentang apa yang dimaksud kebudayaan nasional tersebut. Ia melarang segala jenis musik rock and roll serta jazz, karena dinilai berasal dari luar serta tidak sesuai budaya bangsa. Pada saat bersamaan, ia melahap seluruh literatur asing, mulai dari Marx hingga Lenin. Soeharto melarang segala anasir kultural lainnya, tetapi di saat bersamaan justru mengagungkan Jawa sebagai kiblat kebudayaan nasional serta menjadikan HAM sebagai lelucon atas pembantaian etnis di mana-mana. Habibie, Gus Dur, Megawati, hingga Yudhoyono justru sibuk berurusan dengan konflik etnis di daerah serta konflik yang tumbuh subur dengan berbagai kekuatan politik di parlemen, tanpa visi yang jelas untuk menghadirkan sukma Indonesia di era kemerdekaan.

Persoalan besar yang akan dihadapi negeri ini adalah eskalasi konflik yang seakan tidak berkesudahan. Gagalnya transformasi nasionalisme sebagai spirit perjuangan ke dalam sukma ke-Indonesia-an, menjadikan Indonesia sebagai negara merdeka dengan watak yang kolonial. Penguasa silih berganti, tetapi watak tetap saja kolonial, suka menindas, dan korup. Nasionalisme tidak dipraksiskan sebagai landasan untuk mengelola sistem politik yang akomodatif pada realitas kemajemukan di Indonesia hingga hari ini. Yang terjadi adalah proses melegitimasi sebuah kebudayaan nasional sebagaimana tafsiran penguasa. Hingga akhirnya masa Orde Baru dan Orde Reformasi, masyarakat Indonesia tetap harus belajar keras bagaimana mempraksiskan nasionalisme dan kemerdekaan. Sekian tahun lepas dari kolonialisme, bangsa ini hanya belajar keras bagaimana menjadi merdeka.(*)

Antropologi adalah Percik Kearifan

ANTROPOLOGI adalah kesediaan untuk tidak menaklukan yang lain dalam kategori. Antropologi adalah nyanyi sunyi senyap bagi mereka yang ditundukkan. Antropologi adalah proses menjelma menjadi yang lain kemudian memandang dunia dengan cara berbeda. Antropologi adalah keikhlasan untuk mendengarkan mereka yang suaranya dibungkam oleh waktu, mereka yang ditindas oleh zaman.

Antropologi adalah ziarah di sekujur tubuh peradaban manusia, mengenali yang lain, memberikan persembahan, bertukar kata, dan menjerat pengalaman dalam etnografi. Antropologi adalah tetes-tetes hikmah dan kearifan dari rentang panjang perjalanan manusia mengenali semesta, mengenali yang lain, dan belajar menemukan diri. Antropologi adalah sebuah perjalanan menemukan harta karun kemanusiaan, menyusun peta bagi manusia lain dan sama-sama memberi arti.

Antropologi adalah sebuah kesan yang menggenang di benak kita tatkala bercumbu dengan realitas kemudian menggumpal menjadi kesadaran bahwa kita tidak sedang sendirian di semesta. Antropologi adalah catatan-catatan yang hendak menangkap makna di sekeliling kita, mengikatnya dalam etnografi, kemudian mengabadikannya dalam ruang sejarah.

Antropologi adalah semesta yang melingkupi kita dari jerat kepicikan dan kekakuan berpikir, memberi kita kejernihan untuk melihat warna-warni dunia. Antropologi adalah percik-percik kearifan untuk membaca zaman, lintasan kebijaksanaan manusia yang kemudian dijelmakan dalam kembang peradaban yang merekah dan setiap manusia menghirup wanginya.(*)


Depok, 16 Desember 2008
Pukul 08.00 WIB
www.timurangin.blogspot.com

SELAMAT JALAN PAK BULAENG

PAGI ini saya mendapatkan berita sedih. Sungguh sedih sampai saya tak bisa berkata apa-apa. Angin serasa berhenti berhembus, dunia seakan berhenti bergerak. Seorang dosen di Makassar telah meninggal dunia. Bapak Andi Bulaeng MS, telah berpulang ke Rahmatullah. Bulaeng adalah monumen yang paling idealis, dosen komunikasi Unhas yang paling cerdas dalam hal metodologi penelitian komunikasi. Sudah beberapa buku cerdas yang dihasilkannya, sebuah prestasi yang hingga kini tak bisa disamai dosen Komunikasi Unhas manapun, bahkan dosen-dosen muda sekalipun (yang konon katanya adalah yang terbaik dan lolos melalui seleksi ketat).

Bagiku, Bulaeng tak ada duanya. Dosen yang paling disiplin dan paling mencintai pengembangan ilmu dan Jurusan Komunikasi di Unhas. Dalam benakku, beliau sering marah-marah, Namun anehnya, beberapa menit setelah marah ia bisa tertawa ngakak, tanpa beban. Beberapa hari setelah dimarahi, saya selalu sadar bahwa Pak Bulaeng melakukannya dalam konteks mendidik. Kadang-kadang, ia memang harus menjewer, tetapi tak sedikitpun tersisa dendam di hatinya. Ia memang menarik garis disiplin dan siapapun tak boleh melanggarnya, termasuk dirinya sendiri.

Saat masuk Unhas, ia menjabat sebagai Ketua Jurusan Komunikasi. Ketika menjalani Ospek, ia memperkenalkan dirinya dengan cara unik. “Nama saya Andi Bulaeng. Kalau di Inggris disebut golden, kalau di Bone disebut ulaweng, dan di Makassar disebut Bulaeng.“ Kami semua mahasiswa baru tersenyum sebab bulaeng bermakna emas dalam bahasa Makassar. Ternyata, di balik wajah tegas itu, terselip sense of humor yang tinggi. Dan saat menjalani bina akrab, ia selalu hadir ditemani sejumlah dosen idealis seperti dirinya yaitu Pak Mansyur (alm), Kak Mul, dan Kak Syam.

Ia sangat ketat dalam urusan nilai. Pernah sekali saya mendapat nilai C untuk mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi. Saya memprotes dengan lagak sok pintar seperti mahasiswa yang sedang demonstrasi dengan semangat gegap gempita. Pak Bulaeng tetap tenang. Ia bertanya, “Siapa namamu?“ Ia lalu membuka daftar nilai dan menyuruh saya mencari namaku di situ. Terus dia berkata, “Kamu lihat sendiri, berapa kali kamu hadir, berapa tugas yang kamu kumpulkan, terus lihat juga berapa nilai ujianmu. Di situ juga ada hitungan saya secara matematis mengapa kamu dapat nilai C.“ Mendengar kalimatnya dan melihat sendiri nilaiku, saya tak bisa berkata apa-apa. Saya sadar bahwa saya sedang berhadapan dengan seorang dosen yang disiplin dan memberikan nilai dengan kalkulasi rasional, tidak asal-asalan. Ia punya perhitungan akurat dan tahu persis alasan memberikan nilai. Saya tahu bahwa dia benar dan menyadari ketololanku yang memprotes nilai. Lewat marahnya, dia telah mengajari saya.

Yang bikin saya sedih adalah dalam waktu yang tidak lama, dua orang dosen terbaik di Jurusan Komunikasi Unhas meninggal dunia. Baik Pak Bulaeng dan Pak Mansyur adalah dua orang dosen yang lebih dari sekedar dosen. Mereka adalah guru-guru kehidupan yang abadi dengan caranya sendiri-sendiri. Mereka cinta ilmu dan menumbuhkan kedewasaan mahasiswanya. Saya sedih karena saya tidak terlalu yakin jika saat ini ada dosen sekaliber beliau dalam hal kecintaan pada Ilmu dan Jurusan Komunikasi. Saya tidak terlalu yakin kalau semangatnya --yang bikin saya merinding itu-- akan diwariskan kepada banyak dosen komunikasi di Unhas. Barangkali, saya hanya bisa menghitung dengan jari di satu tangan. Itupun saya tak terlalu yakin. Mengapa sih mereka yang baik-baik harus cepat berpulang?

Mungkin saya agak terbawa suasana hati. Saya tahu bahwa mahasiswa Komunikasi saat ini tidak mengenal siapa Pak Bulaeng. Mahasiswa Komunikasi saat ini sangat rugi karena tidak bisa melihat keteladanan dari monumen idealis itu. Ia memang sudah lama sakit dan tidak pernah mengajar. Tetapi bukan berarti perhatiannya pada jurusan hilang sama sekali. Beberapa bulan yang lalu, saya ketemu dosen Syamsuddin Azis (Kak Syam). Saya sempat menanyakan kabar Pak Bulaeng. Kak Syam tercenung sesaat kemudian bercerita bahwa Pak Bulang masih sakit parah. Ketika Kak Syam menjenguknya, Pak Bulang tak bisa bicara banyak. Kata Kak Syam, menjelang ia pulang, saat itu Pak Bulaeng sempat memeluknya. Di tengah sesaknya dan himpitan penyakit yang menggerogoti tubuh kurusnya, Pak Bulaeng masih sempat berbisik dengan suara parau, “Syam, saya sedih kalau ingat jurusan. Tolong kau perhatikan jurusanta.“ Ada nada kebanggaan sekaligus keprihatinan ketika mengatakan jurusanta. Seperti saya katakan sebelumnya, Pak Bulaeng adalah monumen paling idealis di Komunikasi Unhas.(*)


Depok, 16 Desember 2008
Pukul 08.00 WIB
www.timurangin.blogspot.com

Jurnalis Top, Jurnalis Plagiat

SAYA menorehkan tulisan ini dengan rasa emosi yang tertahan. Seorang pemimpin redaksi (pemred) sebuah harian yang terbesar di Sulawesi Selatan (Sulsel) melakukan suatu tindakan yang sungguh memalukan. Dia dituduh melakukan plagiat terhadap tulisan seorang kawanku dalam satu media online. Saya tak percaya, namun kawanku menunjukkan bukti. Ternyata, sang plagiator itu sudah minta maaf. Bagiku itu tidak cukup.

Pada saat saya membaca postingan temanku yang protes karena tulisannya dijiplak, saya merasa sedih sekaligus kecewa. Bagiku, petinggi para jurnalis harus jujur seperti malaikat sebab ia menjadi penjaga nurani sebuah penerbitan. Para pemred harus jadi wakil Tuhan sebab ia akan memberi judge atau penilaian pada berbagai lapis kenyataan sosial, menyibak kabut yang menyelubungi realitas, dan menjadi matahari yang menerangi pikiran publik. Dalam jurnalistik, nurani adalah mercu suar. Seorang jurnalis bisa saja salah dalam gerak menuju pulau kebenaran. Namun, nurani menjadi sesuatu yang memandu gerak untuk tetap fokus di jalur kebenaran sekaligus menyadari banyaknya kerikil yang merintangi proses perjalanan itu. Ia harus jujur dalam proses membentangkan kebenaran agar diketahui publik.

Tanpa nurani, sebuah institusi penerbitan akan kehilangan ruhnya. Berita yang disajikan media akan menjelma menjadi lalu lintas yang tak jelas ujung pangkalnya. Sebagai pembaca, kita sama dibuat bingung dan diajari praktek ketololan di depan mata. Sebagai penyaksi, kita seakan dibodohi sehingga sesaat kita merasa tercerahkan, namun ternyata, kita diperlakukan seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Barangkali saya agak berlebihan. Bagiku, jurnalistik adalah proses untuk menyelami sisi terdalam dari sebuah realitas sosial, mengupas-ngupasnya sehingga jelas mana realitas dan bukan realitas, kemudian memberikan sentuhan nurani sehingga mencerahkan publik. Ketika seorang jurnalis senior melakukan plagiat, maka itu sama dengan mencederai proses menggapai kebenaran. Itu adalah sebuah pengkhianatan!!!

Saya agak sedih karena sang pemred itu adalah seorang jurnalis senior, sesepuh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Sulsel yang sering mengisi materi dalam berbagai seminar jurnalistik. Saya mengenal sang pemred tersebut karena seringnya melihat dia jadi pemateri. Saya masih terngiang dengan kalimatnya saat membawakan materi tentang Nine Element of Journalism dari Bill Kovach. Katanya, semua jurnalis bekerja dengan standar yang ketat, obyektif, dan punya nurani. Melalui nurani, seorang jurnalis bisa mendekati kebenaran dan berusaha keras agar meniti di jalur kebenaran tersebut. Pertanyaannya, apakah plagiat merupakan nurani? Inikah yang namanya kebenaran?

Semua orang pasti paham apa hukuman buat seorang plagiator. Dia akan menerima saknsi sosial dan menjadi palajaran bagi yang lain untuk tidak mengulangi apa yang dilakukannya. Saya sering memberikan permaafan jika pelakunya adalah seorang jurnalis magang atau jurnalis pemula. Barangkali dia sedang dalam proses pencarian style kepenulisan. Barangkali dia tengah mencari gaya atau jurus dalam memulai suatu tulisan. Namun lain soal jika pelakunya adalah seorang jurnalis top dan pemimpin redaksi. Ini adalah sebuah bentuk kelalaian yang sukar dimaafkan.

Saya juga bisa berempati dengan kawanku yang tulisannya dijiplak. Sebuah tulisan adalah anak kandung dari seorang penulisnya. Sang penulis pernah mengalami proses hamil dengan gagasan, kemudian susah payah melahirkannya melalui proses menuangkan ide menjadi tulisan. Tulisan adalah anak kandung yang kita kenali betul bagaimana rupanya. Ketika ada seseorang yang menjiplak tulisan itu, pastilah kita akan keberatan karena anak kandung kita direbut secara paksa oleh orang lain. Saat tulisan kita dikutip beberapa paragraf, kita juga merasa keberatan karena anak kandung kita sedang didandani tanpa seizin kita. Makanya, saya bisa memahami bagaimana perasaan temanku yang tulisannya dijiplak tanpa izin tersebut.

Kasus jiplak-menjiplak ini bukanlah hal yang baru di dunia jurnalistik negeri ini. Hampir tiap tahun selalu saja kita dengar kasus serupa. Pertanyaannya, mengapa kasus seperti ini bisa terjadi dalam dunia jurnalistik kita? Saya menduga ada beberapa sebab yang bisa didiskusikan. Pertama, posisi seorang jurnalis senior seakan berada dalam sebuah dunia yang mapan. Ia tak pernah kesulitan untuk menunggu karyanya dimuat. Ini jelas sangat beda dengan posisi para jurnalis pemula atau para penulis opini yang selalu antre ketika punya tulisan. Nah, posisi ini kadang membuat sang jurnalis merasa besar kepala dan merasa menguasai banyak hal. Seorang jurnalis senior merasa sudah cukup lama malang-melintang sehingga merasa besar kepala bahwa dirinya itu besar. Kedua, jurnalis senior tidak lagi punya banyak waktu untuk turun lapangan, mengolah data dan fakta. Ia sudah tidak lagi punya semangat untuk berkeringat mengejar fakta, mengolah bahan-bahan, dan disajikan menjadi sebuah liputan yang menarik. Ia seolah berumah di tempat yang sangat mapan di kalangan para penulis, tanpa mengasah diri lebih jauh.

Ketiga, semakin tingginya intensitas di dunia media massa, membuat banyak pengelola media yang berpikir instant. Banyak yang berpikir untuk membuat tulisan ‘asal jadi’. Dipikirnya kalau dia punya nama besar dan sering jadi pemateri di banyak seminar sehingga apapun tulisannya akan dipuji-puji terus. Padahal, ia sesungguhnya sedang jalan di tempat, tanpa beranjak maju. Keempat, kualitas pengelola media sungguh memprihatinkan. Sangat jarang kita temukan jurnalis yang bergelar magister. Sangat jarang pula kita menemukan media yang secara kontinyu meng-update kapasitas para jurnalisnya. Ketika sang jurnalis hendak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, perusahaan media merasa rugi jika membiayainya. Padahal, sekolah bisa menjadi investasi jangka panjang yang kelak hasilnya akan dinikmati oleh pihak pengelola media tersebut.

Keempat, hal tersebut adalah pemetaan sementara mengapa terjadi kasus plagiat di dunia jurnalistik kita. Butuh satu proses kultural dan kerja keras untuk mengembalikan citra jurnalistik sebagai dunia kemalaikatan yang mengajari kita tentang kebenaran. Bagi saya, kasus ini adalah tamparan yang harus kita pelajari apa maknanya bagi kita hari ini.(*)

Lagi Baca New Moon

SAYA tergila-gila membaca novel karya Stephenie Meyer. Setelah menuntaskan Twilight, sekarang saya mulai membaca New Moon. Kalau tuntas New Moon, saya akan sambung lagi dengan membaca Eclipse. Mudah-mudahan New Moon bisa tuntas membacanya sebelum ujian tanggal 15 nanti. Biasanya, saya paling cepat membaca novel. Kadang cuma sehari, saya sudah bisa tuntaskan bacaan itu. Belakangan ini, saya agak lama membaca. Mungkin karena pikiranku lagi kalut jelang ujian ini.

Kesal.....

TADI saya kesal dengan pemilik warung tegal (warteg) di Jalan Palakali, Kukusan, Depok. Masak, cuma makan nasi tambah tempe dan ikan teri serta es teh manis disuruh bayar Rp 9.000. Itu kan keterlaluan. Biasanya, kalau di tempat lain, saya cuma bayar Rp 5.000 atau paling mahal Rp 6.000. Mungkin pedagangnya ingin cepat naik haji sampai-sampai harga jualannya dinaikkan. Masalahnya, kasihan juga mahasiswa seperti saya ini.

Zaman Kian Berat

SEPERTINYA saya harus banyak refleksi. Saya harus banyak belajar merenungi semua yang telah kulalui. Saya juga harus banyak berdoa. Zaman kian berat saja

Jalan Spiritual, Jalan Kemanusiaan

BESOK Idul Adha akan diperingati. Jalanan sepanjang Lenteng Agung hingga Depok dipenuhi kambing dan sapi yang dijual secara massal. Banyak warga yang singgah membeli binatang untuk kemudian disembelih dan dibagikan pada keesokan harinya. Ada kebahagiaan yang di-share dan dirasakan secara bersama. Mereka yang memberi dan mereka yang menerima tiba-tiba saja lebur dalam satu kebahagiaan. Semua bersuka cita. Sementara saya hanya bisa menyaksikan dari sini. Saya hanya berdiam di kos-kosanku yang sempit, di tengah tumpukan buku dan berkas ujianku.

Saya memaknai peristiwa ini dengan cara berbeda. Bagiku, Idul Adha adalah sebuah ritual yang bertujuan untuk melestarikan sebuah ingatan tertentu. Idul Adha menjadi momentum yang diingat secara kolektif dan menyediakan ruang yang sungguh luas untuk diinterpretasi dan dikayakan maknanya. Sayangnya, ingatan dan ritual itu tak selalu linear. Ritual itu kadang tak berpretensi mengusung makna tertentu yang semestinya bisa dipetik dan dikenyam bersama. Ritual itu menjadi kosong dari ingatan. Ritual itu hampa dari hikmah yang berceceran secara acak dalam sejarah yang seharusnya ditautkan ulang.

Barangkali inilah dinamika dari ingatan kolektif. Ingatan kolektif bukanlah suatu ingatan yang sama sebagaimana dialami oleh suatu komunitas. Ingatan kolektif yang saya maksudkan adalah ingatan pada peristiwa bersejarah di masa silam yang dianggap penting dan kemudian diingat secara bersama di masa kini. Persoalan bagaimana wadah dan bentuk ingatan itu, orang bisa saja berbeda-beda atau tidak bersepakat. Namun kesemuanya bermuara pada satu isu yang sama bahwa peristiwa itu penting di masa silam sehingga diingat di masa kini demi menumbuhkan identitas dan mercusuar gerak manusia di hari ini.

Kisah masa silam yang hendak dilestarikan di sini adalah momentum ketika Ibrahim hendak menyembelih anaknya Ismail. Ibrahim, seorang filosof telah melalui masa remajanya demi menjawab pusaran pertanyaan di kepalanya tentang siapakah Tuhannya. Ibrahim adalah seorang filsuf yang mendaki bukti dan menuruni lembah dalam upaya perjalanan spiritual untuk menemukan siapa yang menciptakan semesta, bagaimana proses penciptaan, serta mengapa harus ada ciptaan. Ia menanyakan tiga hal yang selanjutnya menjadi pangkal dari isu yang dibedah semua aliran filsafat teologi di hari ini.

Kisah Ibrahim yang paling menyentuh hatiku adalah ketika ia menghabiskan malam dengan kontemplasi dan memandang bulan, kemudian bertanya, “Itukah Tuhanku?“. Di siang hari, ia kembali memandang matahari yang bersinar lebih terang dan kemudian bertanya pada dirinya, “Inikah Tuhanku?“. Pertanyaan itu menjadi awal yang membawanya pada berbagai spekulasi filosofis. Sayang, sejarah tak banyak berkisah bagaimana Ibrahim menemukan pencerahan tersebut. Apakah ketika duduk di bawah pohon bodhisatwa sebagaimana Buddha? Ataukah ketika duduk dalam gua sebagaimana Muhammad? Persentuhan Ibrahim dengan Tuhan tak banyak dibahas sehingga saya menarik simpulan: barangkali pencerahan baginya adalah titik paling puncak dari kontemplasi spiritualnya. Ibrahim melakukan perjalanan spiritual dan akhirnya menemukan Tuhan sebagai puncak dari aktivitas mengasah rasio dan merajut pertanyaan filosofis. Jika kemudian Ibrahim menjadi bapak dari tiga agama besar yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi, maka itu adalah manifestasi dari pencariannya yang sedemikian panjang.

Saya menduga, keberagamaan Ibrahim adalah spiritualitas yang tanpa bentuk, bebas dan mengalir seperti udara. Barangkali ia hanya punya semacam insight atau percikan-percikan kearifan yang tidak diformalisasi dalam agama. Ia hanya punya kilasan-kilasan jawaban dan tidak pernah berniat menyusun jawaban itu secara metodologis. Ia tak mau menjelmakan ingatan personalnya dalam struktur atau kolektivitas. Dengan cara itu, ia menihilkan konflik dan kontestasi. Agama adalah soal ingatan personal dan perjalanan menggapai Tuhan. Ia tak berhasrat memformulasi keyakinan menjadi kesadaran kolektif sebagaimana pandangan Durkheim tentang the elementary form of religious life. Manusia bisa menggapai keyakinan dari berbagai sisi, sebagaimana ketika mendaki Gunung Bawakareng, kita bisa lewat Gowa, Maros, atau lewat Bulukumba. Ibrahim hanya punya gambaran-gambaran yang bersifat makro, tanpa mengurainya dalam detail-detail ritual sebagaimana agama hari ini. Jika kemudian Musa, Isa, dan Muhammad hadir, maka mereka hanyalah penyempurna dari insight atau pencerahan yang dialami Ibrahim. Makanya, sosok Ibrahim adalah titik awal sekaligus titik temu dari tiga agama besar yang saat ini sering berkonflik dan berkontestasi.

Barangkali insight itulah yang selama ini menjadi nurani yang mengendalikan gerak Ibrahim. Historisitas bagi Ibrahim adalah upaya mempraksiskan gagasan ke dalam tindakan. Historisitas Ibrahim adalah upaya melaksanakan semua perintah nurani yang dimulai dari kegelisahan dan selanjutnya mengalir secara dialektis dalam kesadarannya. Pada suatu malam ia bermimpi bahwa Tuhan memerintahkannya untuk segera menyembelih putranya Ismail. Pada titik ini, Ibrahim dilanda dilema. Jika Tuhan adalah sebuah titik di mana segala orientasi diarahkan, maka manusia bisa terjebak pada menuhankan banyak hal. Ketika manusia berpikir bahwa uang adalah titik orientasi, maka saat itu juga ia telah menuhankan uang. Makanya, atheis bukanlah musuh keyakinan, sebab ada kesadaran mencari Tuhan dalam diri manusia. Musuh keyakinan adalah politheisme yaitu membanyak-banyakkan Tuhan atau orientasi dalam hidup.

Ibrahim menyadari itu. Tatkala hari-harinya dipenuhi gambaran tentang Ismail, maka ia seakan lupa pada tujuan utamanya yaitu pencerahan dan jalan nurani. Ismail menjadi orientasi baru yang menjauhkannya dari jalan yang semula dipilihnya. Ismail menjadi kabut yang menghalangi pandangan jernihnya tentang hidup dan kehidupan. Episode yang paling menggetarkan saya dalam kisah ini adalah ketika Ismail dengan ikhlas menyerahkan lehernya untuk disembelih. Ternyata Ismail justru mencapai pencerahan pada usia yang sangat muda, sesuatu yang digapai dan diidam-idamkan Ibrahim setelah lama berkelana. Ismail mencapai titik paling puncak dari keyakinan yaitu keikhlasan berkorban yang dilandasi kesadaran bahwa keyakinan tentang Tuhan sebagai titik akhir orientasi adalah oksigen yang memberi napas bagi semesta dan gerak manusia. Dalam usia muda, Ismail paham kegelisahan ayahnya yang dipenuhi imajinasi tentang dirinya adalah jalan menyimpang dari jalan spiritualitas. Dengan cara mengorbankan diri, ia telah meluruskan jalan menyimpang ayahnya sekaligus mengalami kebersatuan atau penyatuan mistis dengan Tuhan, sesuatu yang lama didambakannya.

Keyakinan keduanya berdialektis hingga turunlah perintah dari langit. Saya memaknai episode ini bahwa keduanya kemudian mencapai perjumpaan filosofis yang sama. Keduanya bersepakat bahwa pengalaman yang mereka jalani menyimpan butiran hikmah bahwa manusia memang bisa lalai dan tunduk pada orientasi berbeda. Manusia bisa salah dan memilih jalan belok, namun kesadaran kemanusiaan dan spiritualitas akan menjadi rambu-rambu yang kembali meluruskan jalan manusia. Kesediaan berkurban adalah kesediaan untuk tetap meniti pada jalan lurus kemanusiaan dan memberi makna bagi manusia lainnya. Keduanya sama-sama tersenyum dan menyadari bahwa jalan terbaik untuk menggapai Tuhan adalah kesediaan berkorban untuk sesamanya. Kesadaran spiritualitas itu dijemakan dalam situasi tatkala semua manusia sama-sama tersenyum bahagia. Pada akhirnya, jalan spiritual adalah jalan kemanusiaan. Episode ketika Ibrahim mengganti Ismail dengan daging kambing kemudian dibagikan pada orang lain menjadi simbol bahwa kesadaran spiritualitas itu akan tercapai ketika seseorang memberikan kebahagiaan pada sesama. Ternyata, jalan Tuhan itu tidak terletak di langit. Jalan Tuhan itu terletak pada seberapa banyak manusia lain yang tersenyum bahagia dengan kehadiran kita, dengan tangan kasih yang kita ulurkan.

Sekarang, tatkala peristiwa itu jauh berlalu dalam sejarah, apa jejaknya yang tersisa? Apakah pesta membagikan daging, ataukah pesta memukul beduk?



Depok, 7 Desember 2008
www.timurangin.blogspot.com

Twilight, Film Terbaik Tahun ini

JUMAT (5/12) lalu, saya refreshing dan pergi nonton film. Sejak beberapa minggu lalu, saya merencanakan nonton film Twilight. Film ini adalah film genre remaja yang saat ini paling laris di Amerika Serikat (AS). Menurut liputan media, pada hari perdana perdana penayangan film ini, berhasil meraup keuntungan hingga 70,6 juta dollar atau sekitar Rp 720 miliar. Sebuah jumlah yang sangat fantastis.

Di Jakarta sendiri, menurut informasi Tempo (7/12), banyak remaja Jakarta yang protes, kenapa film itu tayang pada bulan Desember. Mereka ingin agar film itu tayang bersamaan dengan penayangan film ini di AS yaitu bulan November. Maklumlah, film ini diangkat berdasarkan sebuah novel yang sangat laris karangan Stephenie Meyer. Setelah era serial Harry Potter, barangkali novel Twilight inilah yang paling membius para remaja di seluruh dunia.


Saya sendiri tertarik menyaksikan film ini karena terprovokasi oleh resensi yang dibuat Leila S Chudori di Tempo. Saya bukan tipe orang yang rajin mengikuti tayangan film terbaru. Namun saya hanya menonton film ketika ada yang merekomendasikannya. Membaca tulisan Chudori yang agak bombastis tentang kehebatan flm ini, tak urung membuat saya kian penasaran. Apalagi setelah membaca liputan media tentang betapa hebohnya pemutaran film ini di AS. Andai Chudori tidak merekomendasikannya, barangkali tidak akan saya tonton. Apalagi, disebutkan kalau film ini adalah percintaan seorang remaja manusia dengan vampir. Mendengar kata vampir saja saya sudah ngeri, apalagi jika harus menyaksikannya. Hiiiiiii. Setelah menyaksikannya di Metropole XXI, saya harus mengubah banyak image yang selama ini bersarang di kepalaku. Bagiku, film ini sama mengejutkannya dengan Harry Potter. Menonton film ini laksana kita sedang memasukkan mercon yang kemudian meletus dalam kepala kita. Karakter Harry Potter ciptaan pengarang JK Rowling itu telah mengubah image tentang dunia sihir. Jika dulunya orang berpikir bahwa penyihir itu identik dengan nenek sihir, kekumuhan, iblis, setan, maka serial Harry Potter telah mengubahnya. Sihir adalah bagian dari sebuah keahlian yang bisa dipelajari layaknya sekolahan. Mereka yang disebut penyihir itu adalah bagian dari masyarakat umum, berinteraksi dengan orang banyak, dan boleh jadi hidupnya agak teraniaya dari dunia sosial.

Lantas, di mana letak kelebihan Twilight? Kelebihannya adalah mengubah image yang selama ini melekat tentang vampir. Selama ini kita menganggap vampir sebagai sintesis manusia dan binatang buas yang haus darah dan selalu membunuh manusia lainnya. Dalam berbagai film Cina, vampir adalah sejenis mayat hidup yang juga mengisap darah. Seseorang yang diisap darahnya oleh vampir, akan kehilangan kesadaran dan menjadi bagian dari vampir itu. Namun di film Twilight, kita sedang menyaksikan vampir yang hidup di era modern, mengalami pergulatan batin, serta berbaur dengan masyarakat umum. Mereka juga terdiri atas vampir yang jahat dan vampir yang idealis. Jika vampir jahat membunuh manusia, maka vampir idealis justru hanya meminum darah binatang (mereka menyebutnya vegetarian). Vampir ini juga melindungi manusia, meskipun ada hasrat meminum darah yang berusaha dilawannya. Vampir ini sangatlah manusiawi.

Twilight mengisahkan seorang remaja perempuan bernama Isabella Swan (diperankan si cantik Kirsten Steward) yang pindah ke York, negara bagian Washington, yang senantiasa diliputi mendung dan hujan. Dalam situasi hatinya yang remuk akibat keluarganya broken home, ia lalu mengasingkan diri ke daerah yang lebih banyak hujan itu. Di kota itu, ia bersekolah dan bersosialisasi dengan banyak remaja lainnya. Di sekolah barunya, ia lalu bertemu dengan seorang pemuda yang berwajah dingin dan pucat. Pemuda itu selalu menyendiri dengan saudara-saudaranya. Sebuah insiden ketika Isabella nyaris ditabrak mobil, si pemuda bernama Edward Cullen (diperankan Robert Pattinson, pemeran Cedric Digory dalam Harry Potter IV) kemudian melesat dan menyelamatkannya. Secepat kilat, pemuda itu menyambar sang gadis lalu menahan mobil yang bergerak dengan kecepatan tinggi.

Gadis itu lalu penasaran dan kemudian menelusuri siapa pemuda pucat itu. Setelah mempelajari folklor dan dongeng Indian, ia semakin penasaran tentang sosok pemuda ini. Ternyata, pemuda itu adalah seorang vampir yang murung dengan dunianya. Ia tak mau menjadi monster sehingga bersama keluarganya hanya meminum darah binatang saja. Lewat serangkaian konfik, cinta pun bersemi tatkala sang pemuda menggendong sang gadis melesat di antara pohon-pohon cemara (duh... saya suka sekali adegan ini). Mereka menerima perbedaan dan saling menjaga. Bagian ending film sungguh mendebarkan ketika vampir jahat mengincar gadis itu sehingga si vampir tampan itu harus berjibaku menyelamatkan sang gadis.

Ada kesamaan dan perbedaan dengan Harry Potter. Saya sepakat dengan ulasan Leila S Chudori bahwa kelebihan Harry Potter karena dia menjelaskan kultur penyihir, lengkap dengan sejumlah istilah baru, binatang sihir, serta jenis-jenis mantra. Novel Harry Potter mengajak kita memasuki dunia baru yang sungguh berbeda. Kita seolah sedang menyaksikan suatu dunia lain yang sangat dekat dengan dunia kita, namun memiliki karakteristik serta kebudayaan berbeda. Twilight tidak terlalu menawarkan kisah kehidupan vampir yang utuh, lengkap dengan kebudayaannya. Twilight menggambarkan vampir seperti layaknya manusia biasa yang selalu dilematis dan hendak lepas dari dunianya. Manusia vampir adalah mereka yang boleh jadi ada di sekitar kita, tanpa perbedaan jelas.

Hanya saja, kelebihannya –dan saya kira tak bisa dikalahkan Harry Potter—adalah romansa kisah cinta yang mengharu biru. Kisah cinta yang hadir bukanlah cinta yang material atau fisik semata. Kedua sosok di film ini bisa meleburkan segala batasan hingga akhirnya sang gadis bisa menyatu dengan sosok sang pemuda. Adegan yang menurutku paling menyentuh adalah ketika sang gadis mempersilahkan sang vampir tampan agar menggigit lehernya. “Izinkan saya menjadi bagian dari dirimu.“ Sang pemuda lalu menjawab, “Tidak. Aku tak ingin kehadiranku menjauhkanmu dari segala peluang. Aku ingin kau tetap menjadi manusia. Aku ingin hidupmu berjalan sebagaimana seharusnya. Biar saya menyaksikanmu dari tepi batas twilight ini,“ katanya. Duhhh..... sangat menyentuh. Pantas saja anak muda Jakarta pada klepek-klepek menyaksikan adegan ini. Saya sih agak geli melihat mereka yang menangis di sekelilingku. Tapi, saya kemudian terkejut juga setelah menyeka mataku. Kok tiba-tiba mataku basah?


Depok, 6 Desember 2008
www.timurangin.blogspot.com


Beli Banyak Novel Baru

HARI Jumat lalu, saya membeli beberapa novel yang rencananya akan kubaca jelang ujianku. Satu novel saya beli di Toko Gramedia di Matraman, namun sisanya saya beli dengan harga murah –sebab dibajak—di Kwitang, dekat Senen. Novel yang kubeli di Gramedia adalah Twilight karya Stephenie Meyer seharga Rp 65.000. Sementara di Kwitang, saya beli tiga novel. Masing-masing adalah Senja di Himalaya (Kiran Desai), The Kite Runner (Khaled Hosseini), serta Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati). Dikarenakan bajakan, maka harganya juga murah. Ketiga novel itu cuma bayar Rp 50.000. Murah khan?

Nonton Twilight

AKHIRNYA saya bisa nonton film yang lama kutunggu yaitu Twilight. Meskipun nggak kebagian karcis untuk nonton jam 1 siang, namun saya cukup puas karena bisa nonton pada jam setengah lima. Filmnya keren abiss... Usai nonton film, saya pergi beli novelnya. Melalui novel, saya ingin menelusuri lebih jauh tentang kisah ini. Sungguh menarik. Saya ingin cerita pada kesempatan lain. Sekarang saya mau pulang bobo.

Belajar Mengenali Lokalitas

KEMARIN, seorang kawan menelepon saya dari Kendari. Ternyata, buku yang kueditori berjudul “Menyibak Kabut di Keraton Buton“ menjadi buku yang terlaris di Toko Buku Gramedia di Kendari. Kemarin juga diadakan talkshow di Gramedia Kendari untuk membahas bagaimana proes produksi, proses kreatif, serta gagasan-gagasan yang hendak disampaikan dalam buku itu. Pembahasnya adalah dua dosen yang menyumbangkan tulisan, serta teman yang mewakili lembagaku.

Saya tak bisa hadir di acara itu karena tengah deg-degan menunggu kapan waktunya ujian. Saya masih mempersiapkan diri agar bisa segera ujian dan kemudian hengkang meninggalkan kampus UI. Saya dalam kondisi seperti kepompong yang mau pecah, seperti ulat yang tak sabar untuk menjadi kupu-kupu dan mengepakkan sayap ke dunia luar. Makanya, temanku La Mukmin yang menghadiri acara tersebut. Malamnya, ia meneleponku dan bercerita bahwa acara itu sangat heboh dan ramai. Banyak pengunjung yang hadir dan mengemukakan antusiasmenya terhadap karya itu. Mereka tidak ingin kami padam di tengah jalan. Mereka meniupkan harapan agar kami terus berkarya dan tidak berhenti pada satu pencapaian.

Mendengar berita itu, saya hanya bisa bersyukur. Sebuah buku yang dibuat dengan “berdarah-darah“ dalam kepungan ketidakpercayaan banyak orang, tiba-tiba menjadi satu buku terlaris. Sebuah buku yang awalnya dianggap sebelah mata, tiba-tiba bisa membongkar asumsi banyak orang tentang kemampuanku bersama teman-teman yang membidani buku itu. Ternyata kami sanggup melahirkan sebuah karya yang kemudian abadi. Kami sanggup menghancurkan berhala-berhala ketidakpercayaan.

Bagi saya sendiri, karya itu sangat jauh dari sempurna. Di sana-sini, terlalu banyak kelemahan sehingga kadang membuat saya malu mengakui sayalah sang editor yang yang bertanggungjawab atas karya itu. Namun, sejak buku itu terbit, begitu banyak apresiasi atas buku itu. Saat coba dipasarkan di toko buku sekelas Gramedia, buku itu langsung jadi best seller dan mengalahkan penjualan Laskar Pelangi.

Meski karya itu biasa saja, namun saya melihat ada sejumlah positioning yang membuat karya itu begitu unik di Sulawesi Tenggara (Sultra). Pertama, buku itu mengangkat tema tentang sebuah etnis yang sangat besar di Sultra yaitu etnis Buton. Berbeda halnya dengan etnis seperti Bugis atau Makassar, etnis Buton jarang mendapat publikasi atau dituliskan dalam buku. Padahal, sejarah yang panjang, keragaman, serta pertautan dengan globalisasi --sebagaimana yang dialami etnis ini-- adalah khasanah yang sangat kaya untuk dijadikan satu studi yang serius dan kemudian dibukukan. Di tengah trend pergeseran ilmu sosial yang mengarah pada hal-hal mikro dan spesifik, kemudian menarik refleksi atau pembelajaran dari hal mikro tersebut, mestinya bisa direspon dengan lahirnya karya-karya yang membahas hal-hal kecil dan boleh jadi dianggap tidak penting seperti Buton.

Kedua, wacana lokalitas memang lebih mudah diterima ketimbang sesuatu yang datangnya jauh dari luar. Pada dasarnya, budaya baca masyarakat kita sangat simpel. Mereka hanya mau membaca sesuatu yang dekat kaitannya dengan dirinya. Mereka tidak terlalu tertarik membaca sesuatu yang datang dari luar, membaca sesuatu yang realitasnya hanya bisa dikhayalkan. Mereka maunya membaca yang berkaitan dengan dirinya. Meskipun bukuku itu termasuk kategori buku serius, orang-orang tetap mau membacanya sebab judulnya provokatif yaitu Menyibak Kabut di Keraton Buton. Menyebut kata Buton saja sudah menghadirkan getar tersendiri. Apalagi jika tiba-tiba saja menyebut bahwa ada banyak kabut-kabut di situ. Pastilah orang-orang akan tertarik. Dalam teori jurnalistik, ini namanya proksimitas atau kedekatan. Kita membaca sesuatu bila ada kaitannya dengan diri kita. Rumus itu terbukti efektif. Buktinya, bukuku bisa jadi best seller, padahal isinya biasa saja.

Ketiga, desain, tampilan, serta kualitas buku sangat penting dan tak boleh diabaikan. Memang ada beberapa karya yang dtulis di tingkat lokal. Bahkan di toko sekelas Gramedia, ada juga beberapa buku sejenis tentang daerah. Namun, buku-buku itu tidak direncanakan dengan serius. Biasanya, hanya dicetak asal-asalan dan sederhana, sebab –boleh jadi--, orientasi para pembuatnya adalah untuk proyek. Orientasi mengejar keuntungan jangka pendek ini, menyebabkan karya itu jadi tidak menarik. Baik kualitas maupun kemasannya tidak eye catching (mencolok mata) sehingga ketika melihatnya sekilas, orang sudah tidak tertarik. Sementara bukuku, kualitasnya cukup baik sebab dicetak dengan bagus, terdaftar di perpusatakaan nasional, dan memiliki ISBN.

Keempat, ini yang paling penting. Buku itu lahir di tengah kelangkaan serta kerinduan terhadap karya tentang Buton. Buku terakhir yang membahas Buton adalah karya Yunus (1985) dan Schoorl (1991). Banyak karya tentang Buton yang ditulis oleh orang dari luar, khususnya Belanda. Buku-buku itu justru lebih banyak di luar. Sementara saya dan teman-teman, membuat lembaga penerbitan di Bau-Bau, kemudian menerbitkan buku yang hanya beredar di tingkat lokal. Selama ini, masyarakat lokal disuguhi buku dari luar. Kami membaliknya. Kami susun buku untuk lokal dan diedarkan di tingkat lokal. Itulah rahasia menjadi best seller di Sulawesi Tenggara. Kayaknya tulisan ini agak narsis. Tapi ini fakta lho....(*)

Menulis, Meditasi, dan Kejernihan

Menulis adalah proses meditasi. Menulis adalah proses menajamkan semua insting dan indra kita dalam interaksi dengan semesta. Menulis adalah keheningan yang memekakan telinga kita untuk mendengar setiap tetes air dan dawai yang lirih di kesunyian. Menulis adalah proses menyatu dengan alam, proses menangkap gerak spotan semesta dan kemudian dilukis dalam kata. Menulis adalah upaya menangkap makna, mengikatnya, kemudian mengabadikannya. Menulis adalah ibadah spiritual yang menajamkan rasa dan hasrat kita akan kesempurnaan. Menulis adalah salat bagi jiwa kembara kita yang jauh berkelana hingga tepi terjauh batas imajinasi kita. Menulis adalah kekang bagi tubuh untuk tidak liar menerabas sana-sini. Menulis adalah kanal dari kejernihan jiwa yang mengalir di sela-sela rimba pengetahuan. Menulis adalah getar untuk terus menjadi. Menulis adalah jejak kita tidak punah dalam sejarah.(*)

Depok, 4 Desember 2008

Betapa Anehnya Profesi Pengamat

PENGAMAT politik Bima Arya Sugiarto adalah pengamat yang belakangan ini mulai malas kudengar komentarnya. Sudah dua hari saya melihatnya di tivi, namun nampaknya ia selalu mengulang-ulang apa yang disampaikannya. Ia selalu menyampaikan hal yang sama, tanpa pengayaan. Barangkali ia tidak meng-update pengetahuannya, makanya ia seakan bergerak di lingkaran pengetahuan yang sempit itu. Ia tidak memperlebar horison pengetahuannya sehingga kaya dengan ide-ide segar dan terbuka pada tafsir-tafsir yang baru.

Saya tak bermaksud membicarakan Bima. Saya hanya menjadikannya sebagai entry point untuk membahas sesuatu. Hingga kini, saya tak pernah jelas apa yang menjadi spesialisasi pengamat politik seperti Bima, apakah sudah ada karya akademik yang dilahirkannya, apakah banyak buku dan riset yang orisinil dibuatnya? Saya tak tahu. Yang bisa saya tangkap dari sosok ini adalah dia bisa memahami tabiat media sehingga punya segudang stok komentar yang kelihatan gagah ketika tampil di tivi. Ia menjadi pseudo intelektual, semacam parodi dan olok-olok atas gairah intelektual yang menggelegak pada diri orang-orang tertentu yang mengabdikan dirinya di jalan ilmu melalui aktivitas penelitian atau advokasi. Saya menyebutnya pseudo intelektual sebab kemampuan menjadi pengamat cukup didasari kemampuan retorika khas penjual obat sebagaimana yang sering saya saksikan di Lapangan Karebosi, Makassar. Kita bertepuk tangan dan membeli obat, namun tak juga bisa menyembuhkan penyakit kita. Kita tak juga bertanya secara kritis, mengapa membeli obat hanya karena didasari oleh retorika dan atraksi memainkan ular dan buaya seperti yang dilakukan penjual obat.

Di banding pengamat, saya lebih suka komentar politisi. Setidaknya, para politisi itu punya posisi yang jelas dan tegas dalam menyampaikan sesuatu. Ia tegas menyatakan berada di bawah bendera partai tertentu dan mempresentasikan gagasannya jika kelak terpilih. Sementara pengamat, tak pernah menyatakan secara jelas apa warna benderanya. Ia berlindung di balik kalimat “intelektual“ dan seolah-olah membawa suara rakyat. Pengamat tak pernah gentle menyatakan sikapnya, misalnya dengan mengatakan, “Saya berpendapat begini biar kelihatan gagah, kemudian media selalu memilih saya sebagai komentator. Saya makin populer dan uang tabungan saya terus bertambah.“ Yang kemudian muncul adalah para pengamat merasa dirinya seakan malaikat yang membawa suara rakyat.

Ini hanya suara lirih kegelisahanku. Tadi malam, saya baru saja menyaksikan komentar Bima di acara debat partai politik. Ia selalu memotong pembicaraan para politisi dan mengatakan, “Apa yang hendak anda lakukan?“ Saya jadi bingung. Bagaimana mungkin kita bicara apa yang harus dilakukan tanpa mengerti apa persoalan yang hendak diurai. Mustahil kita punya solusi mujarab jika kita tidak sabar mengurai benang kusut persoalan, kemudian menentukan pendekatan kita untuk meluruskan benang tersebut. Dalam logika, ini namanya jump to the conclution yaitu kecenderungan untuk selalu langsung lompat pada kesimpulan. Mestinya, pembicaraan “apa yang harus dilakukan“ adalah pembicaraan akhir tatkala kita punya peta yang memadai demi menjelaskan batasan persoalan, posisi-posisi, serta strategi mendekati masalah.

Itu baru satu hal. Bima juga tak pernah memberi kesempatan seseorang membentangkan pendapatnya tentang sesuatu. Saya sendiri jadi bingung. Mestinya sebagai warga, saya banyak mendengar seperti apa gagasan dan visi sang politisi tersebut. Kalaulah visi itu melangit dan melayang di awan, maka biarkanlah saya yang memberikan penilaian. Biarkanlah saya sendiri sebagai penonton yang kelak mencaci-maki sang politisi itu. Namun, proses mencaci itu bisa dilakukan ketika pandangan politisi itu bisa didengar dengan utuh. Proses mencaci adalah puncak dari proses olah pikir yang kita lakukan ketika mendengar uraian gagasan seseorang. Masalahnya adalah para pengamat politik itu selalu merasa dirinya mengatasnamakan kita. Mereka seolah mengatasnamakan ilmu pengetahuan dan kebenaran. Belum selesai seseorang berbicara, ia sudah memotong dan berpretensi seolah sudah memahami apa yang hendak disampaikan. Busyet!! Saya matikan tivi.

Menurutku, pekerjaan yang paling aneh di dunia ini adalah menjadi pengamat. Pernah saya berbincang dengan teman di Makassar, apa pekerjaan yang kelak akan dilakoninya. Ia menjawab, “Saya ingin menjadi pengamat politik.“ Saat itu saya langsung berpikir, ternyata profesi pengamat bisa menjadi pekerjaan. Awalnya, saya berpikir bahwa posisi pengamat dilakoni oleh seseorang yang memiliki keahlian pada bidang tertentu karena aktivitas ilmiah seperti riset atau menceburkan diri dalam satu permasalahan. Seorang pengamat adalah seorang ahli dan profesional atas hal tersebut, yang kemudian dimintai tanggapannya. Boleh jadi, komentar itu membosankan sebab ia sedang berhati-hati membentang masalah sehingga kelak jika menarik kesimpulan, tidak terkesan asal-asalan.

Pembicaraan dengan temanku itu menghancurkan asumsi yang selama ini saya bangun. Temanku itu tak pernah kulihat membaca dengan serius. Ia tidak juga menulis. Ia hanya sering nongkrong di warung kopi kemudian diskusi dengan banyak orang. Ia berlatih bagaimana mencecar seseorang dengan pembicaraan yang seolah-olah pintar dan seolah-olah mengatasnamakan orang banyak. Momentum nongkrong di warung kopi itu adalah proses belajar yang kelak akan mempertajam pandangannya tentang sesuatu. Ia diuntungkan situasi ketika di negeri ini, orang tak pernah siap dengan sesuatu yang melelahkan dan serius dalam mengurai benang masalah. Saya kira, tak elok jika cuma menuding pada pengamat saja. Mungkin ini juga lahir dari rahim interaksi antara media, msyarakat, serta sistem sosial kita yang tak juga kian dewasa dan matang. Masyarakat kita terbiasa disuapi media dengan kenyataan yang didramatisasi. Makanya, kita seakan hanya mau mendengar sesuatu yang instant saja. Sesuatu yang praktis, namun hanya memberi efek sesaat dalam pemecahan masalah. Yup, persis ketika bertepuk tangan menyaksikan retorika penjual obat dan atraksi mencium ular, kemudian kita membeli obatnya lalu menyesal saat tiba di rumah. Apa hubungannya obat dengan ular?.(*)

Depok, 4 Desember 2008
www.timurangin.blogspot.com

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...