kisah-kisah tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Winter in Athens, Ohio

Athens is my third home after Baubau and Makassar city.

Buku Pertama Hingga Buku Keempat

Semoga aja buku-buku ini bisa menginspirasi orang lain.

My Wife and My Daughter

They are my river of inspiration.

Naga Hijau di Kota Baubau

Baubau is the first step of my journey.

Sudut Kampus Ohio University

Kelak, saya akan mengenang setiap sudut kampus ini.

Pesona Intelektual dan Rekahan Apresiasi

1 Desember 2006

KEMARIN aku menghadiri diskusi di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Sebuah diskusi yang interaktif dan seru. Temanya adalah Warisan Geertz untuk Indonesia. Pembicara yang hadir adalah Ignas Kleden, PM Laksono, dan Eri Seda.

Dalam jadwal tertulis kalau acara ini akan dimoderatori oleh Iwan Tjitra Djaja. Ternyata, hingga acara dimulai, Iwan tak juga hadir. Akhirnya, diskusi tetap digelar, meskipun menghadirkan seorang moderator pengganti. Sayang sekali, padahal beberapa teman sesama mahasiswa UI justru ingin melihat Pak Iwan mengadu argumen. Tapi tak apa.

Selain digelar Kompas, acara ini menghadirkan sejumlah penulis opini Kompas. Di antaranya adalah Effendy Gazali, Budiman Sudjatmiko, Agus Muhammad, Dita Indah Sari, Sukardi Rinakit, dan banyak lagi.

Aku sendiri hadir dalam diskusi ini sebagai peserta. Seorang teman dari Litbang Kompas mengundangku untuk hadir. Malah, aku juga menerima SMS dari Ignas Keleden yang memintaku untuk hadir dan menyimak gagasannya.

Dalam diskusi ini, relevansi pemikiran Clifford Geertz dibahas. Semuanya memberikan analisis terhadap studi Geertz serta posisi ilmu sosial hari ini. Rasa kagum atas kerja intelektual Geertz sangat terpancar di forum ini.

Barangkali, tak ada intelektual Indonesia yang bisa mencapai tataran seperti yang dicapai Geertz, sang profesor antropologi dari Harvard University itu. Ia menjadi prasasti dari dedikasi serta ikhtiar yang begitu dahsyat untuk mengembangkan studi budaya serta upaya untuk memaknai dengan dalam setiap ragam kebudayaan dan fenomena sosial.

Karya Geertz yang begitu banyak mulai dari The Interpretation of Culture, After The Fact, Local Knowledge, Work as Author, Negara Theater, hingga The Religion of Java, menyisakan tema-tema yang tak pernah habis dibahas. Satu bentuk persembahan kultural bagi ilmuwan Indonesia untuk mengikuti jejak dan dinamikanya.

Ah, aku tidak ingin berpanjang-panjang membahas tentang bagaimana posisi intelektual Geertz. Di acara itu, aku terkesima melihat bagaimana publik memandang sosok Ignas Kleden.

Apakah yang ada di benak Ignas? Begitu banyak orang yang datang dan memperkenalkan diri kepadanya. Begitu banyak apresiasi atas karya-karyanya yang begitu menggugah dan inspiratif. Bahkan, ada peserta diskusi --yang tak malu-malu-- menyebut buku Ignas yang berjudul Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan sebagai sumber inspirasinya.

Apa pula yang ada di benak ilmuwan yang beragama Katolik ini? Di acara itu ia tampil dengan begitu smart dan menguasai persoalan. Semua pertanyaan dan gugatan dari peserta diskusi bisa ditangkisnya. Pemahamannya begitu luas. Aku paling suka bagian ketika dia menjelaskan cara melihat secara proporsional seorang ilmuwan sosial. Menurutnya, harus dilihat dari dua sisi yaitu pengaruhnya pada body of knowledge (tubuh pengetahuan) dan tools of analytical (alat analisis). Dua hal ini laksana dua kepak sayap elang yang mengangkat ilmu pengetahuan membumbung tinggi ke angkasa.

Cara menjelaskannya begitu dalam. Semua ajakan debat diladeninya. Ia memberikan argumen dari sisi epistemologis. Penguasaannya pada dinamika teori kebudayaan dan ranah filsafat telah membuat Ignas tampil dengan sangat berbeda.

Dan itu menimbulkan apresisasi. Banyak pihak yang selalu mengutip gagasannya. Malah, begitu banyak orang yang ingin sekedar berjabat tangan dengannya

Aku teringat film Beautiful Mind tentang seorang fisikawan peraih nobel yaitu John Nash. Dalam film yang dibintangi Russel Crowe ini, ada beberapa adegan yang menurutku sangat menyentuh dan meninggalkan jejak di benakku.

Pada awal film, John Nash datang ke satu kantin di dekat kampusnya di Princeton University. Ia melihat seorang profesor yang berpengaruh memasuki kantin dan duduk di satu meja. Tiba-tiba saja, semua profesor lain serta tamu yang hadir di kantin mendatangi profesor itu sambil menjabat tangannya serta meletakkan pulpennya sebagai simbol apresiasi.

Nash sangat tersentuh melihat apresiasi itu. Siapa sangka, puluhan tahun kemudian, justru ia yang berada pada posisi profesor itu. Di saat duduk di satu meja, semua profesor tiba-tiba saja datang menyalaminya dan ikut-ikut meletakkan pulpen sebagai tanda apresiasi. Ilmuwan yang selama puluhan tahun menderita skhizofrenia atau penyakit gila itu justru akhirnya mendapatkan apresiasi atas atas kontribusinya pada bidang fisika, ekonomi, serta pergulatan hidupnya yang penuh dinamika. Mulai dari penyakt skizophrenia-nya hingga ketulusan sang istri dalam menyembuhkannya hingga normal dan meraih nobel fisika.

Barangkali agak berlebihan jika menyamakan Ignas Kleden dengan John Nash. AKu cuma melihat titik singgungnya: bahwa intelektualitas bisa memiliki pesona yang menyengat. Sebuah gagasan intelektual bisa melahirkan rekahan apresiasi yang tulus dan tanpa interest. Yang ada adalah sebentuk kekaguman sebagai hasil dari titik tengkar debat dan proses menggeluti sebuah pemikiran secara intens.

Ternyata, masih ada saja ruang untuk apresiasi. Selalau saja ada titik untuk mengharagai potensi intelektualitas. Di negeri ini, masih ada ryuang itu, meski kapitalisme secara perlahan menjerat semuanya hingga kita seakan tergagap.

Kecerdasan Emosional

Apakah makna kecerdasan emosional? Hari ini aku mempresentasikan makna kecerdasan itu di hadapan Prof James Danandjaja.

Tiah Bermalam di Kos

18 November 2006

KAKKAKU TIAH datang dan bermalam di rumahku yang luas ini. Akhirnya, ada juga keluargaku yang datang langsung melihat kehidupanku di Jakarta. Selama ini, mereka hanya mendengar bagaimana susahnya saya di Jakarta.

Kini, mereka sudah bisa mendengar penuturan Tiah yang datang ke Jakarta untuk membawakan presentasi tentang gizi dan kesehatan. Ia adatang bersama suaminya Kak Syam.

Saya menemui mereka di Pusat Perbelanjaan Mangga Dua. Seperti halnya orang daerah lain yang datang, mereka sangat mengagumi kota yang sumpek ini. Mereka tercengang melihat Jakarta dan menilainya sangat megah jika dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia.

Mereka keliling ke berbagai pusat perbelanjaan dan menghabiskan banyak uang. Saya heran juga melihat gaya hidup mereka yang sangat boros. Untuk rekreasi di Dunia Fantasi, Ancol, mereka harus carter mobil sebesar Rp 300 ribu. Padahal, saya sudah kasih saran untuk naik kereta ke Stasiun Jakarta Kota dan membayar Rp 1.500 per orang. Kemudian naik taksi dan bayar cuma Rp 25 ribu.

Katanya sih, mau mengelilingi semua kawasan Ancol. Padahal, untuk mengelilingi Dunia Fantasi di ANcol saja, waktu sehari tidaklah memadai. Kayaknya, mereka dikerjai sama pemilik rumah yang mereka tempati. Mereka dikira orang kaya dari Makassar yang hendak berbelanja dan menhabiskan juang di Kota Jakarta. Yah, itulah persepsi warga Jakarta terhadap kami para pendatang.

Kembali ke borosnya pengeluaran kakakku. Seingatku, mereka sedang membangun rumah. Mereka selalu memikirkan biaya pembuatan pagar. APa boleh buat. Mereka dikerjai.

Semalam, kakakku akhirnya datang melihat kos-kosanku. Saat tiba di kos, ia beberapa kali tercengang. Ia tak menyangka kalau aku memiliki kos-kosan yang begini besar. Ia terheran-heran melihat kos-kosanku yang katanya sangat mewah untuk ukuran mahasiswa.

Saya cuma beruntung saja. Rumah kos ini begitu luas dan baru saya yang menempatinya. Dikarenakan sendirian, saya sering ketakutan di malam hari. Apalagi, seorang temanku di UI sering menakut-nakuti dan mengatakan kalau biasanya ada mahluk gaib yang menempati rumah kosong.

Kalau ditanya tentang apakah percaya sama mahluk gaib, saya selalu menjawab tidak. Saya menjawab itu karena nggak mau dibilang takut. Padahal, sesungguhnya saya sangat ketakutan pada mahluk baik yang bernama setan, iblis ataupun jin.

Saya pernah mendengar seorang antropolog yang mengatakan kalau ketakutan pada mahluk gaib adalah simbol dari kurangnya pengetahuan serta ketidakmampuan menggunakan sains sebagai cara untuk membaca berbagai gejala sosial.

Mahluk gaib juga kerap didefinisikan sebagai manifestasi dari ruang tertentu dalam diri manusia yang gagal mencapai Yang Maha Sempurna. Sebuah bentuk kegagalan mencari jawab secara metafisis atas berbagai persoalan yang dihadapi.

Berbagai defenisi itu tak juga mampu memutus lingkaran ketakutanku. Tetap saja khawatir dan membayangkan tiba-tiba saja ada sesuatu yang aneh. Malah, saat tidur aku suka terjaga kalau ada bunyi yang mencurigakan. Padahal, bisa jadi itu hanya bunyi tikus got yang sedang berlarian di selokan. Atau bisa jadi itu hanya bunyi logam yang memuai akibat cuaca dingin.

Lingkar Hermenetika: Sebuah Asal Muasal

KONSEP Lingkar Hermeneutik Paul Ricoeur mendapatkan inspirasi dari konsep yang dikemukakan dua filsuf Jerman yaitu Imanuel Kant (1724-1804) dan Georg Willem Hegel (1770-1831). Ricoeur menggabungkan konsep logika Kant dan konsep dialektika Hegel untuk merumuskan konsep Lingkar Hermeneutik.

Kant memaparkan konsep tentang logika kritis sebagai bentuk kritikan terhadap rasionalitas manusia modern. Dalam karyanya Critique of Pure Reason (1781), ia memaparkan basis epistemologi pengalaman manusia. Menurutnya, pengetahuan senantiasa bergerak dari hal yang sifatnya empiris (dapat diindrai) dan rasional hingga tahapan rasio kritis di mana pikiran manusia membentuk kategori-kategori yang sifatnya apriori. Kant membedakan antara pengetahuan empiris dan apriori. Jika pengetahuan empiris berdasarkan pada persepsi atau pengalaman, maka apriori justru berkembang dalam pikiran manusia sebagai sintesis dari beberapa ide atau konsep tentang sesuatu. Kant menyebut epistemologi kritis bisa membantu perkembangan ilmu pengetahuan[1].

Sedangkan konsep Hegel tentang dialektika adalah upaya untuk menemukan kebenaran filosofis melalui perbenturan atau konfrontasi antara satu gagasan (tesa) dengan gagasan lainnya (antitesa) hingga melahirkan sintesa. Sebelum Hegel, gagasan dialektika sudah ada dalam karya filsuf Yunani kuno Plato yaitu Dialogues. Dialektika juga ditemukan dalam catatan-catatan Aristoteles yang hendak mencari dasar filosofis ilmu pengetahuan dan menggunakan istilah dialektika sebagai sinonim dari logika ilmu. Hanya saja, Hegel justru menjadi pihak yang lebih dikenal publik sebagai filsuf yang menjadikan dialektika sebagai inti pandangan filsafatnya.[2]

Dalam pahaman Hegel, gagasan atau ide berkembang melalui proses yang sifatnya dialektis. Sebuah konsep akan berhadapan dengan antitesis konsep itu hingga melahirkan sintesis yang merupakan titik tengah dari konfrontasi tersebut. Baginya, sintesa berada pada level yang lebih tinggi dari tesa dan antitesa.

Ricoeur menggabungkan logika Kant dan dialektika Hegel untuk mengembangkan teori tentang interpretasi. Ricoeur menghilangkan aspek sintesa dalam dialektika Hegel. Menurutnya, sintesa tidak akan pernah lahir sebab dialektika adalah sebuah proses yang tidak akan pernah berkesudahan. Gagasan dialektika Ricoeur inilah yang kemudian disebut sebagai Lingkar Hermeneutik dalam studi tentang penafsiran.

Lingkar Hermeneutik Menurut Schleiermacher dan Dilthey

Filsuf Jerman Friedrich Schleiermacher (1768-1834) menjadi tokoh pembaharu yang memposisikan hermeneutik sebagai metode umum untuk segala sesuatu. Ia mendefinisikan Lingkar Hermeneutik sebagai upaya untuk menafsirkan sesuatu melalui dialektika antara gramatikal dan teknis psikologis. Gramatikal adalah memahami makna satu kata dengan cara menempatkannya pada konteks kata yang lain. Sebuah kalimat merupakan kesatuan yang dibentuk oleh kata. Makna sebuah kata dipahami dengan melihat kalimat atau relasinya dengan kata yang lain. Demikian pula sebaliknya, makna sebuah kalimat bergantung pada makna kata dalam kesatuan tersebut. Interaksi dialektis antara keseluruhan dan bagian itu memberikan makna yang lain. Inilah yang disebut sebagai Lingkar Hermeneutik. Kata Schleiermacher, makna gramatikal berupa makna proposisi atau makna yang sudah dibakukan oleh konvensi sosial.

Sedangkan teknis psikologis berkaitan dengan konteks psikologis dari seorang pengarang ketika mengarang sesuatu. Ini juga mencakup maksud pengarang yang ditentukan oleh intensi atau sesuatu yang berasal dari dalam dirinya.

Senada dengan gagasan Schleiermacher, filsuf Jerman Wilhelm Dilthey (1833-1911) menjadi tokoh yang juga menorehkan tinta emas dalam pengembangan teori hermeneutika. Dilthey hidup pada masa ketika filsafat idealisme Hegel sedang jatuh dan ditumbangkan oleh positivisme. Pemikiran ilmu alam yang ditandai metode erklaren (eksplanasi) menjadi pemikiran yang mendominasi seluruh bangunan ilmiah. Dilthey lalu mengembangkan pemikiran tentang verstehen (understanding) sebagai bentuk gugatan pada ilmu yang terlampau positivistik. Verstehen dilahirkan dalam bingkai kritik sejarah dan ikhtiar memunculkan human science. [3]

Dilthey juga menjelaskan tentang Lingkar Hermeneutik secara rinci. Menurutnya, Lingkar Hermeneutik terdiri atas:

  1. Hubungan melingkar antara Part (sebagian) dan whole (keseluruhan)

Lingkar Hermeneutik adalah dialektika atau perputaran antara part (bagian) dan whole (keseluruhan) dalam memahami sesuatu. Part secara sederhana bisa didefinisikan sebagai makna kata secara tunggal. Makna kata secara denotasi (sebenarnya). Misalnya, kata Ambon bermakna nama identitas kota yang terletak di Kepulauan Maluku. Sedangkan whole (keseluruhan) adalah melihat makna kata dalam relasinya dengan kata-kata yang lain dalam satu struktur kalimat. Misalnya kalimat,”Saya makan pisang ambon”. Kata Ambon langsung memiliki makna yang berbeda ketika ditempatkan dalam konteks kalimat.

  1. Lingkar antara Ends dan Means

Ends adalah tujuan sedangkan means adalah makna. Maksudnya adalah setiap tindakan manusia pasti mempunyai tujuan. Naluri yang ada pada diri manusia adalah memiliki arah serta tujuan ke mana hendak bergerak. Demi mencapai tujuan itu, manusia mengembangkan sejumlah strategi atau teknik.

  1. Lingkar di antara inner dan outer.

Inner adalah sesuatu yang ada dalam diri manusia baik itu menyangkut pikiran, perasaan, serta persepsi akan sesuatu. Sedangkan Outer adalah apa yang ada di luar diri manusia berupa tindakan, serta ekspresi yang dipancarkan seseorang. Lingkaran Inner dan Outer adalah ketegangan antara apa yang ada dalam diri dan apa yang diekspresikan. Ketegangan antara ekspresi dan mental state. Contoh dari lingkaran di antara inner dan outer ini adalah konsep tentang orang Jawa. Apakah memahami konsep orang Jawa berdasarkan nilai yang ada dalam dirinya ataukah memahami nilai melalui ekspresi dan mental state. Contoh lain adalah apakah seseorang memahami bahasa akan membawanya pada pemahaman akan makna ataukah pemahaman akan makna yang kemudian membawanya pada pemahaman akan bahasa.

  1. Kekuasaan

Setiap tindakan manusia akan dipahami jika mempunyai sifat menguasai (affecting) atau dikuasai (being affected). Contohnya adalah pertanyaan apakah kebudayaan Jawa yang membentuk manusia Jawa ataukah manusia Jawa yang membentuk kebudayaan Jawa. Di Indonesia, isu ini menjadi isu yang demikian penting sebagaimana terlihat pada polemik tentang posisi manusia Indonesia antara Sutan Takdir Alisjahbana dengan Ki Hadjar Dewantara dan Tjipto Mangunkusumo.[4] Demikian pula polemik kebudayaan yang memperhadapkan penganut sastra realisme sosialis Pramoedya Ananta Toer dan berhadapan dengan penganut sastra humanisme universal yang diusung HB Jassin, Taufik Ismail dkk[5]. Terakhir, perdebatan tentang sastra kontekstual yang disulut Arief Budiman dan Ariel Heryanto di tahun 80-an[6]. Semuanya sama-sama mempersoalkan identitas apakah dipengaruhi ataukah tidak dipengaruhi sesuatu.

  1. Kategori Nilai (Value)

Dalam menghadapi setiap tindakan tidak hanya dituntut ekspresi, tetapi sekaligus bagaimana evaluasi dan persepsi nilai.

Lingkar Hermeneutik Menurut Gadamer

Tokoh selanjutnya yang memaparkan gagasan tentang hermeneutik adalah Martin Heidegger (1889-1976) dan Hans Georg Gadamer (1900-2002). Jika pada masa Schleiermacher dan Dilthey, hermeneutik menjadi persoalan epistemologis dan lebih menekankan pada intensi pengarang (author), maka Heidegger dan Gadamer justru membawa hermeneutik ke dalam persoalan ontologis. Keduanya juga menilai upaya memahami pengarang adalah hal yang impossible (mustahil) sebab akan selalu ada jarak sejaran (historical distance) antara penafsir dan pengarang. Lingkar Hermeneutik menurut Gadamer:

- Lingkar antara distanciation (jarak sejarah) dengan nearness (kedekatan).

Menurut Gadamer, dalam upaya menafsirkan satu teks, tidak mungkin menghilangkan historical distance atau jarak sejarah antara pengarang dan penginterpretasi. Jarak sejarah tidak pernah bisa dieliminasi karena konteks historis pengarang dan penginterpretasi tidak bisa dipertemukan. Jadi, persoalannya bukanlah bagaimana menghapus jarak tetapi bagaimana membuat jarak menjadi lebih produktif. Bagi Gadamer, sebuah teks masa lampau bisa memberi akses untuk memberikan hermeneutical circle (lingkar hermeneutik) yang tidak pernah putus antara distansiasi (jarak sejarah) dengan kedekatan (effective history).

- Lingkar sejarah sebagai effective history dan sejarah sebagai sesuatu yang tidak dikonstruksi

- Lingkar antara No Ematic Understanding dan No Etic Understanding

No Ematic Understanding adalah what is say. Sedangkan No Etic Understanding adalah act of understanding atau tindakan pemahaman sesuatu. Dialektika keduanya bermakna kita hanya bisa memahami bahasa jika kita mengerti apa yang dikatakan

Dialektika Langue dan Parole

Salah satu tokoh yang juga dianggap mempengaruhi studi hermeneutik adalah ahli linguistik berkebangsaan Swiss yaitu Ferdinand de Saussure (1857-1913). Ia memiliki gagasan tentang adanya struktur bahasa hingga mempengaruhi lahirnya aliran teori dalam linguistik yaitu strukturalisme. Doktrin Saussure adalah bahasa dianggap sebagai obyek dan pada dasarnya memiliki dua aspek yaitu aspek langue dan aspek parole. Linguistik mempelajari aspek langue sebagai aspek sosial dari bahasa. Langue inilah yang memungkinkan berlangsungnya komunikasi simbolik antar manusia karena langue ini dimiliki bersama. Langue dalam konsepsi Saussure mirip dengan Competence dalam pandangan Noam Chomsky[7]. Langue merupakan fenomena kolektif. Dia merupakan sebuah sistem, sebuah fakta sosial (dalam bahas Emile Durkheim) atau aturan-aturan, norma-norma antar personal (interpersonal rules and norms) yang bersifat tidak disadari.

Sedangkan parole adalah bahasa sebagaimana digunakan. Parole adalah apa yang diwujudkan ketika menggunakan sebuah bahasa dalam percakapan atau ketika menyampaikan pesan tertentu lewat suara-suara simbolik yang keluar dari mulut. Menurut Saussure, linguistik struktural sebagai ilmu tidak memperhatikan aspek Parole meskipun dikotomi langue-parole sangat dikenal dalam dunia linguistik.

Saussure juga membedakan antara aspek sinkronis dan diakronis (terkait historisitas) dalam studi bahasa. Namun, ia hanya memberikan prioritas pada bahasa sebagai aspek sinkronis (Ahimsa Putra, 2001). Ia menyadari akan sifat historis dari bahasa serta atau historisitas dari bahasa yaitu bahasa selalu mengalami perubahan. Kenyataan ini menuntut adanya pembedaan yang jelas antara bahasa sebagai sistem dan fakta kebahasaan yang mengalami evolusi..

Ricoeur melihat adanya dialektika di antara langue dan parole. Ia melihat langue memiliki aspek sinkronik, virtual, serta homogen. Sedangkan parole bersifat diakronik, aktual, heterogen, serta pemaknaannya bersifat arbitrer (mana suka). Mengutip Benveniste, parole terdiri dua yaitu rule of government (berbahasa menurut aturan atau gramatika) dan rule of change (berbahasa secara kreatif). Aspek rule of change inilah yang disebut sebagai discourse atau wacana.

Ricoeur dan Dialektika Event-Meaning

Secara harfiah, event berarti peristiwa dan meaning berarti pemaknaan. Event adalah peristiwa ketika bahasa mengalami proses aktualisasi. Unsur-unsur event adalah aktualisasi, mengalir (fleeting), serta temporal. Ketiga unsur inilah yang disebut sebagai discourse (wacana). Menurut Ricoeur, event muncul dari dua hal yaitu bahasa dan discourse. Namun untuk menjadi discourse, harus ada dialektika atau Lingkar Hermeneutik.

Sedangkan meaning dikontrol oleh subyek dan predikat. Menurut Ricoeur, predikat digunakan untuk memberi sifat pada subyek. Antara event dan meaning ini selalu mengalami dialektika. Event mengaktualisasikan meaning tapi tanpa event, meaning tidak akan ada. Dialektika antara event dan meaning ini adalah Lingkar Hermeneutik.

Discourse dapat bersifat lisan, dapat bersifat tertulis. Perbedaan di antara kedua jenis discourse ini tidak hanya terletak pada perbedaan substansi medianya, yang satu substansi auditif, yang lain substansi visual, melainkan terutama sekali pada efek dari perbedaan substansi media itu terhadap kemungkinan bangunan makna dari masing-masing wacana tersebut dan, pada gilirannya, juga terhadap cara pemahaman atasnya.

Ignas Kleden menunjukkan, bahwa berbeda dari fonem, kata, dan sistem bahasa pada umumnya yang bersifat abstrak, kalimat dan discourse adalah peristiwa yang bersifat singular, terikat pada ruang dan waktu. Namun, seperti halnya satuan-satuan bahasa yang terdahulu itu, gejala kebahasaan yang kemudian adalah juga tanda, sesuatu yang bermakna, dan makna itu bersifat universal atau general. Dengan demikian, bangunan makna discourse terdiri dari dialektika antara event (peristiwa) dan meaning (makna).

Makna sendiri dibedakan menjadi dua macam, yaitu makna tekstual dan makna referensial. Makna tekstual adalah makna yang terbangun dari hubungan antartanda yang ada di dalam teks, sedangkan makna referensial terbangun dari hubungan antara teks dan dunia luar. Makna referensial itu pun dibedakan lagi menjadi dua macam, yaitu makna referential yang ostensif dan makna referential yang deskriptif. Yang pertama merupakan makna yang dapat dicek dalam dunia empiris yang ada di luar teks, sedangkan yang kedua merupakan makna yang dapat dicek dalam dunia empiris yang direka di dalam teks itu sendiri.

Discourse yang ditulis adalah discourse yang mengalami fiksasi, yaitu telah mengalami pembakuan teks sehingga menjadi benda yang berdiri sendiri, meninggalkan penulisnya. Discourse ini dapat melakukan distansiasi terhadap peristiwa atau konteks penuturannya semula. Karena itu, wacana yang bersangkutan menggantungkan dirinya pada makna yang bersifat universal, yang mampu melampaui ruang dan waktu penuturannya semula, dan memasuki konteks baru dalam pembacaan dari waktu ke waktu atau bahkan mengalami dekontekstualisasi sama sekali.

Namun, kenyataan terakhir di atas tidak dengan sendirinya berarti bahwa wacana itu kehilangan sama sekali hubungannya dengan dunia di luar teks. Hanya saja, hubungan antara teks dan dunia di luar teks itu bukanlah hubungan fungsional, melainkan hubungan simbolik.


[1] Tiga tahun setelah menulis The Critique of Pure Reason (1781), Kant lalu menulis esai What is Enlightment yang berisikan kritikan pada rasionalitas masyarakat modern yang mencuat sejak masa pencerahan

[2] Untuk pembahasan yang lebih jauh tentang filsafat Hegel, lihat Gadamer, Hans Georg (1971) Hegel Dialectics: Five Hermeneutical Studies. Translated by PC Smith, New Haven: Yale University Press

[3] Menurut Dilthey, ilmu alam hanya memberikan fokus pada gejala-gejala yang bersifat fisika semata dan tidak memberikan penjelasan tentang apa itu realitas. Ia lalu menyodorkan ilmu kemanusiaan (human science) yang berfokus pada realitas manusia yang bersifat mental state.

[4] Untuk mengetahui polemik lebih jelas, baca Kleden Ignas (1984), “Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan”. Jakarta” LP3ES

[5] Polemik ini memicu lahirnya Manifesto Kebudayaan yang berisikan pernyataan kalau seni dan kebudayaan adalah hal yang universal dan bebas dari doktrin Negara atas nama revolusi

[6] Lihat buku Perdebatan Sastra Kontekstual yang dieditori Arief Budiman

[7] Noam Chomsky adalah ahli linguistic Amerika Serikat yang juga berkecimpung sebagai aktivis yang mengkritik kebijakan negaranya. Dosen Harvard University ini dikenal sebagai penemu grammar generative transformative, system yang merevolusi linguistic modern.

Episode yang Lewat

ADA banyak hal yang terjadi sejak aku terakhir mengisi blog ini. Mulai dari pulang kampung dan bertemu mama dan ATun hingga ke Makassar dan bertemu Dwi. Aku rasa, pulang libur kali ini sangatlah mengasyikkan.

Saat berada di Buton, aku sempat merasakan bagaimana tantangan dalam melobi wali kota. Semuanya aku rencanakan dengan baik hingga akhirnya mendapatkan bantuan meskipun jumlahnya masih kurang memadai. Yang jelas, aku bisa membuktikan kalau aku masih bisa melobi.

Aku juga banyak membantu teman-teman mahasiswa Buton untuk menyusun sebuah buku yang berisikan bunga rampai pemikiran tentang daerahnya. Energinya begitu besar untuk merencanakan sesuatu yang lebih baik. Dan aku memberikan apresiasi yang dalam atas itu. Salut deh

Meskipun ide pembuatan buku itu sudah cukup lama, namun tema buku itu justru adalah hal yang sangat baru. Idenya muncul begitu saja. Saat berbincang dengan Wali Kota Bau-bau dan ditanya mau menulis tentang apa, aku menjawab secara spontan kalau kami mau menulis tentang Bau-bau: Past, Present, and Future.

Aku sangat terinspirasi tema simposium antropologi di Unhas pada tahun 2000 lalu. Temanya adalah Anthropolgy Toward Millenium" Sintesis Kelampauan, Kekinian, dan Keakanan.

Nah, tema ini akan menjadi fokus utama kami saat menulis tentang Buton. Nantinya, buku itu akan berisikan percikan pemikiran dari begitu banyak tokoh yang tertarik dan hendak mengetahui banyak hal tentang Buton.

Aku tak menyangka kalau Wali Kota Bau-bau justru merasa simpati dengan keberadaanku ketika melobi. Ia justru terkesima dan menilaiku sebagai salah satu aset daerah yang harus terselamatkan. Ia juga sangat mengagumi suasana belajar di kampus Universitas Indonesia (UI). Ia memang pernah diundang untuk membawakan materi di UI. Saat itulah, ia terjagum-kagum dan menganggap UI sangat ideal dan mewah untuk tempat belajar.

Nah, pada acara halal bihalal mahasiswa Bau-bau, ia minta agar dipanel dengan perwakilan mahasiswa Buton di berbagai kota. Saat itu, aku mewakili mahasiswa Jakarta. Di sebelahku, ada Yudi Masril (mewakili Yogyakarta), Danil (mewakili Bau-bau), serta seorang lagi yang mewakili Kendari.

Saat itu, aku berusaha untuk menyampaikan gagasan yang membuat wali kota terkesima. Saat aku menyodorkan proposal, ia lalu memintaku untuk datang membawa keesokan harinya. Intinya, ia bersedia memberikan bantuan. Akhirnya, misi pulang kampung bisa terpenuhi.

Laptop dan Kos Baru

14 November 2006

AKHIRNYA aku punya laptop dan rumah kos yang baru. Selama beberapa bulan aku menggelandang di Kota Jakarta. Kini, aku akhirnya punya tempat mangkal tersendiri.

Laptop ini bukanlah laptop bekas. Berkat seorang temanku yaitu Gonjess, aku akhirnya membeli laptop baru dengan kualitas yang baik. "Yos, laptop itu cuma dipakai selama 2 tahun kok. Makanya, kamu harus membeli baru, meki dengan harga yang murah. Intinya adalah kamu bisa unggul dalam hal pemakaian," katanya.

Kayaknya, alasan dia masuk di akalku. Ia lalu menunjukkan tempat untuk bisa membeli laptop murah. Ia menyarankan agar aku membeli laptop dengan merk Axioo. Katanya, merek laptop lama udah banyak yang tersaingi dan berguguran satu per satu.

Ia lalu memberi rekomendasi agar aku membuka situs www.bhinneka.com. Katanya, situs ini cukup populer dan terkenal memiliki banyak komputer dengan kualitas yang baik. AKu lalu membuka websitenya dan menelepon. Akhirnya, dapat juga laptop seharga Rp 3.900.000,

Yah, satu masalah terselesaikan. Keesokan harinya aku lalu bergerilya mencari rumah kos. Aku lalu memutuskan untuk mengambil kamar di kawasan Kukusan, Depok. Tempatnya belum begitu ramai serta sangat pas untuk belajar. Aku memang sengaja tidak mau mencari kos di kawasan yang ramai. Aku ingin belajar dengan tenang. Akhirnya, satu lagi masalah terselsaikan.

Barangkali filsuf eksistensialis Jean Paul Sartre benar juga ketika menyebut kalau hidup adalah sebuah gerak atau perpindahan dari fase yang satu ke fase yang lain. Hidup adalah gerak dinamik yang menggiring kita dari misi yang satu ke misi yang lain.

Berbeda dengan Sartre yang agak pesimis memandang hidup dan meyakini kalau keberadaan manusia seakan terlempar begitu saja ke muka bumi, aku justru merasa optimis. Meski sarat dengan resiko dan pertaruhan, aku masih optimis memandang hidup. Bagiku, ini adalah tantangan yang harus dihadapi dengan penuh keyakinan. Sebuah soal yang menuntut keseriusan dan integritas pribadi, serta kesetiaan pada visi.

...

...