Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Hidup adalah Senyawa Hal-hal Kecil



HIDUP bermula dari hal-hal kecil. Semua peristiwa dan pengalaman adalah serpih-serpih yang jika ditautkan akan membentuk gambaran siapa kita sesungguhnya. Jangan pernah meremehkan hal-hal kecil sebab akan menjadi kuas bagi kanvas kehidupan kita. Hitam putih ataupun merah biru kedirian kita adalah senyawa dari atom-atom kejadian kecil yang senantiasa beredar dan menggoda kita untuk direspon melalui akal dan hati kita. Diri kita adalah bentukan dari situasi serta jawaban yang kita berikan atas segala hal-hal kecil yang acap kali menyentuh titik kesadaran kita. Sesuatu yang menjadi identitas dan titik berpijak kita.

Prof Fedyani Versus “Pak Afid”

RISALAH ilmu pengetahuan menempatkan nama Socrates sebagai tokoh yang pertama meretas berbagai pertanyaan filosofis dan kemudian memicu dialog filsafat. Sayangnya, Socrates tidak pernah mencatat sendiri semua kegelisahannya dalam memandang dunia sebab dituliskan oleh muridnya yang sangat masyhur yaitu Plato. Tak heran jika banyak filsuf yang menilai kalau dialog Socrates dengan Plato tidak lain dari dialog antara Plato dengan dirinya sendiri. Dialog dua sisi antara Plato dan “Plato”.

Saya tidak hendak berbincang banyak tentang dialog dua “Plato”. Hari ini, Jumat (29/11), Prof Achmad Fedyani Saifuddin (Pak Afid) seakan mengikuti jejak-jejak yang pernah ditorehkan Plato. Pak Afid menunjukkan lembaran-lembaran Bab I dari buku yang sedang ditulisnya dan berjudul “Dialog Imajiner tentang Teori-teori Antropologi”. Buku ini akan berisikan dialog antara dua sisi dalam diri Pak Afid yang berisi bahasan atau tinjauan atas teori-teori antropologi kontemporer.

Kata Pak Afid, format buku itu adalah berupa dialog atau perdebatan antara dua sosok yang keduanya adalah dirinya sendiri. Ia akan menulis dengan gaya bahasa yang agak novelik dan berisikan dialog. “Nanti akan ada dialog tentang teori. Misalnya pada bab awal, ada seorang yang menyapa ’Selamat Pagi Profesor’. Kemudian, saya sendiri yang akan menjawabnya. Jadi, saya punya otoritas untuk menuliskan dialog antara dua sisi diri saya dalam memandang teori,“ katanya saat kuliah Organisasi Sosial: Struktur dan Proses.

Mendengar rencana Pak Afid, saya hanya bisa terkagum-kagum. Memang, sejak awal kuliah, ia selalu saja hadir dengan gagasan yang orisinil, kreatif dan cerdas. Ia selalu ingin mempertegas posisi antropologi dan tidak rela bila ilmu ini seakan dilecehkan dan dipandang sebelah mata. Ia punya “nasionalisme“ antropologi dan ingin menunjukkan pada dunia bahwa antropologi tidak sekedar pelukisan secara mendalam bangsa-bangsa barbar, namun memiliki kemampuan untuk menjelajah dan mengupas realitas sosial hingga titik terdalam. Pak Afid adalah sosok yang demikian mencintai ilmu antropologi.

Rencananya, buku ini tidak hanya diterbitkan dalam bahasa Indonesia, namun juga bahasa Inggris. Artinya, buku ini akan dikonsumsi oleh publik antropolog dunia dan menjadi catatan pencapaian orang Indonesia yang selama ini “berkubang“ dalam rimba teori antropologi. “Saya kira, sudah saatnya kita harus mempublikasikan karya kita ke dunia internasional. Cukup lama, kita ditafsirkan oleh bangsa lain dan hanya menjadi konsumen teoritis yang sebenarnya kian membesarkan nama antropolog asing. Dengan cara ini, karya kita tidak hanya beredar di jurusan antropologi di UI saja,“ katanya sambil tersenyum dan memperlihatkan sebundel kertas yang berisikan Bab I buku tersebut. Di luar itu, Pak Afid hendak memotivasi para antropolog muda untuk terus berkarya dan tidak berhenti pada penilaian sinis masyarakat yang memandang sebelah mata ilmu ini.

Kontroversial

Hal yang mengejutkan adalah buku ini akan membahas beberapa soal yang akan menjadi kontroversial. Pada Bab VI, ia akan memaparkan gagasan bahwa pengajaran antropologi di tingkat sarjana (S1), sudah saatnya ditinjau ulang atau dibubarkan. “Saya sudah lama mengamati perkembangan dunia antropologi di Indonesia. Saya kira, antropologi tidak memadai jika hanya diakomodasi di tingkat S1 saja. Sebaiknya di tingkat S1 haruslah dibubarkan dan biarkan ilmu ini hanya ada pada tingkat graduate atau pascasarjana saja. Mahasiswa antropologi di tingkat S1 hanya menjadi “tukang” penelitian saja. Kemampuan mereka sangat terbatas untuk mengenali dan memahami masalah. Kalau boleh jujur, selama ini tak pernah ada penyelesaian yang sifatnya total dari antropologi sendiri,” katanya.

Baginya, antropologi adalah sains yang semestinya merasuk ke mana-mana. Harus bisa menjadi ruh yang meresap dalam berbagai bidang ilmu agar menempatkan manusia sebagai subyek yang berbicara dan tidak ditaklukan. Untuk itu, antropologi harus memancarkan aura ke semua disiplin ilmu lainnya. “Posisi ilmu ini adalah memancarkan aura dan kompleks pengetahuan yang kemudian menjadi jiwa. Antropologi harus menjadi visi,” ujarnya. Pak Afid mengakui, selama ini ia banyak berinteraksi dengan para doktor dari berbagai disiplin ilmu sehingga memberikan banyak inspirasi tentang pentingnya menempatkan antropologi sebagai jiwa dari beragam ilmu. Ia tidak menampik kalau nantinya ide ini akan menjadi kontroversi sekaligus “berita buruk” bagi banyak dosen. “Semua orang dari berbagai disiplin ilmu, ketika masuk antropologi akan memiliki visi kemanusiaan yang sangat kuat. Makanya, saya siap berbeda pendapat dengan banyak antropolog yang tidak sesuai dengan ide ini,” ujarnya.(*)

Kamis, 29 November 2007

Pukul 21.25 WIB (saat sedang nongkrong di kamar)

Serunya Seminar Tesis Mbak Fikri!!


SAHABATKU Siti Fikriyah Khuriyati (Mbak Fikri) adalah sumber inspirasi yang tak pernah padam. Sejak awal kuliah, aku selalu kagum dengan staminanya yang luar biasa dalam membagi waktu antara kuliah dan bekerja di DPR RI serta aktif di beberapa LSM. Bayangkan, betapa sibuknya harus masuk kantor tiap hari di DPR untuk membahas begitu banyak draft undang-undang, kemudian kuliah lagi di antropologi dan harus membaca banyak buku panduan.

Tapi, Mbak Fikri selalu bisa melakoni semua itu dengan baik. Nilainya selalu saja yang terbaik di kelasku. Aku selalu ingat, jika kuliah usai, ia tak bisa lama ngobrol di kantin bersamaku dan beberapa teman. Ia langsung tancap gas dengan motornya ke DPR dan berhadapan dengan tema baru lagi. Ia sanggup menjalani keduanya, bahkan menjadi yang terbaik di kelas antropologi. Pribadinya low profile dan punya semangat besar untuk menuntaskan dahaganya pada pengetahuan. Aku suka malu dan minder bila bercermin pada dirinya dan menemukan betapa malasnya aku yang tak kunjung bisa menaklukan waktu. Bagiku, Mbak Fikri adalah mata air inspirasi.

Kemarin, aku kian minder setelah Mbak Fikri menjadi orang pertama di angkatanku yang mempresentasikan rencana tesisnya. Di saat aku dan teman-teman masih bergelut dengan kuliah yang masih belum kelar, ia sudah jauh melangkah maju dan meninggalkan kami yang hanya bisa memandang kagum padanya. Staminanya itu bikin aku tak bisa berhenti mengaguminya. Temanku Gonjess pernah mengatakan, “Stamina dan keseriusan seperti itu hanya bisa kita lihat pada orang bule. Jarang orang Indonesia yang punya semangat meluap-luap seperti itu. Di antara kita, mungkin hanya Mbak Fikri yang punya itu.”

Aku rasa, Gonjess benar juga. Kemarin aku cukup beruntung karena bisa menghadiri seminar proposal Mbak Fikri yang berjudul Reproduksi Identitas Simbolik Parlemen Indonesia. Inilah seminar yang paling menarik yang pernah kuikuti. Bahkan jika dibandingkan dengan beberapa seminar S3 yang kusaksikan belakangan ini, seminar Mbak Fikri masih jauh lebih menarik sebab sebab diwarnai diskusi yang cukup alot serta debat ilmiah yang cukup seru.

Bagiku, tema yang diangkat Mbak Fikri jarang ditelaah oleh para antropolog lainnya. Apalagi, pada bagian awal seminar, Mbak Fikri mengatakan, “Saya melihat pendekatan ilmu politik dalam melihat parlemen kita terlampau makro. Mereka tidak melihat hal-hal yang sifatnya mikro dan mendetail dari realitas politik di parlemen. Padahal di sana, ada kebudayaan yang berdenyut dan selalu bergerak. Di sana ada pergulatan manusia.“ Nah, itu hanya pengantar saja dari presentasinya yang sungguh amat mengesankan. Pantas saja bila Ibu Suraya mengatakan, “Ini tema yang sangat menarik dan callenging.“

Sebelum Mbak Fikri tampil, ada dua mahasiswa lainnya yang juga mempresentasikan rencana tesisnya. Mereka adalah Gofur dengan tesis bertemakan Manusia Gerobak: Studi Pemulung Jakarta. Satunya lagi adalah Mbak Sunarwati dengan tesis bertemakan analisis desain komunikasi visual iklan Teh Botol Sosro. Saat mereka tampil, dua dosen penguji yaitu Iwan Tjitradjaja dan Achmad Fedyani (Pak Afid) langsung mencecarnya dengan pertanyaan yang substansial. Iwan mengatakan proposal itu agak ambisius. Kata Iwan, harus selalu dilihat dari sisi kemiskinan perkotaan yang lahir sebagai ekses kebijakan. Meskipun Goffur cukup alot mempertahankan persentasinya, namun ia “terkapar” juga saat Pak Afid menyerangnya dengan sejumlah pertanyaan teoritis. Pak Afid memprotes begitu banyak teori yang hendak digunakan Gofur serta pendekatannya dalam membaca realitas pemulung. “Bagaimana caramu memperlakukan sebuah teori? Apakah sekedar menjadi cuplikan-cuplikan saja? Anda mesti membangun asumsi-asumsi dan hipotetik. Mesti ada jarak dengan beberapa teori, kemudian membangun penjelasan-penjelasan. Itulah asumsi-asumsi. Jangan sekedar pasrah saja dan cuplik teori secara membabi buta.” Kata Pak Afid.

Namun, saat Mbak Fikri tampil, suasananya agak berbeda. Saat itu, Iwan Tjitradjaja digantikan oleh Suraya Afiff. Keduanya mengamati presentasi dan menyimak diskusi seru yang terjadi antara Mbak Fikri dengan kawan-kawan yang menyaksikan seminar tersebut. Pertanyaan-pertanyaan justru banyak diutarakan oleh teman-teman yang menyaksikan seminar itu. Mulai dari Jaya yang menanyakan hubungan antara simbol dan produk kebijakan DPR, kemudian Gofur yang menanyakan bagaimana hasil penelitian terdahulu, hingga aku sendiri yang menilai Mbak Fikri terlalu banyak berasumsi dalam penelitiannya. Terakhir, Dyah yang berkomentar masalah simbol. Berhadapan dengan bertubi-tubi pertanyaan itu, Mbak Fikri justru tetap fokus dalam menjawab pertanyaan. Ia banyak mengangkat contoh kasus bagaimana parade kemewahan simbolik seakan dipertontonkan di gedung parlemen. Mulai dari mobil mewah, pakaian mahal, hingga beberapa atribut yang kesemuanya menjadi sekrup kecil dari mesin besar bersama ketidakdilan di negeri ini. Mbak Fikri sedang menyingkap tabir yang selama ini menutupi tingkah polah di parlemen Indonesia yang selalu mengklaim dirinya mengemban amanat rakyat.

Yang aku kagum, Mbak Fikri tidak kehabisan jawaban dan contoh-contoh. Ibarat pertempuran, ia tidak kehabisan amunisi dalam meladeni desingan pertanyaan yang berseliweran. Ia tetap tenang, meski beberapa kali suaranya meninggi ketika pertanyaan seakan tidak berkesudahan. Ketika suaranya meninggi, Mitha –yang duduk disampingku—langsung berbisik, ”Wah, kayaknya ini sudah mulai nada do tinggi.”

Usai jawaban Mbak Fikri, Ibu Suraya memberi banyak masukan. Mulai dari persoalan metodologi bagaimana mengoperasionalkan konsep, hingga masalah konseptual yaitu fenomena in group dan out group dalam melihat realitas parlemen. Ia memberi apresiasi yang tinggi atas penelitian yang akan dilakukan Mbak Fikri. Sedangkan Pak Afid hanya berkomentar pendek. Katanya, jangan terlalu banyak berasumsi, usahakan tetap menarik jarak, serta pertimbangkan ulang teori Bourdieu dalam penelitian ini. “Realitas yang diamati Bourdieu di Eropa Barat, jelas tidak sama dengan realitas yang diamati di parlemen kita,” katanya untuk menutup diskusi. Selamat ya Mbak Fikri!! Good luck.

Depok, 27 November 2007

Pukul 09.40 (Jelang Kuliah Organisasi Sosial)

www.timurangin.blogspot.com

Foto di Jembatan Teksas


Hari ini, seorang kawan bernama Andi datang menemuiku dan memperlihatkan proposalnya yang berjudul Politik Disiplin di Pondok Pesantren. Ia meminta komentarku atas proposal yang dibuatnya. Aku tak tahu hendak memulai dari mana. Namun, proposal itu kurasa sangat baik. Aku sendiri belum tentu bisa buat sebagus itu. Saat ngobrol, kami kehausan. Selanjutnya sama-sama menuju kantin sastra untuk minum jus mangga. Kami melintas di jembatan Teksas. Kami terpana melihat konstruksinya. Andi memotretnya. Aku sekalian saja numpang dipotret di situ. Keren fotonya yaa?

Membaca Bourdieu


KEMARIN, aku mulai membaca buku An Introduction to Pierre Bourdieu Thought. Meski baru membaca bab-bab awal, namun aku mulai paham bagaimana tali-temali pemikiran Bourdieu serta keterputusannya dengan tradisi Marxisme dan fenomenologi. Ternyata, Bourdieu berada di tengah-tengah dari kutub perdebatan itu. Ia berbeda dengan Giddens yang melihat dua kutub pemikiran itu sebagai oposisi biner atau dua hal yang dipertentangkan. Bourdieu berbeda. Aku mulai paham apa pengertian habitus versus field serta bedanya dengan dualitas Giddens tentang agency dan struktur. Namun, aku tak mau membahasnya sekarang. Oh ya, kemarin aku juga membeli kopian buku Nancy Scheper Hughes yang judulnya Death Without Weeping terbitan University of California Press. Rencanaku, buku ini akan kubaca setelah tuntas membaca buku Bourdieu.

Jangan Takut dengan Pesimis

KENAPA harus takut dengan pesimis? Bukankah pesimis bisa membuat kita fokus dan melakukan penjelajahan otokritik dalam diri kita. Pesimisme bisa menjaga agar kita tidak terlalu melambung tinggi dan tidak lupa bagaimana cara menjejaki bumi. Pesimisme bisa menjadi obat dari sikap pongah atas optimisme yang meluap-luap. Pesimisme adalah senjata agar kita selalu waspada dengan langkah-langkah yang kita pilih serta siap menghadapi semua konsekuensinya. So, kenapa harus takut dengan pesimis?

Apakah Optimisme Bisa Dibeli?


BAGAIMANA sih cara membangun optimisme? Bagaimana sih cara mengalahkan pesimisme? Jujur saja, aku kerap kali larut dalam pesimisme dan butuh optimisme yang meluap-luap. Pesimisme ibarat parasit yang membelit sebagian tubuhku hingga kaku dan statis. Tak bisa bergerak ke manapun. Sedang optimisme adalah sebentuk semangat untuk selalu yakin bahwa masa depan akan selalu berpihak pada kita. Orang yang optimis selalu diliputi keyakinan menantang waktu. Ia yakin bahwa Dewi Fortuna tidak pernah beranjak dari sisinya hingga hidupnya selalu diselimuti kebahagiaan. Nah, masalahnya, gimana cara menggoda sang dewi agar selalu di sisi kita? Apakah Dewi Fortuna ibarat gadis cantik yang selalu dirangsang agar mencintai kita? Aku tak tahu. Bahkan dewi itu jadi semacam lelucon bagiku.

Andaikan optimisme itu adalah buah yang dijual, maka akan kucari dimanakah gerangan penjualnya, kemudian kubeli satu keranjang dan diletakkan di tempat paling spesial di kamarku. Di saat aku sedang pesimis atau terpuruk, akan kumakan optimisme satu demi satu agar percaya diriku terus mekar.

Kalau saja pesimisme itu ibarat parasit yang bisa kukenali, maka akan kucabut semua akarnya agar tak ada yang tersisa di badanku. Biar tubuh ini selalu riang dan tidak terjebak pada berbagai ketakutan yang merupakan buah dari pesimisme. Kata temanku, di Jakarta ada banyak tempat untuk konsultasi atau terapi agar selalu optimis dalam memandang hidup. Katanya, mungkin aku bisa ke sana, siapa tahu di situ ada jenis terapi yang cocok untuk mengatasi masalahku. Iya sih, dia benar juga. Masalahnya, aku tidak pernah percaya dengan terapi. Bagiku psikolog atau terapist adalah manusia yang paling sering berbohong di muka bumi ini. Masak, hanya dengan sekali wawancara atau tes, mereka dengan gampangnya menyimpulkan bagaimana watak seseorang. Hanya dengan pengalaman membaca sejumlah buku asing tentang watak, ia –dengan sangat kurang ajar—langsung memvonis watak seseorang. Busyet!!!

Nah, kembali pada titik awal. Apakah optimisme mutlak harus ada pada diri seseorang untuk selalu yakin dalam pertarungan dengan nasib dan waktu? Mungkin juga. Tetapi bisa jadi optimisme bukanlah segala-galanya. Optimisme bisa pula jadi parasit ketika kita tidak lagi mau berusaha dan bekerja keras. Kita hanya percaya saja pada wangsit yang memunculkan optimisme buta.

Aku pernah mengalami gejala optimisme buta seperti ini.Waktu SD, aku pernah ikut lomba Cerdas Tangkas P-4 dan lolos mewakili Sulawesi Tenggara ke Jakarta. Begitu lolos, mamaku mengantarku ketemu seorang dukun –yang katanya sakti—di kampungku Pulau Buton. Saat dukun itu menerawang namaku, ia langsung meniupkan optimisme yang dahsyat dalam diriku. Katanya, “Jangan khawatir. Hasilnya akan bagus!!“ Saat itu aku langsung berhenti belajar. Bagiku, kalimat sang dukun itu adalah kalimat sakti yang lahir dari hasil kontemplasi magisnya. Bisa jadi itu adalah suara langit yang dibisikkan pada dukun. Seorang dukun menganggap dirinya sosok yang bisa curi dengar apa yang terjadi di langit dan mewartakannya pada warga bumi. Malah, pada saat tertentu, ia bisa jadi kera sakti Sun Go Kong yang bisa mengobrak-abrik langit dan memaksakan nasib sesuai keinginannya.

Singkat kata, aku tak belajar sebab yakin pada kalimat sang dukun. Ternyata, begitu tiba di Jakarta, aku langsung kalah. Saat itu, aku seakan tak percaya dan langsung bilang sama mama, “Kita harus tuntut dukun itu. Dia sudah bohongi saya. Dia sudah bikin saya terlalu yakin.“ Mamaku hanya tersenyum melihat kekonyolanku. Mana mungkin menuntut dukun sebab dia tak salah. Yang salah adalah diriku sendiri, kenapa menjadikan setiap kalimatnya seolah mantra sakti. Bukankah dukun adalah manusia yang setiap berbicara tidak perlu bukti?

Nah, pengalaman ini memberikan pelajaran berharga bahwa optimisme saja tidak cukup. Optimisme mestinya didukung dengan kerja keras serta perencanaan yang matang. Optimisme hanya titik kecil, hasil dari kerja keras, tanpa perlu mengintip apa rahasia langit tentang usaha kita. Dalam novel Edensor diceritakan bagaimana mahasiswa Jerman yang tidak percaya nasib. Mereka hanya percaya kerja keras dan upaya. Mereka tak mau masuk gelanggang pertempuran tanpa persiapan. Barangkali, perencanaan yang matang serta kerja keras adalah hal pertama yang harus ditempuh sebelum memasuki gelanggang. Selanjutnya, optimisme hanya menjadi kalimat akhir yang disebut tatakala semua usaha itu rampung. So, tak perlu menunggu Dewi Fortuna hadir di sisi kita. Kita harus bisa menciptakan Dewi Fortuna itu sendiri. Pasti!!!

Depok, 21 November 2007

Pukul 09.59 WIB, saat baru bangun tidur

Aku Ingin Menjadi Matahari


AKU ingin lepas dari rasa lumpuh yang menjerat kedua tungkaiku. Aku ingin menerabas segala sekat yang membelenggu tubuhku. Sekat-sekat itu seakan menenggelamkanku pada pencarian yang tak pernah berujung, sebuah teka-teki yang tak kunjung terpecahkan. Aku ingin memburai kepompong yang menghalangi keinginanku untuk menatap horison realitas. Aku bosan hidup dalam sebuah tempurung kelapa sehingga hanya mengenali kenyataan yang lebarnya tak lebih dari jangkauan tanganku. Terlalu lama aku dibelit rasa mapan dan keangkuhan pengetahuan yang bersemayam di benakku. Aku ingin membalik tempurung itu, menghancurkannya kemudian menatap alam dengan tanpa rasa takut.

Aku ingin merentangkan tangan hingga ke ujung dunia dan menggapai seluruh jejak pencapaian manusia. Aku ingin merdeka dari segala batasan yang hanya meletakkan diriku sebagai titik kecil dari fenomen semesta. Seolah-olah aku hanya sekerat materi yang berbatas. Aku ingin melanglang buana dan menembus segala batas yang sanggup dijelajahi sains serta pikiran kembaraku. Aku ingin lepas dan terbang tinggi dan menembus mega-mega, melihat bumi hingga titik terjauh, melihat langsung bagaimana bumi menyapa pagi, melepas senja, kemudian memeluk malam. Melihat langsung bagaimana bumi membasahi tubuhnya dengan sapuan aneka warna pelangi, sebuah mosaik lukisan semesta.

Aku ingin menjadi matahari yang sanggup menyinari bumi, tanpa sedikitpun mengenal lelah. Menghadirkan pagi serta cahaya dengan tak pernah meminta balas. Aku ingin menjelma menjadi cahaya kecil yang menyelusup pada setetes embun dan berkilau hingga memancarkan keindahan yang semerbak di seantero bumi. Setetes embun yang bening dengan cahaya pengetahuan yang menerangi jagad pengetahuan. Menjadi cahaya dan api bagi sekelilingku...................

Aku Kesal pada Prof Fedyani?

AKU mulai kesal karena dosenku Prof Achmad Fedyani Saifuddin –yang disapa Prof Afid-- mulai jarang masuk mengajar. Hari ini adalah untuk kesekian kalinya ia tidak masuk mengajar. Di saat aku sudah mandi dan siap-siap untuk ke kempus, tiba-tiba pengelola jurusan menelepon dan berkata singkat, “Yusran, hari ini Prof Afid tidak masuk.“ Aku menghembuskan napas kecewa dan hanya bisa mengurut dada. Seingatku, kuliah Organisasi Sosial: Struktur dan Proses baru digelar empat kali. Itupun, aku tak masuk sehari. Sementara waktu perkuliahan akan segera berakhir pada 8 Desember mendatang.

Apakah aku kecewa? Yup, tentu saja aku kecewa berat. Apakah dia tak paham kalau perkuliahan akan segera berakhir, sementara belum ada serpih jejak pengetahuan yang disapukannya di kanvas otakku? Apakah dia tak paham kalau pikiranku mulai dijalari rasa gamang akan pengetahuanku yang hanya setetes? Ketakutanku untuk meninggalkan kampus Universitas Indonesia (UI) tanpa membawa amunisi pengetahuan yang mumpuni untuk membidik realitas. Ketakutan akan berjejalan di gerbong para pencari kerja yang berjalan kaki di tengah panas terik, memakai kemeja, dan membawa map berisi ijazah magister antropologi UI. Apakah dia tak paham kalau untuk bisa mengikuti kuliahnya, aku harus mengorbankan semua duit serta kekayaanku agar bisa bayar SPP di kampus yang mahal itu?

Dengan segala rasa takut serta gamang itu, apa yang dilakukan Prof Afid? Ia hanya menambah panjang baris ketakutan itu. Alih-alih menambah tebal pundi-pundi pengetahuan, ia malah menjadi katalis dari kian bodohnya aku karena terhalang dari cahaya pengetahuan yang mestinya ia pancarkan..........

Revolusi Memangsa Anaknya Sendiri


KEMARIN aku ke pepustakaan pusat UI dan meminjam buku berjudul Manusia dalam Kemelut Sejarah, terbitan LP3ES tahun 1978. Buku ini sudah cukup lama. Sampulnya sudah usang, agak kekuningan dan lapuk dimakan usia. Namun, isinya tidak ketinggalan zaman dan masih menyimpan bara gagasan yang tak pernah padam. Senarai gagasan yang tersaji dalam buku ini masih sanggup menyengat dan membakar belenggu keingintahuanku atas sisi lain dari sejarah bangsa.

Isinya semacam biografi dan tinjauan atas pemikiran dan gerak beberapa orang foundhing father Indonesia seperti Sukarno, Jenderal Sudirman, Sjahrir, Tan Malaka, Haji Agus Salim, Qahhar Mudzakkar, hingga Amir Sjarifuddin. Pada saat aku menulis catatan ini, aku sudah menuntaskan lebih separuh buku tersebut. Di antaranya adalah pengantar Taufik Abdullah, serta tulisan sejarawan Onghokham berjudul “Sukarno: Mitos dan Realitas,” tulisan M Roem “Memimpin adalah Menderita: Kesaksian Haji Agus Salim”, serta tulisan Dr Alfian tentang “Tan Malaka: Pejuang Kesepian”. Meski baru membaca beberapa tulisan, idenya seakan berputar-putar terus dalam benakku, membawaku ke dalam nuansa dan kelebat pemikiran beberapa tokoh tersebut, merasakan pergulatan emosi, ide serta interpretasi dalam membaca realitas ke-Indonesiaan.

Aku tak bermaksud menjelaskan semuanya. Palingan hanya membahas seorang tokoh yaitu Sukarno. Dalam pandanganku, tidak banyak manusia besar yang pernah dilahirkan oleh rahim bangsa ini. Sukarno adalah segelintir orang besar dengan visi yang terentang jauh untuk melihat bangsa ini lebih baik di masa mendatang. Ia punya energi –yang seakan tak pernah habis—untuk membumikan strategi yang diyakininya bisa membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Membaca kisah Sukarno serasa membaca kisah dalam mitologi Yunani kuno: penuh dengan kisah penaklukan dan berujung pada tragedi. Ciri khas mitologi Yunani adalah selalu menempatkan tragedi sebagai elemen paling penting untuk menjelaskan kehidupan. Tragedi adalah pergumulan dengan nasib yang tidak dimenangkan, dan lewat itulah nilai-nilai moral ditemukan. Ketika Oediphus –kisah masyhur dalam drama Sophocles-- berhasil mengalahkan sphinx dan meraih tahta tertinggi di Thebe, maka itu adalah sebuah penaklukan dan kejayaan (glory). Namun tatkala ia harus menusuk matanya sebagai bukti atas keterlibatannnya –yang dilakukan secara tidak disengaja—atas pembunuhan Raja Thebe sebelumnya serta tindakan mengawini ibunya Penelope, maka itu adalah akhir dari kisah tragik yang baginya. Ia menjadi prasasti dari dilema manusia untuk menemukan dirinya dalam sebentang peta konstalasi kosmos.

Kisah Sukarno bisa pula dibaca sebagai kisah penaklukan yang kemudian berakhir tragis. Ia adalah seorang cerdik cendekia yang berhasil menggiring bangsa pada gerbang kemerdekaan. Ia berhasil memerdekakan sebuah bangsa yang tengah beringsut untuk lepas dari cengkeraman kolonialisme. Lewat jargon revolusi, ia menggelorakan semangat massa dan rasa cinta yang dalam pada negeri hingga siap menjadi martir demi revolusi. Sayang, seperti halnya kisah Yunani kuno, Sukarno kemudian ditikam oleh negeri yang begitu dicintainya. Ternyata, revolusi –sebagaimana sering didengungkannya—harus memangsa anak-anaknya sendiri. Dan itu adalah tragis Sukarno.

Tak ada hal mengejutkan dalam tulisan Onghokham ini. Kalaupun ada yang baru bagiku, maka itu adalah cerita Sukarno yang sejak awal selalu sendirian dalam meniti bahtera kehidupan. Ia hanyalah alumni perguruan tinggi dalam negeri yang melesat sendirian. Ia tidak punya partner diskusi yang setara kualitas dengannya. Ia bukanlah Hatta atau Sjahrir yang dibesarkan dalam iklim akademis negeri Belanda, di mana mereka menemukan banyak lawan debat intelektual. Atas dasar itu, Sukarno kerap merasa egois dengan semua pandangan politiknya. Ia tak punya pengalaman memiliki seorang partner atau mitra yang benar-benar bisa dipercayainya seratus persen. Memang, di akhir kekuasaannya telah muncul tokoh seperti Soebandrio ataupun dr Leimina, namun mereka tak pernah menjelma menjadi tangan kanan Sukarno. Dalam hidup Sukarno, hanya ada sekutu dan seteru. Jika belakangan ia mati dalam konspirasi dan kesendirian, maka itu hanyalah tragedi yang menjadi ending dalam kisah glory hidupnya. Bermula dari keterasingan, meraih kegemilangan (glory), kemudian berujung pada tragedi yang telah menjadikannya sebagai mangsa dari kereta besar bernama revolusi. Soekarno adalah Oediphus yang ditusuk matanya dan mengerang hingga jauh.......

It's American Dream


SAYA sedang berjalan-jalan di Washington DC. Menyusuri jalan-jalan kota yang menjadi jantung Amerika Serikat (AS), negeri yang mencengkramkan kuku di tatanan politik internasional. Saya menghirup udara di depan Capitol Hill, simbol politik AS yang kubahnya berbentuk bulat dan ada patung perempuan sebagai lambang kebebasan. Pematung Thomas Crawford, seorang pencinta wanita yang rela dibakar oleh rasa kecintaannya, meletakkan patung itu sebagai wakil dari kebebasan yang meluap-luap. Apakah wanita identik dengan kebebasan?

Takjub melihat itu, saya lalu menyusuri padang rumput di depan Lincoln Memorial dan menyaksikan langung patung Abraham Lincoln. Di sorot mata pria ini terhampar kasih sayang pada bangsa kulit hitam hingga menjadikan dirinya sebagai martir pada tahun 1865. Ingin rasanya kutembus sorot mata itu dan mengurai sejarah perbudakan bangsa AS, sejak kedatangan imigran Inggris hingga datangnya kapal May Flower yang membawa kaum berkulit hitam dari Afrika. Betapa besar hasratku untuk menelusuri jejak perbudakan yang kemudian dihapus dengan berdarah-darah oleh Lincoln, Presiden AS terbesar sepanjang masa yang tumbuh dalam balutan kemiskinan di Kentucky dan Indiana di tahun 1818.

Ini adalah kompleks bersejarah yang dilestarikan sebagai tanda kehadiran masa silam di situ. Memandang keluar gedung itu, saya menyaksikan Washington Monuments yang berdiri tegak dan kokoh seperti sebuah batu runcing yang tertancap di dasar bumi. Batu itu menjadi prasasti atas kiprah George Washington, seorang komandan militer yang menyulut revolusi Amerika sebagai awal lahirnya Amerika Serikat. Dalam genggaman pria berkuncir ini, AS meletakkan visinya sebagai bangsa baru yang kelak menjadi superpower dan melihat dunia secara tunggal untuk ditekukkan dalam satu kriteria.

Selanjutnya, saya singgah menyaksikan langsung National World War II Memorial, yang menjadi saksi atas kejamnya Perang Dunia II. Saya menangis tertahan di saat membayangkan jenazah mereka yang terbaring demi membela negerinya. Apakah itu benar-benar dilatari tindakan heroik ataukah itu hanya reaksi atas proses pembodohan yang dilakukan secara sistematis atas nama negara? Ah, tangis tertahan itu kian deras tatkala saya berjalan sedikit ke dapan dan menyaksikan Vietnam Veterans Memorial yang berbentuk tembok hitam berbentuk huruf V. Di situ ada tergurat nama mereka yang tewas di Perang Vietnam. Seperti halnya warga AS yang tak pernah mengerti apa tujuan perang itu, hati ini hendak bertanya, apakah itu demi sebuah kehormatan ataukah buah kebodohan yang sukses ditanamkan negara.

BRUKK!!!!! Ada bunyi suara keras. Kepalaku sakit. Mataku berkunangan. Busyet!! Ternyata saya jatuh dari ranjang setelah lelap tidur seharian. Di tangan kananku ada buku karya Jack Canfield berjudul “American Dream.“

Ponakanku Sakit

KEPONAKANKU Ian yang baru berumur enam bulan sedang sakit. Ia menderita demam serta muntah-muntah sehingga harus dirawat di satu rumah sakit swasta di kendari. Kasihan, tubuh kecilnya begitu menderita sehingga menghilangkan keceriaan serta tawa riang yang selalu melekat di wajahnya. Mamaku langsung ke berangkat ke Kendari untuk menjenguk serta mengatasi kegalauan hatinya karena cucu satu-satunya sakit. Kata adikku Atun, saat pertama masuk rumah sakit, wajahnya dipasangi tabung oksigen agar mudah bernafas. Selang infus juga ditanamkan di lengannya.

Semua Agama Suka Menindas

AKU tak pernah setuju dengan mereka yang hendak menghakimi sebuah keyakinan. Bagaimanapun, keyakinan adalah dimensi personal yang merupakan urusan antara manusia dan pencipta. Setiap orang berhak memilih ajaran atau keyakinan manapun yang hendak dipilihnya. Apakah orang tersebut mau atheis, atau memilih Al Qiyadah, maka semuanya punya konsekuensi yang bersifat personal.

Di negeri ini, terlalu banyak orang yang mengambil otoritas Tuhan dan menghakimi sesamanya. Banyak orang yang tidak sabar untuk segera mengambil alih otoritas Tuhan dan segera memvonis kelompok lain sebagai “sesat” dan memberi label “penyimpangan”. Pertanyaannya, apa sih defenisi sesat dan menyimpang? Bukankah semuanya merupakan konstruksi pengetahuan manusia? Bukankah itu hanya kategori yang dibuat manusia dan bersifat menyejarah?

Susahnya adalah semua agama selalu punya tradisi kerasulan. Semua agama punya kisah tentang nabi atau rasul yang turun dan menyandang misi untuk “meluruskan” sebuah ajaran. Jika Kristen menurunkan seorang Yesus Kristus untuk meluruskan “kesesatan” agama sebelumnya, maka Islam juga menurunkan Muhammad dengan misi untuk “meluruskan” kesesatan. Bahkan Buddha sekalipun, mengenal sosok Siddharta Gautama yang hadir ke bumi untuk “meluruskan” keyakinan Hindu yang mengenal system kasta. Apakah agama memang selalu hadir sambil membawa klaim? Mengapa sih agama harus membawa misi pertempuran antara “kebaikan” dan “kejahatan?” Ah,…. Kayaknya semua agama sama saja. Sama-sama otoritarian dan menindas yang lain.

Tongkonan Toraja

Ini foto Dwi saat berada di Toraja. Ia sedang tersenyum di sebuah rumah khas Toraja yang disebut Tongkonan. Tak banyak yang tahu kalau Tongkonan bukanlah rumah untuk ditinggali, melainkan berfungsi sebagai lumbung padi. Seorang temanku mengatakan, konsep lumbung pada masyarakat tradisional tidak berbeda dengan konsep asuransi pada masyarakat modern. Lumbung dibuat dengan asumsi tentang masa depan yang susah diprediksi sehingga petani harus mempersiapkan diri untuk menghadapi itu. Sama persis dengan fungsi asuransi pada masyarakat modern. Kata Giddens, konsep lumbung atau asuransi muncul dari kesadaran serta rasa awas yang tinggi akan adanya resiko yang kelak bisa dihadapi manusia.

Beli Buku Lagi.....

HARI ini aku beli dua buah novel yaitu September (karya Noorca Massardi) serta Sang Pemimpi (karya Andrea Hirata). Khusus novel September, sudah lama kuincar, namun baru bisa kesampaian karena harganya mahal yaitu Rp 78.000. Kalau novel Sang Pemimpi, tiba-tiba saja tertarik karena sebelumnya aku sudah membaca novel Hirata yang berjudul Laskar Pelangi. Kata orang sih cukup bagus, padahal menurutku tidak terlalu istimewa karena alurnya yang kadang lompat-lompat. Harganya juga cukup mahal yaitu Rp 40.000. Jadi, total hari ini aku menghabiskan duit sebesar Rp 118.000. Banyak juga yaa.
Kemarin, aku juga membeli buku etnografi karya Anna Tsing yang berjudul Di Bawah Bayang-Bayang Ratu Intan. Buku terbitan Obor ini, kubeli seharga Rp 35.000. Spertinya, hasrat membacaku lagi tinggi-tingginya. Serasa ada banyak rasa ingin tahu yang mesti dijawab.

AVATAR: The Legend of Aang


AKU tergila-gila menyaksikan serial Avatar: The Legend of Aang. Terasa ada kerinduan dahsyat yang termanifes dan bersemayam pada diri seorang anak berkepala botak dengan baju rahib seperti biksu Tibet. Anak usia 12 tahun itu terlahir sebagai Avatar, sosok pembebas yang akan memburai perut penindasan sekaligus menjadi messiah (juru selamat) atas segala rupa kekacauan di bumi.

Sebelumnya, anak kecil bernama Aang terperangkap dalam sebuah bola es yang membeku di kutub selatan hingga 100 tahun. Anak itu seakan kaku dan tidak bergerak, hingga akhirnya ditemukan dua penjelajah suku air (water tribe) yaitu Katara dan Soka. Katara, perempuan pemberani tersentak ketika bongkahan es yang ditemukannya perlahan mencair sehingga sang anak keluar dari es dalam keadaan bugar. Anak dengan kepala licin dengan baju rahib seperti biksu Tibet, adalah generasi terakhir dari para pengendali udara yang nyaris musnah dibantai oleh bangsa Api. Anak yang kocak dan kadang tampak bodoh itu menyimpan kekuatan tersembunyi yang sanggup menggetarkan semesta. Sebab ia adalah sang terpilih, sang Avatar!

Ini adalah kisah tentang empat unsur semesta yang menjadi dasar dari lahirnya bangsa-bangsa dan suku. Peradaban manusia terbagi-bagi menjadi empat bangsa, Suku Air (Water Tribe), Kerajaan Tanah (Earth Kingdom), Pengembara Udara (Air Nomads), dan Negara Api (Fire Nation). Dalam setiap bangsa ada orang-orang yang dipanggil "Bender" (Pembengkok, atau dalam hal ini pengendali) yang memiliki kemampuan mengendalikan unsur alam sesuai bangsa mereka. Seni mengendalikan unsur alam ini merupakan perpaduan gaya seni beladiri dan sihir unsur alam. Dalam setiap generasi, ada seseorang yang mampu mengendalikan setiap unsur, ialah yang dipanggil sebagai Avatar, roh dari planet yang menitis dalam bentuk manusia. Ketika seorang Avatar meninggal dunia, dia akan terlahir kembali di bangsa yang gilirannya selalu bergantian sesuai dengan siklus Avatar (Avatar Cycle).

Stop! Cukup sampai sini. Aku tak akan berpanjang-panjang menjelaskan secara detail isi serial yang mengasyikkan ini. Aku tuntas menyaksikan seluruh serial ini berkat DVD bajakan yang banyak beredar di Jalan Margonda, Depok. Bagiku, film ini tidak sekadar kisah fiksi yang meninggalkan sebaris kesan mengharu-biru, melainkan sebuah risalah filsafat yang penuh dengan pergulatan ide atau gagasan. Realitas sosiologis Avatar adalah risalah filsafat Democritus yang menyebutkan bahwa alam semesta tersusun atas empat unsur utama yaitu api, air, tanah, dan udara. Keempat unsur ini menjadi partikel yang menyusun atom bernama semesta. Gejala konflik dan resistensi di antara unsur-unsur ini menjadi dinamika yang menjaga keseimbangan alam sekaligus harmoni semesta. Tak ada realitas atau unsur yang buruk, sebab semua menyandang takdir berbeda dan saling menyeimbangkan sesuai dengan garis edar atau ziarah masing-masing unsur.

Namun, tesis yang justru paling menghentak dan menjadi ruh film ini adalah pandangan akan hadirnya sosok pembebas atau lazim di sebut messianisme. Serial ini seakan menganfirmasi pandangan dari sejumlah filsuf maupun agamawan yang hingga kini masih meyakini kelak akan hadir seorang pembebas sebagaimana yang dituturkan dalam berbagai kitab suci. Selama 100 tahun lenyapnya Aang, manusia menantikan sosok penyelamat yang cendekia dan menguasai empat unsur kemudian menjadi peredam atas seluruh energi kejahatan yang mencekam manusia. Bagiku, kerinduan akan sosok Avatar ini adalah sesuatu yang universal dalam sejarah peradaban manusia. Aku berkeyakinan kisah ini hanyalah sebuah pintu masuk untuk mengungkapkan keyakinan purba yang termanifes dalam diri setiap orang dengan konsep serta kategori berbeda-beda. Artinya, konsep Avatar juga muncul di hampir semua peradaban dan kebudayaan manusia sebagai bentuk kerinduan akan hadirnya sosok manusia sempurna yang kelak akan menghancurkan ketidakadilan, menjaga nilai, serta memperkuat moralitas serta tatanan peradaban yang lestari.

Konsep Avatar

Istilah Avatar berasal dari bahsa Sansekerta yang berarti “turun.“ Dalam ajaran Hindu, Avatar adalah keturunan dewa yang turun ke bumi dan berwujud manusia. Titisan Dewa ini mengemban tugas untuk menegakkan kalimat kebenaran dan menjadi medium penghancur kejahatan. Itu bisa dilihat pada sosok seperti Krisna, Rama, dan Buddha. Konsep Avatar hampir sama dengan konsep dalam Kristen yaitu inkarnasi. Hanya saja, ada dua perbedaan mendasar. Pertama, seorang Dewa dalam Hindu bisa melakukan reinkarnasi pada banyak tempat di saat yang sama melalui Avatar sebagian (amshas). Artinya, wujud utama Avatar bisa memencar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan menempati wadah berbeda. Kedua, Avatar tidak terlibat secara utuh di dalam penderitaan manusia atau kehilangan pengetahuan dan kuasa Ketuhanan. Dewa Wisnu sangat masyhur dalam wujud beberapa Avatarnya termasuk Krishna, Rama, dan Buddha. Demikian pula dengan beberapa dewa lain termasuk Siwa, juga memiliki Avatar.

Dalam keyakinan Kristen, konsep “Avatar” adalah konsep messiah. Kata messiah kerap dimaknai sebagai Kristus atau penyelamat. Nama ini dilekatkan pada belakang nama Yesus sehingga menjadi Yesus Kristus atau Yesus Sang Penyelamat. Kitab Perjanjian Lama (The Old Testament) banyak mengisahkan ini (lihat Isaiah 53).

Sejatinya, kata messiah berasal dari bahasa Yahudi bermakna yang terpilih. Istilah ini dinisbahkan pada idelisasi pemerintahan Raja David (Daud) serta risalah kenabian Musa. Konsep ini meyakini bahwa hadirnya Musa adalah yang terpilih serta telah lama menjadi penantian bangsa Yahudi. Hingga kini, bangsa Yahudi masih meyakini akan hadirnya kembali Musa yang menegakkan ajaran, memperkukuh 10 perintah Tuhan (Ten Commandement).

Islam juga mengenal keyakinan tentang “Avatar” atau “Messiah” ini. Keyakinan itu termanifestasi dalam sosok Imam Mahdi yang digaibkan dan kelak akan hadir dalam satu setting sosial yang kian amburadul hingga terjadi dekadensi berupa pembalikan situasi di mana yang benar akan di salahkan, sedang yang salah akan dibenarkan. Meskipun konsep ini dianggap hanya subur di kalangan kaum syiah, namun menarik untuk ditelusuri asal-muasal konsep ini yang sesungguhnya berakar pada tradisi Islam. Dalam keyakinan kaum Syiah, Imam Mahdi adalah keturunan ke-12 dari Rasulullah melalui garis keturunan Imam Ali bin Abi Thalib kw yang digaibkan sebab friksi serta eskalasi konflik antar umat kian mengental. Imam Mahdi akan hadir kembali pada satu momentum zaman di mana kemunkaran dan kebobrokan menemui titik paling puncak dalam peradaban manusia. Saat inilah, Mahdi akan hadir dan mempertegas kebenaran.

Konsep messiah ini tidak hanya ada dalam tradisi religius, melainkan juga muncul di berbagai kebudayaan. Orang Jawa hingga kini masih meyakini akan adanya Ratu Adil yang kelak akan membawa Jawa ke era Gemah Ripah Loh Jinawi. Dalam studi Sartono Kartodirdjo, keyakinan ini justru menjadi api yang membakar semangat perlawanan orang Jawa untuk menentang ketidakadilan. Keyakinan akan Ratu Adil ini juga termanifestasi dalam mitos “Notonagoro” yang dianggap sebagai siklus kepemimpinan yang akan berpusar dan membawa bangsa Indonesia pada kesejahteraan.

Bukan cuma Jawa. Orang Makassar juga punya konsep messiah. Mereka menyebutnya “Tolo”. Kalau suatu saat ke Makassar, akan ….

BELUM SELESAI

Bandung: Sisa Sebuah Peradaban


BANDUNG laksana perempuan tua yang sisa-sisa kemolekannya masih membekas di sapuan wajahnya. Gadis molek yang kian dewasa itu seakan kehabisan napas dan tertatih-tatih mengikuti dengus napas modernisasi yang dengan rakus telah memangsa segenap keunikan dan ciri khas Bumi Parahyangan. Kota yang dulunya dituturkan dengan penuh birahi oleh para penjelajah Eropa ini seakan tenggelam ditelan pusaran arus kapitalisme kultural yang hadir sejak Eropa memasuki masa renaissance (pencerahan).

Bandung tidak lagi menyimpan birahi eksotik yang dikisahkan dengan masyhur dalam berbagai naskah Belanda. Kota ini telah bermetamorfosis menjadi sebuah kota metropolitan yang pekat dengan asap polusi kenderaan bermotor. Hingar-bingar, jalanan sempit, kemacetan, dan sampah, seakan menjadi cakrawala baru yang menggantikan cerita eksotik tentang tempat tetirah yang dikelilingi kebun teh, dan sayup-sayup ada suara suling yang lirih terdengar dan ditingkahi syair bubuy bulan.....

Ini kota yang kian bergegas. Aku menatap Bandung dengan begitu getir pada 18 Oktober 2007 lalu, saat memenuhi undangan seminar di Sekolah Staf Komando (Sesko) TNI. Aku menjadi satu dari empat mahasiswa yang menjadi delegasi Universitas Indonesia (UI) di ajang seminar bersama para jenderal di kampus itu. Di sela waktu kunjungan yang hanya dua hari ini, kuisi dengan berkeliling kota sambil merajut benang-benang memori tentang kota ini yang banyak berubah.

Aku menyaksikan beberapa bangunan tua yang masih berdiri dan dicekam sejarah dari masa keemasan VOC. Bangunan yang berkisah banyak tentang kolonialisme Eropa yang memasuki jazirah Nusantara itu, terlihat berdiri sunyi dan dihimpit berbagai mal yang tumbuh bak jamur. Sekonyong-konyong, pikiranku menerawang pada Van Der Cappelen, seorang pria playboy yang menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1819 dan membangun pendopo Kota Bandung. Atas saran Dr De Wilde yang saat itu menjadi Asisten Residen Priangan, Cappelen menjadikan Priangan sebagai wilayah perkebunan sejak tahun 1870 sekaligus membisikkan indahnya kota ini pada seluruh penjelajah dunia.

Cappelen dikepung oleh gairah yang meluap-luap melihat moleknya gadis Sunda di tengah alam yang sejuk. Ia seakan berada di tengah kota yang disebutnya terindah di Eropa yaitu kota Paris yang memukau. Tapi ini terletak di ujung barat Pulau Jawa, namun menyimpan magma dan semangat yang sama. Inilah Paris Van Java, kepingan kota Paris yang jatuh di hamparan Tanah Sunda. Pusat pemerintahan ini menyimpan imaji meluap-luap yang keindahannya tak henti dicatat dan dijerat dalam berbagai etnografi. Namun adakah kota itu masih eksotik sebagaimana dahulu? Andai Cappelen masih hidup, apakah gerangan yang dikatakannya melihat Bandung yang sudah bergegas menjadi kota metropolitan dan semrawut? Entah.

Barangkali aku terlalu sentimentil terhadap kota ini. Bagiku, harus ada ruang-raung untuk sebuah eksotisme di belantara kapitalisme. Aku tak bermaksud mengatakan kapitalisme harus dihambat, namun harus ada ikhtiar untuk memelihara denyut nadi dan napas sebuah kota. Untuk itu, Bandung harus dijaga sebagai portal untuk meneropong jejak masa silam bangsa Indonesia. Menjadi sejarah hidup yang menyimpan kenangan tentang tumbuh suburnya sebuah bangsa. Bandung harus dijaga agar tidak terjerat desain pemerintah dan saudagar yang menjadikan kota ini sebagai kota mal dan distro.

Barangkali aku terlalu romantis terhadap kota ini. Mungkin. Aku cuma sedikit tersentak melihat hanya dalam waktu singkat, Bandung berubah pesat. Di tahun 2000, aku sempat singgah ke kota ini untuk belajar filsafat dan logika di Yayasan Muthahhari yang diasuh pakar komunikasi Prof Dr Jalaluddin Rakhmat di Jl Kampus II, Kiara Condong. Bersama teman-teman, aku juga singgah belajar agama di Pesantren Al Jawwad yang terletak di Jl Geger Kalong Girang, tidak jauh dari Pesantren Daarut Tauhid milik Aa Gym. Dalam kunjungan itu, aku begitu takjub dengan denyut nadi Kota Bandung yang begitu tenang dan keluwesan khas gadis Sunda. Cuaca kota tidak begitu panas, serta gadis-gadisnya yang ramah dan bisa bikin kita geer karena merasa dinaksir. Aku ingat betul, saat itu hanya ada beberapa mal seperti Bandung Indah Plaza (BIP) atau Kings. Ada begitu banyak pusat jajanan serta distro pakaian di kawasan Cicaheum, yang tak begitu jauh dari Lembang.

Namun, hanya dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, perubahan berjalan dengan sangat cepat seakan berlari. Bandung kian memoles dirinya menjadi kota yang rimbun dengan mal dan pusat perbelanjaan modern. Bandung kian pongah dan mengklaim dirinya sebagai ikon mode dan trend di Indonesia. Sebegitu bangganya kota ini dengan gelar tersebut, hingga menjadikan itu sebagai identitasnya. Bandung yang eksotik menjadi mitos yang dikisahkan di waktu malam. Bunyi suling yang lirih di tengah kebun teh menjadi lagu pengantar tidur yang terlalu romantis untuk dikenang.

Celakanya adalah pesatnya laju bisnis dan irama kapitalisme itu tidak diimbangi dengan penataan atmosfer sebuah kota. Yang tersisa kemudian adalah sebuah kesemrawutan dan situasi laksana kapal pecah atau gunung yang laharnya hendak meletup ke langit. Ruang kota kian sesak, tanpa ada ruang kultural yang mengemban fungsi sebagai bentuk ekspresi dan kebebasan warganya. Yang tersisa adalah sebuah jejak dan sisa dari peradaban masa silam. Maka, seluruh bangunan tua itu menjadi mahluk yang dianggap tidak penting. Perlahan, seluruh jejak masa silam dikubur sembari mendendangkan lagu kemenangan kapitalisme industrial. Ini adalah era pasar Bung!! Dan di era ini, Bandung menjadi lanskap yang menggambarkan pertarungan tidak seimbang antara peradaban masa silam dan peradaban masa kini yang angkuh.

Ah, andai Cappelen masih hidup, apakah gerangan yang dikatakannya? Masihkah ia mengatakan Paris Van Java? Ataukah ia mengatakan Paris yang kian letih dan tertatih.(*)

Jalani Tes Interview


DUA hari yang lalu, aku menjalani test interview untuk mendapatkan fellowship dari Voice Of America, sebuah jaringan radio milik pemerintah Amerika Serikat (AS). Jika aku lulus, maka akan ada kesempatan ke AS selama enam bulan. Awalnya aku terkejut juga sebab tidak menyangka akan masuk dalam daftar mereka yang akan diwawancarai. Apalagi, aku memasukkan formulir ke VOA sudah cukup lama yaitu akhir Juli lalu. Saat itu, aku bersikap nothing to loose saja. Ternyata, aku masuk daftar mereka yang diwawancarai.

Aku akan ceritakan prosesnya secara detail. Saat berada di kampus dan ngobrol di kantin bersama teman-teman, aku mendapatkan telepon dari nomor 021-30002272. Seorang wanita mengatakan ini telepon dari VOA dan minta waktu untuk wawancara bahasa Inggris denganku. Aku agak tidak siap dan langsung mengatakan saat ini sedang kuliah. Aku minta waktu tiga jam lagi. Ia bersedia menunggu.

Sejatinya, aku merasa tidak percaya diri dan tidak tahu harus ngomong apa. Selanjutnya, aku kembali menemui teman-temanku di kantin. Aku bercerita kalau barusan ditelepon seseorang dari VOA untuk mewawancaraiku, namun aku tidak percaya diri. Tiba-tiba, semua temanku langsung protes. “Yus, kalau ada wawancara seperti itu, sebaiknya kamu ’tabrak saja’. Dalam interview, banyak orang yang english-nya biasa saja. Biasanya pihak pemberi fellowship hanya mau tahu sejauh mana wawasan kita. Cukup satu atau dua pertanyaan, dia sudah dapat gambaran sejauh mana pencapaian kita,“ kata Jaya, temanku yang pernah kerja di Conservation International dan beberapa kali ke luar negeri.

Lain lagi dengan temanku Mas Heri yang bekerja sebagai peneliti LIPI. “Saya juga beberapa kali diwawancarai seperti itu. Tabrak saja. Susah kok mengharapkan english kita kayak bule. Bagaimanapun, kita semua berasal dari daerah seperti Jawa, Sunda, Ambon, atau Makassar. Kan agak susah juga mengharapkan english yang begitu sempurna. Intinya adalah sampaikan ide dan gagasanmu. Itu sudah cukup,“ katanya. Demikian pula Pak Purwadi, mahasiswa program doktor. Katanya, ia pernah diwawancarai saat hendak ke Jerman dan dia cuma bisa jawab sekenanya saja. Prinsipnya adalah sampaikan sesuatu secara apa adanya dan mereka akan memberikan respon.

Mendengar tuturan mereka yang begitu bersemangat, aku langsung bersemangat. Barangkali, semua peluang dan kesempatan harus dicoba. Aku dapat satu peluang, mestinya aku harus “bertarung“ demi memenangkan peluang tersebut. Langsung saja aku menuju wartel kampus dan menelepon nomor tadi. Ternyata, sang pewawancara sedang makan siang dan aku disuruh menunggu 15 menit dan nanti mereka yang akan menelepon.

Kembali ke kantin bersama teman-teman, aku ikut berbincang beberapa persoalan. Tiba-tiba, kembali aku ditelepon VOA. Wanita yang sebelumnya menelepon minta waktu untuk wawancara. Ia lalu menjelaskan bahwa namaku masuk dalam daftar dari mereka yang akan diinterview. Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa yang akan meng-interview dalam bahasa Inggris adalah temannya yang bernama Barbara. Aku mengiyakan. Saat Barbara berbicara dalam bahasa Inggris, aku memahami dengan baik semua perkataannya. Ia menjelaskan jika aku lulus, maka akan tinggal di Washington selama enam bulan, kemudian akan diterjunkan dalam berbagai liputan VOA di Amerika Serikat (AS).

Selanjutnya, ia bertanya apa rencanaku jika telah mengikuti program ini. Dalam bahasa Inggris aku menjawab akan balik ke Indonesia dan bergabung di beberapa lembaga yang punya concern pada ide-ide demokrasi, hak asasi manusia (HAM). Aku akan mensosialisasikan beberapa gagasan atau ide yang kudapatkan di AS untuk meneropong beberapa persoalan yang terjadi di Indonesia. Aku menjawab sekenanya saja. Selanjutnya, ia bertanya beberapa hal dan aku berusaha menjawab semuanya. Ternyata, ia merespon dengan sangat baik semua jawaban pertanyaan tersebut. Dia bilang, nanti hasilnya akan diumumkan pada akhir bulan November nanti.

Usai wawancara, ia berharap agar aku bisa sukses dan lulus. Aku bahagia juga mendengarnya. Setelah itu, aku gabung dengan teman-teman dan menceritakan pengalamanku. Mereka sangat senang. Sampai-sampai Jaya mengatakan,“Wah, saya sudah mencium bau Amerika nih.“ Meski tahu mereka cuma sekedar memuji saja, aku senang sekali. Perasaanku demikian bahagia dan seakan-akan melambung tinggi ke angkasa. Rasa senang ini membuat langkahku serasa ringan seakan-akan tidak menjejak tanah. Barangkali, ini menjadi kesempatan emas bagiku untuk melebarkan sayap dan melihat negeri lain. Semoga aku bisa lulus seleksi.(*)

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...